Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Beruntung


__ADS_3

"Tolong antarkan Delia pulang ya, saya ada janji mau menjemput klien di Bandara," pinta Devan pada Faisal.


"Eh..mengantar pulang?" tanya Faisal tak percaya. Dalam hatinya dia tak menyangka, akan tahu rumah Delia.


"Nggak usah Mas, Delia pulang naik taksi aja" cergah Delia tak enak. Dia tak mau merepotkan Faisal, apalagi baru bertemu.


"Oh, gak apa Del. Saya malah senang bisa mengantar kamu pulang," ceplos Faisal malu.


"Ya Del, malam begini gak baik buat seorang wanita pulang sendirian. Maafin aku, gak bisa mengantar kamu pulang. Karena ini klien penting," jelas Devan merasa bersalah.


Dengan pertimbangan yang amat berat, Delia terpaksa menerima tawaran Faisal. Mereka bertiga keluar dari mall tersebut, dan langsung menuju parkiran. Faisal membukakan pintu mobilnya, saat mereka sudah sampai diparkiran.


"Saya duduk di belakang saja Mas Faisal," tutur Delia, saat Faisal membuka pintu mobil yang ada di depan.


"Hmmm, saya bukan supir taksi Delia!" canda Faisal seraya tersenyum kecut.


Akhirnya, Delia duduk di depan, sebelah tempat duduk pengemudi. Faisal tersenyum puas, Sisi mengacungkan jari jempolnya kearah Faisal. Faisal hanya menggeleng menanggapi sikap konyol anaknya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Faisal tak ingin cepat sampai ke rumah Delia. Sisi duduk di belakang, dia sudang ngantuk, dan tertidur pulas di jok belakang. Faisal sesekali mencuri pandang, wanita di sebelahnya. Dia masih tak percaya, kalau wanita itu bukan Yulia. Faisal masih yakin, kalau Delia itu Yulia. Cara berpakaiannya sama Persis dengan Yulia, senyumnya juga. Faisal berencana akan menyelidiki siapa sebenarnya Delia. Mobil Faisal berhenti sesaat Delia mengatakan untuk berhenti.


"Terimakasih ya Mas Faisal atas tumpangannya," ucap Delia, Faisal hanya mengangguk dan tersenyum. Saat Delia akan turun dari mobil Faisal. Faisal memberanikan diri untuk memanggilnya kembali.


"Del, bolehkah saya minta nomor ponsel kamu." ucapnya pada Delia. Delia tersenyum, "boleh Mas." Delia menyebutkan nomor ponselnya pada Faisal, Faisal dengan cepat menyimpan nya di kontak ponselnya.


Delia turun dari mobil setelah menyebutkan nomor ponselnya, Faisal hanya bisa memandang tubuh Delia dari belakang.


"Yeahhhh, Ayah sudah dapat nomor telepon Bunda. Sisi bisa telpon Bunda dong!" Suara Sisi mengagetkan Faisal. Ternyata Sisi hanya pura-pura tertidur, dia ingin Faisal bisa lebih dekat lagi dengan wanita yang di sebut bundanya.


Di tempat lain.


"Sayang, mungkin Tuhan menghukum ku dengan tidak memberikan kita anak," gerutu Weli saat mereka sedang ada di ruang keluarga.

__ADS_1


"Kamu ngomong apa sih sayang, Allah belum kasih aja sama kita. Kita masih harus disuruh untuk bersabar lagi." Rio berusaha menenangkan Weli. Selama ini, Rio tak pernah mau membahas masalah itu. Dia tak ingin membuat Weli sedih dan kehilangan harapannya.


"Kita bisa adopsi anak di panti asuhan, jika kamu mau. Agar kamu tidak kesepian lagi." imbuh Rio.


"Apa maksud kalian dengan bicara akan mengadopsi anak." Teriak pak Adrian yang baru datang.


"Papa.. sejak kapan Papa datang." Rio berusaha mengalihkan perhatian Papanya.


"Jawab dengan jujur, apa yang terjadi pada kalian." Bentak Pak Adrian. Beliau mencium sesuatu yang tidak beres dari rumah tangga putranya. Weli hanya terdiam, melihat pak Andrian marah.


"Rio.. apa kamu tidak mendengar ucapan Papa?" pak Andrian mendekat ke Rio.


"Sebenarnya, aku.. akan sulit memiliki anak Pa." Weli sudah tidak tahan lagi, jika harus membohongi mertuanya tentang keadaannya.


"Apa itu benar To?" pak Andrian ingin memastikan, bahwa apa yang dikatakan Weli itu benar atau tidak.


"Benar Pa, rahim Weli ada kerusakan akibat kecelakaan waktu itu." Rio berkata jujur pada papanya. Dia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan semuanya pada papa dan mamanya.


"Jadi, itu artinya kalian tidak akan memberikan kami cucu." ucapnya dengan nada kecewa.


"Maafkan Weli Lah" Weli meraih tangan pak Andrian. Dia tahu, saat ini pasti psk Andrian dan Bu Sonya akan sedih.


"Papa kecewa dengan kalian berdua, kenapa kalian menyembunyikan masalah ini pada Papah.",


"Rio takut, Papa akan kecewa, jika kami belum bisa memberi kalian cucu."


"Tapi kita masih punya solusinya, agar Papa bisa mendapatkan cucu dari kamu." Pak Andrian menatap Rio.


"Maksud Papa apa?"


"Kamu bisa menikah dengan wanita lain, yang bisa memberi kamu anak," usul papa Andrian pada putranya.

__ADS_1


"Tidak, Rio tidak akan pernah mau menikah dengan wanita lain." Tolak Rio mendekati Weli. Air mata Weli sudah terjatuh di pipinya. Dia sudah menduga sebelumnya.


"Tapi, kalau kamu tidak bisa mempunyai anak, lantas siapa yang akan meneruskan perusahaan kita Rio." Pak Andrian masih tetap bersikeras untuk Rio menikah lagi.


"Rio tidak akan pernah mau Pah, Rio yakin Weli akan bisa memberi Papa cucu. Beri kami kesempatan sekali lagi Pah, Rio akan tunjukkan pada Papah, kami akan segera mempunyai seorang anak." Rio meninggalkan Pak Andrian seorang diri. Rio membawa Weli ke kamarnya, dia tahu perasaan istrinya saat ini. Pak Andrian lalu pergi meninggalkan rumah Rio. Dia sangat kesal dengan Rio, yang tak mau menuruti perintahnya.


Di dalam kamar, Weli hanya bisa menangis. Dia tak menyangka, kalau apa yang dia takutkan akan terjadi. Weli tau perasaan Pak Andrian, dia tidak menyalahkan beliau. Tapi dia juga tidak akan sanggup, jika harus berbagi suami dengan wanita lain. Tapi dia juga tidak punya solusi, untuk masalah nya.


Sudah berbagai cara pengobatan mereka lakukan. Dan hasilnya masih sama, garis satu. Tiap kali, sehabis berobat ke dokter kandungan, Weli juga mengetes apakah berhasil atau tidak usahanya. Hasilnya masih sama, dia masih harus bersabar untuk menggendong seorang bayi.


Ditempat lain.


Setelah mengantar kliennya ke hotel, Devan rencananya akan langsung pulang. Devan pulang sudah sangat larut, udara dingin kota Jogja menembus tulang belulang Devan Dengan mengendarai mobilnya, Devan membelah kesunyian malam kota Jogja. Mata Devan hanya fokus melihat ke jalanan. Saat sedang asyik menyetir, mobil Devan seperti menabrak sesuatu. Devan menghentikan mobilnya, untuk mengecek apa yang terjadi. Devan turun dari mobilnya, nampak seorang gadis berada di samping mobil Devan.


"Mas, tolong saya mas, tolong" Ucap gadis itu memohon.


"Kamu siapa, kenapa kamu berada didekat mobil saya. Apa kamu mau cari mati." Devan kesal dengan kelakuan gadis itu. Yang dengan sengaja menabrakkan dirinya ke mobil Devan.


"Saya akan jelaskan, tapi tolong saya dulu mas. Ya ampun Mas, Mas dimintai tolong aja cerewet banget sih." gadis itu bukan nya meminta maaf pada Devan, malah mencaci Devan seenaknya.


"Apa kamu bilang, dasar wanita kurang ajar! gak pernah di didik untuk sopan santun ya" Saat Devan belum selesai bicara, gadis itu masuk seenaknya ke mobil Devan.


"Ayo Mas, kita jalan disini rawan perampok Lo" Ajak gadis itu di dalam mobil.


"Hey.. turun kamu dari situ..." perintah Devan menyeret gadis itu untuk keluar dari mobilnya.


"Mas, kali ini saja, saya minta tolong sama Mas. Saya janji tidak akan menggangu Mas lagi," ucapnya penuh dengan ketakutan.


Devan yang tak tega, akhirnya membiarkan gadis itu naik ke mobilnya. Dia juga gak mungkin, membiarkan seorang wanita, malam-malam begini ada dijalanan.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2