
Sisi pun tercengang mendengar pengakuan Bilqis yang diam-diam suka dengan Hanif. Sisi diam sesaat, bermain dengan pikirannya sendiri. Sekarang dia harus apa, mungkinkan dia merelakan dokter muda itu untuk sahabatnya. Tapi bagaimana dengan hatinya.
"Kak Sisi, kok jadi banyak bengong sih!" ujar Bilqis memegangi tangan Sisi. Sisi langsung memandang kearah Bilqis. "Kakak mikirin apa?" Pertanyaan Bilqis pun sontak membuat Sisi jadi salah tingkah.
"Nggak Dek, kakak cuma lagi mikirin kerjaan aja kok. Sekarang kamu harus semangat agar bisa sembuh ya," jawab Sisi seraya mengelus rambut sahabatnya.
"Iya Kak, Bilqis harus semangat. Karena Bilqis ingin sembuh, dan ingin lebih lama melihat pria uang Bilqis suka." Pikiran Bilqis melayang, membayangkan kebersamaannya dengan Hanif. Sehingga membuat dia senyum-senyum sendiri.
"Hmmm yang sedang jatuh cinta. Kayaknya bakal gak bisa tidur dengan nyenyak nih," goda Sisi menahan sesak di dadanya.
"Tapi Bilqis ragu Kak. Apa Dokter Hanif punya perasaan yang sama ke Bilqis. Bilqis kan penyakitan. Mana mungkin dia mau," ucap Bilqis putus asa.
"Kamu gak boleh ngomong gitu Dek. Kakak yakin dokter Hanif juga Suka kok sama kamu. Kamu gak boleh nyerah yah, semangat." Sisi tidak tega melihat Bilqis putus asa. Sekarang baginya, sahabatnya itu bisa sembuh. Walau dia harus berbagi pria yang dicintainya. Sisi pun ikhlas. Baginya Bilqis bukan hanya sekedar sahabatnya tapi juga seperti adik kandungnya.
Usai menemani Bilqis, Sisi pun ke cafe. Tapi seorang pemuda memanggilnya.
"Si!" Sisi pun menoleh, ternyata Iqbal yang memanggilnya.
"Eh kamu Bal. Tumben kamu gak masuk kedalam." Sisi menghampiri pria yang memakai kemeja warna biru.
"Aku mau ngomong sama kamu, ikut aku sebentar." Iqbal pun kemudian menarik tangan Sisi menuju ke suatu tempat.
Di taman rumah sakit, mereka berhenti. Dokter cantik itu pun merasa kebingungan, karena Iqbal mengajaknya ke sana. Tapi dia hanya bisa pasrah mengikuti kemauan teman kuliah seangkatannya itu. Iqbal dan Sisi memang teman kuliah namun berbeda jurusan. Sekarang pria muda itu menjabat sebagai dosen di tempat mereka kuliah dulu. Mereka memang sudah bersahabat lama. Sering memberi dukungan. Apalagi setelah sisi tahu kalau Iqbal mencintai Bilqis. Dia pun orang pertama yang mendukung pria itu untuk mendekatinya.
"Aku tahu apa yang kamu bicarakan dengan Bilqis di dalam tadi," kata Iqbal membuka percakapan. Dia menghela nafas panjang.
"Sepertinya aku akan berhenti untuk mendapatkan cintanya. Karena hatinya sudah ada pria lain. Mungkin aku terlalu bodoh selama ini. Pengecut untuk menyatakan perasaan ku padanya," lanjutnya menatap nanar ke sebuah pohon palem di depannya.
"Sudahlah, aku gak mau bahas itu. Aku bingung harus bagaimana sekarang." Sisi memegangi pelipisnya yang terasa berat.
"Ini semua gara-gara kamu Bal. Coba dari awal kamu gak pengecut, Bilqis gak mungkin suka dengan Hanif." Sisi kemudian menyalahkan pria disampingnya itu. "kamu lihat ini." Sisi memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisnya. "Ini cincin pemberian Hanif, dia melamarkan," lanjutnya memukul-mukul lengan Iqbal.
__ADS_1
Iqbal terkejut mendengar ucapan Sisi. Dia tidak menyangka kaldu akan serumit ini. Wanita yang dicintainya mencintai kekasih sahabatnya. "Kamu serius Si?" Tanyanya seakan masih kurang percaya dengan perkataan dokter cantik itu. Sisi pun hanya mengangguk.
"Astaghfirullahalladzim." Iqbal mengusap mukanya kasar.
"Terus apa yang akan kamu lakukan saat ini, Si?"
"Emangnya aku punya pilihan Bal, selain berbagi pria yang kami cintai." Sisi menatap kosong kearah Iqbal.
"Kalau saja aku tidak pengecut, mungkin Bilqis saat ini sudah jadi milikku."
"Percuma kamu bilang seperti itu. Nasi sudah menjadi bubur." Sisi pun sudah pesimis untuk mendekatkan Iqbal dengan Bilqis.
Usai pertemuannya dengan Iqbal, Sisi pun tidak jadi ke cafe. Dia sudah tidak mood untuk makan. Dia lebih memilih kembali keruangannya. Sementara Hanif, dari tadi dia mencari keberadaan tunangannya itu. Tapi tidak dapat menemukannya. Dihubungi lewat handphone pun tidak bisa. Sedikit kekhawatiran terpancar dari wajah dokter ganteng itu.
Saat Sisi masuk keruangannya, langsung mendapat pertanyaan interogasi dari tunangannya itu.
"Kamu kemana aja? Udah makan atau belum? Kamu sengaja matikan handphone kamu, agar aku tidak bisa menghubungi mu?" Sisi pun mendelik mendengar pertanyaan Hanif. Dia tidak menyangka, kalau Hanif sekhawatir itu dengannya. "Jawab, kok malah bengong," lanjutnya.
"Hey, kamu kenapa sih kok jutek begini?" Hanif mencium bau-bau yang tidak beres pada kekasihnya itu. Wajahnya pun tidak seceria saat mereka berangkat tadi pagi.
"Kamu kenapa sayang?" Lanjutnya mencoba mencari jawaban kegundahan hatinya.
"Nggak kok, aku capek aja!" kilah Sisi belum berani mengatakan dengan jujur apa yang terjadi padanya.
"Bener, cuma itu?" Hanif masih tidak percaya dengan jawaban kekasihnya.
Hanif pun kembali ke mejanya. Beberapa pasien sudah mulai berdatangan lagi. Sekedar untuk kontrol ataupun periksa awal. Hingga tidak terasa waktu sudah sore. Sisi pun membereskan barang-barangnya agar bisa pulang bersama dengan ayahnya.
Saat Sisi sudah siap semuanya. Dia langsung keluar dari ruangannya meninggalkan Hanif yang masih memeriksa satu pasien lagi. Sikap Sisi pun membuat Hanif tidak konsen dalam kerjanya. Akhirnya dia meminta pada pasiennya untuk datang lagi besok. Dengan alasan waktu kontrol sudah habis. Beruntung pasiennya mau mengerti.
Setelah beres-beres Hanif pun berusaha mengejar Sisi. Tapi sepertinya kekasihnya sudah pulang bersama ayahnya. Jadi dia tidak bisa mengantarnya pulang.
__ADS_1
Dengan mengendarai mobilnya, Hanif pun tidak tenang dibuat Sisi. Dia kepikiran dengan perubahan sikap kekasihnya itu. Dia langsung menghubungi ponselnya, berharap Sisi mau mengangkatnya. Tapi sepertinya tidak dihiraukan oleh Sisi.
Didalam mobil Faisal. sisi terlihat murung. Membuat ayahnya sedikit curiga dengan putrinya itu. Sesekali Faisal memperhatikan putrinya, seperti sedang membawa beban dalam hidupnya.
"Kamu kenapa sayang? Berantem dengan Hanif?" Sisi pun masih melamun. Hingga tidak menyadari pertanyaan ayahnya.
"Si, kamu kenapa?" Faisal agak meninggikan suaranya agar putrinya tersadar dari lamunannya.
"Nggak Yah, Sisi cuma lelah." Sisi kembali diam.
"Kalau ada masalah cerita sama ayah. Tidak semua masalah bisa diselesaikan sendiri, Nak. Terkadang kita perlu seseorang untuk dimintai pendapatnya." Faisal mencoba membujuk putrinya agar mau menceritakan masalah yang sedang dihadapi Sisi.
Hening sesaat, hingga ponsel Sisi kembali berdering. Hanif yang menghubungkannya. Tapi sisi tak kunjung mengangkatnya.
"Itu ponselnya bunyi sayang, kok gak diangkat. Siapa tahu penting."
"Nggak kok Yah, ini cuma dari petugas asuransi yang nawarin produknya. Nanti Sisi blokir aja nomornya." Faisal hanya tersenyum mendengar ucapan putrinya. Dia menyadari sikap putrinya yang lebih memilih untuk menyimpan sendiri masalahnya. Dia tidak mau memaksakan kehendaknya untuk mengurusi masalah putrinya. Kalau tidak Sisi sendiri yang cerita.
Mereka sampai juga di rumah. Tapi mobil Faisal terhenti saat sebuah mobil berhenti di depan mobilnya. Faisal dan Sisi pun turun. Tenyata Hanif yang menghentikan mobil Faisal.
"Maaf Dok, saya boleh pinjam Sisi nya sebentar?" Hanif kemudian menghampiri Faisal dan meminta izin untuk bicara dengan Sisi.
"Silahkan. Kalau ada masalah, baiknya kalian bicarakan dengan baik-baik. "
Setelah mendapat persetujuan dari Faisal. Hanif pun mengajak Sisi ke suatu tempat. Dia semakin yakin telah terjadi sesuatu dengan tunangannya itu. Sehingga terus saja menghindar darinya.
"Kamu kenapa si sayang? Aku salah apa?"
To be continued
Kira-kira Sisi cerita gak ya....
__ADS_1