
Mata Weli perlahan terbuka, tangan yang tadinya hanya diam tak bergerak, perlahan mulai bergerak. Seulas senyum terpancar dari wajah Weli. Rio mendekati nya..
"Sayang kamu sudah sadar.. Alhamdulillah..." Rio menggenggam tangan Weli memberi kekuatan kepada istrinya. Mama Sindi berada disisi kanan Weli...
"Mas...Rio.. anakku.." Ucap Weli terbata-bata...
"Iya sayang,,, anak kita.." Rio tidak melanjutkan kata-katanya, dia takut membuat Weli sedih.
Kemudian Dokter Feri datang untuk memeriksa Weli..
"Sebaiknya anda keluar dulu pak Rio dan Bu Sindi.." Ucap dokter Feri sopan.
"Iya Yo kita keluar dulu, biar dokter Feri memeriksa keadaan istrimu.." Mama Sindi membawa Rio keluar. Ada perasaan lega dalam hati nya, namun dia juga takut. Dia takut mengatakan pada Weli, bahwa anaknya sudah tiada..
Setelah memeriksa keadaan Weli, seulas senyum mengembang dari bibir dokter Feri. Keadaan Weli sudah mulai stabil, semua sarafnya sudah mulai bekerja dengan normal.
Dokter Feri keluar memberitahu kabar gembira itu pada Rio dan mama Sindi. Sujud syukur langsung dilakukan oleh Rio, dia berjanji dalam hati, tak akan pernah meninggalkan Weli dalam keadaan apapun. Meskipun mereka tidak bisa mempunyai anak sekalipun, cintanya tak akan goyah sedikitpun.
Rio dan mama Sindi masuk kembali kedalam ruangan Weli, Rio duduk disisi kiri Weli.
" Sayang apa ada yang kamu inginkan.." Diciuminya kening Weli..
__ADS_1
"Mas... Anakku.." Kata itu terucap lagi dari bibir Weli.
"Iya sayang kamu istirahat dulu ya..Nanti mas antar kamu menemui anak kita..." Ucap Rio sembari meneteskan air mata nya. Tidak bisa dia bayangkan, jika Weli mengetahui kebenaran bahwa anaknya sudah meninggal dunia. Mama Sindi juga tidak bisa menahan air matanya, dia tahu betul apa yang dirasakan Rio saat ini.
" Aku.. ingin... melihatnya sekarang...mas.." Weli merasa ada yang ditutup-tutupi oleh Rio dan Mama Sindi. Firasat nya tidak bisa dibohongi. Apalagi jika dia mengingat kejadian kecelakaan itu, besar kemungkinan anaknya tidak akan selamat.
POV Weli...
Pagi itu aku sudah membuat janji pada dokter Monica, untuk memeriksakan kandunganku. Apalagi ini bulan-bulan terakhir, aku ingin konsultasi mengenai lahiran normal dan ceasar. Aku mencari pak Rozak, sopir pribadi ku untuk mengantarku ke rumah sakit. Kata mbok Sum, asisten rumah tangga ku, Pak Rozak tidak masuk hari ini. Istrinya masuk rumah sakit, terkena demam berdarah.
Aku bingung harus pergi dengan siapa, naik taksi online pasti bakal susah kalau pagi-pagi begini. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi mengendarai mobilku sendiri menuju ke rumah sakit. Awalnya aku ragu, namun Ntah keberanian darimana, akhirnya aku mengendarai mobilku dalam keadaan perutku yang sudah besar.
Ditengah perjalanan, mendadak perutku terasa sakit. Aku menjadi tidak fokus menyetir mobilku, sesekali sakit itu datang, sesekali sakit itu pergi. Aku pun akhirnya melanjutkan perjalanan ku. Perut ku menjadi semakin sakit, hingga aku tidak kuat lagi, aku lihat ada cairan yang keluar dari daerah intim ku.. Rasa sakit yang begitu amat sangat, sehingga aku menyetir mobilku dengan tidak fokus. Aku sudah tidak sanggup lagi menyetir, akhirnya aku menghentikan mobilku, saat aku ingin mencari tempat untuk memarkirkan mobilku. Tiba-tiba mobil dari arah berlawanan menabrak mobilku hingga terpental sekitar Seratus meter.. Perutku terhenyak stir mobil.. darah dari daerah intim ku keluar sangat banyak, mataku mulai terpejam.. Aku tak.. sadarkan diri...
Aku duduk disebuah bangku taman yang indah, aku menggendong seorang bayi mungil, dengan pipi tembem dan kulitnya terlihat putih bersih. Bayi itu tersenyum padaku, seakan mengatakan bahwa dia bahagia berada disini.
Tiba-tiba kedua orang tua ku muncul, aku tersenyum bahagia. Aku bahagia bisa melihat kedua orang tua ku, setelah sekian lama nya, mereka meninggalkan ku. Ibuku meraih bayiku, menggendongnya, di timang-timang layaknya anaknya sendiri. Kemudian perlahan orang tuaku pergi membawa anakku..
Aku berteriak, memohon untuk mengembalikan anakku padaku, namun mereka semakin menjauh. Aku ingin menyusulnya, aku mulai berjalan ke arah orang tua ku membawa anakku. Saat kaki ku ingin melangkah, aku mendengar suara mas Faisal, orang yang aku cintai selama ini..
Mas Faisal mendekati ku, memelukku, seakan melepas rindu yang membelenggu selama ini. Aku merasakan masih ada cinta untukku dari mas Faisal, Dia mengajakku untuk ikut dengannya. Tapi aku menolaknya, aku ingin menyusul anakku.. Aku tetap melangkahkan kakiku untuk mencari anakku, Saat aku mendengar suara tangisan bayi... aku mencari sumber suara itu... Namun aku tak menemukan nya, yang aku temui malah mas Rio, aku melihat mas Rio dengan wajah yang menyedihkan, aku mendekatinya. Dia langsung memeluk ku...
__ADS_1
"Jangan tinggalkan aku sendiri,,, aku mohon kembali lah padaku..." Ucapnya sambil menangis sesenggukan.
"Aku membutuhkan mu.. kembalilah padaku..." Mas Rio terus memohon agar aku tak meninggalkan nya, tapi aku ingin anaku..
Aku bingung, harus bagaimana.. Aku tahu mas Rio masih sangat membutuhkan ku.. Cinta yang tulus yang diberikan mas Rio untukku, mampu membuat ku kembali....
Happy reading 😍😍😍😘😍
Terimakasih yang sudah hadir dinovel
suamiku tak pernah mencintaiku 😭😭
terimakasih juga sudah kasih vote nya pada ku..
jangan bosan-bosan ya..
tetep dukung author lewat..
like, rate, komen dan votenya...
Kalau banyak like..
__ADS_1
nanti malam up lagi...🤭🤭🤭🤭