Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Malu


__ADS_3

Hanif masih tidak mau menjelaskan kata-kata Bunda, dan dia lebih memilih pergi ke kamarnya. "Andai kamu tahu kebenaran itu, apa kamu masih akan membenci Sisi," lirih Bu Tari menatap punggung putrinya.


Keputusan Hanif untuk melamar Veronika sepertinya sudah bulat. Terbukti, saat ini mereka sedang berjalan di Mall terbesar di kota Jogja untuk membeli cincin pertunangan mereka. "Kamu pilih saja, mana yang kamu suka!" titah Hanif yang tidak terlalu bersemangat.


"Aku pilih ini aja," tunjuk Veronika pada sebuah cincin yang memiliki batu berlian diatasnya.


Kemudian pegawai toko itu memegang cincin yang di maksud dengan Veronika. "Ini, ya Mbak!"


"Iya itu," jawab Veronica. Setelah cincin yang ia pegang itu benar, yang di sukai oleh pelanggannya. Pegawai toko itu mengambilnya dan menyerahkannya pada Veronica.


"Bagus, kan sayang?" tanya Veronica memperlihatkan cincin itu pada Hanif.


Tanpa melihat cincin itu, Hanif langsung menjawab. "Bagus!" Setelah itu pandangannya beralih pada pegawai toko itu. "Betapa Mbak?" tanyanya.


"Lima puluh juta, Mas!" jawab wanita itu pada Hanif. Hanif mengambil kartu kredit nya dan membayarnya pada pegawai itu.


Usai berbelanja cincin, Veronika juga meminta di belikan baju yang akan di pakai di hari pertunangannya dengan Hanif nanti malam. Mereka memang sengaja mempercepat acara lamaran itu. Dan bukan depan, mereka akan langsung menikah. Hanif hanya mengikuti apa saja kemauan Veronika. Cincin berlian sudah, baju kebaya modern yang harganya bisa untuk membeli satu motor sudah, dan kini mereka melanjutkan belanjanya.


"Aku lapar, kita mampir dulu di kedai makan itu, yuk!" ajak Veronika menunjuk sebuah kedai makan yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Dan Hanif pun juga menyetujuinya. Mereka mencari tempat yang enak untuk makan dan ngobrol.


Di tempat yang sama, Iqbal dan Bilqis juga sedang berbelanja di Mall tersebut. Rencananya Minggu depan mereka akan melangsungkan pernikahannya. Jadi, hari ini mereka akan mengambil gaun yang sudah mereka pesan di salah satu butik yang ada di mall tersebut.


Sembari cuci mata, mereka sampai juga di butik itu. Butik yang menjual khusus baju pesta dan pengantin. "Siang Mbak, Mas!" sapa wanita yang memakai seragam pegawai butik itu.


"Siang, Mbah Dewi nya ada?" tanya Bilqis yang memang sudah sangat mengenal baik dengan pemilik butik itu.


"Oh Bu Dwi, beliau belum datang Mbak. Ada yang bisa kami bantu?" jawab wanita itu.


"Saya mau mengambil Gaun pengantin!" seru Bilqis pada pegawai itu.


"Atas nama siapa?"

__ADS_1


"Bilqis Humaira."


"Baik, saya siapkan dulu." Wanita itu menyiapkan gaunnya Bilqis yang sudah tergantung, di lemari bermaterial besi yang ada tak jauh dengan mereka berdiri.


"Ini, gaunnya Mbak!" kata wanita itu memberikan satu buah paper bag ketangan Bilqis.


"Terimakasih!" balas Bilqis tersenyum ramah.


Setelah selesai urusannya dengan gaun itu. Mereka rencananya akan ke toko perhiasan. Berhubung sudah saatnya jam makan siang, jadi mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dulu. Baru setelah itu, pergi ke toko perhiasan.


"Mau makan di mana?" tanya Iqbal, dengan tangan yang terus menggandeng Bilqis. Wanita itu tampak bingung, memilih makanan yang ingin dia makan. Karena di tempat mereka berdiri saat ini, terdapat banyak kedai makanan yang sangat lezat dan menggugah selera. Hingga akhirnya, Bilqis memutuskan untuk makan sate Padang yang sudah lama ia inginkan.


"Ke kedai itu aja, yuk! Aku pengen makan sate Padang, terus bawang gorengnya yang banyak." Bilqis membayangkan makan itu begitu lezatnya, sehingga membuat air liurnya keluar.


"Ya, udah. Ayok!" Iqbal menarik tangan Bilqis agar cepat ke tempat yang ia inginkan. Melihat banyak sekali pengunjung yang datang ke tempat itu.


"Tempatnya rame banget, ya sayang! Kita pindah aja, yuk! Gak ada tempat duduk lagi!" seru Iqbal saat mereka sudah masuk kedalam kedai itu dan tidak ada satupun kursi yang kosong disana. "Atau, kita bungkus saja makanannya. Terus kita cari tempat untuk makan berdua, gimana?" usul Iqbal.


"Kita makan disana!" Iqbal menunjuk kedai yang ada di seberang kedai sate itu. Tempat, dimana Hanif dan Veronika sedang makan siang.


Di lain tempat.


Mentari siang itu begitu menyengat di kulit. Seorang wanita dengan dengan berbalut gamis warna coklat susu sedang berjalan anggun menuju ke minimarket, yang tidak jauh dari rumah Neneknya. Suara riuh kendaraan membisingkan telinganya, sehingga wanita itu mempercepat langkah kakinya menuju ke minimarket itu.


Setibanya di sana, dia mengambil keranjang belanjaan yang terletak tak jauh dari pintu masuk. Wanita itu sedang mencari beberapa barang kebutuhannya. Seperti pembalut, sampo, sabun, dan juga alat makeup nya. Setelah mengambil barang-barang yang dia butuhkan, pandangan wanita itu tertuju pada es krim yang terletak di dalam freezer tepat dia berdiri. Sisi langsung mengambil beberapa jenis es krim di freezer itu.


Setelah dapat apa yang dia inginkan, wanita itu berjalan menuju ke tempat kasir untuk membayar barang belanjaannya. Saat dia meletakkan barang belanjaannya di meja kasir itu, dari sisi lain seorang pria melakukan hal sama. Sehingga menuntut Sisi untuk menengok kearah pria itu.


"Mr. Ilham," lirihnya, namun masih di dengar oleh pemilik nama itu.


"Sisi! Hmmm, first leadies!" seru pria itu tersenyum simpul pada Sisi.

__ADS_1


"Terimakasih," balas Sisi.


Sembari menunggu kasir menghitung barang belanjaannya, Sisi yang sudah terlihat gugup karena bertemu dosen idolanya. Dia hanya bisa menghilangkan kegugupannya itu dengan mengarahkan pandangannya ke arah lain. Tapi tidak dengan Ilham, pria itu memperhatikan wanita yang berada di hadapannya dari atas hingga kebawah. Ilham sedikit tertegun melihat penampilan Sisi yang menurutnya sangat sempurna. Tak henti-hentinya dia memandang Sisi dari belakang. Hingga suara kasir menyadarkan mereka.


"Semuanya 350 ribu!" ucap kasir itu pada Sisi.


Mengetahui berapa uang yang harus dia bayar untuk barang belanjaannya, Sisi merogoh saku gamisnya untuk mengambil uang yang dia letakkan di sakunya. Tapi betapa terkejutnya dia, saat uang itu tidak ada di dalam saku bajunya.


"Astaghfirullah, dimana uangnya!" gumamnya sambil terus berusaha mencari uang di sakunya. Tapi hasilnya nihil. Uang itu tidak ada di sana.


"Kenapa? Uang kamu jatuh?" tanya Ilham yang melihat Sisi kebingungan.


"Eh..tadi ada kok. Sekarang kok hilang, ya!" jawab Sisi dengan nada panik.


"Mbak, berapa barang belanjaannya?" tanya Ilham pada kasir minimarket itu.


"350 ribu Mr!" jawab kasir itu.


Ilham mengeluarkan beberapa lembar uang di dalam dompetnya, lalu menyerahkannya pada Kadir itu, sekalian barang belanjaan yang ia bawa.


Sisi merasa tidak enak pada Ilham, karena dia sudah mau membayarkan barang belanjaannya. Wanita itu hanya diam tak berani bersuara, bahkan sekedar menolak saja. Bibirnya kelu.


"Sudah saya bayar, ayo kita pulang!" ajak Ilham pada Sisi. Dalam hati wanita itu, malu bercampur tidak enak meraup menjadi satu. Betapa tidak, dia terlihat mati kutu di depan dosen idolanya.


Akhirnya mereka pulang ke rumah secara bersamaan. Mereka berjalan berdua menuju ke rumah mereka masing-masing.


"Terimakasih banyak Mr. Sudah mau membayarkan belanjaan saya. Tapi, saya akan ganti, kok!" ucap Sisi, yang masih terlihat malu.


"Sama-sama," balas Ilham singkat.


To be continued

__ADS_1


Maaf ya, kalau ceritanya terkesan bertele-tele. Tapi sebenarnya bukan itu tujuan saya. Saya hanya ingin, menyelesaikan masalah ini satu persatu dulu. Jadi, mungkin terkesan lambat terbongkarnya. Kalau di bongkar semuanya, yang ada gak dapat fealnya. Maaf jika sudah mengecewakan. Sekali lagi maaf...😭😭😭


__ADS_2