
Hanif yang sudah tersungkur, mencoba untuk berdiri. Seraya mengusap sudut bibirnya, pria itu mantap tajam kearah satu persatu pria yang menghalanginya. "Ra, aku akan bebaskan kamu dari tempat ini!" lirihnya, beranjak pergi ke arah mobilnya.
Belum sempat ia masuk, sebuah mobil sedan berwarna hitam melambat kearahnya dan berhenti tepat di depan mobilnya. Seorang pria berwajah serius, keluar dari mobil itu. Dengan menggunakannya kacamata hitam, pria itu mulai mendekatinya.
"Hah...kamu lagi!!!! Untuk apa kamu berada di sini? Hah!!!" gertak pria setengah mengejek. Hanif menutup kembali pintu mobilnya, dengan tatapan tak bersahabat dia sambut permainan pria itu.
"Lepaskan Alira!!!! Jika kamu hanya bisa membuat dia menangis!!!!" bentaknya, mendorong dada pria itu.
"Wah...wah...ada yang mau jadi pahlawan rupanya. Dengarkan saya baik-baik, saya tidak akan melepaskan Alira. Karena saya sudah...." Prayoga menggantung kalimatnya. "Cuihhh...peduli apa, kamu dengan istri saya!!!!"
"Dasar bajingan!!!!" Hanif melayangkan sebuah pukulan kearah wajah pria itu, namun pergerakannya bisa di baca. Sehingga, di tepisnya pukulan itu dengan menggenggamnya erat tangan Hanif.
Sedangkan beberapa anak buah pria itu mendekat kearah mereka berdua, dan dia menyerang balik Hanif. Namun, di cegahnya oleh Prayoga dengan mengulurkan tangannya di udara.
"Lebih baik kamu pergi dari sini! Dan jangan pernah kembali lagi ke rumah saya. Sebelum...saya berubah pikiran. Dan anak buah saya akan menghabisi kamu di sini!!!!" ancam Prayoga dengan kasar, seraya menghentakkan tangan Hanif kebelakang.
************
Ditempat yang beda.
Seorang wanita sedang menangis pilu, menangisi nasibnya yang malang. Suami yang harusnya ada di sampingnya, saat dia kehilangan bayinya. Suami yang harusnya menghiburnya saat dia terluka.
Namun itu hanya mimpi bagi Akira, di sebuah kamar yang cukup besar. Wanita itu berdiri di depan jendela kamarnya. Usai dari rumah sakit tadi, dia langsung di kurung di sana. Dia sempat di rawat di rumah sakit, tempat Hanif praktek. Saat dia mengalami pendarahan dan harus kehilangan janinnya.
"Aku harus pergi dari sini!!! Aku gak kuat lagi!???" racaunya sesegukan.
Tak lama setelah itu pintu kamarnya pun terbuka. Pria bertubuh sport, itu masuk tanpa permisi dulu. Alira, hanya menoleh sebentar untuk memastikan siapa yang datang, setelah itu dia kembali menatap keluar jendela.
__ADS_1
"Apa begitu caramu menyambut suamimu yang baru datang!!!" ujar Prayoga dengan nada dingin. Alira tak bergeming, dia sudah tak peduli lagi dengan pria itu.
Perlahan, Prayoga mendekati istrinya, di peluknya dari belakang tubuh istrinya. Setelah itu, mendaratkan dagunya tepat di pundak Akira. Pria itu memejamkan matanya seraya mencium aroma tubuh istrinya yang menjadi candu saat dia di dekatnya.
"Apa kamu tidak merindukan mu?" Pertanyaan dari Prayoga membuat Alira semakin di banjiri air mata. Hatinya kelu, bingung dengan sikap suaminya yang sudah dia tebak.
"Ra!!!" Prayoga membalikkan tubuh istrinya agar bisa menghadap kearahnya. "Maafkan aku!!!" Di sentuhnya lembut dagu wanita itu. "Aku tak di sampingmu saat..."
"Lepaskan aku!!!!!" sentak Alira, menepis tangan suaminya. "Kamu jahat....untuk apa kamu kembali.... lepaskan aku...aku mohon..." rintihnya menangis pilu.
"Sttt...." Mulut Alira langsung di bungkam oleh Prayoga dengan jari telunjuknya. "Kamu nggak boleh ngomong seperti itu!! Aku mencintaimu, Ra!!!!"
"Cinta? Kamu bilang cinta sana aku? Bohong!!! Kamu bahkan tidak tahu arti dari kata cinta!!? Kamu egois, lelaki egois!!!"
"Mulai saat ini, aku sudah tidak mau lagi menjadi istrimu. Kamu menyakiti aku!!!" Isak Alira.
Bughhhh di lemparnya tubuh mungil itu ke ranjang. Setelah itu, dia mendekat menatap punggung Akira yang bergerak, menahan Isak tangisnya.
"Aku ingin kamu layani aku!!?!" Dengan kasar, di balikan lagi tubuh Alira hingga berada di bawahnya.
Dengan sisa tenaganya, Alira mendorong tubuh suaminya. Hingga terjungkal kebelakang. "Jangan gila kamu, aku baru saja mengalami pendarahan. Kamu...."
Belum sempat Alira melanjutkan kata-katanya. Sebuah tamparan mendarat di pipi wanita itu, meninggalkan jejak merah disana.
"Aku tidak peduli!!!! Kamu harus layani aku!!!!" Prayoga sudah membuka semua kancing bajunya, setelah tertanggal di lemparnya sembarang baju yang ia kenakan. Dengan merangkak, dia mendekati tubuh istrinya yang masih menggigil karena ketakutan.
Matanya bak elang, yang siap menerkam mangsanya. Di cengkramnya erat kedua rahang Alira, dan dia mulai ******* bibir Alifa dengan kasar. Tak ada respon ataupun penolakan dari Alira.
__ADS_1
Air matanya terus saja menetes, tenaganya sudah habis untuk mencegah suaminya berbuat nekat padanya.
Puas menggerayangi bibir Alira, Prayoga mulai turun menyusuri jenjang leher istrinya, hingga meninggalkan tanda kepemilikannya di sana. Namun saat tangannya mulai melucuti pakaian Alira, Alira menendangnya dengan kakinya, hingga Prayoga tersungkur lagi ke belakang.
Alira langsung lari untuk menyelamatkan diri. Dia berlari kearah pintu, namun kuncinya di ambil oleh suaminya. Prayoga mulai bangkit, setelah itu dia mengejar Alira yang masih mencari cara agar terbebas dari perbuatan busuk suaminya.
Bahkan selakangannya masih sangat nyeri, jika dia berlari. "Mau kemana, kamu Ra??? Dasar wanita jalang, aku hanya minta kamu layani. Kenapa kamu menolaknya!!!"
"Hentikan...tolong hentikan!!!! Aku mohon!!!!" Isak Alira, bersimpuh di kaki Prayoga.
"Bangunlah, sayang!!?" Di angkatnya tubuh mungil milik istrinya hingga berdiri. "Kenapa kamu menolakku? Apa kamu tidak takut dosa!!!"
"Hentikan!!! Kamu jangan gila!!! Aku baru saja keguguran, kamu gak bisa meminta hak mu sekarang!!??"
Mulut Alira kembali di bungkam oleh Prayoga dengan bibirnya. Hingga hanya deru nafas mereka yang terdengar. Dan Isak tangis yang tertahan.
Alira tahu, Prayoga tidak akan main-main dengan dengan ucapannya. Dia tidak mau Prayoga menyakiti nya. Dengan sekali hentak, kaki Prayoga di injak oleh oleh Alira, sontak dengan mudah dia bisa terbebas dari cengkraman suaminya yang masih mengerang kesakitan memegangi kakinya
Alira berlari menuju ke balkon, yang terhubung dengan jendela kamarnya. Dengan tertatih, Prayoga masih mengejar dirinya. Hingga tubuhnya kembali berontak, saat Prayoga berhasil menangkap dirinya. Dia kembali berhasil melarikan diri, dan Prayoga kembali mengejarnya. Namun naas, saat pria itu akan menangkap Alira, kakinya tersandung oleh kakinya sendiri, hingga tubuh Prayoga melayang keatas, melewati pembatas balkon, dan seketika jatuh kebawah dari lantai dua....
Alira yang menyaksikan suaminya terjatuh hanya bisa berteriak histeris. "Mas!!!!!!" Dia melihat tubuh Prayoga sudah berada di atas paping halaman rumahnya. Dengan darah segar yang terus mengalir di bagian kepala dan telinganya.
Wajah Alira pun menjadi pucat, tubuhnya bergemetar menyaksikan kejadian itu.
Anak buah Prayoga datang menghampiri tubuh Prayoga yang mulai kejang-kejang, setelahnya melemas tak bergerak.
To be continued
__ADS_1