Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Hanya menunggu keajaiban


__ADS_3

"Ya Allah, Bilqis," teriak Dino panik, Dino dan Felisa bergegas menuju ke kamar Bilqis. Di dalam kamar itu, Bilqis mengerang kesakitan sambil memegangi dadanya.


"Sayang, kamu kenapa?" teriak Dino mengangkat tubuh Bilqis untuk di bawa ke rumah sakit. Namun tatapan Felisa beralih pada ponsel Bilqis. Ponsel itu masih menyala, dan sedang memutar video. Felisa mengambil ponsel itu, dan menonton videonya. Betapa terkejutnya dia, saat mengetahui isi dari video tersebut. Di dalam video itu terdapat Sisi dan Iqbal yang diarak warga menuju ke sebuah rumah.


"Sayang, ayo cepat!!" Teriakan Dino, mengalihkan Felisa untuk berhenti menonton video itu. Wanita itu langsung menyusul suaminya.


Setelah di bagasi, Felisa membuka pintu belakang mobil suaminya dan masuk kedalam untuk meraih tubuh putrinya yang sudah tidak sadarkan diri. Bilqis di baringkan di mobil itu, dengan kepalanya yang berbantal kedua paha Felisa. Setelah itu Dino masuk ke ruang kemudi dan segera membawa Bilqis ke rumah sakit.


Selama perjalanan menuju ke rumah sakit, lantunan doa tak henti-hentinya di panjatkan oleh laki-laki itu. Dino masih belum tahu apa yang membuat putrinya Anfal, Hingga pertanyaan Felisa menjawab pertanyaan yang mengganjal di pikirannya.


"Apa yang terjadi dengan Iqbal dan Sisi, sayang?" tanya Felisa masih terisak, dan mengelus-elus rambut putrinya.


Dino menceritakan kejadian yang menimpa Iqbal dan Sisi. Tapi sayangnya Felisa tidak bisa menerima itu. Tidak seperti suaminya. Wanita itu justru menyalahkan Sisi, anak dari sahabatnya itu. Bahkan dia mengutuk Sisi, jika sampai kejadian buruk menimpa putrinya.


Dino berusaha menenangkan Felisa, untuk tidak menghujat Sisi. Karena memang itu adalah musibah, bukan karena disengaja. Tapi sepertinya akal sehatnya sudah di tutupi dengan emosi yang tinggi. Sehingga tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak. Tapi Dino juga tidak menyalahkan istrinya seratus persen. Dia tahu perasaan Felisa seperti apa.


"Sayang, kamu hubungi dokter Hanif untuk ke rumah sakit sekarang," perintah Dino pada Felisa. Karena memang, Bilqis adalah pasiennya. Jadi, jika terjadi apa-apa. Hanif lah yang harus menangani.


Felisa langsung mengambil handphone nya di saku gamisnya. Setelah itu di a menghubungi Hanif agar segera menuju ke rumah sakit.


Tiga puluh menit kemudian, Bilqis sudah di tangani oleh Hanif. Sementara Dino dan Felisa menunggu di luar. Usai di periksa dan di tangani Hanif, Bilqis di pindah ke ruang perawatan. Kondisinya menurun, sel kanker nya bahkan sudah menyebar ke organ tubuh Bilqis. Sekarang hanya keajaiban yang bisa membuat Bilqis kembali sadar.


Dengan wajah penuh penyesalan, Hanif keluar dari ruangan itu. Dan langsung menemui sepasang suami istri yang sedang menunggu, dia keluar dari ruangan.

__ADS_1


"Gimana, Dok?" Dino sedikit berlari, saat Hanif baru saja keluar dari dalam, disusul dengan Felisa.


Dilihat dari ranum wajah pria berkacamata itu, dia tidak tega untuk mengatakan yang sesungguhnya. Tapi, keadaan yang menuntutnya untuk berkata jujur pada orang tua pasien yang ia tanganin. Dengan menyesal, dia mengatakan, "keadaan Bilqis kritis. Dan hanya keajaiban yang bisa membuat Bilqis kembali sadar." Seketika Felisa langsung tak sadarkan diri, di dekapan suaminya.


Dino langsung membawa istrinya yang pisan ke ruang perawatan. Beberapa dokter menangani Felisa. Hanif yang mengawal Dino dan Felisa, dia berusaha menguatkan Dino yang sedang duduk di kursi ruang tunggu. Tatapannya kosong, tidak mampu berkata-kata lagi.


"Apa Bilqis mendengar apa yang terjadi antara Sisi dan Iqbal?" tanya Hanif memberanikan diri untuk bertanya pada pria itu. Pertanyaan Hanif mampu menarik pandangan Dino untuk menatap wajah Hanif.


"Dia melihatnya di video yang ada di akun medsosnya." Dino kembali tertunduk setelah mengatakan hal itu.


Diantara mereka berdua hening. Tidak ada yang bersuara. Hingga, handphone Dino berdering. Dan dia langsung mengangkatnya, Iqbal yang di serang perasaan tidak enak saat menghubungi handphone Bilqis tapi tidak mendapatkan jawaban. Akhirnya pria itu menelpon Dino.


"Bilqis, Anfal." Hanya kata-kata itu yang mampu keluar dari bibir Dino.


Kini Iqbal sudah berada di rumah sakit. Dia langsung mencari kamar tempat Bilqis di rawat. Berbekal informasi dari petugas receptionis, Iqbal langsung menuju keruangan itu.


Di ruang rawat Bilqis, sudah ada Dino yang berdiri disamping putrinya. Tak henti-hentinya dia menangis, pria itu rapuh serapuh-rapuhnya. Anak satu-satunya, kini terbaring lemah di brangkar rumah sakit. Tubuhnya di penuhi beberapa alat medis. Pandangan Dino tak lepas, pada bibir putrinya. Bibir yang terakhir kalinya tersenyum bahkan tertawa lepas, sekarang bibir itu hanya bisa mematung tak bersuara. Raganya kini entah dimana. Hanya keajaiban yang mengembalikan raga putrinya.


"Sayang, kamu harus kuat. Demi ayah dan bundamu, sayang!" Dino menggenggam erat tangan putrinya.


"Kamu harus kembali." Seorang bola mata melihat kejadian itu. Iqbal, mendekat kearah Dino.


"Om, maafkan Iqbal." Dino menoleh saat mendengar Iqbal bersuara. Dino hanya mampu menatap nanar, pria yang di sebut tunangan anaknya.

__ADS_1


Dino mendekat kearah pria itu. Bagaimana pun juga, dia tahu perasaan Iqbal saat ini. Dino tidak menyalahkan seratus persen Iqbal atas kejadian itu.


"Mendekat lah, temani Bilqis." Suara Dino, tanpa melihat ke arah wajah pria itu.


Setelah itu Dino pergi meninggalkan mereka berdua. Rasa sedih, rasa bersalah, berhambur jadi satu memenuhi dada pria yang memiliki senyuman manis itu. Rasanya tidak percaya, kalau wanita yang dia cintai terkulai lemas di atas brangkar. Rasanya baru tadi, dia bercengkrama dengan wanita itu.


Wajahnya terasa panas, dadanya menjadi sesak. Kepalanya terasa berat, perlahan pria itu mendekat ke sisi kiri brankar. Di sentuhannya jemari Bilqis dengan lembut.


"Sayang, bangun sayang?" lirihnya dengan suara berat.


"Maafkan aku, aku akan jelaskan semuanya. Kamu bangun, ya!"


Hening tak bersuara. Yang terdengar hanya suara alat medis yang berada di samping ranjang Bilqis. Iqbal masih setia menunggu, Bilqis di tempat itu. Hingga, seorang wanita masuk ke dalam. Tatapan wanita itu tajam kearahnya. Kemarahan yang membuncah dalam diri wanita itu saat melihat dirinya menyentuh tangan Bilqis.


"Pergi! Pergi dari sini!!" Kata-kata itu lolos dari bibir Felisa saat melihat Iqbal ada di ruang rawat putrinya.


"Tante tolong! Jangan usir Iqbal dari tempat ini!"


"Pergi!??" teriak Felisa. Dino langsung yang baru saja masuk memberi isyarat agar Iqbal keluar terlebih dahulu dari tempat itu.


Dengan berat hati, Iqbal meninggalkan tempat itu dan menunggu di luar. Disaat itu juga Hanif akan masuk ke dalam.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2