
Mentari pagi itu sudah mulai menampakkan dirinya, menembus dari celah jendela membawa kehangatan seorang wanita yang sedang duduk di ranjang tempat tidurnya. Semalam dia bisa tidur dengan nyenyak setelah masalah yang ia hadapi selesai. Meski meninggalkan sedikit sesak di dadanya, namun tak menyurutkan langkahnya untuk menjalankan kehidupan ini.
Pagi itu Sisi akan ke rumah sakit, untuk membereskan barang-barangnya di sana. Rencananya, dia akan melanjutkan studinya di luar negeri. Tak dapat di pungkiri, gagalnya rencana pernikahannya dengan Hanif membuat wanita itu terlihat sedih dan murung. Walau dia belum lama kenal dan bertemu dengan pria itu. Tapi, Hanif sudah mampu membuat hidupnya lebih berwarna. Di tambah lagi, Hanif adalah satu-satunya pria yang singgah di hatinya. Sisi memang tertutup dengan teman prianya, selain dengan Iqbal. Beberapa kali ada pria yang menyatakan cinta padanya, selalu ia tolak dengan alasan ingin fokus meniti karier nya. Tapi saat bertemu dengan Hanif, dia melihat Hanif sebagai sosok yang lembut, meski sedikit egois. Kerap kali mereka bertengkar, Sisi yang terlebih dulu minta maaf. Tapi, walau demikian cintanya tidak pernah pudar, sampai saat ini. Setelah masalah itu berlalu, Sisi masih sangat mencintai pria itu.
Lamunannya berakhir saat Yulia memanggilnya. "Sayang!" Wanita itu berjalan mendekat kearah Sisi, setelah itu Yulia duduk disamping putrinya. "Ditunggu Ayah di meja makan, kita sarapan dulu yuk!" ajak Yulia memegang tangan Sisi.
"Iya, Bun!" Sisi tersenyum hangat pada Yulia.
Dua wanita yang sangat berarti di hidup Faisal, berjalan menuju ke ruang makan. Dengan seulas senyuman Sisi menyapa Ayah dan adik-adiknya. "Pagi, Ayah! Pagi, Dek!" Setelah itu dia duduk tepat di sebelah Bundanya.
"Hmmm pagi sayang!" balas Faisal dengan senyum merekah di bibirnya. Hati Faisal merasa hangat saat putrinya kembali tersenyum, walau masih ada sisa kesedihan di dalamnya. Tapi, tidak berpengaruh besar dalam hidup putrinya.
"Kak, Kakak yakin akan melanjutkan S3 nya di Singapura?" tanya Fatin, sembari menyuapkan sepotong roti bakar dalam mulutnya.
"Iya, Dek! Kakak sangat yakin. Kakak ingin melanjutkan impian Kakak!" jawab Sisi yang masih memilah-milah makanan yang akan ia santap.
"Kakak, juga udah siapin dari jauh hari kok. Rencananya kakak akan tinggal bersama dengan nenek Sundari dan kakek Erlangga. Kakak gak hanya belajar Dek, disana! Kakak juga udah taruh lamaran di rumah sakit tempat Bilqis di rawat. Hanya tinggal nunggu panggilan saja," lanjut wanita itu dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
"Sayang, apa gak sebaiknya kamu fokus aja di belajar kamu. Gak usah nyambi kerja segala," usul Faisal yang sedikit gak setuju jika putrinya juga bekerja di sana.
"Nggak, Yah. Lagian Sisi bisa kok, atau waktunya! Sisi pengen menyibukkan diri, Yah!" balas Sisi kembali terlihat murung.
Faisal sekarang paham, putrinya bersikukuh mau bekerja di sana. Tentu, wanita itu butuh kesibukan agar tidak teringat terus dengan mantan tunangannya. "Iya sudah. Tapi, kamu harus jaga kesehatan kamu, ya!" ujar Faisal pada putrinya.
"Iya, Yah!" Sisi tersenyum lega, karena dia mendapat restu dari Ayahnya untuk kuliah sambil bekerja. Dengan begitu akan membantu Sisi melupakan Hanif.
"Oh, iya sayang. Gimana keadaan Bilqis sekarang?" tanya Yulia pada Sisi, sejak kemarin dia menghubungi Felisa tapi tidak nyambung. Sepertinya wanita itu belum sempat mengganti kartu di ponselnya.
"Iya, Bun. Semalam, Om Dino chat Sisi! Bilang kalau Bilqis udah bisa merespon saat Iqbal mengajaknya bicara. Dan dokter di sana juga langsung melakukan metode pengobatannya. Sisi yakin, Bilqis gak akan lama lagi sadar dari koma-nya." Yulia mengangguk.
Usai sarapan, mereka memisahkan diri. Si kembar berangkat kuliah, dengan diantar supir. Sisi dsn Faisal pergi ke rumah sakit. Sementara Yulia, dia masih di rumah bantu beres-beres bi Imah.
Sesampainya di rumah sakit, Faisal langsung menuju ke ruangannya. Hari ini akan ada meeting bersama dewan direksi di ruang rapat. Dia harus memeriksa beberapa berkas yang terbengkalai karena masalah Sisi kemarin. Faisal sama sekali belum tahu, kalau Hanif keluar dari rumah sakit sejaktera.
Saat berada di ruangannya, matanya berpusat amplop putih yang tergeletak di dekat labtobnya. Faisal mengambil amplop itu, sedikit terkejut karena di jalan depan amplop itu ada tulisan Muhammad Hanif. Dia langsung membukanya. Faisal hanya bisa menghela nafasnya panjang. Dia tidak menyangka, kalau Hanif akan mengundurkan diri dari rumah sakit itu. Tapi ya sudahlah, itu sudah menjadi keputusannya. Faisal tidak bisa melarang ataupun menahan pria itu.
__ADS_1
Sementara Sisi. Wanita itu begitu tegang saat akan masuk ke ruangannya. Dia belum sanggup untuk bertemu lagi dengan Hanif. Tapi, keadaan yang mengharuskan dia masuk kedalam ruangan itu. Ruangan yang penuh kenangan manis bersama pria yang ia cinta. Sudah hampir seminggu, Sisi tidak menginjakkan kakinya di ruangan itu. Hatinya berdebar-debar, perlahan dia menarik handle pintu ruangan itu. Dengan pelan dia membukanya, Sisi sedikit terkejut saat Hanif tidak berada di dalam ruangan itu. Terlintas dipikirannya, mana mungkin sepagi ini sudah memeriksa pasien. Jam kerja pun belum di mulai.
Akhirnya dengan menata sedikit keberanian, wanita itu masuk kedalam dan berjalan menuju meja kerjanya. Hatinya terasa sesak, karena di setiap sudut ruangan itu mengingatkan dia dengan sosok yang masih bersemayam di hatinya. Candaannya, perhatiannya, sifat posesif nya, semua kembali di dalam ingatan Sisi. Tanpa terasa air matanya mulai jatuh. Wanita itu tetap berjalan, hingga sampai di meja kerjanya. Yang pertama dia lihat, di meja itu adalah foto dirinya bersama Hanif. Saat setelah mereka bertunangan. Dengan cepat Sisi menutup foto itu, lalu mengelap bekas air matanya yang sudah mengalir deras di wajah Sisi. Wanita itu bergegas membereskan barang-barangnya dan di masukkan ke dalam kardus kecil yang ia letakkan di lantai. Setelah selesai, dia menutup kardus itu dan mengangkatnya untuk di bawa pulang. Dia tidak bisa berlama-lama berada di tempat itu. Hatinya menjadi sesak, sesak menahan kesedihan yang amat dalam. Siapa yang menyangka hubungannya dengan Hanif harus berakhir seperti ini.
Dengan langkah berat, wanita itu keluar dari ruangan itu menuju ke tempat Ayahnya. Seperti kesepakatannya dengan Faisal, setelah selesai berkemas dia akan menyusul ayahnya di sana.
"Yah!" seru Sisi, saat sudah berada di ambang pintu ruang Faisal. Wanita itu berjalan masuk, dan meletakkan kardus yang ia bawa di meja yang terletak di sana. Baru setelah itu mendekat kearah Ayahnya.
"Udah selesai, sayang?" tanya Faisal yang mulai menghentikan dari aktivitasnya.
"Sudah!!" jawabnya sendu.
"Kok sedih lagi! Kenapa, sayang?" Sisi hanya menunduk.
"Oh iya, Ayah punya sesuatu untuk kamu!" seru Faisal mengambil surat pengunduran diri dari Hanif dari laci mejanya. Setelah itu di berikan pada putrinya.
"Ini apa, Yah?" tanya Sisi bingung.
__ADS_1
"Surat pengunduran diri dari Hanif!!!"