
Sekarang suasana di ruang tamu rumah Faisal semakin ramai semenjak kehadiran Bu Tari dan Hanif. Sisi yang duduk di apit oleh kedua orangtuanya sesekali mencuri pandang kearah wajah Ilham. Hanif yang memperhatikan gelagat Sisi, mengeratkan kedua rahangnya. Bahkan mereka tidak mendengarkan para orang tua yang saling memperkenalkan diri.
Sesaat suasana menjadi hening, Hanif mendapat celah untuk mengutarakan tujuannya datang ke rumah Faisal. "Jadi begini Dokter Faisal...." Suasana di ruangan itu berubah menjadi serius. "Maksud kedatangan saya kesini adalah untuk...." Hanif melirik sekilas kearah Sisi, "melamar putri anda, Felisya Basri."
Sontak semua yang berada di ruangan itu terkejut mendengar tujuan Hanif datang ke tempat itu. Terlebih Ilham, pria itu memandang kearah Sisi. Terlihat jelas di mata Ilham, kalau Sisi terlihat gelisah seperti sedang memendam sesuatu.
Sementara Faisal, raut wajahnya menjadi serius menanggapi ucapan Hanif. Dengan meletakkan jarinya di dagunya, seraya memperhatikan gerak-gerik Hanif yang terlihat menunjukkan keseriusannya dengan ucapannya.
'kenapa harus begini, sih!' batin Sisi yang tak berani memandang kearah Hanif. Di saat dia sudah mantap dengan keputusannya untuk memilih Ilham. Kenapa Hanif tiba-tiba datang di waktu yang tidak tepat.
Keluarga Ilham sempat terkejut mendengar lamaran Hanif terhadap Sisi. Terlebih Ilham sendiri. Bahkan dia sangat yakin terjadi sesuatu pada Hanif dan Sisi. Dia bisa membaca dari gerak-gerik dari keduanya.
"Ehmmm, apa Nak Hanif yakin dengan apa yang baru saja Nak Hanif katakan?" tanya Faisal membuka suara di tengah-tengah kesunyian sesaat.
"Saya yakin, Dok!" jawab Hanif Pasti.
"Kalau Nak Hanif yakin, saya sebagai orangtuanya Sisi hanya minta satu hal pada Nak Hanif, jikalau lamaran anda di terima oleh putri saya. Tolong, rubah sikap egois dari dalam diri anda. Jika ada masalah, harus dibicarakan dengan kepala dingin. Tapi...." Faisal menatap kearah Ilham yang sudah terlihat putus asa setelah mendengar kalimat yang ia ucapkan.
"Jika putri saya lebih memilih Nak Ilham sebagai calon suaminya, hargai keputusan putri saya." Sekarang giliran Hanif yang terkejut mendengar penuturan Faisal, hingga mulutnya menganga sempurna.
"Ilham." Hanif menunjuk kearah Ilham, setelah itu menunjuk kearah Sisi. "Jadi, kedatangan mereka kesini, juga untuk melamar Sisi?"
"Sebelum anda datang ke sini, mereka sudah terlebih dulu mengutarakan maksud dan tujuan mereka datang ke sini. Dan kembali lagi, keputusan ini saya serahkan pada putri saya, Sisi."
Yang punya nama hanya bisa menunduk, bingung dan takut bercampur aduk dalam benaknya. Sejujurnya dia sudah mempunyai pilihan hatinya, tapi dia juga takut, takut jika Hanif tidak bisa menerima keputusannya.
"Sayang, Ayah serahkan semua keputusan ini pada kamu. Kamu yang akan menjalaninya, kamu yang tahu mana yang terbaik untuk kamu." Kini pandangannya Faisal beralih pada Sisi, namun wanita itu hanya diam dan menunduk.
"Maaf! Kalaupun Sisi butuh waktu untuk memikirkan hal ini. Kami siap menunggunya," sahut Ilham yang mengerti di posisi Sisi.
"Iya, saya juga mau menunggu!" imbuh Hanif.
__ADS_1
Sementara Orang tua Ilham dan pamannya, mereka tidak menyangka langkah Ilham untuk menikahi Sisi harus terhalang oleh kehadiran Hanif. Di tambah lagi, lamarannya pun di timpal oleh pria berkacamata itu. Mereka pun bisa membaca, jika terjadi sesuatu antara Sisi dan Hanif. Sehingga kejadian itu bisa terjadi.
"Bagaimana sayang? Apa kamu butuh waktu untuk memikirkan hal ini?" tanya Faisal memandang putrinya.
"Iya sayang, kalau kamu butuh waktu, katakan saja!" timpal Yulia, merengkuh pundak putrinya.
"Benar Nak Sisi, jangan mengambil keputusan ini secara buru-buru. Karena ini menyangkut masa depan Nak Sisi," tambah Kyai Abdullah.
Masukan demi masukan dari mereka hanya di tanggapi diam oleh Sisi. Hembusan nafas kasarnya mewakili kegalauannya saat ini. Sisi mencoba memandang dua pria yang melamarnya satu persatu.
Saat dia memandang Hanif, perasaannya sama saat dia memandang sahabatnya, Iqbal. Namun, saat Sisi memandang Ilham, hatinya bergetar hebat. Seakan mau copot dari tempatnya. Pria itu mampu membiusnya untuk berlama-lama memandang wajahnya. Wajah yang teduh nan manis, seolah enggan mengalihkan pandangannya ke lain arah.
"Saya sudah mempunyai jawabannya..." Mereka menatap lekat wajah Sisi yang terlihat gugup. "Karena sebelumnya saya sudah menata hati saya untuk memilih siapa yang akan menjadi suami saya."
"Dan saya harap, Kak Ilham maupun Hanif harus bisa ikhlas dan berbesar hati menerima keputusan saya ini." Iris mata Hanif seakan yakin jika dialah pria yang akan dipilih oleh Sisi. Mengingat, saat dia jatuh malam itu. Sisi begitu mengkhawatirkan dia.
Sementara Ilham, pria itu seakan kehilangan kepercayaan dirinya untuk menjadi pria yang akan dipilih oleh Sisi menjadi suaminya. Dia tidak berani menatap wajah Sisi, pandangannya teralih di lantai. Hatinya terasa sesak, namun dia berusaha mengikhlaskan Sisi.
"Hanif...." Hanif mengulas senyum di bibirnya. "Maaf, saya tidak bisa menerima lamaran kamu." Pria itu sontak merubah raut wajahnya, dia menatap tajam kearah Sisi seolah bertanya apa alasannya lamarannya di tolak oleh wanita itu.
"Dan Kak Ilham, maukah Kakak membimbing Sisi till Jannah. Menjadi imam yang baik buat Sisi?" Pertanyaan dari Sisi sontak membuat Ilham perlahan mengangkat wajahnya dan menatap kearah Sisi.
"Inshaa Allah," jawab Ilham dengan suara berat menahan tangis haru yang membelenggu di jiwanya.
"Alhamdulillah!" sahut keluarga Ilham bersamaan. Mereka sangat terharu karena Sisi memilih khitbah-an dari putranya.
Hanif yang tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Sisi, pria itu mengeratkan kedua rahangnya dan mengepalkan tangannya. "Si, apa kamu yakin dengan pilihan kamu?" tanya Hanif dengan nada bicara sedikit meninggi.
"Saya sangat yakin," jawab Sisi dengan penuh keyakinan.
"Lalu, kenapa kamu masih peduli padaku saat aku jatuh kemarin. Bahkan kamu menangisi tubuhku yang tak sadarkan diri!" ucap Hanif membongkar kejadian malam itu. Sontak membuat Ilham dan keluarganya terkejut dengan ucapan Hanif. Terlebih lagi, Ilham.
__ADS_1
"Nif, kenapa kamu buka kejadian itu di sini?" Sisi merasa tidak enak pada calon suami mertuanya.
"Kenapa? Apa kamu takut jika mereka tahu kita pernah bertemu malam itu!" Sisi langsung menunduk tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Maaf, Nak Hanif. Anda jangan memperkeruh keadaan!" lerai Faisal yang tidak tega melihat putrinya di sudutkan oleh Hanif.
"Saya mengatakan kebenaran itu. Memang saya bertemu dengan Sisi, malam itu!" sahut Hanif tersenyum puas.
"Tapi...saya tidak sengaja bertemu dengan kamu, Nif. Apa kamu lupa, bukankah kamu yang mengiba-iba ingin bicara denganku!" timpal Sisi yang memberanikan dirinya untuk mengatakan kebenaran itu.
Hanif terlihat sedikit kesal, saat umpannya tidak mempan mempermalukan Sisi di depan keluarga Ilham.
"Maaf Nif, sebaiknya kamu ikhlas menerima keputusan dari Sisi." Iris milik Hanif menatap tajam kearah Ilham. Terlihat jelas di sana, kalau dia tidak suka dengan nasehat Ilham.
"Sudah-sudah! Saya rasa masalah ini sudah selesai, dan kita harus berbesar hati menerima keputusan dari Nak Sisi." Kyai Abdullah menengahi.
"Sudahlah Nif, kamu harus bisa mengikhlaskan Nak Sisi. Mungkin, dia bukan jodoh kamu, sayang!" Bu Tari ikut menasehati putranya.
Kecewa.
Tentu saja kecewa, tapi mau bagaimana lagi. Beliau harus berbesar hati menerima keputusan dari Sisi. Terlebih lagi, jika mengingat kesalahan putranya. Dia begitu malu, ada di tempat ini, saat ini.
"Saya tidak akan menyerah sampai di sini!" Hanif meninggalkan tempat itu.
"Nif!" sergah Bu Tari namun tak di indahkan oleh pria itu. Hanif masih terus berjalan.
"Maafkan anak saya, saya permisi dulu Dokter Faisal dan keluarga. Mari!" pamit Bu Tari pada Faisal, kemudian pada orang tua Ilham. Setelah itu pergi dari tempat itu.
To be continued....
Maaf baru bisa up...
__ADS_1