
"Emangnya pernah lihat aku dimana?" Kirana mencari cara untuk menghilangkan kegugupan nya.
"Entahlah saya juga tidak tahu, saya lupa..." Jawab Felisha, sembari mengingat-ngingat.
"Ah... mungkin kamu salah lihat, kita tidak pernah bertemu sebelumnya..." Elak Kirana.
"Oh... iya mungkin aku salah lihat orang,, maaf ya Mbak Kirana..." Felisha tersenyum kearah Kirana, dan hanya dibalas senyuman pula oleh Kirana.
+++++++++++++++++
Lima tahun telah berlalu, putri Faisal sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik. Usaha butik Yulia dan Felisa pun maju pesat. Faisal juga, selain bekerja di rumah sakit Zahra Medica, dia juga buka praktek di rumah. Rumah yang dulunya dikontrak oleh dia, kini sudah jadi milik resmi Faisal dan Yulia. Faisal membelinya dari pak Dewa, beliau menjualnya karena memang rumah itu diwariskan untuk putranya yang di Kalimantan. Dengan alasan untuk modal usaha, putranya menjualnya kepada Faisal.
Rutinitas di pagi hari, di keluarga kecil Faisal ialah. Yulia yang sibuk mempersiapkan sarapan dan bekal untuk Sisi dan suaminya. Sementara Faisal sibuk bermain dengan Sisi anaknya.
"Ayah... Ayah... Ayo dong cepetan pakaikan bajunya Sisi..."Sisi memberikan baju miliknya pada Faisal, karena sedari tadi sibuk dengan ponselnya.
"Iya Si... tunggu ya nak...!" Seru Faisal yang masih fokus dengan ponselnya, Yulia yang melihat Sisi belum berpakaian, lalu menghampiri putrinya yang sedang merajuk.
"Sini anak Bunda, biar bunda yang pakaikan bajunya..." Yulia meraih pakaian yang dibawa oleh Sisi..
"Ayah kamu, kalau udah lihat handphone nya, lupa sama anaknya.." Yulia melirik Faisal yang masih tetap fokus dengan ponselnya.
"Ini Lo Bun, tadi kan ayah lihat berita, sekarang rawan kecelakaan dijalan raya. Mangkanya bunda kalau jemput Sisi, jangan pakai motor ya..." Faisal yang mendengar istrinya mulai protes dengan kegiatannya, akhirnya angkat bicara.
"Udah deh Yah, jangan mulai lagi..."Yulia protes karena Faisal melarang ia mengendarai motornya. Menurut nya, akan lebih mudah naik motor sendiri, ketimbang naik taksi. Lebih irit juga iya..
__ADS_1
Awalnya Faisal, memang melarang Yulia mengendarai motornya. Namun karena keadaan yang memaksa, akhirnya dia memberi izin. Dia harus bolak balik ke butik, belum lagi antar jemput Sisi ke sekolah. Jadi akan sangat repot jika naik taksi atau ojek online.
Faisal hanya khawatir, jika Yulia mengendarai motornya. Karena dia sering menonton berita kecelakaan akhir-akhir ini. Membuat dia paranoid sendiri.
Dino dan Felisa, sudah dikaruniai seorang putri juga. Mereka menikah saat usia Sisi menginjak dua bulanan. Pesta pernikahan yang sangat mewah, yang digelar keluarga Dino. Ayah Felisa yang menjadi wali nya sendiri. Sementara ibu dan ayah tirinya juga datang ke pernikahan mereka. Sekarang usia putri nya sudah menginjak 3 tahun.
Pasangan Rio dan Weli, mereka tak seberuntung Faisal dan Yulia, Dino dan Felisa. Sampai saat ini mereka belum juga dikaruniai keturunan. Rio memang tidak pernah memberi tahu, keadaan sebenarnya istrinya. Dia tak ingin Weli sedih. Kerap kali ditanya oleh Weli, "kenapa sampai sekarang kita belum dikaruniai anak.." Rio hanya menjawab "Allah belum kasih aja, kita harus semangat lagi usaha dan berdoa nya.."
Bukan cuma sekali, dua kali, Weli menanyakan hal itu.
Rio terlalu sayang jika harus melihat istrinya mengetahui kebenarannya. Weli akan hancur, karena itulah Rio tetap merahasiakan keadaan Weli yang sesungguhnya.
Pagi itu, Weli berniat akan berkonsultasi sendiri dengan dokter Monica. Selama ini dia selalu minta untuk, diantarkan konsultasi ke dokter kandungan. Namun Rio selalu menolak nya, dengan alasan, kalau Weli sehat. Tidak ada masalah dalam rahimnya. Namun kali ini, Weli bertekad akan menemui langsung Dokter Monica. Dia masih penasaran, apa yang terjadi dengan rahimnya, sehingga dia belum juga diberi keturunan.
Disampingnya Weli, ada seorang ibu-ibu yang menarik perhatiannya. Ibu-ibu itu tidak seperti pasien lainnya, perutnya rata, sepertinya dia bukan untuk memeriksakan kehamilan nya. Namun sama seperti Weli, berkonsultasi pada dokter Monica.
"Udah berapa bulan mbak..." Tanya ibu-ibu itu menoleh ke arah Weli..
"Saya belum hamil mbak, saya mau konsultasi dengan dokter Monica..." Jawab Weli ramah.
"Sudah berapa tahun menikah mbak..." Tanyanya lagi.
"Saya sudah hampir delapan bulan menikah namun belum dikaruniai anak mbak, dulu sempat hamil dan melahirkan, namun... anak saya tidak selamat, daya mengalami kecelakaan yang cukup parah. Sehingga mengakibatkan anak saya meninggal. Dan sampai sekarang saya belum dikasih lagi.." Jelas Weli berkaca-kaca, mengingat kejadian yang merenggut nyawa anaknya.
"Wah, nasib kita sama mbak.. Saya divonis dokter akan susah memiliki keturunan. Tapi, saya tak putus asa. Meskipun Dokter sudah memvonis saya sulit memiliki keturunan. Tapi saya berusaha semaksimal mungkin. Soal hasilnya, saya serahkan pada Allah..." Kata-kata Ibu-ibu itu membuat hati Weli terenyuh, dia merasa kasihan dengan ibu-ibu itu.
__ADS_1
Perawat memanggil ibu-ibu itu, kini tinggal Weli disitu sendiri. Semua pasien sudah pulang. Weli jadi sedih, mengingat ucapan ibu tadi. Dia takut kalau nasibnya menimpa dirinya. Dia hanya bisa berdoa, semoga Allah cepat memberinya anak.
Giliran Weli dipanggil oleh perawat, Weli masuk keruangan dokter Monica.
"Siang Bu Weli..." Sapa dokter Monica ramah.
"Siang dokter..."
"Dok, saya kesini ingin berkonsultasi pada anda. Kenapa sampai sekarang saya belum bisa hamil ya dok.."Tanpa basa basi lagi Weli mencurahkan isi hatinya pada dokter Monica.
Dokter Monica hanya terdiam setelah mendengar keluhan Weli. Dia bingung, harus menjawab apa. Dia sudah berjanji tidak akan memberitahu Weli, perihal keadaannya. Namun, dia juga kasihan kalau Weli tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya.
"Maaf Bu.. Saya harus mengatakan sesuatu pada ibu... Sebenarnya ibu..." Dokter Monica ragu-ragu untuk berbicara yang sesungguhnya.
"Sebenarnya apa dok..."Weli penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh dokter Monica.
Saat Dokter Monica dan Weli sedang berbincang di ruangannya, Rio tiba-tiba datang. Saat akan berangkat ke kantor tadi, perasaannya tidak tenang. Bekerja pun rasanya sudah untuk berkonsentrasi. Akhirnya Dino mencoba menghubungi Weli, namun tidak ada jawaban, Rio menjadi khawatir. Rio menelpon Pak Shaleh, menanyakan keberadaan istrinya. Pak shaleh mengatakan dengan jujur, kalau Majikannya ada di rumah sakit. Rio bisa menebak, apa yang akan dilakukan Weli ke rumah sakit. Rio tidak mau rahasianya terbongkar, dia belum siap jika Weli bersedih. Sedikit banyak penyebab keadaan Weli adalah keteledorannya.
To be continued...
Cerita suamiku tak pernah mencintaiku, akan segera tamat. Tidak lama lagi. Jadi, semuanya harus jelas..
Dukungan para reader sangatlah diharapkan oleh saya..
Terimakasih yang sudah baca karya saya ini...
__ADS_1