Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Ada yang aneh dengan istriku


__ADS_3

Satu bulan sudah berlalu. Sisi dsn Ilham sudah kembali ke Singapura. Namun ada yang beda dari keduanya, keduanya bahkan tak malu-malu lagi menunjukkan kemesraan mereka di depan umum. Sisi sekarang tinggal bersama suaminya, Bu Sundari dan pak Erlangga sangat senang. Karena ternyata yang menjadi cucu menantunya adalah Ilham. Bahkan mereka akan mengadakan tasyakuran untuk pernikahan mereka.


Ilham sudah mulai dengan aktivitasnya, menjadi dosen di tempat Sisi mengenyam pendidikan S3 nya. Tentu mereka pulang dan berangkat selalu bersama.


Seperti pagi itu, mereka masih berada di meja makan. Syifa, Ilham dan Sisi sedang menikmati santap paginya di sana.


"Kak, Syifa nebeng ya. Syifa ada kuliah pagi, soalnya!" ucap Syifa pada Ilham.


"Ehmmm, kamu di antar sama supir aja Fa. Kakak gak bawa mobil hari ini!" jawab Ilham menatap kearah istrinya, sontak membuat Syifa mendelik kaget.


"Kenapa?"


Dengan wajah yang mulai memerah, Sisi pun menjawabnya, "Kakak pengen di bonceng naik motor, Dek." Syifa menggeleng dan tertawa ringan.


"Ya ampun Kak, panas Lo ntar. Kan, Kak Sisi gak pernah naik motor. Haduh..."


Sisi langsung merengut, "kata siapa Kakak gak pernah naik motor. Pernah kok, waktu Kakak masih gadis dulu. Lagian ya, di bonceng naik motor itu lebih romantis daripada naik mobil."


Syifa semakin tergelak, sementara Ilham hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Iya-iya paham Syifa sekarang. Bilang aja mau uwu uwuan, kan. Dasar pasangan aneh!" seloroh Syifa tertawa lepas.


"Dek!!!" lirih Ilham mengedipkan matanya, karena dia melihat Sisi sudah terlihat muram.


"Iya-iya maaf. Ya udah, Syifa berangkat dulu. Assalamualaikum!" pamit Syifa, bangkit dari duduknya, dsn mencium satu persatu punggung tangan pasangan suami istri itu.


"Sebel deh sama Syifa, kenapa sih! Dia mengejek kita, apa yang salah coba naik motor berdua dengan suami," keluh Sisi dengan muka masamnya.


"Udah sayang, jangan cemberut gitu, ah! Iya kita nanti naik motor, ya. Nanti kamu duduk di belakang, terus peluk pinggang aku dari belakang, kayak di film-film itu. Dilan dan ceweknya," bujuk Ilham sekaligus menggoda istrinya. Seketika wajah Sisi kembali sumringah, membayangkan betapa romantisnya nanti dirinya dan Ilham saat boncengan naik motor.


Sudah semingguan ini, moodnya Sisi sering berubah-ubah. Keinginannya harus di penuhi, kalau tidak dia hanya diam gak mau bicara dengan suaminya. Tak, hanya itu saja. Sisi juga lebih manja dengan Ilham, kemanapun suaminya pergi, dia selalu ikut.


"Sudah siap, sayang?" tanya Ilham saat melihat Sisi sudah bersiap untuk berangkat.


"Sudah, yuk Kak!" jawab Sisi antusias.

__ADS_1


"Ya udah, Ayuk!" Mereka berdua berjalan keluar rumah menuju garasi. Di sana, ada beberapa jenis moge, namun yang dipilih Sisi justru motor matic yang biasa Ilham pake.


"Sayang, kok pilih yang ini! Nanti kamu capek, Lo!" ujar Ilham menunjuk motor matic miliknya.


"Aku sukanya, yang ini! Yuk, Kak!" Ilham pun menggeleng, dan tersenyum gemas kearah istrinya yang makin hari makin aneh tingkahnya.


Motor itu, di keluarkan dari garasi. Sisi menunggu di halaman depan. Setelah suaminya datang dengan motornya, Sisi lekas naik di jok belakang. Setelah itu, di lingkarkan kedua tangannya di perut suaminya, dan Ilham pun langsung tancap gas.


Sinar matahari pagi itu tak di rasakan oleh dua insan yang sedang kasmaran itu. Semilir angin pagi pun begitu di nikmati oleh Sisi, hatinya menjadi damai. Saat Ilham melajukan motornya tak terlalu kencang. Banyak pengguna jalan lainnya yang memperhatikan kearah mereka, kemesraan mereka bagaikan di film-film yang ada di bioskop. Canda, tawa menghiasi bibir keduanya.


Sampai di parkiran kampus pun, Sisi masih melingkarkan tangannya di perut Ilham. Hingga motor itu berhenti.


Ilham tak sedikitpun risih, dengan ulah istrinya. Walaupun mereka menjadi pusat perhatian para mahasiswa yang melihat mereka.


"Sampai!" seloroh Ilham, mematikan mesin motornya. "Alhamdulillah."


Mereka turun secara bersamaan, Ilham terlebih dulu membuka helmnya. Setelah itu, dia membantu membukakan helm istrinya. "Makasih, Kak!" seru Sisi, saat Ilham sudah berhasil membuka helmnya.


"Kamu langsung ke kelas, ya sayang!" titah Ilham, saat mereka sudah memasuki lobi kampus.


"Mr. Ilham, ada yang ingin saya tanyakan tentang materi kemarin!" ucap salah satu dari tiga mahasiswi itu.


"Boleh, nanti waktu jam kuliah saya di mulai saja, ya!" balas Ilham dengan senyum ramah pada mahasiswi itu.


"Tapi Pak, gak bisa kita bicara berdua saja untuk membahas materi ini!" cecar mahasiswi itu lagi.


"Hmmm, kalau memang kamu merasa kesulitan benar materi itu, kita bisa atur jadwalnya untuk ikut pelajaran tambahan. Tapi...dengan satu syarat!" Wajah mereka seketika menegang.


"Kamu harus mencari beberapa temen kamu, untuk mengikuti pelajaran tambahan itu pada saya," lanjut Ilham, dan seketika mereka saling pandang.


Percakapan mereka tak luput dari perhatian Sisi, wanita yang sedang berdiri di pintu masuk kampus itu menatap nanar saat suaminya di kerubuti oleh mahasiswi-mahasiswi ganjen itu. Dadanya terasa sesak, tanpa terasa bulir air matanya merembes di pipinya.


Wanita itu tidak tahu, apa yang terjadi dengan dirinya. Padahal, itu hal yang wajar menurutnya. Tapi, entah kenapa hatinya begitu sakit saat suaminya dekat-dekat dengan wanita lain, termasuk dengan mahasiswinya sendiri.


Dengan menghentakkan kakinya agak keras, Sisi berjalan menjauh dari mereka. Sembari membersihkan sisa-sisa air matanya yang sejak tadi tak berhenti menetes.

__ADS_1


"Aku ini kenapa, sih? Kenapa jadi cengeng kek gini!" lirihnya.


*********************


Saat jam makan siang.


Sisi yang saat itu memutuskan untuk ke kantin terlebih dulu, dia mencari tempat yang nyaman untuk dia tempati. Sembari menunggu suaminya datang, Sisi memesan beberapa makanan. Salah satunya bakso sapi, es teh manis, dan mi pangsit.


Tak lama setelah itu, Ilham datang. "sayang, udah pesen makanan?"


"Iya, Kak. Sini, Kak. Ayo kita makan, Sisi dan paper banget!" Air liur Sisi sudah mulai keluar, dia sudah tidak sabar ingin menikmati makanan itu.


Ilham, ikut gabung di tempat itu. Dia memilih menyantap mi pangsit yang udah di pesan oleh istrinya.


Melihat istrinya begitu antusias dengan makanannya, Ilham menawarkan makanan miliknya.


"Sayang, mau nambah? Ini punya Kakak, makan aja!" tawar Ilham, Sisi pun tampak kegirangan.


"Beneran, Kak! Sisi masih laper, Kak. Udah dua hari ini, nafsu makan Sisi meningkat!" Ilham tersenyum getir melihat istrinya yang mulai menikmati mi pangsit miliknya. Ilham hanya bisa menelan Slavinanya, saat melihat cara makan Sisi yang menikmati sekali makanannya.


"Pelan-pelan sayang. Jangan buru-buru!" Sisi hanya meringis.


Tiga mahasiswi yang tadi bertemu di lobi, mendekati mereka lagi. Bahkan mereka minta diizinkan untuk gabung bersama sepasang suami istri itu.


"Mr. Boleh kita gabung disini?" pinta mahasiswi yang berambut kriwil.


Sekilas Ilham menoleh kearah istrinya, dan Sisi pun langsung menggeleng.


"Si, boleh kan! Kita gabung di sini? Lagian udah gak ada tempat lagi!" ucap mahasiswi itu lagi.


Dan Sisi pun menengok ke kanan dan kirinya, setelah itu kebelakang. Memang benar, sudah tidak ada tempat yang kosong di sana. Akhirnya, mau tidak mau, Sisi mengizinkan mereka untuk gabung bersama dia dan suaminya.


Mereka menikmati makan siangnya dengan penuh semangat. Namun ada pemandangan yang membuat Sisi tiba-tiba meninggalkan tempat itu.


To be continued

__ADS_1


wah apa ya kira-kira


__ADS_2