
Enam bulan telah berlalu, kandungan Sisi sudah memasuki bulan ke delapan. Ilham menjadi suami siaga, yang selalu ada jika Istrinya butuhkan. Seperti pagi itu, mereka sedang menikmati secangkir teh hangat dan cemilan di teras samping rumah mereka.
Mereka duduk menghadap ke arah kolam renang, menikmati birunya air kolam dan yang membuat hati mereka menjadi tenang, suara burung Bluebird, milik Ilham berkicau sangat nyaring.
"Kak, apa Sisi boleh minta sesuatu pada Kakak?" tanyanya tiba-tiba.
"Tentu, sayang. Apapun, apapun yang kamu mau. Inshaa Allah, Kakak turuti, jika Kakak mampu!" jawab Ilham tersenyum hangat pada istrinya. Sisi pun menyambutnya dengan memeluk lengannya.
"Apa yang Sisi inginkan?" Sekarang giliran Ilham yang bertanya.
Sisi diam sejenak, dia mencari cara agar suaminya tidak salah paham dengan permintaannya. "Sisi ingin...." Sedikit ragu untuk mengatakan, namun itu yang menjadi keinginan terbesarnya. "Sisi ingin, melahirkan di rumah bunda!" ulangnya, mendapat tatapan heran dari sang suami.
"Kenapa, sayang?" Seketika wajah Sisi menjadi sendu. "Apa kamu tidak nyaman melahirkan di sini?" Sisi pun menggeleng.
"Bukan, Kak. Bukan itu, Sisi hanya ingin di urus sama Bunda pasca melahirkan nanti. Karena Sisi takut belum bisa merawat bayi dengan benar. Lagian, bunda gak keberatan kok, Kak!" jelasnya, Ilham pun tersenyum mengerti.
"Ya sudah, lusa kita berangkat ya!!!" Wajah Sisi seketika menjadi sumringah.
"Beneran, Kak?" tanyanya tak percaya.
"Iya sayang. Apa sih yang nggak untuk istri Kakak tercinta ini!!!!" kekeh Ilham melihat istrinya semringah.
"Makasih, ya Kak! Terbaik!!!!" Sisi bangkit dari duduknya, dan langsung memeluk suaminya dengan erat, saking bahagianya.
Kehamilan Sisi yang pertama ini, harus benar-benar ekstra sabar. Terlebih waktu memasuki trisemester pertama. Mood Sisi berubah-ubah. Bahkan satu bulan, dia tidak pernah makan nasi. Yang di makan hanya salad, buah, dan susu. Dan sekarang sudah memasuki trimester akhir, Sisi sering sekali mengalami kram di perutnya. Yang mengharuskan dia bolak balik ke rumah sakit, untuk mengecek kandungnya. Karena itu, demi melihat istrinya bahagia. Ilham mengabulkan apapun yang menjadi permintaan istrinya itu.
Seperti yang di janjikan oleh Ilham, mereka akan bertolak ke Jogja setelah dua hari mereka lalui. Sebelumnya, Sisi terlebih dulu memberitahu bundanya tentang rencananya melahirkan di sana. Dan tentu di sambut antusias oleh Yulia dan Faisal. Mereka justru sangat senang, karena bisa ada di samping putrinya saat melahirkan nanti.
__ADS_1
Dua jam perjalanan dari udara, pesat mereka sudah mendarat di bandara Adisutjipto. Dengan di jemput oleh Faisal dan Fatan, kini mereka sudah menuju ke kediaman Faisal. Rumah yang selama tujuh bulan ini tidak di samba oleh Sisi. Tak ada yang beda dari rumah itu. Hanya, beberapa tanaman mahal berjejer di teras rumah itu. Sepertinya, bundanya mengikuti trend saat ini. Mengkoleksi tanaman mahal.
Sisi dan Ilham di sambut antusias oleh seisi rumah itu. Termasuk bi Imah. Orang yang merawatnya dari kecil. Wanita itu sungguh terharu melihat, perutnya yang sudah membuncit. Rasanya baru kemarin, dia merengek meminta di buatkan susu. Sekarang, dia sudah akan menjadi ibu.
"Kalian sebaiknya istirahat dulu di kamar, capek kan' pastinya!" ujar Yulia yang melihat putrinya terlihat kecapekan.
"Iya, Bun. Bunda, Sisi mau makan rawon buatan Bunda, ya!" pinta Sisi pada bundanya.
Wanita itu mengangguk dan tersenyum, setelah itu beranjak ke dapur untuk membuatkan makanan yang di minta anaknya.
Sementara pasangan suami istri itu pergi ke kamar. Kamar Sisi, di lantai atas. Setelah meletakkan pakaian istrinya di lemari, Ilham menyusul istrinya yang sudah dulu rebahan di ranjang.
"Sayang, Kakak gak bisa temenin Sisi lama-lama di sini! Kakak, lusa udah harus kembali. Kakak harus kerja, kamu nggak apa, Kan'."
Dengan tidur bertumpu lengan suaminya, Sisi pun menggeleng. "Sisi tahu, Kak!" Wanita itu tersenyum lebar ke arah wajah suaminya yang terlihat sedih. "Udah, Kakak gak usah khawatir, ya!"
"Lebay, ih!??" Di cubitnya hidung suaminya, hingga mengerang kesakitan.
"Auhhh, sakit sayang!!!!" keluhnya, memegangi hidungnya.
"Hmmm, gitu aja sakit. Sakitan, mana sama wanita yang melahirkan?"
Ilham tersenyum, seraya berkata, "sakitnya wanita yang melahirkan tidak ada tandingannya, seribu rasa sakit saja tidak seberapa di banding sakitnya wanita yang sedang melahirkan. Tapi, semuanya di bayarkan dengan pahalanya yang luar biasa. Dari saat dia masih mengandung, hingga wanita itu menyusui bayi-bayinya."
"Salah satunya, matinya wanita yang sedang melahirkan. Di anggap mati syahid oleh Allah. Karena sejatinya, taruhannya nyawa, untuk para ibu yang mengeluarkan kepalanya putra dan putrinya, sayang. Jadi, kamu tidak perlu takut, karena setiap lelahmu itu pahala untukmu!" Sisi pun terperangah mendengar penuturan dari suaminya.
"Jadi, beruntunglah bagi seorang wanita. Karena sejatinya, lebih banyak pahala yang di dapat oleh seorang wanita di banding dengan para lelaki."
__ADS_1
"Makasih, ya sayang. Kamu sudah mau mengandung anakku?" Ilham mengecup kening istrinya dengan lembut, membuat sang istri menitikkan air matanya. Air mata kebahagiaan, karena Allah memberikan nikmat yang luar biasa di dalam hidupnya. Setelah badai itu terjadi.
*****************
Sore harinya, Hanif baru saja pulang dari prakteknya. Hari ini dia akan memberikan kejutan untuk Alira. Setelah beberapa bulan berlalu. Dan hubungan mereka juga sudah semakin dekat, Hanif berencana akan melamar Alira, makam ini.
Sebelumnya, dia sudah membicarakan hal ini pada bundanya dan Bu Yuni. Dan mereka berdua sangat setuju dengan rencana Hanif. Selain hubungannya dengan Alira semakin dekat, wanita itu juga sudah sembuh dari rasa cemasnya yang berlebihan. Bahkan dia sudah bisa menerima semuanya, dan tinggal lagi bersama Bu Yuni, sekarang.
Sebelum pulang, Hanif memilih ke pusat perbelanjaan terlebih dahulu. Untuk mencari cincin yang pas, buat Alira. Sebuah cincin bermata berlian, menjadi pilihannya. Tak hanya itu, Hanif juga membeli beberapa gamis dan jilbab untuk di berikan pada wanita itu. Sebab, Akira kini sudah mau menutup auratnya.
Saat perjalanannya menuju ke rumah, di taman dekat rumah Faisal. Sorot mata Hanif menangkap sesuatu. Dua orang pria dan wanita, sedang duduk di bangku taman itu. Hanif pun menepikan mobilnya, memastikan apa yang ia lihat benar adanya.
"Kamu disini!" gumamnya, setelah yakin bahwa mereka adalah orang yang ia kenal.
Hanif bisa menangkap kebahagiaan dari wajah wanita itu. Wanita yang dulu sempat mengisi hatinya, sebelum akhirnya bertemu lagi dengan cinta sejatinya.
"Ternyata benar, Si. Kebahagiaan mu bukan bersama ku, saat kita menjalin hubungan dulu. Kamu tidak pernah tertawa selepas ini. Ilham adalah pria yang terbaik untukku. Dan aku, akan menyusulmu bahagia!" lirihnya tersenyum hangat, seraya berkaca-kaca.
To be continued
dua part lagi tamat ya....
tapi akan ada novel baru yang menceritakan kisah Fatin dan Fatan....
Sisi dsn Ilham juga ada di sana ...
di tunggu ya🙏🙏🙏
__ADS_1