
"Kenapa, Nek? Bukannya selama ini nenek mencari Bunda. Tapi kenapa Nenek tidak mau ikut dengan Hanif." Pria itu meletakkan tas yang sudah ia tenteng ke lantai. Wanita tua itu memandang ke jendela. Menatap kosong kearah itu.
Dia teringat betapa kasarnya dulu, suami dan dia mengusir putrinya. Bahkan, saat putrinya mengunjunginya, dia tidak lagi mengakui Bu lestari sebagai putrinya. Sekarang dengan kondisinya yang sekarang, dia mau ikut bahkan tinggal bersama anak dan cucunya. Dia merasa tidak pantas.
"Nenek tidak pantas ikut kalian. Pulanglah! biar nenek tinggal di sini!" ujar Nek Puspita beralih menatap cucunya.
"Nek, percaya dengan Hanif. Bunda selama ini juga merindukan Nenek. Sama seperti Nenek merindukan Bunda. Sudah sewajarnya seorang anak berbakti kepada, ibu yang sudah melahirkannya. Apalagi melihat keadaan nenek yang seperti ini. Pantaskah seorang anak menelantarkan ibu kandungnya sendiri," bujuk Hanif.
Nek Puspita akhirnya mau ikut pulang bersama Hanif. Setelah sekuat tenaga Hanif membujuknya. Kini dia sudah tak sabar ingin segera mempertemukan bunda dan neneknya itu.
Disisi lain.
Seorang wanita yang sedang terbaring di bangkar rumah sakit mengerang kesakitan sembari memegangi perutnya. Wanita yang tengah hamil besar itu mau melahirkan. Beberapa dokter kandungan pun sudah bersiap membantu persalinan wanita itu.
Dengan melalui jalan operasi Caesar, wanita itu melahirkan seorang anak laki-laki. Tapi, karena wanita itu mengeluarkan banyak darah sehingga membutuhkan beberapa kantong darah untuk di transfusi ke tubuh wanita itu.
"Cepat segera ambil sempel darah golongan AB+ sekarang. Wanita ini kehabisan darah," perintah dokter Monica pada perawat yang membantu persalinan wanita itu.
Di balik pintu ruangan itu, seorang perawat bergegas menuju tempat laboratorium. Mendengar dokter Monika memerintahkan salah satu perawatnya mengambil darah untuk pasiennya. Perawat itu berjalan mengendap-endap keruang lab. Setelah dikiranya aman, dia masuk kedalam. Dia langsung menuju ke tempat penyimpanan darah. Kebetulan ditempat itu hanya tinggal ada dua kantong darah saja. Satu kantong darah bergolongan o, satunya lagi bergolongan AB+. Perawat itu menukar sempel darah itu. Setelah berhasil dia keluar lagi dari ruang lab rumah sakit.
Perawat yang di perintahkan dokter Monica untuk mengambil kantong darah itu baru saja sampai ke ruang lab. Kebetulan petugas lab, sudah ada disana. Dia meminta bantuan pada petugas lab untuk mengambilkan satu kantong darah AB+. Maka petugas Lab itu mengambil darah yang diminta perawat itu. Setelah menemukan apa yang dicari. Petugas itu mengambilnya dan langsung menyerahkan kantong darah pada perawat itu.
Setelah mendapatkan apa yang dicari, perawat itu bergegas kembali keruang operasi. Di dalam ruang operasi dokter Monica sudah menunggu perawat yang ia perintahkan tadi. Perawat itu masuk kedalam, setelah itu memasangkan kantong darah itu kedalam jarum infus. Tak lama setelah itu. Pasien itu kejang-kejang. Membuat semua orang yang ada diruangan itu menjadi panik.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" tanya dokter Monica panik. Seorang suster mengeceknya di electrocardiogram yang berada tepat disamping pasien. Setelah mengetahui penyebabnya.
"Tubuhnya tidak mau menerima darah yang baru saja di transfusi, Dok!" jawab perawat itu. Raut wajah dokter Monica seketika berubah menjadi bingung.
"Bagaimana bisa. Sus, apa kamu yakin tidak salah mengambil sempel darahnya?" Dokter Monica beralih pada perawat yang ia tugaskan untuk mengambil kantong darah tadi.
"Tidak Dok! Petugas lab yang sudah mengambilnya untuk saya," jawab jujur perawat itu.
"Dok, keadaannya semakin memburuk!" seru perawat satunya lagi.
"Astaghfirullahalladzim, bagaimana ini. Pasien ini bisa meninggalkan akibat kelalaian kita," ucap dokter Monica panik. Dia masih saja berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan wanita itu. Tapi Tuhan berkehendak lain. Wanita itu meninggal dunia.
"Inalillahi wa innailaihi roji'un," ucap salah satu perawat itu saat melihat garis lurus di electrocardiogram. Seketika dokter wajah Monica berubah menjadi pucat. Dia tidak bisa menyelamatkan pasiennya.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya pria itu menatap dokter itu dengan penuh harap. Dengan wajah penyesalan dokter Monica menyampaikan berita duka itu pada suami pasiennya.
"Maaf Pak, kami gagal menyelamatkan istri Bapak!" Seketika laki-laki itu terkulai lemas ke lantai sembari menangisi kepergian istrinya untuk selamanya. Dokter Monica yang tidak tega melihat itu, dia langsung meninggalkan tempat itu. Perasaan bersalah meliputi dirinya. Apa yang ia lakukan, hingga pasien'yang tadinya baik-baik saja, ditangannya harus meregang nyawa.
Jenazah wanita itu dibawa pulang oleh keluarganya. Suami wanita itu tak henti-hentinya menangis. Anaknya yang masih bayi, harus kehilangan ibunya.
Setelah jenazah istrinya disemayamkan. Laki-laki itu kembali ke rumah sakit, untuk mengambil anaknya yang masih di rawat di tempat itu.
"Eh kamu tahu nggak? Wanita yang meninggal karena melahirkan kemarin, itu gara-gara dokter Monica salah transfusi darah gitu, katanya!" bisik salah satu perawat yang ada di ruang inkubator namun masih bisa di dengar oleh pria itu. Pria itu langsung menatap tajam kearah dua perawat yang sedang berbincang itu.
__ADS_1
"Apa? Jadi istri saya meninggal gara-gara keteledoran dokter yang menangani istri saya!" sambung pria itu dengan nada keras. Membuat dua perawat itu bergidik ketakutan.
"Maaf Pak. Bapak salah dengar," kilah salah satu perawat itu.
"Telinga saya masih bisa mendengar dengan sangat baik apa yang kalian ucapkan tadi." Laki-laki itu menunjuk kedua perawat itu. Mereka semakin ketakutan melihat amarah dari wajah pria itu.
"Saya mau ketemu direktur rumah sakit ini. Saya mau tuntut rumah sakit ini karena sudah lalai dalam menangani pasiennya." Laki-laki itu pergi meninggalkan tempat itu sembari mengumpat kesal. Dia berjalan menuju ke lantai lima rumah sakit itu. Dimana di lantai itu, letak ruangan Faisal.
Perawat itu langsung menghubungi orang yang sudah di berikan kepercayaan oleh Faisal untuk menghandle rumah sakit itu selama dia di Singapura. Dino, orang yang dihubungi oleh perawat.
Dino yang mendengar hal itu langsung menyusul laki-laki yang sudah berteriak-teriak di depan ruangan Faisal. Beberapa pegawai yang sedang melintas disitu sudah memperingatinya. Bahkan mengajaknya untuk bicara baik-baik. Tapi sepertinya laki-laki itu sudah tersulut emosi yang menggebu. Sehingga tidak bisa diajak bicara dengan baik.
"Ada apa ini?" Teriak Dino dengan suara lantang. Pria itu langsung menengok kearah Dino.
"Oh, jadi kamu. Orang yang bertanggung jawab disini?" Laki-laki itu mendekat kearah Dino sembari menentengkan kedua tangannya di pinggang.
"Kalau rumah sakit ini tidak becus mengurus pasien! Lebih baik ditutup saja!!! Gara-gara keteledoran salah satu dokter di sini. Istri saya sampai meninggal dunia!!!"
Dino berusaha menenangkan pria itu dengan bicara baik-baik. Tapi pria itu tidak mau. Dia bersikeras akan menuntut rumah sakit itu ke pengadilan. Mendengar hal itu. Kepercayaan Faisal langsung menghubungi Sisi. Mengabarkan kejadian di rumah sakit itu...
To be continued
Konflik ini masih berkaitan dengan masa lalu Faisal. Jadi, kalau kalian mengeluh. Kok konflik lagi sih. Karena masa lalu Faisal belum semuanya tuntas. Masih ada dendam di dalamnya...
__ADS_1