Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Kesalahan masa lalu


__ADS_3

Hanif menghentikan mobilnya ditepi jalan. Dia menatap kekasihnya yang masih tak bersuara. Dia masih bingung apa yang membuat kekasihnya itu berubah. Diraihnya tangan Sisi dan Hanif pun menggenggamnya.


"Katakan padaku, kamu kenapa?" Entah sudah berapa kali kata-kata itu keluar dari bibirnya tapi Sisi masih membisu, membuat dokter berparas tampan itu sedikit kesal.


"Kalau kamu diam begini, aku gak akan tahu salahku apa padamu!!!!!" teriaknya sembari memukul-mukul pengemudi di depannya. Dia pun mengelap mukanya kasar,"arghhhh" racaunya sudah mulai sedikit emosi.


"Aku ingin mengembalikan ini," ujar Sisi memberikan cincin yang di berikan Hanif semalam. Hanif pun tercengang, tiba-tiba Sisi mengembalikan cincin itu padanya.


"Apa maksudmu?" tanyanya menatap bingung wanita disampingnya.


"Karena ada yang lebih berhak menerima cincin itu dibandingkan aku." Ucapan Sisi membuat hatinya Hanif semakin memanas. Dia tidak menyangka kalau kekasihnya itu membatalkan pertunangannya tanpa alasan yang jelas.


"Kamu ini kenapa? Apa selama ini kamu tidak mencintaiku?" Sisi pun kembali diam.


"Bilqis, Bilqis suka padamu!" Hanif melongo mendengar ucapan Sisi.


"Kamu memutuskan hubungan kita, hanya karena Bilqis suka padaku?" Sisi pun mengangguk. "Semua orang berhak suka dengan siapa saja. Termasuk Bilqis yang suka denganku. Tapi aku hanya mencintai mu, Felysia Basri," lanjutnya memegangi kedua pipinya Sisi.


"Tapi dia beda Nif, dia sedang butuh penyemangat untuk hidupnya. Dan kamu adalah salah satu penyangat untuk dia bisa sembuh lagi," jelas Sisi mulai berkaca-kaca."aku gak mau kamu mematahkan semangatnya," lanjutnya sudah tidak tahan lagi untuk menangis.


Hanif pun diam, dia menelaah kata-kata Sisi. Sekarang dia baru sadar kalau perhatiannya selama ini disalah artikan oleh pasiennya itu. Tapi sekarang sudah terlambat untuk mencegah perasaan Bilqis. Hanif pun sudah tidak punya pilihan lagi.

__ADS_1


"Aku tidak akan melepaskan mu, Si!" racaunya ditengah-tengah lamunannya.


"Antarkan aku pulang!" Pinta Sisi yang sudah tidak sanggup berlama-lama di sana. Dia butuh tempat bersandar.


Hanif pun mengabulkan permintaan sisi untuk mengantarnya pulang. Sepanjang perjalanan mereka hanya saling dia. Tidak ada yang bersuara. Sampai mobil berhenti pas di depan pintu gerbang rumah Faisal. Saat Sisi akan turun dari mobil, tangannya ditarik oleh Hanif. "Aku akan berusaha untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini," ucapnya sebelum Sisi turun. Sisi pun tidak menanggapi ucapan Hanif. Dia langsung pergi meninggalkan pria yang bersamanya tadi.


Sepeninggal Sisi, Hanif pun langsung melajukan mobilnya. Dia bingung harus berbuat apa. Kejadian dua tahun yang lalu terulang kembali. Hanya saja, dia kini sudah mempunyai tambatan hati. Dia mengingat kejadian dimana seorang pasiennya yang bsper dengan perhatiannya. Hingga pasiennya jatuh cinta padanya.


Tapi Hanif tidak punya perasaan apa-apa dengan wanita itu. Orang tua wanita itu meminta bantuan pada Hanif untuk menikah dengan anaknya. Tapi Hanif tidak mau, sampai wanita itu mengakhiri hidupnya. Sejak saat itu Hanif jadi takut saat menghadapi pasien yang masih muda. Karena itu selama dua tahun ini dia tidak pernah menangani kusus pasien wanita yang masih muda. Bilqis yang pertama setelah kejadian itu. Itupun Dino yang memintanya.


Sisi masuk kerumahnya dalam keadaan menangis, bundanya yang berpapasan dengan Sisi langsung mengikuti putrinya sampai di kamar. Sisi duduk di ranjangnya, sembari terus mengeksplorasi air mata yang sudah jatuh. Yulia pun langsung mendekati anaknya.


"Kamu kenapa sayang? Kok pulang-pulang nangis gini?" Yulia langsung mendekap putrinya, menerima kekuatan untuk Sisi.


"Ceritakan pada bunda sayang. Apa yang terjadi?" Yulia mengelus punggung putrinya yang masih sesegukan di dekapannya.


"Sisi membatalkan pertunangan Sisi dengan Hanif, Bun!" jelas Sisi sontak membuat Yulia melepaskan pelukannya dari putrinya itu. Dia menatap bingung, anaknya.


"Tapi kenapa? Apa kalian ada masalah?" cecar Yulia yang semakin penasaran.


Sisi pun menceritakan semuanya pada bundanya. Yulia hanya diam menanggapi cerita putrinya. Dia mencari kata-kata yang pas untuk bicara pada putrinya. Agar putrinya tidak semakin bersedih. Dirasa Sisi sudah mulai tenang, barulah Yulia membuka suara.

__ADS_1


"Sisi, Bunda tahu apa yang kamu rasakan saat ini." Yulia menjeda kata-katanya sesaat. "Tapi kalau sampai Hanif membalas perasaan Bilqis, itu akan membuat hatinya tambah terluka. Kalau Bilqis tahu, Hanif tidak mencintainya, Nak! Bunda tahu rasanya jatuh cinta sendirian. Bunda pernah mengalaminya, sayang. Sakit. Akan banyak kebohongan dalam hubungan itu." Yulia mencoba memberikan pengertian pada putrinya itu. Sesuai pengalamannya dulu. Mungkin dengan Sisi mendengar apa yang Yulia katakan. Pikirannya akan sedikit terbuka. Dan tidak mengambil keputusan dengan tergesa-gesa.


"Kalian cari solusinya bersama-sama. Pelan-pelan bicara pada Bilqis apa yang terjadi dengan kalian berdua," lanjutnya menatap wajah putrinya. "Bunda yakin putri bunda bisa melewati ini." Yulia memeluk kembali putrinya. Perasaan sisi sudah sedikit lega setelah mendengar nasihat Bundanya.


Setelah putrinya tertidur. Yulia keluar dari kamar putrinya. Dia mencari keberadaan suaminya. Ternyata Faisal masih ada di ruang kerjanya. Dia mendekati suaminya yang masih berkutik dengan keyboard di labtobnya. Faisal pun langsung menghentikan aktivitasnya saat menyadari istrinya ada disampingnya.


"Sayang, ada apa kok murung gitu." Faisal ikut berdiri dan mengajak istrinya ke sofa yang ada diruangan itu. Yulia masih terlihat sedih dan murung. Dia tidak menyangka, kalau nasib putrinya akan seperti ini.


"Sayang, ceritakan padaku. Apa yang terjadi?" Yulia pun langsung menatap wajah suaminya.


"Mas, Sisi. Dia memutuskan pertunangannya dengan Hanif!" Tapi sepertinya Faisal tidak terkejut mendengar kata-kata Yulia.


"Mas sudah tahu. Tadi Hanif menelpon Mas. Dia bilang akan segera menyelesaikan masalahnya dengan anak kita." Terang Faisal mengelus lembut kepala istrinya.


"Mas, kenapa anak kita nasibnya seperti ini ya. Apa mungkin ini adalah karma, karma kita dimasa lalu." Kata-kata Yulia membuat hatinya Faisal sakit. Dia ingat kelakuannya dulu. Yang mempermainkan pernikahannya dengan Yulia. Tapi dia juga sudah menanggungnya. Dengan kehilangan Yulia selama satu tahun. Itu sangat menyakinkan untuk Faisal.


"Mas juga ngerasa sama apa yang kamu rasakan Yul. Ini semua salah Mas. Kalau saja mas bisa menebus kesalahanku yang dulu. Biarlah aku yang menderita. Jangan anak-anak kita. Mas gak sanggup, jika melihat Sisi sedih." Yulia sadar kalau kata-katanya menyakiti hati suaminya. Dengan cepat dia memeluk Faisal.


"Mas maafkan Yuli, Yuli gak bermaksud bicara seperti itu. Yulia ingin semuanya baik-baik saja. Kita berdoa saja ya Mas. Semoga Allah memberi yang terbaik untuk anak-anak kita, kelak." Faisal tersenyum melihat sifat kelembutan istrinya. Faisal tahu, istrinya sedang merasa bersalah.


"Yul, terimakasih ya sayang. Kamu masih setia mendampingi mas sampai sekarang ini." Yulia mengangguk, langsung menghambur dipelukan suaminya.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2