Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Cantik, tapi urakan


__ADS_3

Suara riuh mengusik indera pendengaran Sisi. Hawa dingin menyelimuti tubuhnya yang basah akibat terjatuh ke danau tadi. Perlahan dia membuka matanya. Saat dirinya sudah sadar, dia begitu terkejut saat wajah Hanif berada tepat di wajahnya. Dengan reflek, dia menendang kaki pria yang berada di atas tubuhnya. Hingga membuat pria itu terjengkang.


"Aduh," erang Hanif memegangi pinggulnya. Diikuti Gelak tawa dari mahasiswa yang berada di sana.


Sisi mengira kalau Hanif akan berbuat macam-macam padanya. "Kamu ngapain deket-deket dengan saya?" tanyanya tanpa dosa.


"Ngapain? Situ gak sadar kalau hampir mati tenggelam. Untung ada saya yang menolong kamu," cetus Hanif mulai beranjak.


"Dokter Hanif mau kasih nafas buatan ke Dokter Sisi," sahut salah satu mahasiswa yang berdiri tak jauh dari Sisi.


Perkataan mahasiswa itu membuat Sisi membulatkan matanya dengan sempurna. "Enak saja, dia mau mengambil ciuman pertama ku" batinnya. Sementara Hanif hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Sisi akhirnya dibawa keruang UKS. Sementara Hanif dia ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


Hari semakin sore. Kegiatan sosialisasi itupun sudah berakhir. Hanif mengantar Sisi terlebih dahulu. Tapi ditengah jalan mereka dihentikan dengan kerumunan yang berada di tengah jalan raya. Hanif pun menghentikan mobilnya, dan turun menghampiri kerumunan itu. Diikuti oleh Sisi di belakangnya.


Seorang wanita muda jatuh terbaring di pangkuan seorang pemuda. Wanita itu tiba-tiba pingsan saat akan menyeberang. Beruntung pria yang bersamanya yang menangkapnya. Sisi yang mengenali gadis itu segera mendekati kearah gadis itu. "Bilqis!!" ucapnya panik. "Bal, apa yang terjadi pada dia?" Sisi bertanya pada pemuda yang memangku Bilqis.


"Ayo cepat bawa dia ke mobil!" seru Hanif bergegas membukakan pintu mobilnya. Iqbal kemudian menggendong Bilqis menuju mobil Hanif.

__ADS_1


"Katakan!apa yang terjadi pada Bilqis, Bal?" Mereka sudah ada didalam mobil, dan Hanif sudah mulai menginjak gas nya. "Dia tiba-tiba pingsan, saat kami akan ke perpustakaan tadi," jawab Iqbal yang duduk di belakang memangku Bilqis.


Sisi begitu panik melihat sahabatnya tak sadarkan diri. Dia teringat saat konsultasi dengannya, mengenai keluhannya akhir-akhir ini. "Semoga gak terjadi apa-apa dengannya," gumamnya.


Mereka sampai di rumah sakit. Hanif langsung membawa Bilqis ke ruangannya. Sisi pun ikut masuk ke dalam. Sementara Iqbal, dia menunggunya di luar. Hanif tampak sibuk memeriksa Bilqis, sedangkan Sisi dia memasangkan infus kerangan Bilqis. "Sepertinya dia harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut lagi. Agar kita bisa tahu, apa yang terjadi padanya!" Hanif terlihat putus asa dengan hasil pemeriksaan nya. Mimik wajah Sisi seketika berubah saat Hanif mengatakan hal itu padanya.


Tiga puluh menit kemudian Biqis tersadar dari pingsannya. Sisi langsung menghampiri Bilqis. "Dek, kamu udah sadar?" Bilqis tersenyum menanggapi pertanyaan Sisi. "Kak, rahasiakan ini pada ayah dan bunda Bilqis ya!" pintanya memelas pada Sisi. Tak lama kemudian Iqbal dan Hanif masuk.


"Ada hal penting yang harus saya sampaikan padamu, Bilqis!" Ucap Hanif dengan muka serius. Iqbal yang mendengar perkataan Hanif langsung mendekat kearah Bilqis.


Hanif memberitahu pada Bilqis kalau dia sudah mengatur kan jadwal pemeriksaan lanjutan untuk kasus Bilqis. Dan dia sendiri yang akan menanganinya. Iqbal sebagai orang yang mencintai Bilqis mempunya ketakutan pada penyakit yang di derita wanita itu.


Bilqis meminta untuk tidak di rawat disini. Dia takut ayah bundanya akan mengkhawatirkan keadaannya. Dengan diantar oleh Iqbal, Bilqis pulang sore itu juga. Dan Hanif yang mengantar Sisi pulang.


Dino yang sedang duduk di teras bersama istrinya, sesekali melirik jam tangannya. Dia khawatir putri semata wayangnya belum pulang. Ponselnya pun tidak bisa di hubungi.


Sebuah taksi berhenti di depan rumah Dino. Dino berharap putrinya yang datang. Perasaannya menjadi tenang saat seorang wanita yang memakai setelan celana jeans dan kaos lengan panjang turun dari taksi itu. Bilqis masuk kedalam dan di sambut senyum ramah dari kedua orangtuanya.


"Sayang, darimana saja kok baru pulang?" Felisa langsung memeluk putrinya. "Bilqis tadi ke perpustakaan dulu Bun," jawanya gelagapan. Dino yang melihat putrinya terlihat pucat lantas menegurnya, "sayang wajah kamu pucat Lo. Kamu sakit?" Dino langsung memegangi wajah putrinya.

__ADS_1


Bilqis pun menjadi kebingungan dengan pertanyaan ayahnya. "Bilqis kepanasan,Yah. Hmm Bilqis ke kamar dulu ya." Bilqis meninggalkan ayah dan bundanya setelah menjawab pertanyaan Dino. Tingkah Bilqis membuat pasangan itu saling tatap.


Sesampainya di kamar, Bilqis membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Dia menatap dirinya di cermin. Benar saja apa yang dikatakan Ayahnya tadi. Wajahnya terlihat sangat pucat. Bilqis pun menyudahi aktivitasnya di kamar mandi.


Setelah mengganti pakaiannya, dia duduk di depan meja rias. Dia mulai menyisiri rambutnya. Tapi dia begitu terkejut saat melihat ada banyak rambut yang tertinggal di sisirnya. Dia menatap rambut itu, sesekali dia juga memegangi kepalanya. "Ya Allah, apa benar aku menderita penyakit mematikan itu!" Lirihnya menatap dirinya di cermin.


Bilqis berusaha menepis pikiran buruknya. Dia tidak mau berlarut dalam ketakutan yang belum pasti. Dia berusaha menyakinkan dirinya sendiri kalau dia sedang baik-baik saja. Dia pun keluar untuk bergabung dengan kedua orangtuanya.


Hanif yang baru saja tiba di rumahnya langsung masuk ke kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Dia membaringkan tubuhnya di kasur. Hari ini sangat penat bagi dirinya. Di tambah lagi, pinggang nya yang masih sakit akibat jatuh siang tadi.


Pria berkacamata itu tiba-tiba teringat kejadian tadi siang. Dimana dia mau memberikan nafas buatan pada Sisi. Dia bisa melihat dengan dekat wanita yang menjadi partner kerjanya itu. "cantik," gumamnya. "Tapi urakan!" Dia ingat saat Sisi menendang kakinya.


Di jadi ingat kalau sudah memiliki nomor ponsel Sisi. Timbul ide jahilnya untuk mengerjai gadis urakan itu. Hanif mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Sebelum melancarkan aksinya. Dia mengubah foto profil di WhatsApp nya dengan gambar karakter Naruto. Setelah itu dia mengirim chat ke nomor Sisi.


"Hey cantik 😍," kata pembuka di WhatsApp nya untuk Sisi. Dia senyum-senyum sendiri membayangkan wanita itu membaca pesannya. Selang beberapa saat, ponselnya bergetar. Tanda nontifikasi chat dari WhatsApp nya. Segera ia buka pesan itu. Sesuai dugaan nya, chat itu dari Sisi. Dia sudah tak sabar ingin membaca balasan chat nya ke wanita urakan itu.


"Hey, kamu sakit ya🙄." Hanif menatap bingung setelah membaca balasan chat nya Sisi. Sejenak ia berfikir, apa mungkin Sisi sudah mengetahui nomor ponselnya. Tapi dia masih penasaran dengan itu. Dia membalas lagi chat nya untuk Sisi. "Udah makan belum?" Kali ini dia merasa cemas menunggu balasan dari Sisi.


"Salah minum obat, kali nih orang!!!😒" Fiks balasan chat Sisi membuat Hanif menepuk dahinya sendiri. "Beneran nih, dia udah tahu nomor gue."

__ADS_1


To be continued...


Kira-kira besok Hanif bakalan gimana ya, saat bertemu Sisi. Alih-alih mau ngerjain Sisi malah dia yang kena batunya....


__ADS_2