Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Bingung


__ADS_3

Suasana sore itu cukup rame di kediaman Faisal, si kembar yang baru saja pulang dari kampus, langsung menuju ke ruang keluarga. Kebetulan Ayah bundanya sedang berbincang di sana. "Assalamualaikum Ayah, Bunda!" sapa mereka berdua.


"Waalaikumussalam," balas keduanya secara bersamaan. Fatan langsung bergelayut di tangan bundanya, dia memilih duduk di samping Yulia. Sementara Fatin, pria itu langsung menuju ke kamarnya dengan alasan gerah, mau mandi.


"Yah, apa dokter Hanif kesini, tadi?" tanya Fatan pada Faisal. Pertanyaan putranya membuat Faisal sedikit terkejut.


"Nggak, emangnya kenapa Tan?" jawab Faisal, kembali bertanya. Fatan sedikit berfikir, setelah itu dia menggeleng.


"Tadi Fatan lihat mobil dokter Hanif baru keluar dari pagar rumah kita. Masa iya, dia nggak kesini yah?" tanya Fatan meyakinkan Faisal.


Yulia yang mendengar mobil Fatan ada di sekitar rumahnya. Dia jadi ingat dengan mobil MPV berwarna putih yang berhenti di depan pagar rumahnya, siang tadi. "Apa mobilnya warna putih, ya sayang?"


"Iya, sayang. Apa Hanif kesini tadi?"


"Nggak kok, tapi memang mobil itu berhenti di depan pagar rumah kita, Mas. Tadi, saat Yulia mengantar makanan ke post satpam, depan. Yulia memang lihat mobil itu berhenti disana!" Mereka terdiam, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


"Apa mungkin dokter Hanif mau kesini, tapi dia malu atau takut," celetuk Fatan mengutarakan apa yang dia pikirkan.


"Kenapa mesti malu?" tanya Yulia polos. Dia mengira, Hanif sudah tahu semuanya, dan memilih tidak kembali dengan Sisi.


"Bunda, kan dokter Hanif mengira Kak Sisi udah nikah dengan kak Iqbal. Nah sekarang dia udah tahu kebenaran itu, terus mau kesini dan minta maaf dengan kak Sisi," jelas Fatan, ekor mata Faisal melirik kearah putranya itu.


"Sayang, kita gak usah berfikir yang tidak-tidak. Mungkin, dia ada urusan dengan seseorang. Udah-udah gak usah di bahas lagi!" lerai Faisal yang memang sengaja tidak menceritakan pertemuannya dengan Hanif beberapa waktu lalu. Dan dia pun beranggapan sama dengan apa yang dipikirkan oleh Fatan.

__ADS_1


Hampir tiga jam mobil Hanif terparkir di depan pagar rumah Faisal, sekarang dia melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat. Pria itu belum berani untuk bertemu dengan Sisi dan keluarganya. Karena itu, Hanif hanya mengamati dari dalam mobilnya rumah Faisal. Dia juga tidak tahu, kalau Sisi sekarang tidak lagi tinggal di Indonesia dan sudah keluar dari rumah sakit Sejahtera. Dia masih mengira, semuanya sama. Mobil itu terus melaju hingga berhenti di depan rumahnya. Hanif memarkirkan mobilnya di garasi. Setelah itu dia keluar dari mobilnya menuju ke dalam rumah.


"Nif, kamu kok baru pulang sayang?" tanya Bu Tari pada Hanif yang terlihat kusut. Beberapa kali, dia mendapat telpon dari Veronika karena nomor Hanif tidak aktif saat itu.


Hanif menatap nanar wajah bundanya, setelah itu dia menubruk bundanya, memeluknya sangat erat. "Hanif bodoh Bun, bodoh!!!!" isaknya dalam pelukan bundanya. "Hanif sudah menyakiti hati Sisi, Bun. Hanif bodoh," tangisnya pecah, dadanya sesak.


Bu Tari tahu saat ini, apa yang dialami oleh anaknya. "Kamu sudah tahu semuanya?" tanya Bu Tari. Hanif terdiam, dan masih memeluk erat tubuh bundanya. Setelah itu, "sudahlah Nif, semuanya sudah terjadi. Kamu tidak bisa menyesalinya saat ini," lanjut Bu Tari, semakin membuat Hanif hancur.


Setelah melepaskan pelukannya dari tubuh bundanya. Hanif, terduduk lemas di sofa ruang tengah. Dia menatap kosong kearah alumunium ikan hias. Pria itu terus-menerus merutuki kebodohannya, dsn menyesali perbuatannya. Tapi, dia tak cukup berani mengatakan itu di depan Sisi ataupun keluarganya.


"Terus, apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Bu Tari memecah keheningan. Hanif menoleh kearah ibunya, dia menggeleng pelan.


"Hanif nggak tahu Bun!"


Hingga dering ponsel Bu Tari berbunyi lagi. Dan sudah bisa di tebak, siapa yang sedang menghubunginya saat ini. "Veronika." Mendengar nama itu, Hanif mengacak rambutnya. Sungguh saat ini dia berada di pilihan yang sulit. "Angkatlah, dulu!" Bu Tari memberikan ponselnya pada Hanif, tapi segera di tolak oleh pria itu.


"Nif, sampai kapan kamu akan menghindari Veronika. Kamu harus bicara dengannya. Apalagi, malam ini adalah malam pertunangan kalian berdua."


"Hanif nggak bisa Bun, gak bisa melanjutkan pertunangan Hanif bersama Veronika!" seru Hanif dengan nada berat. "Hanif tidak mencintainya," lanjutnya lagi.


"Kalau kamu tidak mencintainya, kenapa kamu memberi harapan pada wanita itu. Dan sekarang, disaat kamu mau berkomitmen dengan dia. Kamu bilang, kamu tidak cinta. Kamu jahat, Nif!" ucap Bu tari dengan nada sedikit meninggi.


"Bun, tapi Hanif gak cinta. Hanif hanya mencintai Sisi. Tolong, Bun... Mengerti keadaan Hanif saat ini!" Bu Tari menggeleng.

__ADS_1


"Kamu egois Nif, kamu hanya mementingkan perasaan kamu. Tapi apa kamu tahu perasaan Veronika, kalau sampai kamu membatalkan pertunangan ini. Kamu sudah menyakiti dua wanita sekaligus." Kata-kata Bu Tari bak menampar wajah Hanif.


Benar apa yang dikatakan Bu Tari, dia memang egois hanya memikirkan dirinya sendiri. Sekarang dia terluka, setelah mengetahui kebenaran itu. Lalu, dimana dia saat Sisi memohon untuk di beri waktu agar dia bisa menjelaskan semuanya. Dan sekarang setelah dia memberikan harapan pada Veronika, dia akan mengulangi lagi keegoisannya. Dengan dalih, tidak mencintai wanita itu.


"Bunda hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Mungkin sekarang kamu belum mencintai Veronika. Tapi, jika dia wanita baik-baik, bunda yakin kamu akan mencintai dia, lambat laun!"


Di sebuah rumah yang sudah dihiasi rangkaian bunga-bunga berwarna putih, dan sebuah panggung kecil, yang diatasnya sudah di dekorasi dengan sangat indah. Dua kursi sebagai singgasana sepasang kekasih yang akan duduk di sana.


"Ve, gimana? Hanif udah bisa dihubungi belum?" tanya Bu Sandra, pada Veronika.


"Belum, Ma! Kemana ya, dia? Sejak di mall tadi, gak bisa dihubungi. Bundanya juga, gak tahu kemana dia pergi," terang Veronica yang sudah terlihat gelisah.


"Terus bagaimana ini, Ve. Ini sudah hampir malam, loh! Kalau sampai Hanif gak datang, gimana?" Bu Sandra justru membuat Veronika merasa panik.


"Ve, coba hubungi lagi, deh Ma!" Veronica kembali mengambil handphonenya untuk menghubungi Hanif lagi. Tapi, jawabannya masih sama. Di luar jangkauan. "Hufftt, dimana sih kamu!!!" umpatnya dengan kesal.


Satu persatu tamu undangan sudah mulai berdatangan. Veronika juga sudah tampil cantik dengan balutan gaun berwarna peach, dengan sedikit ornamen di sekitar dadanya. Rambutnya yang di biarkan terurai. Membuat kecantikan wanita itu terpancar. Semua mata memandang kagum, dengan wanita itu.


Satu persatu para tamu undangan memberi selamat pada Veronika. Mereka juga menanyakan Hanif, yang belum berada di samping Veronika, membuat wanita itu sedikit malu karena keterlambatan Hanif. Hingga dia harus sedikit berbohong pada tamunya, agar mereka tidak banyak bertanya.


"Mana dokter Hanif, Dok? Kok belum datang sampai sekarang?" tanya salah satu perawat yang di undang di pesta itu.


"Ehmmm mungkin ma..." Ucapan Veronika terhenti saat bola matanya menangkap seorang pria dengan setelan kemeja berwarna hijau muda, dan dibalut dengan jas berwarna putih, berjalan kearah dia.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2