Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Apa aku masih pantas mendapatkan maafmu?


__ADS_3

Perasaan bersalah dalam diri Hanif membawa mobil Hanif ke rumah Faisal. Rumah mewah berlantai dua, dan dikelilingi pagar berwarna putih itu, mobil Hanif berhenti. Namun, Hanif tak lantas turun dari mobilnya. Pikiran dan hatinya sedang berperang saat ini. Antara turun dan minta maaf pada wanita yang sudah ia sakiti. Tapi dia juga belum sanggup bertemu dengan Sisi. Malu, merasa bersalah menyelimuti dirinya saat ini.


Hanif benar-benar menyesal, karena saat itu dia tidak mau mendengar penjelasan dari Sisi. Padahal, Sisi sudah berulangkali meminta agar dia mau mendengarkannya. Tapi, karena keegoisan dia dan kesombongannya, dia tidak memberi kesempatan pada Sisi. Dan memilih berasumsi dengan informasi yang ia dengar setengah-setengah.


Lama, Hanif mematung di dalam mobilnya. Menatap nanar rumah yang penuh kenangan bersama dengan Sisi. Hingga cairan bening lolos dari pelupuk matanya. Kacau, Hanif kacau saat ini. "Arghhhh, betapa bodohnya aku!!!!!" Hanif membentur-benturkan kepalanya di stir pengemudi. "Kenapa? Kenapa saat itu aku tidak memberi kesempatan dia untuk bicara," racaunya mengacak-acak rambutnya. "Dan betapa rendahnya aku memandang Sisi, seperti itu. Ya Tuhan...."


Hanif terus merutuki kebodohannya, yang sudah membuang Sisi. Wanita yang sangat dia cintai. Hingga dering ponselnya berbunyi dan mengusik pendengarannya. Hanif menoleh ke jok sampingnya, dia menatap nanar ponselnya yang tergeletak disana. Setelah tahu siapa yang menelpon dirinya. Hanif tak lantas menjawabnya. Belum lagi selesai masalahnya dengan Sisi, sekarang dia dihadapkan dengan masalah baru. Bagaimana tidak, malam ini Hanif akan melangsungkan pertunangannya bersama Veronika. Wanita yang sama sekali tidak ia cinta. Hanif sadar saat ini, ternyata perasaan yang dimiliki terhadap Veronika itu bukan cinta. Tapi, sebuah pelarian karena wanita itu yang ada saat dia rapuh yang mengira di khianati oleh Sisi.


Ponselnya terus berbunyi, dan dia tidak bisa lagi membiarkan Veronika mengkhawatirkan dia. Karena Hanif meninggalkan wanita itu di Mall, tempat mereka membeli cincin tadi. Hanif menjawab telpon dari Veronika. "Ya, Ver." Dari nada bicaranya, Veronika sedang mencarinya dan bertanya kenapa dia meninggalkan wanita itu. "Kamu pulang naik taksi aja, ya. Aku ada urusan," kilahnya dengan nada berat. Hanif langsung menutup telponnya dan menon-aktifkan ponselnya. Dia masih ingin sendiri saat ini, sampai kapan? Dia sendiri tidak tahu.


Di tempat lain. Setelah selesai dengan aktivitasnya di dalam toilet, Veronika kembali ke kedai makanan tempat dua makan bersama Hanif tadi. Tapi, saat sudah sampai di sana, dia tidak menemukan pria itu ada di sana. Bahkan, meja tempat dia makan tadi sudah di isi oleh pengunjung lainnya. Dia mencari-cari keberadaan Hanif disekitar kedai itu, tapi hasilnya nihil. Dia tidak dapat menemukannya.


Karena tidak menemukan Hanif di kedai itu, Veronika memutuskan untuk pergi keluar dan mencarinya di luar. Namun, saat dia baru saja akan menapakkan kakinya, bahunya di senggol seseorang dari belakang, sontak wanita itu menoleh kearahnya. "Maaf, maaf!!" seru Bilqis yang tidak sengaja menabrak Veronika. Saking asyiknya berjalan, dia tidak melihat ada seseorang yang berdiri di depannya.


"Kamu!! Bukannya putri dari Dokter Dino?" terka Veronika, menunjuk kearah Bilqis.


"Iya, saya putrinya. Tunggu-tunggu, saya seperti tidak asing dengan anda!" balas Bilqis mengingat-ingat wanita di depannya. "Eh, kamu dokter yang bekerja di rumah sakit Sejahtera juga ya. Kalau gak salah, dokter anak, iya!" tebak Bilqis setelah dia ingat dengan Veronika.


"Iya, senang bisa bertemu dengan kamu di sini," ujar Veronika melirik ke arah Iqbal. "Kok, mereka bisa jalan bareng, ya!" batin Veronika.

__ADS_1


"Oh, iya. Saya juga seneng bisa bertemu dengan anda di sini. Sendirian aja?" tanya Bilqis lagi.


"Emma..nggak! Tadi saya kesini bersama dengan dokter Hanif. Oh, iya mumpung bertemu disini. Nanti malam datang ya, di acara pertunangan saya dengan dokter Hanif." Ucapan Veronika membuat Bilqis terkejut, sontak wanita itu membulatkan sempurna kedua bola matanya.


"Tunangan? Dengan dokter Hanif?" Veronika mengangguk dan tersenyum. "Oh, inshaa Allah, kami akan datang!" seru Bilqis, mencoba menetralkan perasaannya. Dia tidak menyangka Hanif akan secepat ini move on dari kakaknya.


"Kalau gitu, saya duluan. Saya mau mencari calon tunangan saya," pamit Veronika pada mereka berdua.


"Dokter Hanif ya, tadi..." Ucapan Bilqis terhenti, saat Iqbal menarik tangannya, mengisyaratkan agar Bilqis tidak mengatakan tentang Hanif di depan Veronika.


"Iya, entah kemana dia. Saya cari disini gak ada, kalian ada lihat Hanif?" Iqbal menggelengkan kepalanya pelan pada Bilqis.


"Nggak tahu, kok. Ya sudah, kamu cari aja dulu!" jawab Bilqis berbohong.


"Ok, saya cari dia dulu. Jangan lupa datang, ya!"


Sepeninggal Veronika, Iqbal dan Bilqis melanjutkan langkah kakinya menuju keluar kedai itu. Ada yang mengganjal pikiran Iqbal saat itu. Tapi, dia tidak mengatakannya pada Bilqis. Hingga suara Bilqis mengagetkan dia. "Sayang, kamu kenapa sih! Kok jadi pendiam gitu!" seru Bilqis dengan wajah cemberutnya. "Kamu, lagi mikirin apa. Atau jangan-jangan kamu mikirin wanita lain, ya!" cerocosnya membuat geram Iqbal.


"Ya ampun sayang. Segitunya kamu curiga dengan aku. Aku cuma.." Iqbal menjeda kalimatnya, "kamu kenal dengan Veronika?" tanya Iqbal melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


"Nggak sih, sayang! Cuma waktu itu, Kak Sisi pernah bilang ke aku, kalau Veronika itu sempat menyekap dia di kamar mandi. Terus Kak Sisi juga bilang, kalau Veronika suka dengan dokter Hanif. Dan sempet cari-cari perhatian, gitu. Terbukti kan, setelah dokter Hanif putus dengan Kak Sisi, Veronika berhasil dapatkan dia!" terang Bilqis, justru membuat Iqbal memikirkan sesuatu. "Emangnya kenapa, sayang?" tanya Bilqis dengan tatapan curiga.


"Soalnya, aku kayak pernah lihat Veronika. Tapi, dimana ya?" Iqbal mencoba mengingatnya.


"Di rumah sakit, mungkin!" salak Bilqis dengan nada kesal.


"Sayang, kamu jangan marah dong! Aku tuh beneran pernah lihat dia. Tapi, bukan di rumah sakit!" bujuk Iqbal, yang melihat calon istrinya sudah mulai merajuk. "Mana berani sih, aku ngelirik wanita lain. Sedangkan wanita di sampingku ini adalah bidadari surgaku nanti," goda Iqbal, membuat Bilqis tersenyum malu.


Mereka melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke parkiran. Saat akan masuk kedalam mobil. Iqbal mengingat sesuatu. Dia pernah melihat Veronika di parkiran hotel, di mana Sisi seminar dulu. Dia tidak sengaja menabrak Veronika saat buru-buru mau masuk kedalam. Dan wajah Veronika terlihat tegang, dia juga terlihat buru-buru mau pergi dari parkiran itu.


"Tuh, kan diem lagi!" Suara Bilqis mengagetkan kembali Iqbal. "Hmmm, bener-bener deh!" seloroh Bilqis.


Iqbal masuk kedalam mobilnya. Dia berusaha mengaitkan kejadian demi kejadian yang menurutnya janggal. Hingga dia memiliki pikiran negatif pada Veronika. "Sayang, kok aku jadi curiga ya dengan Veronika!" seru Iqbal memecah keheningan diantara mereka.


"Curiga?"


"Aku baru ingat sekarang, aku pernah lihat Veronika di parkiran hotel tempat Sisi seminar dulu. Dia seperti orang ketakutan saat itu, dan lagi dia terlihat buru-buru gitu!" Bilqis mencoba mencerna informasi yang baru saja ia dengar. Apa mungkin kejadian penggrebekan itu ada yang mengaturnya.


To be continued

__ADS_1


Terimakasih hadiah, dukungan, dan vote kalian para readers suamiku tak pernah mencintaiku 😘😘😘


__ADS_2