
"Aku tunggu kamu di rumah," ujar Hanif dari seberang dan menutup nada panggilannya.
Ada yang aneh dengan sikap kekasihnya itu. Tidak biasanya ia bicara ketus padanya. Sisi menyimpan handphonenya kembali ke dalam tasnya. Setelah itu dia membuang nafasnya panjang.
Melihat kegusaran sahabatnya itu, membuat Iqbal ingin tahu apa yang telah terjadi pada Sisi.
"Kenapa, Si? Kok lesu gitu?" cecarnya menoleh sebentar kearah wanita yang duduk disampingnya itu, setelah itu Iqbal fokus menyetir mobilnya lagi.
Wanita itu pun bingung harus menjawab apa. Gak mungkin juga cerita kalau dia sedang bingung dengan sikap kekasihnya. Yang ada malah, akan menjadi bahan ejekan, sahabatnya itu.
"Eh, itu.. gak apa kok! Hanif udah nunggu dirumah," jawabnya setengah terbata. Mendengar hal itu membuat pria berkulit sawo matang itu tersenyum lega.
"Oh, kirain ada apa!"
Mereka sampai juga di kediaman Faisal. Rumah bercat putih dengan di kelilingi pagar teralis besi, menambah kesan nyaman dengan rumah itu. Mobil Iqbal pun berhenti pas di pintu pagar itu. Dia sengaja tidak turun untuk membukakan pintu sahabatnya, karena dari kejauhan dia melihat Hanif yang memperhatikan mobil mereka.
"Aku turun dulu, ya! Makasih udah diantar," ucap Sisi menoleh kearah pria disebelahnya.
"Iya, tuh satpam kamu udah nungguin kamu. Buruan gih, masuk!" seru Iqbal mendapat senyuman sekilas dari Sisi.
Sisi turun dari mobil Iqbal, setelah itu berjalan kearah Hanif yang sudah berdiri di ambang pintu pagar. Tidak ada senyuman dari pria itu sebagai penyambutan atas dirinya. Sebaliknya, pria itu menatap curiga pada dirinya.
"Kenapa gak bilang kalau mau jenguk Bilqis?" tanya Hanif dengan nada sedikit meninggi.
Sisi yang merasa terintimidasi dengan pertanyaan Hanif. Dia mencoba mencari jawaban yang tepat agar suasananya tidak semakin runyam.
"Aku takut merepotkan kamu, sayang," jawabnya sedikit gugup. Dan benar saja, Hanif tiba-tiba mengelap wajahnya kasar.
"Oh, jadi kamu lebih suka merepotkan orang lain ketimbang tunanganmu sendiri?" Mendengar kekasihnya bicara begitu, Sisi langsung mengerinyitkan keningnya. Sepertinya dia salah bicara. Hingga membuat Hanif semakin kesal.
"Bukan begitu, sayang. Aku hanya..."
__ADS_1
"Nanti malam aku akan kesini bersama Bunda dan Nenek. Tadi, Papamu sudah ngomong ke aku. Katanya, beliau sudah siap menunggu kunjungan orang tuaku kesini," potong Hanif tak ingin mendengar kelanjutan kalimat Sisi.
Pria itu melangkah menuju ke mobilnya, sejurus kemudian Sisi memanggilnya.
"Sayang, kamu mau kemana?" Sisi pun menyusul kekasihnya yang sudah berada di dekat mobilnya. Hanif menghentikan langkahnya, untuk masuk kedalam mobil dan menatap kearah wanita yang mengejarnya.
"Aku pulang dulu. Mau mempersiapkan semuanya. Kamu dandan yang cantik, ya! Malam ini," ujarnya lalu masuk kedalam.
Sisi terbelalak dengan akhir kalimat yang dilontarkan pria itu. Tapi hatinya begitu senang. Karena malam ini akan menjadi momen yang indah untuknya. Tak lama setelah itu mobil Hanif perlahan menjauh dari tempat Sisi berdiri.
Melihat kekasihnya sudah pergi dari rumahnya. Sisi kemudian masuk kedalam. Dia harus menyiapkan untuk acara malam nanti. Untuk menyambut kehadiran keluarga Hanif. Saat baru saja masuk kedalam, terdengar suara orang mengobrol di ruang keluarga. Sisi langsung mendekatinya, ternyata orang itu adalah adiknya, Fatin.
Jiwa kekepoannya pun mulai menggerayangi pikirannya untuk mendengar apa yang sedang di bicarakan adiknya itu. Sisi mempertajam pendengarannya. Sesaat kemudian, adiknya menyadari kehadiran dirinya. Membuat wanita itu tersenyum getir karena ketahuan menguping.
"Ngapain Kakak ada disitu?" tanyanya lalu menutup telponnya.
"Hehehehe, gak kok. Ini mau ke kamar," kilah Sisi cengengesan.
"Salam, kok. Kamu aja yang gak denger karena asyik telponan. Emang telpon siapa, sih!" Fatin pun mendelik sebel melihat kakaknya yang semakin ingin tahu saja urusannya.
"Ke-po!" Pria berparas tampan itu langsung meninggalkan kakaknya yang sudah siap mendengar jawabannya.
"Adek!!! Ih, ngeselin... Gitu aja main rahasia-rahasia an Ama Kakak," teriak Sisi menyusul adiknya, tapi tidak sampai ke kamarnya.
"Biarin!!" balas Fatin.
Malam harinya, selepas sholat magrib Faisal baru keluar dari kamarnya menuju ke meja makan. Anak-anaknya belum terlihat ada di sana, hanya ada Bi Imah yang sedang sibuk menata makanan di sana. Faisal langsung duduk, di tempat biasa duduk dan menanyakan keberadaan anak-anaknya.
"Anak-anak belum turun, Bi?" tanya Faisal sopan pada assisten rumah tangganya itu.
"Belum, tuan." Tak lama setelah itu, dua putranya datang bersamaan menuju kearahnya.
__ADS_1
"Mana Kakak kalian?" Faisal kemudian bertanya pada mereka.
"Lagi dandan, Yah. Kan mau di lamar, harus kelihatan cantik, dong!" celetuk Fatan membuat semua yang ada di situ tergelak.
Sisi yang mendengar dirinya disebut-sebut, lantas bersuara.
"Apa ini, sebut-sebut cantik. Sisi udah kelihatan cantik, kan Yah!" Wanita yang memakai dress dibawah lutut, dengan lengan yang hanya tertutup disebagiannya berputar-putar bak foto model yang sedang berpose. Mengundang semua yang ada disana menggelengkan kepalanya karena melihat kelakuannya yang seperti anak kecil.
"Cantik, tapi akan lebih cantik lagi kalau kamu mau menutup aurat kamu, Nak!" sahut Faisal, langsung membuat wanita itu berhenti lenggak-lenggoknya. Baginya, sindiran ayahnya kali ini membuat dirinya merasa malu. Karena sudah mengumbar auratnya.
"Sayang, kapan lagi kamu akan berhijrah? Apalagi, sebentar lagi kamu akan mempunyai suami. Setidaknya ringankan beban Ayahmu, adik-adikmu, dan suamimu kelak dengan cara menutup auratmu." Kata-kata ayahnya sekali lagi membuat teriris hati wanita itu. Betapa tidak, dia selalu menunda-nunda kewajibannya sebagai seorang muslimah yang taat.
"Iya, Ayah. Sisi akan berusaha, memantapkan diri untuk berhijab." Faisal tersenyum kearah putrinya.
"Sayang, jangan menunggu hidayah itu datang. Tapi jemputlah hidayah itu sendiri." Sisi tertunduk mendengar nasihat ayahnya. Seketika wajahnya memerah, hingga satu butir cairan bening merembes di pipinya. Hatinya seperti tertampar, mendengar kalimat demi kalimat yang disampaikan ayahnya.
Sisi beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju ke anak tangga.
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Faisal, saat anaknya sudah mulai hampir menghilang dari pandangannya.
"Mau jemput hidayah, Yah!" Faisal tersenyum lega mendengar kalimat itu keluar dari mulut putrinya. Dia akan menjadi orang tua paling bahagia, jika putrinya itu sudah mau menutup auratnya.
Selang berapa lama, Hanif dan keluarganya datang. Mereka digiring oleh Bi Imah untuk duduk di ruang tamu. Setelah itu, wanita paruh baya itu memanggil Faisal yang masih berada di meja makan. Mendengar tamunya sudah datang, Faisal menghentikan makan malamnya, dan segera menemui keluar Hanif.
Dengan ramah Faisal menyapa para tamu-tamunya itu. Bunda dan neneknya Hanif duduk bersebelahan. Sedangkan pria itu duduk di sisi kiri Faisal.
Di dalam kamar, Sisi sedang membenarkan tatanan hijab syar'i nya. Wanita itu memilih gamis berwarna, abu-abu senada dengan hijabnya. Gamis itu di beli saat lebaran tahun kemarin. Karena jarang ia pakai, jadi masih terlihat seperti baru beli.
Dengan makeup yang tidak berlebihan membuat wanita itu lebih ayu dan anggun dari biasanya. Setelah selesai berpakaian, dan dandannya. Sisi keluar dari kamarnya untuk menemui Hanif dan keluarganya.
Di ruang tamu, saat mereka sedang berbincang. Datang seorang yang menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di ruang itu.
__ADS_1
To be continued