
Suasana hening di ruangan itu, kala Hanif mengajak Alira duduk di sofa yang tersisa. Bu Yuni yang duduk di seberang mereka, menatap ke arah Alira dan Hanif secara bergantian. Sementara wanita yang ia tatap hanya bisa menunduk, tak berani mengangkat wajahnya.
Perasaan cemasnya kembali menyerang dirinya, tubuhnya tiba-tiba gemetar dan buliran bening, keluar di sekita permukaan wajahnya. Sembari meremas jadinya, Alira berkata, "aku tidak membunuhnya...bukan aku...bukan aku!!!!"
Melihat hal itu, Hanif langsung mengambil sikap. Dia mendekati wanita itu, Hanif menggenggam tangannya yang mulai basah, karena keringat. "Ra.... istighfar ya... istighfar..."
Bu Yuni semakin merasa bersalah, melihat penderitaan yang dialami oleh menantunya itu. Karena keegoisan anaknya, wanita itu harus mengalami depresi. Nalurinya sebagai seorang wanita, mendorong dirinya untuk mendekat dan ikut menenangkan menantunya itu.
Perlahan dia mengangkat tubuhnya dari sofa itu dan berjalan mengelilingi meja agar sampai di tempat Alira. Wanita itu semakin ketakutan, tubuhnya semakin gemetar. Hingga dia bersuara.
"Sayang, maafkan Ibu!!! Ibu tahu kamu gak salah!!!" ucapnya meraih punggung tangan wanita itu. Kata-katanya membuat pria yang berada di samping menantunya itu menatap kearahnya. Tak terlihat kebencian dari mata pria itu.
"Maafkan Ibu!!?!" Tangisnya pecah, hatinya pilu melihat kondisi menantunya yang sangat tertekan. Seketika, wajah yang sedari tadi menunduk, perlahan diangkat keatas. Pandangannya bertemu dengan pandangan wanita itu. Diam, hening, tak ada suara.
Mereka bermain dengan pikirannya masing-masing. Tangan lembut yang selalu menguatkan dirinya, saat almarhum suaminya menyakiti hatinya. Kini, kembali menyentuhnya dengan lembut. Ketakutan yang tadinya, menyerang dirinya perlahan sirna. Saat mata penuh kehangatan itu menatapnya dengan sendu.
"Kamu gak boleh rapuh, sayang. Kamu harus kuat. Ibu tahu, kamu gak salah. Buang rasa bersalah mu ya, sayang!! Kamu harus bisa melanjutkan hidupmu dengan sempurna." Kata-kata itu membuat hatinya hangat, betapa tidak. Setelah kejadian itu, dia takut disalahkan oleh wanita yang saat ini sudah merengkuhnya.
Pelan tapi pasti, dia pun menempelkan tubuhnya pada mertuanya itu. Dia menangis sejadinya, menumpahkan segala sesak di dadanya. Dia bersyukur, Allah membuka hati mertuanya. Hingga beliau tidak menyalahkannya.
"Terimakasih, Bu!!!!" lirihnya namun masih bisa di dengar oleh wanita itu.
Senyum tipis, mengembang dari bibir wanita itu. Membuat hatinya semakin damai. Membuat mereka yang melihatnya turut bahagia. Akhirnya, kesalahpahaman itu pun berakhir. Alira, tak lagi di liputi kecemasan.
Kini tatapan Bu Yuni beralih pada pria yang sedari tadi ikut menitikkan air mata haru, melihat kejadian dia dan menantunya. Dia bisa melihat dengan jelas ketulusan dari dalam mata pria itu. Cinta yang begitu besar, pun ada di sana.
"Dokter Hanif! Bisa kita bicara sebentar!" pintanya pada pria itu. Pria yang memakai baju Koko dan sarung itu pun mengangguk.
__ADS_1
Mereka berdua memisahkan diri untuk bicara empat mata. Teras depan menjadi pilihan mereka.
"Maaf, apakah saya bisa bertanya sesuatu pada anda?" tanyanya pada pria yang sekarang sudah duduk di sampingnya, hanya tersekat oleh meja.
"Silahkan, Bu!" jawab pria itu bersahabat.
"Apa..anda mencintai Alira?" Pertanyaannya kali ini membuat pria itu sedikit terkejut, sontak kedua bola matanya membulat sempurna. "Katakan yang sejujurnya!" lanjutnya, membuat Hanif menelan Slavinanya.
"Eh..."
"Anda tidak usah takut!!!" pangkas nya, tersenyum tipis.
Hanif pun merasa lega, karena tidak ada amarah dari dalam diri Bu Yuni. Mungkin, ini saatnya dia berkata jujur pada beliau.
"Saya...saya memang mencintai Alira!" jawabnya jujur, dan Bu Yuni pun tersenyum lega.
"Syukurlah kalau begitu! Saya senang, akhirnya Alira bisa menemukan pria yang tulus mencintainya." Bu Yuni pun menoleh kearah Hanif.
"Janji?"
"Iya! Anda harus berjanji pada saya. Anda harus bisa membahagiakan Alira!" Seketika air mata Bu Yuni kembali menetes. "Karena selama hidup bersama putra saya, dia tidak pernah bahagia!" Bu Yuni menyeka bekas air matanya. Setelah itu melanjutkan ceritanya.
"Alira dinikahi oleh Prayoga karena mereka di jodohkan oleh suami saya dan ayah Alira. Mereka tidak saling cinta. Hingga, saat suami saya meninggal dan kedua orangtuanya juga meninggal. Akira selalu di siksa oleh Prayoga!" Hanif semakin terperangah mendengar cerita Bu Yuni.
"Penderitaan bertambah lagi, saat Prayoga menikah lagi dengan wanita lain. Wanita yang hanya mengincar hartanya saja. Terbukti, saat kematian Prayoga, wanita bahkan tidak menunjukkan batang hidungnya." Bu Yuni menghembuskan nafasnya berat. Sesak di dadanya, yang membuat wanita itu tak melanjutkan ceritanya.
"Bu...saya janji akan bahagiakan Alira!" sahut Hanif yang tidak tega melihat wanita itu terisak. Terlebih lagi, dua tidak sanggup mendengar penderita wanita yang ia cintai itu.
__ADS_1
"Terimakasih!!! Karena kebahagiaan Alira adalah janji saya pada mendiang suami saya dan orang tua Alira!"
Usai berbincang di teras, mereka kembali masuk ke dalam. Terlihat jelas ranum kebahagiaan terpancar dari wajah Hanif, namun tidak dengan Bu Yuni, wajahnya masih sendu. Mereka kemudian duduk di tempatnya tadi.
"Maafkan saya, Bu Tari. Jika kedatangan saya membuat anda merasa khawatir!" ucap Bu Yuni pada Bu Tari.
"Oh, nggak apa Bu. Maafkan putra saya juga. Sudah lancang membawa Nak Alira ke rumah ini," balas Bu Tari.
Kecanggungan diantara mereka sudah tak lagi terlihat. Alira juga sudah mulai tenang. Wanita itu sudah bisa kembali tersenyum, saat mereka saling melempar canda. Kecemasannya yang tadinya menguasai dirinya, perlahan hilang.
Para bodyguard yang tadinya ikut bergabung bersama mereka, sudah di perintahkan untuk menunggu di luar oleh Bu Yuni. Sehingga mereka berbincang-bincang dengan santai, dan tidak ada ketegangan lagi.
Hingga di ujung perbincangan mereka. Bu Yuni bertanya pada Alira, "sayang, apa kamu mau tinggal di sini? Tidak ikut Ibu pulang?"
Alira tampak berfikir dengan pertanyaan ibu mertuanya itu. Dia menatap kearah Hanif, kemudian kearah Bu Tari.
"Sebaiknya untuk saat ini, Alira tinggal di sini dulu Bu. Saya yakin, dia masih trauma jika tinggal di rumah Ibu!" usul Hanif, membantu Alira menjawab pertanyaan Bu Yuni.
"Benar, Bu. Kasihan, jika Nak Alira kembali teringat kejadian itu," timpal Bu Tari.
"Ya sudah, selagi itu yang terbaik untuk Alira. Saya sih ikut, aja!"
"Kalau begitu, saya pamit dulu ya. Ra, sayang. Kamu baik-baik ya di sini!!!" pamit Bu Yuni, kemudian beranjak dari tempat duduknya. Diikuti oleh yang lainnya.
Hanif dan Alira mengantar Bu Yuni sampai ke depan rumah. Sebelum pergi, Bu Yuni memeluk Alira. Pun dengan Alira. Setelah itu mendekat kearah Hanif.
"Kamu harus bisa jaga, dia. Tapi..jangan macam-macam ya!" bisik Bu Yuni, Hanif pun menggeleng. "Kalian belum muhrim!" Bu Yuni tergelak, Hanif membelalakkan matanya.
__ADS_1
Kecanggungan diantara mereka sudah tidak ada lagi. Bahkan, Bu Yuni menggantungkan hidup Alira di tangan Hanif. Karena dia melihat ketulusan itu, hanya dimiliki oleh pria itu.
To be continued