Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Bertemu dengan mantan calon mertua


__ADS_3

Tiga bulan telah berlalu. Semua berjalan dengan sebagaimana mestinya. Bilqis sudah kembali ke Jogja, dia juga sudah dinyatakan sembuh oleh Dokter yang menanganinya di Singapura. Selama kurang lebih dua bulan, dia menjalani cek up rutin. Dan hasilnya menyatakan sel kanker yang ada di dalam tubuhnya tinggal 3%, itu sama dengan dia sudah sembuh total dari penyakit yang mematikan itu.


Rencananya dia dan Iqbal akan segera menikah. Walau masih harus kontrol setiap bulannya, tak menyurutkan Bilqis untuk melanjutkan aktivitasnya yang tertunda selama dia sakit. Dia sudah kembali dengan kuliahnya lagi, meskipun harus di batasi oleh Iqbal.


Sementara Hanif, pria itu sekarang lebih dekat dengan Veronika. Veronica mampu menambal lubang sakit hati yang di rasakan Hanif setelah putus dengan Sisi. Berbagai cara, Veronika lakukan demi mendapat perhatian dari Hanif. Meskipun semua itu hanya kamuflase belaka. Dia tak sungguh-sungguh mencintai pria itu. Dia hanya ingin numpang hidup dengan Hanif. Di tambah, ibunya yang memiliki hutang banyak. Dengan mudah akan menguras uang Hanif. Meskipun Hanif bukan termasuk pria kaya, tapi pria itu memiliki beberapa aset cafe yang di kelola orang kepercayaan Ayahnya. Ayahnya mewariskan beberapa aset berharga untuk dia. Dan Veronika sudah mengetahui itu, sejak pertama dia bertemu dengan Hanif.


Sore itu, disaat jam pulang kerja. Hanif diminta untuk menjemput Veronika di tempat dia bekerja. Dan Hanif pun mengabulkan permintaannya. Mereka memang belum resmi jadian, Hanif juga belum menyatakan cintanya pada wanita itu. Tapi, dia begitu nyaman saat sedang bersama Veronika. Mungkin bagi Hanif, wanita itu bisa menghibur disaat hatinya terluka karena dikhianati oleh Sisi. Dan sampai saat ini, Hanif tidak tahu kalau Sisi tidak jadi menikah dengan Iqbal. Tapi Veronika tahu. Wanita itu sengaja tidak memberitahu Hanif, karena dia tidak mau Hanif kembali lagi dengan Sisi. Dan usahanya mendekati Hanif akan sia-sia.


Dengan mengendarai mobilnya, dia sampai di rumah sakit sejahtera. Rumah sakit, yang dipimpin oleh Faisal. Setelah terparkir sempurna mobilnya, pria itu turun dan melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Veronika. Wanita itu memang belum keluar dari ruangannya. Hanif terus berjalan hingga menyusuri beberapa ruangan hingga sampai di ruangan Veronica. Setelah sampai, dia mengetuk pintu itu dan langsung di buka oleh wanita yang berada di dalam. Kebetulan, pekerjaannya sudah siap dan dia sudah akan keluar dari ruangannya.


"Sudah?" tanya Hanif singkat. Wanita itu tersenyum senang melihat kekasihnya datang menjemputnya. Dan langsung bergelayut manja di tangan Hanif.


"Sudah, yuk kita pulang!" jawab wanita itu, dan mengajaknya pulang.


Mereka berjalan beriringan, Veronika tidak membiarkan barang sedikitpun lepas dari lengan Hanif. Hingga mereka bertemu dengan Faisal yang kebetulan akan keluar dari rumah sakit itu.


"Dokter Hanif," sapa nya ramah terhadap mantan pegawainya. Hanif dan Veronika menghentikan langkahnya. Mereka terlihat biasa-biasa saja, saat bertemu dengan Faisal. Bahkan Veronika tidak canggung untuk melepaskan tangannya dari lengan Hanif. Seakan memperlihatkan pada Faisal, bahwa dialah pengganti putrinya.


"Dokter Faisal," balas Hanif tersenyum tipis pada Faisal.

__ADS_1


"Seneng bisa bertemu dengan anda lagi, apa kabar?" tanya Faisal basa-basi.


"Seperti yang anda lihat, saya masih bisa hidup tanpa putri anda," jawabnya ketus dan seraya tersenyum lebar dihadapan Faisal.


Faisal hanya bisa menghela nafasnya, mendengar jawaban dari Hanif. Sungguh perubahan dari diri pria itu begitu signifikan. Pria yang tadinya lembut, sopan, dan penuh kasih sayang. Sekarang berubah pria dingin, arogan, dan sedikit tidak mempunyai etika yang baik. Hanya saja karena dibutakan dengan asumsinya sendiri. Tanpa mau mendengar penjelasan dari orang lain.


"Kamu duluan, Dok!" seru Hanif pada Faisal yang masih tercengang melihat dirinya. Faisal hanya menggelengkan kepalanya.


"Beruntung kamu sayang, bisa lepas dengan pria seperti Hanif. Astaghfirullah," gumamnya lalu beristighfar.


Di dalam perjalanan menuju ke rumahnya, Hanif merasa puas. Karena dia bisa menunjukkan pada Faisal, kalau dia baik-baik saja setelah putus dari putrinya. Pria itu menyunggingkan sebelah bibirnya, seraya mengendarai mobilnya. Veronica yang melihat hal itu, menjadi penasaran.


"Kalau kenapa, Sayang? Senyum-senyum sendiri gitu?" tanyanya meraih lengan Hanif.


"Oh, kalau aku boleh tahu, apa yang membuat kamu menjadi senang?" Belum menyerah Veronika yang ingin tahu, apa yang membuat Hanif senang.


"Udahlah, gak usah dibahas lagi!" seru Hanif, Veronika sedikit kecewa.


"Oh, iya. Kapan kamu mau kenalin aku ke bunda kamu? Aku kan, udah gak sabar pengen kenal dengan bunda kamu!" keluh Veronika pada Hanif.

__ADS_1


"Ya udah, kita kerumah ya sekarang," ucap Hanif.


Veronica melonjak senang, dia gak nyangka Hanif menanggapi ucapannya. Wanita itu tersenyum puas, karena sedikit lagi dia akan bisa menjadi istrinya Hanif. "Kamu serius, sayang?" tanyanya pura-pura kaget. Dijawab anggukan oleh Hanif. "Makasih, ya sayang!"


Lima belas menit kemudian, mereka sampai di rumah Hanif. Mobilnya berhenti tepat di halaman rumah berpagar warna putih. Terlihat disana, Bu Tari yang sedang membaca buku di teras. Wanita itu akhir-akhir ini terlihat kesepian. Di tambah sikap dingin dari putranya, terkadang merasa tidak betah di rumah. Tapi mau bagaimana lagi. Dia sudah menyerah dengan keadaan dan memilih membiarkan semuanya terjadi seperti air mengalir. Dia sudah menyerah untuk membuat Hanif percaya, kalau Sisi tidak bersalah. Biarlah waktu sendiri yang membuat Hanif tahu kebenarannya.


"Bun, kenalin ini Veronika!" ujar Hanif mengenalkan Veronika pada Bu Tari.


Bu Tari melihat sekilas wanita yang sudah mengulurkan tangannya pada dia. Setelah itu membalas uluran tangan Veronika. Tapi entah kenapa hatinya menolak dengan kehadiran wanita itu. Seperti ada yang mengganjal di hatinya. "Ayo masuk!" Kemudian dia mengajak mereka berdua untuk masuk kedalam.


Setelah duduk di ruang tamu. Hanif meninggalkan bundanya dengan Veronika berdua. Pria itu memilih untuk membersihkan diri dulu. Karena sebentar lagi adzan magrib berkumandang.


"Kayaknya saya sudah pernah lihat kamu sebelumnya!" terka Bu Tari tampak mengingat-ngingat.


"Iya Bun, aku pernah kesini sebelumnya. Waktu tahlilan nenek Hanif, oh iya pas dokter Sisi mengembalikan cincin pertunangannya dengan Hanif," jawab Veronika jujur. Bu Tari kembali ingat dengan sosok yang begitu dia rindukan. Andai saja, dia tidak malu karena sikap anaknya. Rasanya dia ingin menemui Sisi, dan meminta maaf pada wanita itu.


"Udah lama kenal dengan Hanif?" tanya Bu Tari lagi, dia seperti sedang mengintrogasi wanita itu.


"Sudah hampir satu tahun, Bun!"

__ADS_1


Tak lama setelah itu, handphone dari dalam tasnya Veronika berbunyi. Entah karena gugup atau apa dia menjatuhkan tasnya tepat di depan bundanya Hanif. Karena tas itu terbuka, membuat semua isi di dalam tas itu keluar berserakan di lantai. Salah satunya foto Ayah kandungnya. "Maaf, Bun!" seru Veronika seraya membereskan barang-barangnya yang jatuh. Karena handphone itu terus berdering, Veronika buru-buru memasukkan barang-barangnya hingga meninggalkan foto ayahnya yang sedikit masuk ke kolong sofa di ruang itu, sehingga luput dari penglihatannya.


To be continued


__ADS_2