
Setelah berbicara empat mata dengan Rio di teras, Yulia dan Rio bergabung dengan Weli dan Felisa diruang tamu. Untuk kesekian kalinya Yulia meminta pada Rio dan Weli, agar mau menemui Faisal. Rio saat ini memang belum memberi keputusan, apakah akan mengizinkan Weli bertemu dengan Faisal atau tidak. Yulia dan Felisa pamit, mengingat hari sudah menjelang magrib. Yulia meminta Felisa mengantar langsung ke rumah sakit, karena sudah terlalu lama meninggalkan Faisal. Yulia juga kasihan dengan mertuanya, mereka tentu lelah setelah seharian menjaga Faisal. Yulia juga meminta pada Felisa untuk mengurus Sisi, selama dia masih dirumah sakit. Tentu Felisa tidak keberatan, karena baginya Sisi sudah seperti anak kandungnya sendiri. Dengan senang hati Felisa merawat Sisi, mulai dari antar jemput Sisi kesekolah, menyuapinya, dan mengajak bermain. Apalagi Bilqis sangat senang jika ada Sisi dirumahnya, jadi punya teman bermain.
Sesampainya di rumah sakit, Yulia langsung menuju ke ruangan Faisal dirawat. Sementara Felisa langsung pulang. Felisa khawatir meninggalkan terlalu lama Sisi dan Bilqis.
"Assalamualaikum Bu, Pak, maaf Yulia kelamaan pulangnya.." Yulia mencium punggung tangan kedua mertuanya.
"Gak apa Nak, kamu sudah sholat belum..?" Tanya Pak Hermawan.
"Belum Pak, Yulia sholat magrib dulu ya.."
"Kamu sholat disini aja Nak, biar bapak sama ibu yang ke mushola rumah sakit..." Ujar Pak Hermawan.
Yulia tiba di rumah sakit saat azan magrib berkumandang, jadi dia harus segera melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Usai sholat Yulia melantunkan ayat suci Alquran, dia berharap Faisal bisa mendengar nya, dan bisa cepat sadar. Usai membaca Al-Qur'an, Yulia berdoa.. Doanya kali ini dikhususkan untuk Faisal yang masih terbaring di ranjang rumah sakit.
"Ya Allah, jika memang engkau masih memberikan hambamu kesempatan untuk berbakti pada suami hamba, maka sadarkan lah ia. Jika memang engkau masih memberikan hambamu kesempatan untuk membuat hati suami hamba luluh, kembalikan ia disisi hamba.. Namun jika engkau lebih sayang padanya, setidaknya berikan hamba kesempatan untuk meminta maaf padanya, karena selama hamba menikah dengan nya, suami hamba tidak pernah bahagia, dan tersiksa batinnya. Kabulkan doa hamba mu ini.. Robbanaatinafidunyahasanatawakinaadzabanar.. Aamiin.." Air mata Yulia kembali menetes, diusapnya dengan tangannya. Yulia tidak ingin mertuanya melihat, kalau dia sedang menangis. Yulia harus terlihat tegar, karena ketegarannya mempengaruhi orang-orang disekitarnya.
Usai melaksanakan sholat magrib, Yulia mendekat ke arah Faisal. Di pandang nya lekat-lekat wajah Faisal. Yulia membayangkan hari-hari yang ia lewati bersama Faisal dan buah hatinya. Selama ini Faisal terlihat bahagia, tidak ada satupun terlihat kesedihan dalam wajah Faisal. Sungguh pandai Faisal menyembunyikan perasaannya selama ini.
"Mas, bangunlah.. Kenapa selama ini mas Faisal tidak pernah bilang, kalau mas Faisal tidak bahagia hidup bersama Yulia..hiks..hiks.. Kenapa mas Faisal tidak berkata jujur pada Yulia, kalau mas Faisal tidak pernah mencintai Yulia...hiks..hiks.. kenapa mas,,, andai mas Faisal mengatakan yang sejujurnya, Yulia ikhlas mas... ikhlas melepas mas Faisal untuk memperjuangkan cinta mas Faisal. Meskipun Yulia mencintai mas Faisal, namun Yulia tidak akan egois.. memaksa mas Faisal untuk hidup bersama Yulia...." Dibelai nya wajah Faisal, Yulia jadi ingat kata-kata Faisal. Faisal selalu bilang pada Yulia untuk memberikan waktu, agar bisa menerima nya sepenuh hari Faisal. Kala itu Yulia tidak pernah menanyakan, sebenarnya bagaimana perasaan Faisal pada nya. Yulia terlalu pede, kalau Faisal hanya belum siap berumah tangga.
__ADS_1
Yulia saat ini ada diluar ruangan Faisal, dadanya sesak jika memandang Faisal. Ada perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, yang dirasakan Yulia. Sementara orang tua Faisal sudah pulang, kesehatan ibu mertuanya juga sedang tidak baik. Apalagi jika terlalu lama terkena AC, badannya menjadi menggigil kedinginan. Yulia meminta mertuanya untuk istirahat di rumahnya saja. Saat Yulia sedang melamun, sepasang suami istri berdiri di depan Yulia. Yulia masih belum sadar akan kehadiran Weli dan Rio.
"Yul..."Rio mencoba membuyarkan lamunan Yulia..
"Yul..."
"Astaghfirullahalladzim.. maaf mas, mbak, apa sudah lama disini....?" Yulia terkejut saat Rio memanggil namanya.
"Belum, barusan kok.." Jawab Rio.
"Terimakasih ya Mas Rio, sudah mau mengizinkan mbak Weli untuk menemui mas Faisal.. Semoga kehadiran mbak Weli bisa membuat mas Faisal sadar..." Yulia tertunduk, sejujurnya ada perasaan tidak rela dalam hatinya. Namun dengan cepat dia buang perasaannya itu, Yulia tak mau dikalahkan ego nya.
Yulia mengantar kan Weli ke ruang Faisal dirawat, kemudian Yulia meninggalkan Wei berduaan dengan Faisal, suaminya. Sementara Rio, dia memilih untuk pergi dari situ. Dia tidak akan sanggup jika melihat Weli berduaan dengan Faisal. Meskipun keadaan Faisal sedan koma. Yulia berdiri di depan pintu, Yulia menguping pembicaraan Weli. Dia ingin tahu, seperti apa perasaan Weli saat ini.
Weli masih berdiri mematung di samping ranjang Faisal, dia terlihat bingung. Apa yang akan ia sampaikan, Weli prihatin dengan keadaan Faisal saat ini. Tubuhnya dipenuhi alat-alat medis, bahkan tidak ada tanda-tanda Faisal akan sadar.
"Sal, ada apa denganmu? Kenapa kamu bawa-bawa aku dalam alam bawah sadar mu... Apakah sepenting itu aku.. untukmu...Saat ini kita tidak akan mungkin bisa bersatu, kamu memiliki kehidupan dengan keluarga mu. Begitupun dengan ku, aku sudah bahagia dengan Rio..hiks...hiks... Bangunlah, kasihan anak istrimu..hiks...hiks.. Bukan kah, dulu kamu selalu bilang padaku.. Untuk selalu ada saat aku butuh, sekarang aku menagih janjimu... Sadarlah.. Sal.. aku membutuhkan mu...."Weli mencurahkan isi hatinya pada Faisal, namun belum ada respon dari Faisal. Tubuhnya masih mematung.
"Sal,,, bangunlah... bangunlah...Aku mohon... bangunlah... kenapa kamu jadi pengecut seperti ini... Kenapa..?"
__ADS_1
"Kamu harus bertanggungjawab Sal, kamu sudah buat Yulia mencintai mu.. Dan sekarang kamu mau meninggalkan nya... bangun Sal.. bangun... hiks....hiks..."
Yulia yang mendengar ucapan Weli dari balik pintu, menangis pilu. Terlihat jelas sudah, Weli memang masih mencintai suaminya. Weli tidak akan menangisi keadaan Faisal, jika dia tidak ada rasa padanya.. T
Tangis Weli pecah, perasaannya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Terlalu sakit untuk dia, jika ia masih menyimpan perasaan nya pada Faisal. Weli sadar diri..Saat ini dia hanyalah seorang wanita yang tidak sempurna, wanita yang tidak akan bisa memberikan anak pada suaminya. Beda dengan Yulia, selain cantik, dia juga sudah memberikan Faisal seorang putri. Sebisa mungkin saat ini, dia buang perasaan cintanya pada Faisal. Karena memang Weli sudah mulai mencintai Rio.
Saat Weli masih dengan tangisan nya, mata Faisal mulai terbuka..
"........" Bibirnya seperti ingin mengatakan sesuatu....
Yulia sudah tidak tahan lagi mendengarkan ucapan Weli terhadap Faisal, dia pergi meninggalkan ruangan itu..
To be continued..
maaf telat up ya..
Sebenarnya saya kecewa banget, kemarin niatnya promo di FB. Tapi ada seseorang yang mengklaim bahwa karya saya ini meniru sinetron ikatan cinta.
Gimana menurut kalian..padahal sudah jelas-jelas isi ceritanya aja beda.
__ADS_1
Saya jadi tidak bersemangat untuk melanjutkan novel saya ini...