Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Kehidupan baru Sisi


__ADS_3

Sudah hampir satu jam Sisi menunggu taksi di lobi Bandara internasional Changi, Singapura. Setiap kali ada taksi yang melintas, pasti keduluan orang lain. Saat sudah pasrah, dia memilih taksi sendiri yang menghampirinya. Wanita itu berdiri tepat di depan taksi-taksi itu berhenti. Dari kejauhan ada sebuah taksi yang masih kosong mendekat kearahnya, dengan melambaikan tangannya berharap taksi itu berhenti, namun tak jauh dari dia berdiri seorang pria berwajah tampan terlebih dulu menghentikan taksi itu, membuat Sisi menghela nafas frustrasi. Itu artinya dia harus menunggu taksi berikutnya.


Tapi tak disangka dan tak di kira, taksi itu berjalan lambat kearahnya. Setelah tepat berada di depannya, taksi itu berhenti. "Ayo, Nona!" seru supir taksi itu pada Sisi. Sisi menatap bingung supir itu, dan menunjuk dirinya untuk memastikan supir taksi itu memanggil namanya. Supir taksi itu mengangguk, pertanda memang dialah yang ia panggil. Sorot mata Sisi beralih pada pria yang tadi menghentikan taksi itu terlebih dulu. Pria itu hanya tersenyum melihat dia memandangnya, dan mempersilahkan Sisi untuk masuk kedalam.


"Terimakasih," ucap Sisi membalas senyuman pria. Pria itu hanya mengangguk sebagai jawaban terimakasihnya dan memilih pergi meninggalkan tempat itu. Sisi begitu terkesima melihat pria itu, senyumannya yang manis seakan tak bosan di pandang mata.


"Nona!" Perhatian Sisi beralih pada supir taksi yang kembali menyerukan namanya. Bergegas Sisi masuk kedalam, kursi penumpang. Keberuntungan berpihak padanya. Harusnya supir Bu Sundari yang menjemput dia. Tapi karena, Pak Erlangga ada jadwal kontrol. Jadi, Sisi melarang supir neneknya menjemput dia.


Taksi itu mengantarkan Sisi ke rumah pak Erlangga yang ada di Singapura. Itu bukan yang pertama kalinya, Sisi ke rumah nenek dan kakeknya. Dia sudah sering, apalagi waktu liburan sekolah dulu. Dia menghabiskan liburannya di rumah Kakek dan Neneknya. Jadi, tidak sulit bagi dia menemukan rumah itu. Tapi, Sisi sedikit tertegun, saat dia sudah sampai di rumah Pak Erlangga. Di depan rumah Kakeknya ada sebuah cafe buat nongkrong anak muda. Tapi, cafe itu bernuansa islami. Namanya pun memakai huruf Arab.


Mobil mereka berhenti tepat di depan rumah Pak Erlangga. Sisi turun dari taksi itu, setelah membayar ongkosnya. Seorang satpam yang bekerja di rumah itu bergegas membukakan pintu pagarnya dan menyambut seorang gadis bergantian peach dengan hijab syar'i nya. Setelah pintu terbuka, satpam itu meraih koper yang di bawa oleh Sisi untuk di bawa kedalam.


"Siang, Non!" sala Satpam itu ramah.


"Siang, Pak. Eh, gak usah panggil Non ya! Panggil Mbak aja!" Kebetulan satpam yang bekerja di rumah pak Erlangga berasal dari Indonesia, tepatnya di daerah solo. Jadi, secara suku mereka hampir sama. Sama-sama dari suku Jawa.


"Eh, iya Mbak. Mari saya antar!" ajak Satpam itu mempersilahkan Sisi untuk berjalan di depannya. Tapi langkah Sisi terhenti saat sebuah taksi berhenti di depan pintu gerbang rumah itu. Sesaat kemudian seorang pria yang ia lihat tadi di bandara, turun dari taksi itu lalu berjalan kearah cafe di seberang rumah pak Erlangga.


"Itu...kan, pria tadi!!!" gumam Sisi, seraya mengingat sesuatu.


"Ayo, Mbak Sisi kita masuk!" seru pak Satpam itu.

__ADS_1


"Eh, iya...hehehe!" Sisi hanya cengengesan, karena dilihat oleh satpam sedang bengong.


"Assalamualaikum, Kek!" sapa Sisi saat bertemu dengan Kakeknya di teras.


"Waalaikumussalam, mashaa Allah Sisi. Kakek sampe pangling lihat kamu yang make hijab," balas Pak Erlangga tersenyum sumringah melihat cucunya.


"Ma!! Ini cucumu udah datang," panggil pak Erlangga pada istrinya.


"Iya, Pa. Tunggu sebentar," teriak dari dalam. Bu Sundari setengah berlari, sudah tidak sabar ingin melihat cucunya. "Mashaa Allah, cantiknya cucu Nenek!" puji Bu Sundari menghambur ke pelukan wanita yang terlihat manis dengan hijabnya.


"Ayo, masuk sayang!" ajak Bu Sundari, pada Sisi.


Mereka berdua langsung masuk kedalam, tanpa melepaskan genggaman tangannya. Rasanya baru kemarin melihat Sisi dengan pakaian tomboinya. Sekarang, setelah dua tahun tidak bertemu, Sisi menjelma bak wanita muslimah dari pondok pesantren.


Sisi masuk ke kamar itu. Cukup besar untuk dirinya, kamar itu. Dan yang buat Sisi tertegun, dari kamar itu dia bisa melihat dengan jelas suasana cafe yang ada di seberang rumah itu. Sisi meletakkan semua pakaiannya di dalam lemari yang ada di kamar itu. Setelah tersusun rapi, dia ke kamar mandi untuk membersihkan diri, untuk sholat Dzuhur.


Usai sholat dan mengganti pakaiannya, Sisi duduk di ranjang. Niatnya ingin mengistirahatkan tubuhnya sebentar saja. Namun, keburu Bu Sundari memanggilnya untuk makan siang dulu.


"Sayang, makan dulu, yuk!" teriaknya dari balik pintu.


"Iya, Nek." Sisi beranjak dari rebahannya, dan bergegas ke meja makan. Tapi langkahnya terhenti, saat pandangannya menangkap sosok yang teduh dan membuat hati terasa nyaman saat memandangnya, dari balik jendela. Sosok itu baru saja keluar dari pintu cafe itu, menuju motor maticnya. Tanpa mengurangi kewibawaannya, pria itu mulai menjalankan kendaraannya hingga tak lagi tertangkap oleh mata Sisi.

__ADS_1


"Subhanallah, sungguh indah ciptaan mu ya Allah!" gumamnya tersenyum tipis. Belum pernah dia melihat, seorang laki-laki yang terlihat tampan, manis, teduh, dan sempurna menurut Sisi.


Sisi melanjutkan kembali langkahnya menuju ke ruang makan. Di sana sudah ada Nenek dan Kakeknya yang sudah duduk di meja makan. Tapi ada yang menarik perhatian Sisi, ada seorang gadis yang yang berparas cantik duduk di sisi kiri Neneknya. Dia belum pernah melihat wanita itu, sebelumnya. Sisi memilih duduk di seberang Neneknya.


"Sayang, ini kenalkan. Dia Putrinya Bisa Darsih, pembantu kita. Nenek, dia kuliah di universitas yang sama seperti yang akan kamu pilih. Namanya, Ayumi. Panggil saja Ayu." Bu Sundari memperkenalkan Ayumi pada Sisi. Dia wanita itu saling menyapa, dan menyebutkan nama setelah melepas uluran tangannya.


"Dia akan tinggal di sini, juga!" lanjut Bu Sundari.


Mereka menikmati makanan mereka. Di selingi obrolan kecil, menambah suasana sedikit ramai di meja makan itu. Sebenarnya, ada yang ingin ditanyakan oleh Sisi pada kakek dan neneknya. Tapi, sepertinya dia sedikit malu. Hingga tak berani bersuara.


"Oh iya. Di depan ada cafe yang bagus banget. Recommended banget deh, selain makanannya yang enak-enak. Disana juga, di gratiskan bagi hafidz dan Hafidzah yang ingin makan di sana. Pemilik cafenya masih muda, Lo. Dari Indonesia juga!" terang Bu Sundari. Baru saja Sisi ingin bertanya, eh neneknya udah memberi info tentang cafe itu.


"Nanti, Deh! Nenek kenalin ke kamu, sayang! Siapa tahu, kamu cocok sama dia!" goda Bu Sundari, membuat Sisi tersipu malu.


"Ahh, Nenek. Sisi masih belum mau menjalin hubungan dengan siapapun, Nek!" sergah Sisi.


"Hmmm, kamu belum bisa lupain mantan kamu, ya sayang!" Wajah Sisi langsung berubah melow.


"Ma! Jangan ngomong sembarangan, lihat tuh. Cucu kita jadi sedih lagi, kan!"


To be continued...

__ADS_1


Yang pengen cepet-cepet Hanif tahu kebenaran itu, sabar ya...akan terungkap kok. Tapi belum dalam waktu dekat-dekat ini. Karena author ingin, Hanif bukan cuma menyesal membuang Sisi, tapi laki-laki itu bahkan takut untuk bertemu dengan Sisi karena malu yang teramat sangat.


__ADS_2