Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Maukah kau menikah denganku?


__ADS_3

Hanif meminta pada Sisi untuk membawakan bubur ayam buatannya sendiri. Sisi pun terkejut mendengar permintaan Hanif. Jangankan membuat bubur ayam. Masak telur dadar aja dia tidak bisa. Gadis itu memang tidak seperti bundanya dulu. Diusianya yang sekarang Yulia sudah bisa mengurus suami dan anak. Masak apapun juga bisa.


Sisi tidak pernah masuk ke dapur. Semua pekerjaan rumah tangga di kerjakan oleh bi Imah dan Bundanya. Sering kali Yulia menasehatinya untuk belajar memasak. Tapi Sisi selalu tidak mau. Dengan alasan dia ingin mencari suami yang tidak menuntut dirinya memasak. Selalu itu jawabannya. Yulia pun tidak bisa memaksa kehendak putrinya.


Pagi-pagi sekali Sisi sudah ada di dapur. Sesuai permintaan Hanif semalam. Dia sedang membuat bubur ayam untuk Hanif. Dengan dibantu Yulia dan bi Imah. Selama sekitar tiga puluh menit. Bubur buatan Sisi sudah matang. Kemudian di letakkan ke dalam rantang. Setelah semua sudah siap semua. Sisi pun kembali keatas untuk mandi.


Lima belas menit kemudian, Sisi sudah siap berangkat ke rumah Hanif untuk mengantar bubur ayam pesanan pria berkacamata itu. Semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang makan. Sisi yang baru turun langsung menuju ke dapur untuk mengambil rantang berisi bubur ayamnya. Sisi hanya melintasi ruang makan, tidak ikut gabung bersama anggota keluarga lainnya. Faisal yang melihat Sisi lantas menegur putrinya.


"Sayang, kamu gak sarapan dulu?" Sisi pun berhenti sejenak dan melihat kearah ayahnya.


"Sisi buru-buru Yah. Sisi berangkat dulu ya." Sisi pun menghampiri ayah dan bundanya untuk bersalaman.


Dengan diantar sopir pribadi keluarga Faisal. Sisi pun sampai ke rumah Hanif.


Kemudian dia menemui Bu tari yang sedang menyiram bunga di halaman depan.


"Assalamualaikum Tante."


Waalaikumussalam, Sisi." Bu tari kemudian menghentikan aktivitas nya dan bergegas menemui Sisi. Mereka kemudian masuk kedalam. Bu tari langsung mengantar tamunya ke kamar Hanif.


Kebetulan Hanif yang habis mandi dan baru akan berpakaian. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Melihat Hanif cuma melilitkan handuknya di pinggang. Membuat Sisi berteriak. "Aghhhr." Hanif langsung menoleh ke sumber suara. Dia pun melakukan hal yang sama terkejut dan sampai berteriak. Akhirnya Sisi kembali keluar.


Setelah berganti pakaian, Hanif pun keluar dari kamarnya. Sisi dan Bu tadi menunggu di ruang makan. Sisi ikut membantu menyiapkan makanan di meja makan.


"Hmmm calon mantu idaman Bun," Goda Hanif yang baru datang. Sisi pun tersipu malu dengan perkataan Hanif.


"Hehehehe.. ya udah atuh.. Cepetan jadiin mantunya Bunda," timpal Bu tari tersenyum pada putranya.


Mereka bertiga kemudian duduk di tempatnya masing-masing. Sisi mulai menyendok kan bubur yang ia bawa ke piring Hanif. Hanif senyum-senyum sendiri melihat dilayani oleh Sisi. Sepertinya benih-benih cinta memang sudah bersarang di hatinya.


"Apa kamu udah mau masuk kerja, sayang?" tanya Bu tari tertuju pada Hanif.

__ADS_1


"Belum Bun. Perut Hanif masih sedikit sakit. Takutnya Hanif tidak konsen nanti." Sisi pun menjadi merasa bersalah.


"Oh iya Si, saya minta tolong ya. Tolong kamu pelajari catatan medisnya Bilqis dan keluarganya. Dari situ kita bisa tahu. Faktor apa yang menyebabkan dia terkena penyakit itu," ujar Hanif meminta bantuan pada Sisi.


"Iya Nanti Sisi pelajari."


Usai sarapan bersama Hanif dan bundanya. Sisi pun pamit untuk berangkat ke rumah sakit.


**************


Satu bulan kemudian. Keadaan Bilqis semakin memburuk. Dia sekarang terbaring lemah di rumah sakit. Hanif dan Sisi pun sekarang semakin dekat. Meskipun mereka belum saling mengungkapkan perasaan.


Pagi itu Hanif membawa seuntai bunga mawar merah yang akan diberikan pada Bilqis. Entah sejak kapan dia memberi perhatian lebih pada pasiennya itu. Tapi hampir setiap pagi dia selalu melakukannya. Tujuan Hanif hanya satu, ingin memberi semangat agar Bilqis mau berjuang untuk bisa sembuh lagi.


"Ini bunga untukmu." Hanif memberikan bunga itu pada Bilqis. Bilqis pun langsung menerimanya.


"Terimakasih Dokter Hanif," ucapnya sembari tersenyum pada Hanif.


"Baik semua," ujarnya setelah selesai memeriksa Bilqis.


"Terimakasih ya Dok untuk semuanya," balas Bilqis ada sebuah harapan terpancar dimatanya.


"Kamu harus kuat. Saya janji akan membuat kamu sembuh kembali." Bilqis menatap lekat wanita yang terbaring lemah di bangkar itu.


Bilqis pun tersenyum menanggapi ucapan Hanif. Sisi yang baru saja memeriksa pasien lainnya masuk ke ruangan Bilqis dirawat. Sisi melihat Bilqis dan Hanif saling pandang. Ada tersirat rasa cemburu didalam dadanya. Tapi segera ia tepis mengingat kondisi Bilqis sekarang.


"Hmmm, cie.... Kalian pandang-pandangan gitu. Awas aja naksir Lo." Ucapan Sisi membuat keduanya tersadar. Hanif pun langsung melirik Sisi, seakan tak suka dengan ucapan Sisi.


"Kakak." Bilqis tersipu malu.


"Kamu harus sembuh dek. Banyak orang yang sayang padamu. Jadi jangan kecewakan mereka ya." Sisi langsung memeluk tubuh Bilqis untuk memberikan kekuatan pada sahabatnya itu.

__ADS_1


Sore harinya, Sisi hendak pulang. Dari kejauhan Hanif berteriak memanggilnya. Tapi Sisi sepertinya pura-pura tidak mendengar teriakkan Hanif. Dia seakan menghindar dari Hanif. Saat Sisi sudah akan masuk kedalam mobil, tangannya dicegah oleh Hanif.


"Si, aku teriak-teriak dari tadi gak denger ya." Hanif kemudian menarik tangan Sisi agar mereka bisa saling berhadapan.


"Maaf Dok saya buru-buru," ucapnya kemudian mau beranjak lagi. Tapi masih ditahan oleh Hanif.


"Kamu kenapa sih. Kok jadi aneh gini. Kamu kayaknya mau menghindari aku ya." Sisi pun hanya diam. Perubahan sikap sisi membuat Hanif merasa bingung. Dia mengingat-ngingat kesalahan apa yang ia lakukan dengan wanita dihadapannya itu.


"Ayo ikut denganku." Hanif pun menarik tangan Sisi agar ikut dengannya.


Hanif membawa Sisi kedalam mobilnya dan melajukan mobilnya dengan cepat.


"Kebiasaan deh, suka maksa-maksa," cetus Sisi terlihat cemberut.


"Habisnya kamu ini kenapa, kok mau hindari aku?" tanya Hanif masih fokus menyetir.


"Gak ada kok. Aku tuh buru-buru tadi. Laper," kilah Sisi yang tak mau kalah.


Mereka tiba di sebuah restoran bernuansa muda-mudi disana. Hanif mengajak Sisi masuk kedalam. Mereka duduk ditempat yang sepertinya sudah disiapkan buat mereka.


Setelah mereka berdua duduk, dua orang waiters membawa sebuah cake dan dua gelas minuman. Cake itu diletakkan di meja. Hanif meminta Sisi untuk memotong cake nya.


"Kamu yang potong ya, cake nya!" Tanpa menaruh curiga, Sisi memotong cake nya. Ternyata di dalamnya ada sebuah cincin berlian. Sisi mengambil cincin itu.


"Cincin?" Hanif pun mengangguk. Sisi masih tidak mengerti apa maksud semua ini.


"Maksudnya apa ini, Nif?"


"Will you mearie me" Hanif mengambil cincin itu dari tangan Sisi. Dan meminta persetujuan untuk memasangkan cincin itu di jari manisnya Sisi. Sisi pun tercengang, dan bingung harus bagaimana.


to be continued

__ADS_1


__ADS_2