Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Sah


__ADS_3

Keesokan harinya. Di rumah Faisal tampak sibuk mempersiapkan untuk akad nikah sore nanti. Sisi memilih akad nikahnya di lakukan sore, karena dia takut Hanif akan datang mengacaukan semuanya.


Memang acara sore nanti hanya acara akad saja, dan hanya di hadiri oleh kedua pihak keluarga. Tapi, Faisal ingin moment itu selalu di kenang putrinya. Karena itu dia menyewa pihak WO untuk menghias ruangan tamu Faisal menjadi lebih indah.


Sofa-sofa di ruang tamu itu di pindahkan di luar untuk sementara. Dan sebagai gantinya, ruangan itu di gelar beberapa karpet untuk mereka duduk. Dinding bagian barat di hiasi oleh wallpaper bergambar dua angsa berbentuk hati di pinggir danau. Beberapa bunga di rangkai indah berbentuk hati untuk tempat akad nanti.


Tak hanya ruangan itu yang di hias. Namun, kamar Sisi juga di hias oleh pihak WO. Ranjang mereka di ganti sprei nya dengan warna kalem, dengan dua bantal yang di hiasi bentuk hati. Dinding-dinding ruangan itu di pasang lampu-lampu kecil yang berkemelip.


Sementara di dapur, Bu Siti dan Yulia sibuk membuat hidangan untuk sore nanti. Beberapa masakan di olah oleh mereka. Ada rendang daging sapi, capcay, sayur SOP, dan gurame goreng asam pedas manis. Mereka semua sudah selesaikan. Mengingat hari sudah menjelang sore.


Usai sholat ashar, Sisi langsung di dandani oleh tukang make up langganan Yulia. Dengan gaun berbahan brokat yang di bagian bawahnya berbentuk payung, dan bagian tubuhnya pun tidak terlalu ketat dirasa cocok untuk wanita berhijab seperti Sisi. Sisi memang sengaja tidak memilih menggunakan kebaya, karena jika memakai kebaya akan memperlihatkan lekuk tubuhnya pada semua orang. Jadi, dia memilih memakai gaun itu untuk mensiasatinya.


Tampilan make up nya juga tidak terlalu tebal, mempercantik wajah Sisi sore itu. Di tambah warna jilbabnya yang begitu kalem, memperlihatkan kekaleman Sisi.


Usai berdandan, Sisi duduk di tepi ranjang dengan di temani oleh Bilqis.


"Dek, Kakak gugup, Nih"ujarnya seraya meremas tisu di tangannya.


"Hmmm, kenapa Kak? Kok gugup!" Bilqis merangkul bahu kakaknya.


"Kakak takut, ijab qobul nya tidak akan berjalan dengan lancar." Sisi menatap kearah wajah Bilqis.


"Kita berdoa saja, ya Kak. Oh, iya apa Kakak benar-benar sudah tidak mencintai dokter Hanif?" Pertanyaan dari Bilqis semakin membuat Sisi merasa khawatir.


"Kakak sudah kubur dalam-dalam perasaan itu, Dek. Semenjak Kakak..." Wajah Sisi berubah menjadi merona kala dia membayangkan pertemuannya dengan calon suaminya.


"Semenjak Kakak kenal Kak Ilham," lanjut Bilqis tersenyum menggoda pada Sisi.


"Udah ah, gak usah bahas itu lagi. Gimana penampilan Kakak?" Bilqis memperhatikan Sisi dari atas hingga kebawah, setelah itu dia mengangguk.

__ADS_1


"Cantik, kok!"


***********************


Di tempat lain, di ruang tamu. Semua keluarga sudah berkumpul di sana, tinggal menunggu pengantin pria nya datang. Dino dengan Faisal duduk bersebelahan. Sementara pak Sukamto dan istri pun duduk di dekat dua pria tadi. Yulia dan Felisa memilih duduk di dekat pintu menuju ruang tengah. Agar mereka tidak kerepotan saat pengantinnya datang.


Faisal menyerahkan semuanya pada keluarga Ilham. Untuk penghulu yang akan menikahkan putrinya. Tampak jelas dari wajah mereka begitu bahagia saat itu. Apalagi Faisal, dia adalah orang yang paling bahagia dari siapapun. Mengingat penderitaan Sisi saat berusaha menjelaskan semuanya pada Hanif, putrinya begitu hancur. Terlebih lagi, saat Hanif memutuskan pertunangannya secara sepihak. Faisal sempat ketakutan melihat putrinya yang belum bisa move on dari mantan tunangannya itu. Bersyukur ada Ilham, sosok lembut nan penyanyang itu mampu mengembalikan keceriaan putrinya.


Rombongan Ilham dan keluarganya sudah tiba. Mobil mereka sudah terparkir di halaman depan rumah Faisal, kyai Abdullah dan istri terlebih dulu turun dari mobil Alphard berwarna hitam. Sementara Ilham dan pak Zakri turun dari mobil sedan berwarna merah, dengan seorang pria paruh baya yang mendidik sorban di kepalanya. Sepertinya pria itu adalah ustadz yang akan menikahkan Sisi dan Ilham nanti.


"Assalamualaikum!" Mereka semua mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam.


"Waalaikumussalam," jawab mereka yang ada di dalam serentak.


Mereka saling bersalaman, dan mencari tempat duduknya mereka masing-masing. Kyai Abdullah dan pak Zakri duduk mengapit Ilham. Sementara Faizal dan ustadz Mansyur duduk di seberang mereka bertiga.


Ustadz Mansyur adalah ustadz yang akan menikahkan Ilham dan Sisi. Beliau adalah kerabat dekat dari kyai Abdullah yang tinggal di Solo. Pengurus pondok pesantren juga di-sana.


"Pak Faisal, Bapak sendiri yang akan menikahkan putri Bapak atau di wakilkan kepada saya?" tanya ustadz Mansyur pada Faisal.


"Saya sendiri, Ustadz!" jawab Faisal dengan yakin.


Suasana menjadi hikmat. Beberapa pertanyaan di lontarkan ustadz Mansyur pada Ilham, mengenai mas kawinnya apa. Yang terpenting nasihat-nasihat yang di sampaikan untuk memulai lembaran baru dalam rumah tangga mereka pun di sampaikan dengan beliau.


Kini kedua tangan Faisal dan Ilham Sudan berjabat. Tiba saatnya ijab qobul segera di mulai. Dengan lantang Faisal bersuara. "Saya nikahkan dan kawinkan engkau Muhammad Ilham Alfahrizi bin Abdullah dengan putri saya yang bernama Felisya Basri binti Faisal Basri dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar seratus juta di bayar tunai!"


Dengan menghentak-hentakkan tangan mereka, Ilham menjawabnya dengan lantang. "Saya terima nikah dan kawinnya Felisya Basri binti Faisal Basri dengan mas kawin tersebut di bayar tunai." Dengan satu tarikan nafas Ilham berhasil mengucap janji sucinya di depan penghulu dan saksi, kalau dia resmi menyandang status suami Sisi.


Para saksi menyahutnya 'sah'. Pertanda pernikahan itu sah di mata agama. "Alhamdulillah." Mereka semua tersenyum bahagia, akhirnya Sisi dan Ilham resmi menjadi suami istri. Setelah itu ustadz Mansyur memimpin doa, agar pernikahan mereka berdua di Berkahi oleh Allah dan kelak menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah.

__ADS_1


Dia pun sudah di lantunkan, kini saatnya Sisi di pertemukan dengan Ilham. Yulia lah yang bertugas menyusul putrinya di kamar.


"Sayang, kita keluar yuk! Alhamdulillah, acara ijab Kabul nya berjalan dengan lancar," ujar Yulia saat sudah berada di kamar Sisi.


"Alhamdulillah," sahut Sisi dsn Bilqis secara bersamaan.


"Selamat ya, Kak. Akhirnya Kakak menemukan kebahagiaan Kakak." Mereka berdua berpelukan.


"Makasih ya, Dek!" Tangis hari pun meliputi ruangan itu.


"Udah dulu pelukannya, kita temui suamimu dulu, Yuk!"


Mereka bertiga akhirnya keluar dari kamar menuju ke ruang tamu. Jantung Sisi berdebar begitu hebatnya, hingga terlihat gemetaran.


Mereka sudah sampai di ruang tamu, manik mata semua orang berpusat pada wanita cantik nan anggun yang sedang berjalan mendekat kearah suaminya. Sisi bahkan tidak berani memandang, sosok yang kini sudah ada di sampingnya.


"Mashaa Allah, cantiknya menentu Umi!" puji Umi Qoniah pada Sisi, tentu saja membuat pemilik nama tersipu malu.


"Nak Ilham, silahkan di sematkan cincin kawinnya di jadi istri Nak Ilham," titah Ustadz Mansyur pada Ilham.


Ilham tersenyum mengangguk seraya mengambil kotak cincin berwarna merah di samping pot bunga kecil, setelah itu membukanya dan mengambil cincin permata yang terlihat cantik itu untuk di pakaikan ke tangan Sisi.


Kini mereka saling berhadapan, perlahan Sisi mengulurkan tangan kirinya dan langsung di sambut oleh Ilham. Ilham menyematkan cincin itu di jari manis milik Sisi, setelah terpasang sempurna Sisi mencium punggung tangan suaminya.


"Ayo di cium istrinya," goda pak Zakri membuat mereka tergelak.


Dengan sedikit gugup, akhirnya Ilham menuruti titah Pamannya, di raihnya tengkuk Sisi perlahan lalu di kecupnya lama pucuk kepala Sisi seraya menikmati kecupan itu.


Pemandangan indah itu tak lepas dari dua netra yang berdiri di balik pintu.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2