Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Musuh lama


__ADS_3

Sesuai intruksi, seseorang memutar kembali video di layar proyektor. Di dalam video itu terlihat dokter Soraya mengganti pakaiannya dengan pakaian perawat. Selang beberapa, dokter muda itu berjalan dengan memakai masker ke ruang Laboratorium. Setelah itu dia menukar simple darah itu.


"Bisa anda jelaskan, terkait dengan video itu, Dok?" Soraya tidak bisa berkutik lagi. Semua kejahatannya terlihat jelas di video itu.


"Saya..saya bukan wanita yang ada di Vidio itu. Bisa saja itu, di edit!" kilahnya belum mau mengakui kejahatannya.


"Baiklah! Di edit. Saya masih punya satu bukti lagi. Dan saya yakin kali ini, anda tidak akan bisa mengelak lagi. Tolong berikan surat hasil pemeriksaan pihak forensik ke hakim," titah pengacara Juan, pada asistennya.


Orang yang ditunjuk oleh pengacara itu, memberikan beberapa amplop ke meja hakim. Hakim membukanya, satu persatu amplop itu. Setelah membuka amplop itu, pak Hakim mengerinyitkan dahinya seraya berkata.


"Disini ada sidik jari anda, menempel di kantong darah itu." Seketika wajah Soraya berubah pucat pasi. Apakah kali ini dia masih mengelaknya lagi?


"Bisa anda jelaskan, kenapa sidik jari anda ada di kantong darah itu. Dokter Soraya Larasati?" Pertanyaan pamungkas dari pengacara itu membuat Soraya tak kunjung bersuara. Pandangannya menelisik kearah samping, tak berani menatapkan wajahnya ke arah pengacara itu. Raut penyesalan sekelibat ada di wajah dokter muda itu.


"Dokter Soraya Larasati, tolong anda jawab pertanyaan dari pengacara tergugat!" seru Hakim membuat Soraya kembali menolehkan ke arah pengacara itu.


"Ya! saya memang yang melakukan itu! Karena saya benci dengan pria itu!!" Wanita itu menunjuk kearah Faisal. Suara riuh dari orang-orang yang ada didalam ruangan itu kembali terdengar.


"Harap tenang!! Ini persidangan!!" seru Hakim mengingatkan mereka.


"Apa yang membuat anda membenci dokter Faisal?" Pengacara itu kembali bertanya.


"Saya bukan dalang dari semua ini. Tapi saya di perintahkan oleh paman saya, pak Darul. Untuk membuat rumah sakit sejahtera di tutup. Karena dia, anaknya di penjara, dan mengakhiri hidupnya belum lama ini. Tujuan saya bekerja disana bukan cuma untuk mencari celah untuk melancarkan rencana kami. Tapi juga, agar saya tahu siapa saja orang terdekat dari Dokter Faisal. Dan apakah anda tahu! siapa saya? Dokter Faisal?" Tatapannya tajam kearah Faisal. Kebencian dan dendam meliputi diri wanita berambut sebahu itu.

__ADS_1


"Saya tidak mengenali, siapa anda. Dan tujuan anda apa membenci saya?"


"Karena anda Papa saya di pecat secara tidak hormat di rumah sakit itu!!!" teriaknya lantang menggema di ruangan sidang.


Pikiran Faisal menelisik pada kejadian saat dia baru menjabat sebagai direktur utama di rumah sakit itu. Pak Surya Pratama, dia adalah rekan bisnis pak Erlangga yang sama-sama membangun rumah sakit itu. Awalnya mereka bersahabat dengan baik, karena keserakahannya yang menggelapkan uang di rumah sakit itu membuat Pak Erlangga mengambil alih semuanya. Dan menyerahkan jabatan itu ke tangan Faisal. Dan pak Erlangga juga memecat secara tidak hormat Pak Surya Pratama dari rumah sakit itu.


Karena beliau pemegang saham terbesar dari rumah sakit sejaktera. Jadi, beliau berhak memberhentikan siapapun, sesuai kesalahannya. Termasuk rekan bisnisnya itu.Karena itu, papanya dokter Soraya mengalami serangan jantung dan meninggal saat itu juga. Beruntung, saat itu ada seseorang yang mengadopsi dia. Dari situlah dendam itu bermula. Terkadang kepintaran tidak ada nilainya, saat dendam meliputi diri seseorang. Allah saja maha pemaaf hambanya yang berbuat khilaf. Lalu, kenapa kita yang masih penuh dengan dosa ini menjadi orang yang sombong. Yang tidak mau memaafkan kesalahan orang lain.


Sidang itu akhirnya ditutup dengan Hakim, dengan keputusan hukuman seumur hidup untuk Pak Darul dan hukuman kurungan 20 tahun penjara untuk dokter Soraya. Mereka terkena pasal berlapis. Yaitu pasal pembunuhan berencana dan pencemaran nama baik.


Dan membebaskan dokter Monica dengan tuduhan penggugat.


Faisal bisa bernafas lega. Akhirnya persidangan berjalan dengan lancar dan sesuai dengan keinginannya. Semua team dari Faisal saling berjabat tangan, untuk merayakan kemenangan mereka. Sementara Soraya, wanita itu langsung di jebloskan ke jeruji besi di susul dengan Pak Darul yang baru saja akan diadakan penjemputan dari pihak berwajib.


Disela-sela mereka merayakan kemenangan. Suami korban pembunuhan itu mendatangi Faisal. Dia meminta langsung dengan Faisal atas apa yang ia lakukan.


Mereka berdua sudah memaafkan laki-laki itu. Karena Faisal tahu, dia hanya di provokatori oleh Sora dan pak Darul. Jadi, laki-laki itu tidak sepenuhnya bersalah.


"Kami sudah memaafkan Bapak. Saya mewakili rekan-rekan saya juga mohon maaf, dan menyesal atas kejadian ini. Dengan begitu, kami lebih berhati-hati lagi dalam menerima pegawai ataupun dokter di rumah sakit kami." Mereka kemudian saling bersalaman.


"Saya tidak menyangka wanita itu di balik pembunuhan istri saya. Dia yang menyarankan saya untuk menggugat rumah sakit sejahtera. Ternyata dua sendiri penjahatnya." Faisal sudah bisa menebak dengan apa yang disampaikan oleh laki-laki itu.


Mereka membubarkan diri setelah adzan Dzuhur berkumandang. Faisal dan Dino, memilih mencari masjid terdekat yang ada disekitar pengadilan itu dan sholat Dzuhur terlebih dahulu. Sebagai bentuk rasa syukurnya karena semua masalahnya sudah bisa diselesaikan dengan baik.

__ADS_1


Mendengar berita itu Hanif dan Sisi merasa sangat bahagia. Pasangan kekasih itu pun ikut merayakan kemenangan ayahnya dalam menjalani kasus itu. Mereka sekarang berada di cafe rumah sakit. Cafe itu masih terlihat sepi, karena imbas dari kasus itu. Banyak pasien yang menghentikan pengobatannya disana.


"Sayang, apa Dokter Faisal akan kembali ke Singapura setelah masalah ini selesai?" tanya Hanif, kemudian menyesap minumannya.


"Kalau itu, aku belum tahu, sayang. Emangnya kenapa?" jawab Sisi kembali bertanya pada kekasihnya itu.


"Aku ingin melamar mu secara resmi." Ucapan Hanif membuat Sisi begitu bahagia.


"Nanti coba aku tanyakan ke ayah dulu, ya." Mereka berdua saling tersenyum.


Hanif berencana akan melamar secara sederhana kekasihnya itu. Dan hanya dihadiri ke-dua orang tua dari kedua belah pihak. Rencananya, dia akan membuat pesta pernikahan yang mewah setelah itu. Pria itu ingin membuat kesan terindah seumur hidupnya dengan mengikrarkan janji sucinya bersama orang yang ia cintai.


"Sal, apa gak sebaiknya kita cepat membuat konferensi pers untuk meluruskan berita ini," saran Dino pada sahabatnya kala mereka sedang berada dalam perjalanan menuju rumah sakit Sejahtera.


"Iya, Din. Udah aku atur semuanya. Karena kasus itu, berimbas besar Dangan pemasukan di rumah sakit," jelas Faisal.


"Apa setelah ini, kamu akan kembali ke Singapura lagi?" Faisal tampak berfikir dengan pertanyaan sahabatnya.


"Aku belum tahu, Din. Kabar terakhir papa Erlangga keadaannya semakin memburuk. Tapi, aku tidak bisa meninggalkan rumah sakit dalam keadaan seperti ini. Setidaknya sampai keadaannya mulai membaik." Dino mengangguk.


"Aku setuju soal itu. Sepertinya kita harus bekerja keras membalikkan nama baik rumah sakit Sejahtera. Terlanjur berita itu tersebar kemana-mana!"


"Kamu benar, Din. Aku nggak nyangka, kalau dendam pak Darul begitu kuat pada keluargaku," ucap Faisal sembari fokus menyetir.

__ADS_1


Tiba-tiba Faisal mengerem mendadak mobilnya, saat dia merasa telah menabrak sesuatu.


To be continued..


__ADS_2