Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Kita pergi dari sini!!!


__ADS_3

Hanif segera menyembunyikan tubuhnya dari orang yang datang kearahnya. Tepat di samping dua berdiri, ada sebuah tanaman yang rimbun. Jadi aman untuk dia bersembunyi.


Seorang wanita yang sedang membawa dua kantong kresek berjalan ke arah kolam renang. Wanita itu adalah assisten rumah tangga yang benar di rumah Prayoga. Dia mengambil, kotak sampah yang terletak di dekat kursi santai. Namun pandangannya beralih pada tanaman dekat pagar rumah itu, tanaman itu terlihat goyang-goyang seperti ada seseorang di balik tanaman itu.


Lalu, di dekatinya oleh wanita itu. Dia ingin memastikan, apakah ada yang mencurigakan di sana. Namun, niatnya dia urungkan, saat satpam yang berjaga di rumah itu memanggil namanya.


"Mbok Jum!!??" teriaknya dari dalam, wanita itu pun membalik arah, dan memilih kembali masuk kedalam.


Hanif selamat, sekarang dia sudah keluar dari persembunyiannya. Dia berjalan menyusuri kolam renang yang panjangnya sampai sepuluh meter itu, setelah sampai di sebuah pintu. Dia masuk kedalam, ternyata ruangan yang terhubung dengan kolam renang itu adalah ruang keluarga. Di sisi, kiri dari dia berjalan ada sebuah tangga yang menghubungkan ke lantai dua. Dengan pelan, Hanif menapaki satu demi satu anak tangga tersebut. Hingga sampai di lantai atas.


Setelah sampai di lantai atas, dia di suguhkan dengan tiga kamar yang terpisah. Hanif mencoba menuju ke kamar yang terletak di sisi kanannya. Sebuah kamar yang berukuran sedang, namun pintu kamar itu tidak tertutup rapat. Jadi, dia bisa melihat isi dari kamar tersebut. Kosong, tak ada satupun orang di dalamnya.


Hanif berjalan lagi menuju kamar kedua. Kamar itu ukurannya lebih besar dari kamar pertama. Dan pintu di kamar itu tertutup rapat, Hanif mencoba membukanya. Setelah pintu terbuka, juga tidak ada orang di dalamnya.


Hanya tinggal satu lagi harapannya, kamar ke tiga. Kamar itu terlihat beda dengan dua kamar lainnya. Perasaan Hanif pun tidak nyaman, saat berada di depan kamar itu. Pintunya tertutup, dan saat di coba membukanya, pun tidak bisa. Artinya kamar itu sengaja di kunci.


Hanif harus berusaha lebih keras lagi, agar bisa masuk kedalam kamar itu. Dia mencari cara, dan dia menemukannya setelah melihat kearah samping. Di sana ada sebuah pintu yang terhubung dengan balkon kamar itu. Dengan cepat, Hanif berjalan kesana. Melewati balkon yang terbilang sempit, Hanif sampai juga di depan jendela kamar itu. Dia bisa melihat dengan jelas, isu dari kamar tersebut.


Seorang wanita terbaring di ranjang, dengan tangan dan kaki yang terikat. Hanif membuka jendela itu, beruntung tidak di kunci. Jadi, dia bisa masuk kedalam.


"Alira!" lirihnya, langsung berjalan menuju ranjang.


"Ra, bangun!!! Ini aku Hanif...Ra, aku akan keluarkan kamu dari tempat ini." Sembari membuka ikatan di tangan dan kaki dari wanita itu, Hanif berusaha membangunkan Alira.


Perlahan, pemilik bola mata berwarna hitam itu pun membuka matanya, namun saat dia sudah sadar sepenuhnya. Dia langsung menjauh dari tangan pria yang menolongnya. Dengan gemetar dan air mata yang mulai berderai, wanita itu memeluk dua lututnya seraya berkata, "aku tidak membunuhnya!! aku tidak membunuhnya!!"

__ADS_1


Hanif sangat prihatin melihat keadaan wanita itu. Tekanan batin yang menimpa wanita itu, berpengaruh besar dengan psikologisnya. Perlahan Hanif naik ke ranjang itu, mendekati Alira.


"Ra, aku tahu kamu gak salah. Aku akan membawamu pergi dari sini!!! Ayo kita pergi dari tempat ini!!!" lirih Hanif, mulai memegang lengan Alira, tatapan wanita itu pun mulai mengarah ke wajah Hanif. Dengan wajah sayu, wanita itu masih bergumam, "aku tidak membunuhnya!! Tidak...bukan aku!!!!"


"Iya, Ra. Kita harus segera pergi dari sini!!!!" Di rengkuhannya tubuh mungil wanita itu kedalam pelukannya, deru nafas cepat dirasakan di dada Hanif. Kenyamanan yang di berikan oleh Hanif, mampu membuat Alira menuruti perintah dari pria yang menolongnya.


Mereka akhirnya keluar dari kamar itu, dengan cara mengendap-endap agar bisa keluar dari rumah besar nan megah itu. Seperti yang tadi di alami oleh Hanif, mereka harus menuruni tangga menuju ke lantai satu. Setelah itu keluar melewati kolam renang, dan sampai di pintu pagar bagian belakang.


Pintu itu di gembok, dari dalam. Sehingga memudahkan Hanif untuk membukanya. Dia mengambil batu besar yang terletak di bawah tanaman yang rimbun, tempat dia bersembunyi tadi. Setelah itu memukulkannya dengan keras, di bagian kancing gembok itu, sehingga bisa terlepas. Mereka berhasil keluar dari tempat itu.


Hanif membawanya masuk kedalam mobilnya, dan membawa pergi dari tempat itu sebelum satpam menyadari kalau mereka sedang menyelinap.


Di dalam mobil, Alira hanya diam. Dia sudah lebih tenang, dari pertama Hanif temukan. Tapi, tatapannya masih kosong. Dan itu tak bisa di biarkan oleh Hanif.


"Ra....! Apa kamu lapar?" Tak ada jawaban.


"Aku tidak membunuhnya!" Sepertinya dia kembali teringat kejadian yang merenggut nyawa suaminya.


Alira terus saja mengatakan itu, hingga mobil Hanif sampai di halaman rumahnya. "Kita turun dari sini, ya!" ujar Hanif melepas sabuk pengaman milik Alira. Jantung Hanif berdegup kencang, saat wajahnya sangat dekat dengan wajah Alira. Seketika, Alira pun menunduk.


Mereka sudah berjalan masuk ke dalam rumah. Terlihat Bu Tari yang sedang duduk di ruang tengah, bergegas berdiri saat putranya datang bersama dengan seorang wanita.


"Nif, siapa dia?" Di perhatikan nya wajah Alira yang terlihat sembab, akibat banyak menangis. Setelah itu, dia mendekati mereka berdua.


"Bun, untuk sementara dia tinggal di sini. Gak apa, kan! Nanti Hanif ceritakan semuanya!" pinta Hanif pada bundanya.

__ADS_1


"Ya sudah. Bawa dia ke kamar Bunda aja!! Kasihan, kalau harus di kamar sendiri!" Hanif tersenyum lega mendengarnya. Segera dia antar Alira ke kamar bundanya.


Sementara Bu Tari memperhatikan mereka berdua yang mulai meninggalkannya, hingga dua wanita perusuh itu datang.


"Tari!!!" seru Bu Sarah yang mengagetkan Bu Tari. Sontak dia langsung menoleh.


"Astaghfirullah, Bu."


"Siapa wanita yang di bawa Hanif?" tanya Bu Sarah dengan tatapan menyelidik.


"Tari, juga gak tahu Bu! Hanif belum mengatakan apa-apa pada Tadi," jawab Bu Tari jujur.


Mereka berdua saling pandang, setelah itu mulai mempengaruhi Bu Tari. "Kamu jangan sembarangan ngasih izin orang asing untuk tinggal di sini!"


Bu Tari tampak berfikir.


"Takutnya dia punya rencananya jahat pada kamu dan Hanif!" Hanif yang sekilas mendengar ucapan Bu Sarah, ikut bicara.


"Dia wanita baik-baik. Nenek gak usah khawatir hal itu, lagipula Hanif bisa kok menilai orang yang tulus atau hanya pura-pura tulus!" Hanif mempertajam pandangannya kearah mereka berdua. Sontak membuat dua wanita tersebut klimpengan.


"Maksud kamu apa, Nif!!!" kilah Bu Sarah, dengan sedikit terkejut. Dapat di lihat dari mata Hanif, dia mengetahui sesuatu tentang rencana busuknya bersama Veronika.


"Sekarang, silahkan pilih. Anda yang jelaskan sendiri atau saya yang akan menjelaskannya!!!!" gertak Hanif, semakin membuat mereka terkejut.


"Atau, anda ingin seseorang yang akan menjelaskannya disini!!!!"

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2