
Pria yang memakai jas Dokter itu masuk ke ruang pasiennya, secara bersamaan dia bertatap muka dengan Iqbal. Laki-laki yang selalu hadir dalam pikirannya, beberapa hari ini. Dari keduanya tidak ada yang saling menyapa. Bahkan Hanif menatap tajam kearah pria itu, tatapan penuh amarah.
Iqbal memilih untuk menunggu di luar. Perasaan bersalah, terluka bercampur jadi satu di dalam hatinya. Kini dia hanya bisa memandang wajah Bilqis dari jendela kaca ruangan itu. Bahkan untuk sekedar berada di samping tunangannya saja, dia tidak bisa. Felisa, calon mertuanya sangat membenci pria itu. Gara-gara dia, putrinya harus berjuang antara hidup dan mati, sekarang.
Usai memeriksa kondisi Bilqis, dan memberikan beberapa saran untuk kesembuhan pasiennya. Hanif memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. Dia melihat ada Iqbal yang masih berdiri di depan jendela. Menatap nanar pasien yang sedang terbaring lemah di dalam ruang itu.
Menyadari Hanif sudah keluar dari ruang rawat Bilqis, Iqbal menghampiri pria berkacamata itu. Dia berniat akan menjelaskan semuanya pada pria itu.
"Kita perlu bicara, Dok!" sapanya, mendapat tatapan sinis dari Hanif.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi," ketus Hanif yang mulai melangkahkan kakinya. Namun tangannya di tahan oleh Iqbal.
"Sebegitu rendahnya anda menilai Sisi. Hingga anda tidak mau mendengarkan penjelasan kami." Ucapan Iqbal membuat pria itu semakin kesal. Dia mundur satu langkah, agar bisa mensejajarkan tubuhnya dengan Iqbal.
"Apa yang akan kalian jelaskan, hah! Kalian mau bilang, kalau kalian sedang asyik-asyik di rumah kosong itu!!!" teriaknya, langsung mendapat pukulan dari Iqbal.
Satu pukulan mendarat di sudut bibir pria itu. Ucapan Hanif benar-benar sudah keterlaluan, dan membakar emosinya Iqbal. Hanif mengelap bekas darah yang mengalir di sudut bibirnya, seraya merenggangkan rahangnya. Setelah itu, dia tersenyum remeh kearah Iqbal.
Perkelahian mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang lalu lalang di tempat itu. Mereka hanya menggelengkan kepalanya, menyanyangkan kejadian itu. Iqbal yang masih mengontrol emosinya membuang mukanya, menatap kearah lain.
Sadar menjadi pusat perhatian orang. Hanif pergi meninggalkan tempat itu dengan tangan yang masih memegang rahangnya. Iqbal tidak berniat mengejar pria keras kepala itu. Dia memilih untuk duduk di bangku, berbahan stainless yang terletak di seberang ruang rawat Bilqis.
"Sisi sudah tahu belum, ya? Kalau Bilqis Anfal," gumamnya meraih ponselnya lalu mengabari Sisi dengan mengirim pesan pada wanita itu.
Sisi yang mendapat pesan dari Iqbal melonjak kaget, setelah membacanya. Reaksi Sisi mengundang perhatian Faisal. Pria itu, langsung menanyakan pada putrinya, "kenapa, sayang?" Sisi menoleh ke arah ayahnya.
"Bilqis Anfal, Yah!" Faisal terkejut dan sedikit panik, dia memegang kedua bahu putrinya untuk menguatkan wanita itu.
"Kamu yang sabar ya sayang, setelah ini kita ke rumah sakit untuk menengok Bilqis," ucap Faisal menguatkan putrinya.
Sisi hanya bisa menunduk, menyesali dengan kejadian itu. Faisal yang tahu, kalau putrinya di Landa penyesalan, dan terpuruk atas kejadian itu. Sebisa mungkin dia menghibur Sisi. "Sayang, kamu gak salah, sudah ayah katakan sebelumnya. Mungkin ini ujian cinta kalian. Kalian harus kuat menghadapi ini semua." Di rengkuhnya tubuh Sisi kedalam dekapannya. Sisi hanya terisak, tak mampu berkata-kata lagi.
Lima belas menit kemudian, Sisi usai menjalankan penerimaan test keperawanan. Test itu memang tidak di legal kan di Indonesia. Ada beberapa dokter yang berpendapat, test itu bisa merusak mental perempuan. Oleh karena itu, test itu di tentang di Indonesia.
Sisi keluar dari ruangan itu, dia menghampiri Faisal yang sedang duduk di ruang tunggu. Melihat anaknya keluar dari ruang dokter itu, Faisal menarik tubuhnya dan mendekati Sisi. "Udah, sayang!" serunya, saat mereka sudah saling berhadapan.
"Sudah, Yah," balas Sisi.
"Kita pulang dulu, ya. Jemput Bunda, kita sama-sama ke rumah sakitnya." Sisi mengangguk.
Mereka meninggalkan tempat itu, dan bergegas untuk pulang ke rumah terlebih dulu. Dalam perjalanan pulang, Sisi hanya diam, sesekali memainkan kuku di jari tangannya. Perasaannya masih sama, takut, sedih, dan menyesal. Melihat hal itu, membuat Faisal sedikit cemas. Dia takut akan mengguncang mental putrinya. Faisal berinisiatif untuk mengajaknya ngobrol, agar Sisi lebih terlihat tenang.
"Sayang, kamu jangan terlalu pikirkan masalah ini. Jangan kamu jadikan beban. Nanti kamu sakit," ucapnya menengok kearah wanita itu.
"Sisi jahat, Yah. Sisi udah bikin Bilqis anfal." Air matanya kembali lolos dari pelupuk matanya.
__ADS_1
"Sttt..kamu gak boleh ngomong gitu, ini bukan kesalahan Sisi. Ini musibah, sayang." Kata-kata Faisal tidak mampu membuat perasaan Sisi berubah. Wanita tetap terisak.
Mereka berdua sampai di rumah, Sisi memilih menunggu di mobil. Sementara Faisal, dia turun untuk menyusul istrinya.
"Sayang, sayang!" panggil Faisal pada Yulia. Yulia langsung bergegas menemui suaminya.
"Iya, Mas. Mana Sisi, Mas?" Yulia menanyakan keberadaan putrinya.
"Masih di mobil." Yulia mengerinyitkan keningnya.
"Kita kerumah sakit, sayang. Bilqis anfal."
"Inalillahi, terus keadaannya gimana, Mas?"
"Belum tahu, sayang. Kita berangkat sekarang, ya?"
"Yulia ambil tas dulu, ya Mas." Yulia berjalan menuju ke kamarnya untuk mengambil tas. Sementara Faisal masih menunggu istrinya di tempat itu sampai istrinya kembali lagi. Lalu mereka berjalan menuju ke luar.
Mereka sampai di rumah sakit. Yulia dan Faisal turun dari mobil itu. Sementara Sisi, dia tak juga beranjak dari tempat duduknya. Sehingga membuat Faisal menghampiri putri. "Sayang, ayo turun!" ajak Faisal pada putrinya itu. Tapi Sisi hanya memandang sekilas wajah ayahnya, setelah itu menatap lagi ke depan dengan tatapan kosong.
Faisal menghela nafas panjang, sepertinya Sisi belum siap bertemu sahabat dan orang tua Bilqis. Wanita itu, hanya diam mematung tak melakukan apapun di dalam mobil.
"Sayang, kita masuk ya! Kita hadapi masalah ini sama-sama," bujuk Yulia, membuat wanita itu menoleh kearahnya.
"Sisi belum siapa, bertemu mereka!" seru Sisi, kembali menatap kearah depan.
Sepasang suami istri itu hanya bisa saling pandang. Setelah itu Faisal memberi isyarat pada istrinya untuk menerima keputusan Sisi. "Kita, masuk dulu aja, sayang!" seru Faisal menggandeng istrinya untuk masuk ke rumah sakit, tempat Bilqis di rawat dan meninggalkan Sisi sendiri.
Faisal langsung menuju ke ruang rawat Bilqis. Berbekal informasi dari petugas receptionis, merek berjalan menuju kesana. Saat sudah sampai di depan ruang rawat Bilqis yang di lihat hanya ada Iqbal yang duduk menunduk seraya memegangi pelipisnya. Mereka menyapa dulu pria itu sebelum masuk kedalam.
"Nak Iqbal, bagaimana keadaan Bilqis." Suara Faisal mengagetkan pria itu, dan sontak menoleh ke arah Faisal. Sebelum menjawab pertanyaan Faisal, pria itu mengusap sisa-sisa air mata yang terlihat membasahi pipinya.
"Keadaannya kritis, Dok," balas Iqbal dengan suara berat.
"Kamu yang sabar ya. Ini ujian kalian," ucap Faisal memegang bahu pria itu. Iqbal hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Faisal. "Kalau gitu, kita masuk dulu!" lanjut Faisal. Iqbal mengangguk pelan. Tapi seperti masih ada yang mengganjal pikirannya. Iqbal yang tidak melihat Sisi bersama mereka, lantas bertanya pada Faisal saat Faisal sudah mau masuk kedalam.
"Dokter Faisal!" Faisal menoleh.
"Sisi gak ikut ke sini?" Pertanyaan Iqbal merubah raut wajah Faisal.
"Sisi ada di parkiran. Dia belum siap bertemu dengan Bilqis." Yulia yang menjawab pertanyaan pria itu. Jawaban dari Yulia kembali membuat sesak dadanya Iqbal. Yang seharusnya disalahkan disini adalah dia. Andai waktu itu dia tidak memaksa Sisi untuk ikut bersamanya. Pasti kejadian itu tidak akan terjadi. Tidak ada tanggapan lagi dari Iqbal, Yulia dan Faisal memutuskan untuk masuk ke ruang itu.
Mereka menghampiri Felisa dan Dino yang sedang duduk mengapit tubuh Bilqis, hanya saja mereka terhalang oleh Brangkar tempat Bilqis terbaring. Menyadari kehadiran sahabatnya, Dino berdiri dan berjalan mendekat kearah mereka berdua.
"Bagaimana keadaan Bilqis, Din?"
__ADS_1
"Keadaannya semakin memburuk. Sel kanker yang ada didalam tubuhnya sudah mulai menyerang organ tubuh yang lainnya. Dan untuk sekarang, belum ada tindakan yang bisa membuat Bilqis sadar dari koma-nya." Felisa yang tahu kedatangan mereka berdua, dia memilih tak beranjak dari tempat duduknya. Dan tidak menyapa sahabatnya.
"Kamu yang sabar, ya. Bilqis pasti kuat. Dia pasti akan kembali!" tutur Faisal memberi semangat sahabatnya itu.
"Iya, Sal! Bilqis anak yang kuat. Dia pasti bisa melawan penyakitnya itu," ucap Dino menyakinkan dirinya sendiri.
Menyadari perubahan sikap sahabatnya yang acuh padanya. Yulia mendekat kearah Felisa. Dia merasa canggung untuk menyapa sahabatnya itu. Sesaat kemudian, suara Felisa membuat dia tercengang. "Untuk apa kalian datang kesini. Untuk mengetahui betapa terpuruknya kami, atas keadaan Bilqis. Kamu tidak becus mendidik anak kamu, Yul. Lihat apa yang anak kami lakukan sekarang. Dia bahkan tega, merebut kebahagiaan Bilqis!!!" salak Felisa tanpa melihat wajah Yulia.
"Astaghfirullah Fel, itu semua tidak seperti yang kamu katakan. Itu musibah, bukan disengaja oleh mereka. Mereka terjebak di rumah itu."
"Cukup!!!! Cukup kamu membela sbdk kamu yang murahan itu!?!!"
"Sayang!!! Jaga ucapan kamu!!!" sergah Dino menghampiri Felisa yang mulai tersulut emosi.
"Kenapa, kamu juga mau membela mereka!!!" teriak Felisa dalam isakkannya.
Melihat keadaan semakin memanaskan Faisal berinisiatif untuk mengajak istrinya keluar dari tempat itu. "Sayang, kita keluar ya." Faisal merengkuh pundak istrinya yang mulai bergetar menahan tangis di dadanya. Sebelum keluar dari ruangan itu. Faisal pamit dengan Dino. "Din, kita pamit dulu ya. Semoga Bilqis segera sadar dari koma-nya." Dino hanya mengangguk. Setelah itu Faisal dan Yulia benar-benar keluar dari ruang itu.
"Sayang, dengarkan aku. Kejadian itu musibah. Mereka tidak sengaja, mereka terjebak di rumah itu." Dino berusaha menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada istrinya.
"Kalau Sisi wanita baik-baik. Dia tidak akan menerima tawaran Iqbal yang mengajak untuk pulang bersama. Ini salah Sisi, salah dia!!!" Felisa masih saja menyalahkan Sisi atas kejadian itu. Dan Dino sudah tidak bisa lagi untuk menjawab kata-kata Felisa. Dino memilih untuk diam, agar tidak semakin membuat istrinya emosi.
Yulia dan Faisal memutuskan untuk kembali ke mobilnya. Yulia sedikit kecewa dengan sikap Felisa yang menyalakan Sisi. Tapi dia, tak lantas membenci sahabatnya itu. Dia tahu posisi Felisa saat ini. Mungkin bila dia berada di posisi Felisa saat ini, akan bersikap sama dengan sahabatnya itu.
Mereka sudah naik ke mobilnya. Sisi langsung mencecar pertanyaan kedua orangtuanya itu. "Bun, gimana keadaan Bilqis? Apa dia baik-baik saja? Tante Felisa gimana?" Yulia bisa mengerti kekhawatiran putrinya itu terhadap adik sekaligus sahabatnya itu. Yulia jadi tidak tega untuk menceritakan keadaan yang sesungguhnya pada putrinya. Dia takut, akan tambah membuat Sisi bersedih. Tapi dia juga tidak bisa menyembunyikan keadaan Bilqis yang sebenarnya.
"Sayang kamu tenang dulu, ya! Dengarkan Bunda, kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri atas kejadian ini. Bilqis koma!!" Tangis Sisi kembali pecah.
"Ini salah Sisi, salah Sisi!!!" Wanita itu memukul-mukul dadanya. Faisal tidak tega melihat Sisi. Dia langsung merengkuh kepala Sisi kedalam dekapannya.
"Sayang, kamu tenang ya sayang! Kita banyak-banyak berdoa untuk kesembuhan Bilqis." Yulia pun ikut membelai kepala anaknya.
"Kita pulang sekarang!" seru Faisal saat Sisi sudah mulai tenang.
Faisal mulai menyalakan mesin mobilnya, disaat itu juga Hanif melintas di depan mobilnya. Sisi juga menyadari itu. "Sayang, apa kamu tidak mau menemui Hanif. Menjelaskan semuanya pada dia," kata Faisal melihat kearah Sisi.
"Sisi belum sanggup, Yah. Sisi tidak sanggup untuk bertemu dengan dia." Faisal menghargai keputusan Sisi, dia langsung menancap gas mobilnya dan meninggalkan parkiran rumah sakit.
Hanif yang tidak sengaja melihat Sisi di dalam mobil, hatinya terasa sakit, rindu, menumpah ruah jadi satu. Tidak bisa di pungkiri, dua hari tidak bertemu dengan wanita itu, membuat dirinya menahan rindu yang teramat besar. Tapi dia masih kecewa dengan wanita itu dan belum bisa menerima pengkhianatan calon istrinya itu. Rasanya masih terngiang di telinga lelaki itu saat warga mengutarakan kejadian itu. Hatinya masih perih.
Hanif melajukan mobilnya menuju ke rumahnya. Tapi disaat itulah dia melihat Veronika yang terlihat menghentikan mobilnya. Dengar terpaksa pria itu menghentikan mobilnya.
"Dokter Hanif, saya bisa minta tolong!" seru Veronika dengan nafas ngos-ngosan.
"Katakan, ada apa?" ketus Hanif.
__ADS_1
"Tolong antarkan saya ke rumah. Ibu saya sekarang sedang dalam bahaya." Veronica mengutarakan maksudnya menghentikan mobil Hanif. Pria itu tampak berfikir, sesat kemudian dia menyuruh Veronika naik kedalam mobilnya.
"Naiklah," perintah Hanif dengan dagunya.