Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Licik


__ADS_3

Mobil itu berhenti tepat di hadapan Sisi dan Mark. Seorang pria berkacamata turun dari mobil itu dan menghampiri kearah mereka berdua. Seulas senyum terpancar dari bibir pria kala melihat Mark seperti tidak percaya akan kedatangannya. Beda dengan Mark, Sisi justru menyambut gembira dengan kedatangan pria itu.


"Sayang, akhirnya kamu datang juga," sapa Sisi tersenyum bahagia.


"Iya dong sayang. Meskipun ada yang berusaha menghalangi kerangan aku. Tapi aku gak kehilangan akal untuk menjemput wanita pujaan ku ini." Hanif melirik sinis ke arah pria berpostur tinggi macho kemudian mencubit dagu wanita yang disebelahnya.


Mark hanya tersenyum getir mendapati Hanif meliriknya. Merasa rencananya gagal, akhirnya pria itu masuk ke mobilnya dan meninggalkan mereka berdua.


"Ya udah ayo kita pulang!" ajak Hanif menarik pelan yang Sisi agar cepat naik kemobilnya.


Kira-kira menempuh perjalanan satu setengah jam mereka sampai di rumah Faisal. Mengingat hari sudah larut malam, Hanif tidak mampir kedalam. Dan hanya menurunkan kekasihnya di depan pintu gerbang rumahnya. Setelah itu dia lajukan mobilnya kembali. Sementara Sisi segera masuk ke dalam. Tenyata adik-adiknya menghawatirkan dia, sampai-sampai mau mencarinya. Beruntung Sisi pulang cepat waktu. Sehingga mereka tidak jadi keluar.


"Kakak darimana saja, kok jam segini baru pulang?" tanya Fatan, mengintrogasi kakaknya.


"Maaf Dek, tadi mobil Kak Hanif mogok. Jadi tepat jemput Kakak. Bunda ada telpon kamu, Dek?" jawab Sisi, bertanya balik ke adik-adiknya.


"Dua puluh menit yang lalu, bunda telpon aku. Karena itu, kita disuruh mencari Kakak. Bunda telpon handphone Kakak gak bisa, katanya. Emang kakak darimana?" Mereka menuju ke ruang makan. Sisi yang menahan haus dari tadi. Langsung menuangkan air kedalam gelas, setelah itu meneguknya. Usai minum, dia jawab pertanyaan adiknya tadi.


"Kakak ada kunjungan ke panti sosial yang menampung orang-orang yang menderita penyakit kanker. Tapi kakak perginya gak sama Kak Hanif, jadi Kakak harus nunggu kak Hanif yang jemput kakak." Fatan langsung manggut-manggut mengerti dengan ucapan kakaknya. Sementara Fatin sudah lebih dulu ke kamarnya.


"Dek, Fatin itu ceweknya siapa? Perasaan dia sering banget mengurung diri di kamar?" cecar Sisi yang penasaran dengan kekasih adiknya.

__ADS_1


"Tau ah. Yang jelas gak satu fakultas dengan dia. Eh Kak, kakak ingat gak sama Salsabila. Anaknya om Rio dan Tante Weli. Dia sekarang cantik deh. Fatan ketemu dia tadi pagi, pas mau ke kampus!" seru datang mendapat jitakan dari kakaknya.


"Kuliah yang bener dulu, gak usah mikirin cewek terus." Fatan memegangi kepalanya yang dijitak kakaknya.


"Yealah Kak! Refreshing otak. Biar gak stres mikirin materi terus," jawabnya mendapat pelototan dari kakaknya. "Ihh, serem amat." Fatan pun langsung lari masuk kamarnya, takut dianiaya lagi oleh kakaknya.


Sisi juga masuk ke kamarnya untuk mandi. Baginya hari ini adalah hari yang melelahkan. Setelah aktivitasnya di rumah sakit yang padat. Ditambah kunjungannya di panti sosial itu, membuat dia harus mengeluarkan tenaganya dengan ekstra.


Usai mandi dia membaringkan tubuhnya di ranjang. Baginya saat-saat seperti ini adalah hal yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Setelah melewati aktivitasnya dengan lancar, sekarang tiba saatnya untuk mengistirahatkan tubuhnya di kasur yang nyaman itu. Tiba-tiba dia ingat sesuatu. Nek Puspita.


Sisi langsung membuka labtobnya untuk mencari informasi mengenai keluarga nek Puspita. Mungkin dari situ, dia bisa mendapat petunjuk untuk mencari keberadaan anak sekaligus cucu nenek itu.


**********


Pagi harinya Sisi sudah ada di rumah sakit. Dengan di antar oleh supir pribadinya. Pagi ini kekasihnya tidak bisa menjemputnya. Karena harus mengantar bundanya periksa rutin. Bu tari dan Hanif baru saja tiba di rumah sakit yang sama dengan rumah sakit tempat Hanif bekerja. Pria berkacamata itu mengantar bundanya ke dokter spesialis penyakit dalam. Bu Tari sudah lama menderita penyakit yang sama dengan Suaminya. Hanya saja, dia lebih berhati-hati dalam menjaga pola makan dan olahraganya. Jadi, beliau masih di beri panjang umur.


Tidak memakan waktu yang lama. Bu tari keluar dari ruangan dokter Gerald. Dokter yang menanganinya.


"Bunda pulang naik taksi aja, sayang. Kamu langsung kerja aja, ya!" pamitnya pada putranya yang berdiri disampingnya.


"Bunda, gak ingin bertemu dengan Sisi terlebih dulu?" tanya Hanif teringat kata-kata bundanya tadi. Kalau dia rindu dengan calon menantunya itu.

__ADS_1


"Besok kan! Weekend. Kamu jemput dia, untuk datang ke rumah aja, ya." Hanif pun menyetujui keinginan bundanya. Setelah itu dia mengantar bundanya kedepannya dan memesankan taksi online untuk mengantar Bundanya pulang.


Setelah bundanya pulang. Hanif langsung menuju keruangannya. Hari ini hari Jumat, biasanya tidak banyak pasien. Saat sudah berada di ruangannya. Hanif melihat kearah kekasihnya. Wanita itu terlihat murung, tidak seperti biasanya.


"Kamu kenapa sayang? Sakit? Kok murung gitu?" Hanif langsung mendekati wanita yang duduk di bangku, meja kerjanya.


"Aku cuma kepikiran dengan nenek yang aku ceritakan semalam di mobil. Aku coba cari informasi mengenai nenek itu. Tapi aku gak dapat apapun," jelasnya dengan tatapan putus asa.


"Mungkin ada yang menghapus postingan-postingan mengenai nenek itu. Ya udah gak usah dipikirin. Lusa kita datang ke panti, untuk cari informasi yang lebih akurat lagi, ya! Oh iya hampir lupa, besok jam sepuluh pagi aku jemput kamu. Bunda ingin bertemu denganmu. Udah kangen katanya." Sisi pun tersenyum lebar mendengar ucapan Hanif. Memang pria itu selalu bisa merubah moodnya jadi lebih baik.


"Iya sayang. Siap. Makasih ya," sahut Sisi, Hanif pun tersenyum lega. Karena mood kekasihnya sudah membaik lagi.


Mereka bisa melanjutkan kembali pekerjaannya. Meski tidak terlalu sibuk. Tapi mereka masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan. Sesekali mereka bergurau, agar tidak terlihat kaku. Hanif selalu bisa buat Sisi tertawa. Begitupun sebaliknya. Mereka memang pasangan yang serasi. Siapapun yang melihat kedekatan mereka, pasti akan merasa iri. Salah satunya Mark dan Veronika. Dua orang ini yang menjadi ancaman bagi hubungan Hanif dan Sisi.


Rutinitas sebelum ke cafe untuk makan siang. Sisi terlebih dulu ke toilet untuk merapikan tatanan rambutnya. Kebetulan saat itu Veronika juga ada di toilet khusus untuk para dokter. Sisi masuk ke salah satu toilet yang berjejer disana. Melihat hal itu. Mulailah rencana busuk Veronika di lancarkan. Dia mengunci pintu toilet yang digunakan oleh Sisi. Setelah itu, dia keluar menuju pintu utama toilet. Di situ dia tulis, "toilet rusak. Sedang dalam perbaikan". Di tempelkan di pintu utama toilet. Setelah itu dia pergi dari situ.


Sisi yang sudah selesai dengan aktivitasnya, akan keluar dari toilet tersebut. Tapi dia tidak bisa, karena terkunci dari luar. Dia berusaha menggedor-gedor pintu toilet itu. Namun tak ada satupun orang disana.


"Tolong!!!!" Teriaknya berulang-ulang kali.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2