
Kegiatan di panti itu dilakukan secara terpisah. Dokter Mark di bagian pasien laki-laki, sementara Sisi di bagian pasien perempuan. Ada yang menarik perhatian wanita berparas cantik itu. Seorang wanita yang berumur tiga per empat abad duduk melamun di ruangan yang tidak terpakai. Terlihat jelas, wajah wanita itu. Muram sesekali menahan Isak tangisnya. Dokter cantik itu kemudian mendekatinya. Menyadari ada seseorang yang berusaha mendekat kearahnya wanita tua itu bangkit dari duduknya, dan melangkah mundur kebelakang. Sisi pun berusaha membuat wanita tua itu untuk tenang.
"Nenek gak usah takut. Saya orang baik. Saya tidak akan menyakiti Nenek," ucapnya berusaha menyentuh nenek itu. Mendengar ucapannya, nenek itu pun menghentikan langkahnya. Dia berdiri mematung ditempat itu sembari memperhatikan wanita muda di depannya.
"Kamu siapa? Apa kamu kenal saya?" cecar nenek itu kemudian menangis meraung. Seketika tubuhnya ambruk di lantai yang sedikit kotor itu. Dengan cepat Sisi pun mengangkat tubuh nenek itu untuk berdiri. Setelah berdiri, dokter cantik itu memapahnya untuk di bawa ke kamar nenek itu.
Tak jauh mereka berjalan, ada sebuah kamar yang sedikit berantakan menjadi pusat perhatian dokter cantik itu. Kamar itu adalah kamar wanita tua yang sedang ia papah. "Itu kamar nenek?" Tanyanya, dan nenek itu mengangguk pelan.
Sisi membawa masuk nenek itu kedalam. Setelah itu direbahkan tubuh renta nenek itu di kasur. Kemudian dokter cantik itu sedikit merapikan kain-kain yang berhamburan di lantai. Sepertinya nenek itu baru saja mengamuk.
Dokter cantik itu penasaran atas apa yang menimpa nenek itu. Sehingga dia seperti orang yang sedang depresi. Setelah semua terlihat sedikit lebih rapi, Sisi menyusul nenek itu untuk duduk disebelahnya.
"Nenek kenapa? Apa nenek sakit?" tanyanya sedikit hati-hati. Nenek itu hanya diam tidak menanggapi pertanyaan wanita disampingnya itu. Sisi pun tersenyum. Dia mencoba lebih sabar lagi menghadapi nenek itu.
"Katakan pada Sisi Nek. Apa yang terjadi pada Nenek? Apa ada yang menyakiti Nenek?" Setelah diam seribu bahasa dan pandangannya terlihat kosong. Nenek itu sedikit mulai membuka suara.
"Saya dibuang disini." Kata-katanya terhenti dan wanita tua itu mulai menangis lagi. Dokter cantik yang ada dihadapannya itu menjadi sedikit bingung. Direngkuhnya tubuh nenek itu kedalam pelukannya. Berharap bisa lebih menenangkan Nenek itu.
"Siapa yang membusung Nenek disini?" Sisi kembali bertanya setelah nenek itu tenang.
Nenek itu kemudian bercerita pada Sisi. Beberapa tahun yang lalu dia dibuang anak tirinya di panti itu. Semua harta bendanya diambil paksa oleh anak tirinya. Yang menjadi penyesalannya adalah, dia membuang anak kandungnya lantaran menikah dengan orang miskin. Keluarga nenek itu adalah keluarga yang berada. Suaminya adalah pengusaha batu bara yang berhasil di Kalimantan. Tapi karena mereka terpisah, suaminya tergoda wanita lain disana hingga mempunyai anak dari wanita itu.
Bukan cuma pengusaha batu bara, suaminya adalah investor di perusahaan ternama dijakarta. Dia dan suaminya memiliki seorang putri. Tapi karena keserakahan suaminya putrinya itu diusir dari rumah. Sampai sekarang dia tidak pernah bertemu lagi dengan putri kandungnya. Setelah kematian suaminya dia diusir oleh Anak tiri dan istri kedua Suaminya. Hingga sekarang dia berada di panti itu.
__ADS_1
"Kalau boleh Sisi tahu. Siapa nama Putri nenek itu?"
"Sri lestari." Nenek itu menyebutkan nama putrinya yang diusir Suaminya dulu.
"Yang Nenek dengar, sekarang anaknya menjadi dokter di kota ini," lanjutnya lagi. Sisi tampak berfikir, banyak sekali dokter yang berada di kota ini. Lalu bagaimana caranya agar dia bisa membantu mencarikan anaknya nenek itu.
"Nenek namanya siapa?"
"Puspita."
Setelah bercerita Nenek itu di periksa kesehatannya oleh Sisi. Karena tujuannya ke panti itu adalah untuk memeriksa kondisi pasien-pasien yang ada di panti itu. Karena kebanyakan orang yang tinggal di panti itu adalah orang-orang yang menderita penyakit kanker.
Usai memeriksa Nek Puspita. Sisi pun pamit untuk melanjutkan pekerjaannya. Dia berjanji akan sering-sering datang mengunjungi nenek itu. Entah kenapa dalam hatinya merasa harus menolong nenek itu menemukan putri dan cucunya.
Sisi pun melanjutkan memeriksa pasien-pasien lainnya. Tanpa terasa hari sudah mulai senja. Usai melaksanakan sholat ashar di mushola panti. Sisi menelpon kekasihnya untuk menjemputnya. Dia menunggu di ruang khusus pengunjung yang akan mengunjungi penghuni panti itu.
"Ayo pulang dengan saya!" ajaknya pada wanita yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Maaf Dok, anda pulang duluan saja. Saya sebentar lagi ada yang jemput, kok!" tolaknya tanpa memperhatikan pria yang berdiri disampingnya.
"Siapa? Hanif? Pria itu tidak akan kesini?" ketus Mark melirik sinis kearah Sisi.
"Kok anda begitu yakin ya dengan ucapan anda. Atau jangan-jangan, anda punya rencana jahat terhadap dokter Hanif!" Seru Sisi dengan tatapan menyelidik. Namun pria itu terlihat santai dengan ucapan Sisi. Justru dia menyunggingkan bibirnya, seolah menyepelekan semua perkataan Sisi.
__ADS_1
Di tempat lain. Hanif yang baru saja mendapat pesan dari kekasihnya bergegas keluar dari ruangannya untuk menjemput Sisi. Dia sedikit terlambat karena banyaknya pasien yang harus ia tangani sendiri. Sampai di parkiran, dia segera masuk ke mobilnya. Tanpa membuang waktu, dia injak gasnya agar cepat sampai di panti. Hari sudah hampir malam. Dijalanan menuju panti itu sedikit sepi. Karena panti itu berada sedikit jauh dari pusat kota.
Di tengah jalan. Tiba-tiba mobilnya mogok. Beberapa kali ia coba menghidupkan lagi mobilnya. Tapi tidak nyala juga. Sedikit aneh sih. Mobil yang mesinnya masih baru tiba-tiba mogok di tengah jalan. Hanif terlihat panik, karena Sisi pasti sudah menunggunya. Setelah mencoba beberapa kali. Namun tidak berhasil, akhirnya dia meminta bantuan sahabatnya yang menjadi montir untuk membantunya. Tidak butuh waktu yang lama, seorang pria yang mengendarai motornya sampai di tempat Hanif. Segera dia memeriksa kondisi mobil sahabatnya itu.
Sisi yang sudah hampir dua jam menunggu kedatangan kekasihnya namun tak kunjung datang, sesekali membanting handphone nya di pengkuannya. Dia kesal karena Hanif tak kunjung tiba. Ditelpon pun tidak aktif.
"Kamu kemana Sih! Nif," umpatnya dengan nada kesal.
Mark yang masih ada di satu ruangan dengan Sisi tersenyum lebar saat melihat wanita itu menjadi kesal. Kemudian dia mencoba mendekat.
"Dia gak datang kan?" Sisi melirik sinis pria itu.
"Atau ini rencana kamu, ya?"
"Sorry, saya tidak pernah melakukan hal yang kotor itu. Lebih baik kita pulang bersama," tawar Mark lagi pada wanita itu. Sisi tampak diam sejenak. Dua berfikir apakah akan menolak atau menerima tawaran pria itu. Dengan pertimbangan yang matang. Akhirnya Sisi pun menerima tawaran Mark untuk mengantarnya pulang.
Mereka berdua kemudian keluar dari panti itu menuju parkiran. Tapi saat Sisi akan naik ke mobil Mark. Sebuah sinar lampu mobil merusak pemandangannya. Semakin lama mobil itu mendekat kearahnya.
To be continued
Nek Puspita siapa ya kira-kira?
Kita main tebak-tebakan ya?
__ADS_1
Yang bisa jawab author kasih hadiah deh?
Hadiah nya update satu bab lagi?😍😍😍