Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Belum saatnya


__ADS_3

Bukan hanya Sisi yang mendapat penolakan dari Hanif. Iqbal pun demikian, setiap kali dia menjenguk Bilqis. Felisa selalu mengusirnya. Hingga siang itu, Felisa harus pulang ke rumah dulu. Untuk mengambil baju ganti, karena stok pakaian bersihnya sudah habis.


Kesempatan itu, tidak di bidang oleh Iqbal agar bisa menemui Bilqis. Dengan bantuan dari Dino, pria itu sampai di sana. Awalnya, Iqbal masih di kampus tempat dia mengajar. Tapi setelah mendapat pesan dari Dino, bahwa Felisa tidak sedang menunggu Bilqis. Pria itu langsung bergegas ke rumah sakit. Dia sampai tidak membawa mobilnya, karena takut akan memperlambat kedatangannya di rumah sakit. Dia lebih memilih meminjam motor salah satu mahasiswanya agar bisa cepat sampai di rumah sakit.


"Om, gimana perkembangan Bilqis?" tanya Iqbal saat dia sudah sampai di rumah sakit. Dino menghela nafasnya ke udara.


"Bilqis belum ada perkembangan yang baik. Dia masih lima," jelas Dini dengan lesu. "Sekarang temui dia, mungkin dengan kamu menemuinya bisa membuat dia cepat sadar," lanjutnya lalu pergi dari tempat itu.


Iqbal langsung menemui Bilqis, dia begitu pilu melihat kondisinya yang sekarang. Bahkan sekarang wajah Bilqis seperti sudah berubah. Pucat, seperti mayat. Tanpa terasa air matanya menetes. Rasanya dia ingin memutar kembali waktu yang telah ia lewati. Agar kejadian itu tidak terjadi. Diraihnya tangan Bilqis yang melemas, setelah itu ditangkupkan tangan satunya lagi seraya berkata, "sayang, cepatlah bangun. Kalau kamu sudah bangun, aku akan segera menikahi mu. Bangunlah sayang, aku mohon." Setelah itu di kecupnya lembut tangan itu. Berharap keajaiban datang, dan Bilqis bisa segera sadar.


Selang beberapa saat, tiba-tiba tangan Bilqis sedikit bergerak. Dan itu disadari oleh Iqbal, dia langsung memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Bilqis saat itu. Tak berapa lama, dokter yang menangani Bilqis datang. Bukan Hanif lagi yang menangani Bilqis. Tapi sudah digantikan dengan dokter Serlin. Dino tak kalah antusiasnya melihat perubahan pada Kondisi anaknya. Meskipun cuma sedikit.


Setelah dokter Serlin memeriksa kondisi Bilqis. Beliau menemui keluarganya di luar. Dia akan menyampaikan keadaan Bilqis yang sesungguhnya. "Gimana Dok, apa Putri saya bisa segera sadar?" tanya Dino menghampiri dokter Serlin yang baru saja keluar dari dalam. Begitupun juga dengan Iqbal. Mereka sudah tidak sabar ingin mendengar berita baik dari dokter muda berparas cantik itu.


"Maaf sebelumnya Pak Dino. Belum ada tanda-tandanya untuk Bilqis sadar dari koma-nya. Tentang pergerakan itu, mungkin Bilqis sudah bisa merespons apa yang iya dengar dan ia rasakan. Ini kalau pak Dino menerima saran saya. Dokter dari rumah sakit di Singapura menemukan metode baru untuk penyembuhan penyakit kanker. Dan sudah banyak pasien yang sembuh dengan pengobatan metode itu. Kalau Bapak tidak keberatan, Bilqis bisa di bawa kesana, saja. Mudah-mudahan dia bisa segera sadar, dan bisa segera melakukan metode pengobatan itu," terang dokter Serlin disambut senang oleh Dino dan Iqbal.


"Baik Dok, saya setuju dengan saran dokter. Kira-kira kapan Bilqis bisa di bawa kesana?" tanya Dino.


"Kami akan urus secepatnya pemindahan Bilqis. Semoga di sana, Bilqis bisa mendapatkan obatnya dan bisa sembuh seperti sedia kala!" jawab dokter Serlin.


"Aamiin!!" sahut Dino dan Iqbal bersamaan.


"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu ya Pak!" Dokter Serlin pergi meninggalkan mereka berdua. Dokter Serlin adalah dokter kiriman dari Singapura yang di rekrut langsung dari sana oleh Faisal. Karena itu, dia belum tahu kalau Dino adalah dokter juga di rumah sakit tempat dia bekerja.


Di tempat lain, mobil Sisi berhenti di klinik Bunda. Meskipun hari Minggu, klinik itu tidak sepi oleh pasien yang ingin berobat di sana. Sisi dsn Fatan langsung menemui pegawai receptionis untuk menanyakan keberadaan dokter Arumi, dokter yang menangani tes itu.

__ADS_1


"Permisi, Sus! Apa dokter Arumi ada di ruang praktek nya?" sapa Sisi pada pegawai itu.


"Oh, dokter Arumi tidak masuk hari ini. Jam praktek nya hanya Senin sampai Jumat, mbak!" jelas pegawai itu. Sisi langsung menghela nafasnya kasar. Betapa tidak, hanya tinggal hari ini bukti itu harus sudah ada di tangannya. Tapi, dokter yang memeriksanya tidak hadir di klinik itu.


"Kalau Mbaknya ada perlu penting dengan beliau, datang aja langsung ke rumahnya. Ini saya kasih alamat rumahnya," lanjut pegawai itu memberikan secarik kertas berisi alamat rumah dokter Arumi.


Ada secercah harapan lagi dari Sisi setelah menerima alamat dokter Arumi dari tangan pegawai receptionis itu. "Terimakasih, ya Sus!" kata Sisi dengan senyum ramahnya. "Kita langsung kesana aja, Dek!" seru Sisi beralih menatap Fatan.


"Iya, Kak!"


Mereka berdua kembali ke mobilnya, sekarang tujuan mereka adalah di rumah dokter Arumi. Dengan kecepatan sedang, mobil mereka membelah kepadatan jalanan kota Jogja sore itu.


Tak menunggu waktu yang lama, mereka sampai di sebuah rumah mewah di kelilingi pagar besi. Rumah bercat abu-abu itu adalah rumah dokter Arumi. Mobil Fatan berhenti di depan pintu gerbang rumah itu. Tak berapa lama seorang satpam berlari membukakan pintu gerbang rumah itu. Sisi dsn Fatan turun dari mobil itu dan berjalan menuju pintu pagar.


"Mau cari siapa, Mbak, Mas?" sapa Satpam itu, sembari membungkukkan tubuhnya.


"Oh, ada... Sudah ada janji dengan beliau?" tanya satpam itu lagi.


"Belum!"


"Kalau begitu saya akan sampaikan dulu dengan beliau, kalau boleh saya tahu nama Mbak dan Mas-nya siapa?" Satpam itu menanyakan nama mereka berdua.


"Saya Sisi, pasiennya dokter Arumi!" jawab Sisi.


"Kalau begitu tunggu sebentar, ya Mbak Sisi." Satpam itu meninggalkan mereka berdua untuk menyampaikan pada majikannya.

__ADS_1


Setelah sedikit menunggu, satpam itu kembali dengan dokter Arumi. Mereka berdua menghampiri Sisi dsn Fatan.


"Maaf, anda mencari saya?"


"Iya, Dok."


"Ok, silahkan masuk!" Sepertinya dokter itu tidak hafal dengan Sisi, terlihat jelas dia sedikit bingung dengan mereka berdua.


Mereka duduk di ruang tamu. Tak berapa lama pembantunya datang membawa minuman untuk mereka. Setelah meletakkan minuman itu, pembantunya pergi. Dan dokter Arumi, mulai bertanya tujuan mereka menemui dia.


"Ada keperluan apa, ya?"


"Jadi begini dok, saya Felisya Basri. Pasien dokter yang dua hari lalu melakukan tes perawan. Apa dokter sudah punya hasilnya?" jelas Sisi, dan Dokter Arumi sudah mulai mengingat mereka.


"Oh, iya saya ingat. Hasilnya sudah keluar, tapi masih di Lab klinik. Mungkin besok baru keluar dari sana. Itu prosedurnya!"


"Tapi saya perlunya sekarang, Dok! Tolong berikan hasilnya pada kami sekarang!" ucap Sisi memohon.


"Waduh, kalau itu saya tidak punya wewenang. Yang punya wewenang mengeluarkan hasil itu petugas lab. Lebih baik di ambil besok pagi aja, nanti saya akan bicarakan pada mereka!" tawar Dokter Arumi.


"Benar! gak bisa sekarang, Dok." Dokter itu tersenyum dan menggeleng.


"Nggak bisa Mba, lagian hari ini hari Minggu, mungkin petugasnya juga tidak masuk kerja hari ini. Sabar, ya Mbak. Besok pagi-pagi saya tunggu kedatangan Mbak untuk mengambil hasilnya. Saya pastikan besok pagi hasil itu sudah ada di tangan saya!"


Sudah tidak bisa di bantah lagi. Sisi harus kembali dengan tangan kosong. Dan besok baru bisa di ambil. "Tenang, Kak. Kakak jangan sedih. Besok Fatan yang akan ambil hasil tesnya. Ok."

__ADS_1


Entah kenapa perasaannya tidak enak. Sisi seperti sedang di permainkan oleh mereka.


__ADS_2