
Di kediaman Prayoga.
Suasana duka masih sangat kental di rumah itu, semenjak kepergian Prayoga. Bu Yuni, bersama dengan para bodyguard Prayoga baru saja sampai dari pemakaman.
Mobil yang mereka tumpangi pun berhenti, tepat di halaman rumahnya.
"Jadi, kalian semua ikut ke pemakaman tadi!!!!" gertaknya pada semua bodyguard itu.
"Bodoh kalian!!! Tidak ada yang menjaga Alira, di sini!!?" mereka berempat hanya diam, saat Bu Yuni memarahinya.
"Periksa, Alira!!? Cepat!!?" perintahnya lagi.
Tak menunggu lama, dua orang bodyguard itu berlari masuk kedalam rumah dan langsung menuju ke kamar, di mana Alira di sekap. Setelah sampai di sana, pintu memang masih terkunci. Mereka mengira, Alira masih di dalam. Setelah itu, di buka kuncinya, dan mereka terkejut saat Alira tak lagi ada di ranjang itu.
"Kemana, nyonya Alira pergi?" Mereka hanya saling pandang, setelahnya menggeleng. "Kita harus laporkan ini pada Nyonya Yuni!!?"
Mereka kembali ke lantai satu, dengan setengah berlari, mereka sampai di depan Bu Yuni.
"Nyonya Alira kabur!?!!" ucap salah satu dari mereka dengan nafas tersengal-sengal.
"Apa!!!! Cari dia sampai dapat!!!" titah Bu Yuni dengan nada keras.
Mereka berempat berpencar mencari keberadaan Alira, dua orang lagi mencari di bagian depan dan dua orang lagi mencarinya di belakang.
Sudah hampir setengah jam mereka mencari di sekitaran rumah itu, namun Alira tak dapat di temukan. Dikiranya wanita itu sudah jauh dari rumah itu, dua orang bodyguard minta izin mencarinya di luar rumah.
Namun ditolak oleh Bu Yuni. Mereka berempat di ajak ke ruang kerja Prayoga, agar bisa tahu pergi kemana Alira. Mereka bisa melihatnya di monitor terpantau CCTV. Dan betapa terkejutnya Bu Yuni, saat tahu kenyataan. Kalau Prayoga tidak meninggal karena di dorong oleh Alira, melainkan jatuh sendiri.
"Jadi, bukan dia yang mendorong anakku? Maafkan Ibu, Ra! Harusnya Ibu tidak percaya saja dengan ucapan mereka!" lirih Bu Yuni menyesal.
Setelah mengetahui kebenaran itu, Bu Yuni kembali melihat ke monitor. Masih ada beberapa video yang belum ia lihat, salah satunya, misi penyelamatan Hanif terhadap menantunya itu.
"Pria itu!!!" gumam Bu Yuni, mengingat-ingat pria yang sudah membawa menantunya keluar dari rumahnya. "Jadi, dia orangnya!!!"
"Nyonya, pemuda itu sebelumnya memang datang ke sini!" terang salah satu bodyguard nya, yang sempat menghajar Hanif.
__ADS_1
"Iya, pria itu yang memukul tuan, sebelum kejadian itu terjadi!!?" imbuh yang lainnya.
Bu Yuni penasaran, ada hubungan apa sebenarnya menantunya dengan Hanif. Kenapa pria itu yang selalu ada di saat Alira susah.
"Kalian cari tahu, siapa pria itu!" Kemudian memerintahkan pada mereka berempat.
Di kediaman Hanif.
Pria yang memiliki lesung Pipit di pipinya itu sedang berjalan menuju ke kamar bundanya. Sembari membawa bubur ayam di tangannya dan segelas air putih, dia masuk kedalam tanpa minta izin pemilik kamarnya.
Alira, wanita itu masih dengan tubuhnya yang terbaring di ranjang dengan kepala yang menyender di headboard menatap nanar ke arah jendela. Bahkan kehadiran Hanif pun tak ia sadari.
"Ra!" Wanita itu menoleh pada pria yang berdiri di sampingnya. "Kamu harus makan!" Kemudian Hanif meletakkan nampan berisi makanan dan minuman itu keatas meja. Setelahnya, dia duduk di dekat Alira.
"Aku tidak membunuhnya!!!!" Alira masih saja mengucapkan kalimat itu. "Dia...jahat...dia...kejam!!!!" Tangisnya kembali pecah, Hanif ingin merengkuh wanita itu. Tapi, dia masih tahu batasannya.
"Aku tahu, kamu tidak bersalah. Kamu jangan terlalu memikirkan hal itu, ya! Kamu harus kasa. Ketakutan kamu!" ucapnya dengan tangannya yang menggenggam erat tangan Alira.
Kemudian, Hanif menyuapkan bubur ayam yang ia bawa kedalam mulut Alira. Awalnya, wanita itu menolak, tak mau membuka mulutnya. Namun, Hanif sedikit memaksanya dengan sedikit mengancamnya.
"Kita akan ke dokter, besok. Aku janji, Ra. Akan menyembuhkan sakit mu. Kamu harus bisa sembuh!" Mata sayu milik Alira pun mengedip kala Hanif tersenyum hangat kearahnya. Damai...hanya itu yang bisa menggambarkan hatinya saat ini.
Usai mengadukan masalahnya pada pemilik kehidupan, hati Akira sudah sedikit lebih tenang. Dia tak lagi mengucapkan kata-kata yang membuatnya menangis, dan juga wajahnya sudah sedikit segar dari siang tadi.
"Sayang, kamu harus kuat ya???" ucap Bu Tari, memeluk wanita itu. Dan Alira pun mengangguk di atas pundak Bu Tari.
"Nif, terimakasih ya! Kamu sudah menolongku!!!" lirih Alira, saat Bu Tari sudah melepaskan pelukannya.
"Kalau tidak ada kamu, mungkin sekarang aku sudah ada di penjara!!!!" lanjutnya menunduk.
"Kamu tidak bersalah, kamu jangan takut hadapi masalah ini. Aku akan membantu mu!" balas Hanif.
Perbincangan mereka terhenti, Kala bel di rumah itu berbunyi. Segera Bu Tari membukakan pintunya. Dan beliau terkejut, saat seorang wanita seumurannya dan tiga orang bertubuh kekar berdiri di depan pintu itu.
"Maaf, cari siapa?" Dengan terbata, Bu Tari bertanya.
__ADS_1
"Dimana kalian sembunyikan menantu saya!" jawab wanita itu ketus.
"Menantu?"
"Alira!!!" Seketika wajah Bu tari memucat, saat wanita itu mengucapkan nama wanita yang ada di rumahnya.
"Saya ingin bertemu dengannya!!!" lanjut wanita itu menatap wajah Bu Tari dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Silahkan masuk!??"
Mereka akhirnya masuk kedalam dan duduk di sofa ruang tamu. Sementara Bu Tari, beliau memanggil Hanif kalau ada seseorang yang mencari Alira.
"Nif, ada yang nyariin Nak Alira!" Hanif pun terkejut.
"Siapa Bun?"
"Seorang wanita seumuran bunda, terus tiga orang lagi tubuhnya besar. Kayak preman begitu!" Sontak membuat Alira kembali ketakutan, dia bersembunyi di balik tubuh Hanif, dengan tubuh bergemetar.
"Itu pasti Bu Yuni dan antek-anteknya. Katakan pada mereka Bun, Hanif akan menemuinya, sebentar lagi!" pinta Hanif, dan Bu Tari langsung menyampaikan pada tamunya.
Sementara Alira, wajahnya kembali pucat. Keringat dinginnya pun mulai bermunculan di wajahnya. Hanif menatap lekat wajah wanita itu.
"Ra!! Kamu gak usah takut ya!" Hanif berusaha menenangkan wanita itu.
"Aku takut, Ibu akan membawaku ke kantor polisi!" kata Alira setengah terbata.
"Itu gak akan terjadi, percaya padaku!! Kita temui mereka, ya!!!" ucap Hanif, dan Alira mengangguk.
Sementara di ruang tamu, Bu Tari menyuguhkan minumannya pad tamunya. Setelah itu, beliau menyampaikan apa yang Hanif pinta tadi.
"Tunggu sebentar, Alira lagi menuju ke sini! Silahkan di minum dulu, tehnya!" Lalu mempersilahkan tamunya untuk minum.
Bu Yuni pun mengangguk, dia melihat sekeliling ruangan itu. Tak ada yang aneh menurutnya, bahkan foto Alira tak ada di pajang di sana. Tapi, kedekatan Alira dan Hanif membuat dia penasaran. Hingga tercetuk kalimat itu dari bibirnya.
"Ada hubungan apa antara putra anda dengan menantu saya, sebelumnya?" Bu Tari pun tercengang, dia tidak tahu harus menjawab apa. Sedangkan dia sendiri tidak tahu kenyataannya.
__ADS_1
Saat Bu Tari akan menjawabnya, Hanif dan Alira muncul dari ruang tengah. Sontak pandangan orang-orang yang ada di ruang itu beralih pada mereka berdua.
To be continued