Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Dipaksa menikah


__ADS_3

"Si, kamu kenapa. Ya Allah.." Iqbal membopong tubuh Sisi kemudian di baringkan di kursi yang baru saja dia bersihkan. Perasaan cemas, tak bisa di bendung lagi.


Iqbal menggosok-gosok tangan Sisi agar sedikit menghangtkan tubuh wanita. Mungkin efek kedinginan, membuat wanita itu akhirnya tak sadarkan diri. Hujan di luar pun tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda.


Iqbal pun bingung, karena Sisi tak kunjung sadar juga. Malam semakin larut, rasa kantuknya pun mulai menyerang pria itu. Sebelum dia memejamkan matanya, Iqbal terlebih dulu mencari kain atau selimut yang bisa digunakan untuk menyelimuti tubuh wanita yang sedang terbaring itu.


Iqbal menemukan kain panjang berwarna putih. Menurutnya itu bisa digunakan untuk menyelimuti tubuh sahabatnya itu. Iqbal langsung mengambil kain itu, meskipun tidak pernah di pakai. Tapi kain itu cukup bersih untuk sekedar menyelimuti Sisi.


Setelah dirasa sudah aman. Dan bisa sedikit membantu Sisi, Iqbal membaringkan tubuhnya di kursi lain, yang ada di rumah itu. Selang beberapa saat, Iqbal pun terlelap.


Di tempat lain.


Disebuah rumah sedang ada keributan. Mereka meributkan anak gadisnya yang belum pulang ke rumah. Faisal, Yulia, dan si kembar sedang berada di ruang tamu. Mereka semua tampak khawatir, karena tidak ada petunjuk keberadaan Sisi dimana.


"Gimana, Than? Apa handphone kakakmu belum bisa dihubungi?" tanya Faisal pada Fatan yang masih sibuk dengan handphonenya.


"Belum, Yah. Kalau dilihat dari GPS kak Sisi terakhir, dia di hotel tempat dia seminar," jelas Fatan, membuat gusar sepasang suami istri yang duduk bersebelahan.


"Ya Allah, Mas. Dimana Sisi? Kenapa sampai sekarang dia belum pulang juga?" keluh Yulia, di dekapan suaminya.


"Sabar sayang. Mungkin dia terjebak macet, ada banyak pohon tumbang di jalan ke arah hotel itu." Faisal masih tetap menenangkan istrinya yang sejak tadi tak henti-hentinya terisak.


Mengingat hari sudah semakin larut. Jam menunjukkan pukul 00.30 WIB. Bagaimana tidak semua keluarga itu terlihat khawatir. Sisi yang harusnya pulang pukul 17.00 WIB, sampai selarut itu belum menampakkan batang hidungnya.


"Kita susul aja, Yah. Di hotel, siapa tahu Kakak masih terjebak di sana," usul Fatin yang tak kalah khawatirnya dengan yang lain. Meskipun dia tidak terlalu dekat dengan kakak perempuannya itu. Tapi dia sangat menyanyangi kakaknya itu.


"Bener juga! ya sudah, kamu siapin aja dulu mobilnya. Ayah antar Bunda ke kamar dulu," ujar Faisal menerima usulan dari putranya.


Faisal memapah Yulia menuju ke kamar. Wanita itu menjadi lemas, karena terlalu mengkhawatirkan putrinya. Usai mengantar Yulia dikamar dan pamit, Faisal langsung menyusul si kembar yang sudah siap dengan mobilnya.


Mereka mulai melajukan mobilnya keluar dari rumahnya, tapi mobil mereka terhalang sebuah mobil Avanza yang terparkir tepat di depan pintu gerbang. Faisal, kemudian turun untuk melihat siapa yang datang. Secara bersamaan Hanif juga turun dari mobilnya.


Saat mengetahui Faisal akan pergi dari rumahnya. Pria itu sudah bisa memastikan kalau calon istrinya belum pulang ke rumah. Hanif langsung menghampiri Faisal.


"Dok, apa Sisi belum pulang juga?" tanya Hanif, saat sudah berada di hadapan Faisal.


"Belum, ini kita mau susul dia ke hotel. Siapa tahu, ada petunjuk di sana!" jawab Faisal.


Hanif berinisiatif untuk ikut Faisal ke hotel. Dia juga sangat mengkhawatirkan calon istrinya itu. Dari siang tadi, tidak memberi kabar sama sekali.


Akhirnya mereka berempat menuju ke hotel, tempat Sisi Seminar tadi. Dengan mengendarai dua mobil. Jalanan malam itu sudah tampak sepi. Yang hanya menyisakan bekas ranting dan daun-daun bertebaran di aspal. Akibat banyak pohon tumbang, tadi. Bersyukur, pohon-pohon itu sudah di evakuasi oleh petugas. Jadi, tidak menghambat perjalanan mereka.


Mereka sampai juga di hotel itu. Hanif turun duluan dari mobilnya. Di susul Faisal dan si kembar. Sebelum mereka masuk kedalam, dan menanyakan pada petugas hotel. Mereka lebih dulu ke post satpam. Kebetulan tempatnya tak jauh dari tempat parkiran.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang satpam yang sedang bertugas.

__ADS_1


"Iya, Pak. Saya mau cari anak saya, tadi siang dia seminar di sini!" jelas Faisal membuka galeri di handphonenya.


"Wah, mereka sudah pulang sejak jam lima sore tadi!" terang satpam itu.


"Bapak lihat, gadis ini." Faisal menunjukkan foto Sisi pada satpam itu. Satpam itu tampak sedang mengingat-ngingat. Dan setelah itu dia berkata.


"Saya pernah lihat. Mbak ini yang mobilnya di titipkan pada saya. Karena banyak mobilnya pecah, menunggu pihak bengkel mengganti ban mobilnya." Informasi yang di sampaikan oleh satpam itu, membuat Faisal penasaran.


"Terus, orang pergi kemana Pak?" tanya Faisal lagi.


"Tadi naik mobil sedan warna hitam. Udah pulang dari tadi, Pak," jawab satpam itu.


"Apa Bapak tahu, ciri-ciri orang yang membawa anak saya?"


"Wah, kalau itu saya kurang tahu Pak. Tapi...tadi dia sempat ngobrol sama teman prianya. Ciri-cirinya, orangnya tinggi, rambutnya keriting, kulitnya sawo matang. Mereka kelihatannya akrab."


Mendengar penjelasan dari satpam itu, dada Hanif terasa sesak. Dia berfikir, apa mungkin calon istrinya itu pergi bersama laki-laki lain. Dan karena itu, Sisi tidak menjawab teleponnya.


Hanif mengingat-ngingat pria yang di maksud oleh satpam itu. Pikirannya tertuju pada Iqbal. Karena semua ciri-ciri itu sama persis dengan sosok Iqbal. Rasa sesaknya di dalam dadanya semakin membuncah, saat dia membayangkan Sisi dan Iqbal sedang berduaan.


Hanya itu yang di dapat dari satpam itu. Belum cukup untuk mengetahui dimana Sisi berada. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Sementara Hanif, dia masih mencoba menghubungi nomor Sisi. Tapi lagi-lagi kekecewaan yang di dapat oleh pria itu. Nomornya di luar jangkauan.


Selama di dalam perjalanan Hanif sedikit pun tidak bisa tenang. Bayang-bayang Sisi bersama laki-laki lain membuat dia emosi. Dan tidak bisa berfikir dengan jernih. Entah kenapa, dia tidak ingin pulang kerumahnya. Pria itu terus mengikuti mobil Faisal sampai di rumahnya.


Faisal langsung menghampiri calon mertuanya itu. Dia tau, pria itu pasti mengkhawatirkan keadaan putrinya. Tapi bagaimana lagi. Untuk melaporkan hal itu ke polisi pun tidak mungkin. Sisi menghilang belum ada 24 jam. Mencari? Kemana harus mencarinya. Sementara mereka tidak punya petunjuk apapun.


"Kita tunggu saja di dalam. Mudah-mudahan ada kabar dari Sisi," ujar Faisal pada Hanif.


Dan benar, Hanif ikut masuk kedalam. Dia ingin menyaksikan kepulangan Sisi langsung. Firasatnya mengatakan ada yang tidak beres dengan calon istrinya.


Pagi harinya


Suara riuh orang yang sedang menggedor-gedor pintu membangunkan Iqbal dari tidurnya. Dia baru sadar, kalau tertidur di rumah kosong itu. Di lihatnya, Sisi yang masih terbaring di kursi kayu, di seberangnya.


"Buka pintunya!!!" teriak orang dari luar.


"Kalau tidak, akan kami dobrak pintunya," teriak orang itu lagi.


Iqbal yang merasa terusik dengan suara-suara itu akhirnya membukakan pintu. Saat pintu di buka, Iqbal melihat ada puluhan warga yang terlihat emosi melihat dirinya.


"Dasar orang tidak tahu diri. Berbuat mesum di tempat orang," umpat salah satu warga. Iqbal terlihat bingung dengan ucapan mereka.


"Ada apa ini, Pak. Saya terjebak hujan semalaman bersama teman saya," ucap Iqbal yang berusaha menenangkan mereka.


Tak lama setelah itu, Sisi yang baru sadar dari pingsannya ikut keluar. Dengan badan sedikit sempoyongan. Melihat kedatangan Sisi, membuat warga semakin tersulut emosi.

__ADS_1


"Cuiiih, penampilannya aja kaya muslimah Sholehah. Tapi kelakuan bejat," ucap satu warga lagi dengan kasar.


Sisi yang bingung dengan situasi itu. Lantas bertanya pada Iqbal, "Bal, ada apa ini?"


"Tunggu apa lagi, ayo kita arak saja mereka keliling kampung ini setelah itu kita nikahkan di balai nikah," sahut warga itu lagi.


"Setuju!!!" Riuh mereka semua sudah mulai menyeret keluar, Iqbal dan Sisi yang masih ada di ambang pintu.


"Pak, tenang-tenang!!" lerai seorang yang memakai kopiah di kepalanya. Sepertinya orang itu adalah petinggi di kampung tersebut.


"Pak, saya bisa jelaskan semuanya. Kita tidak seperti yang kalian tuduhkan. Kita terjebak hujan disini," sanggah Iqbal namun semua warga justru menghakiminya.


"Mana ada maling ngaku, dasar pasangan mesum. Atau jangan-jangan mereka itu adalah pasangan dari hubungan gelap. Karena itu mereka berbuat itu di tempat ini," teriak seorang yang berkumis tebal.


Melihat hal itu, Sisi kembali gemetaran. Kepalanya terasa berat. Perasaannya hancur, saat dituduh seperti yang dituduhkan oleh para warga itu.


"Tunggu apa lagi, kita arak ke balai nikah mereka!"


"Pak, tolong percaya pada kami. Kami tidak melakukan apapun, disini," ucap Iqbal memohon pada pria berkopiah.


"Kita bicarakan masalah ini di rumah saya, saja," ujar pria itu.


Mereka akhirnya diarak oleh warga menuju kerumah lurah, di desa itu. Sisi tak henti-hentinya menangis. Dia masih belum terima dengan tuduhan warga itu.


"Tolong percaya kami, Pak. Kami tidak melakukan apapun. Saya sebentar lagi akan menikah dengan tunangan saya. Tolong jangan nikahkan kami berdua." Sisi terus memohon pada pak lurah itu.


Mereka sekarang sudah ada di rumah pak lurah. Mereka berdua di dudukkan di kursi panas. Kursi pengakuan, Mereka menyebutnya. Selain mereka berdua ada saksi warga yang pertama kali menemukan mereka berdua. Dan tak lupa ada pak RT, dan pak lurah itu sendiri.


Mereka di interogasi layaknya seorang tersangka.


"Sekarang katakan pada kami, kenapa kalian ada di rumah kosong itu?" Pak lurah mulai bertanya pada mereka berdua.


Iqbal menceritakan semuanya kejadian yang ia alami bersama Sisi. Di mulai dari kesasar, mobil mogok, dan terpaksa mereka menginap di rumah itu.


"Jangan percaya omongan Mereka, Pak. Mungkin itu alibi mereka agar tidak di nikahkan di sini. Mungkin mereka takut hubungannya akan di ketahui pasangan mereka masing-masing."


Pak lurah kembali bimbang dengan keputusannya. Setelah mendengar omongan saksi itu. Dia membenarkan apa yang dikatakan saksi itu.


"Bisa saya, lihat KTP kalian?" Iqbal mengambil KTP nya di dalam dompetnya. Setelah itu di serahkan pada pak lurah.


Begitupun dengan Sisi. Dia menyerahkan KTP nya pada pak lurah. Dua-duanya memang masih berstatus lajang. Tapi itu tidak membuat pak lurah percaya begitu saja.


Pak lurah meminta salah seorang warganya untuk melihat keadaan mobil Iqbal. Untuk membuktikan apa yang di katakan oleh Iqbal benar atau tidaknya.


Mungkin dari situ, pak lurah bisa mengambil kesimpulan dan bisa mengambil keputusan yang tepat untuk mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2