Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Jawaban atas teka-teki itu


__ADS_3

Kepergian Hanum untuk selamanya, meninggalkan luka yang terdalam keluarga Alira. Wanita itu tak henti-hentinya menangisi jasad Hanum yang terbujur kaku di ambulans.


Terlebih lagi, ibu kandungnya Hanum. Dia sampai berulang-ulang kali pingsan, setelah mendengar berita itu.


Hanif sebagai orang yang terdekat dari Alira, ikut mengantar jasad Hanum ke rumahnya. Bahkan dia satu mobil dengan Alira. Hanif tak tega membiarkan Alira sendiri, di dalam ambulans itu.


"Kamu yang sabar, ya Ra. Aku tahu ini berat untukmu...." Di usapnya punggung wanita yang memakai setelan celana jeans dan kemeja berwarna pink.


"Hanum.... kenapa dia harus pergi?" Mata sayu wanita itu menatap lekat wajah Hanif. Mencari jawaban atas pertanyaannya.


"Takdir, Ra. Ini sudah menjadi takdir!!?!!" ucapnya dengan nada lirih. "Kamu harus kuat, kasihan ibu kamu!" lanjutnya menggenggam erat tangan Alira.


"Aku benci takdir!!!! Benci!!!!!!!!!" teriak wanita itu histeris, seakan memikul beban yang begitu berat. Hingga tak mampu lagi dia menahannya.


Suara sirene dari ambulans itu menambah perih hati Akira, dadanya terasa terhujam benda tajam kala suara itu memekakkan telinganya.


Mobil yang membawa jenazah Hanum tiba di kediaman keluarga Prayoga, bendera kuning sudah berkibar di sudut rumah itu. Para pelayat pun mulai berdatangan.


Mayat Hanum di keluarkan dari dalam mobil jenazah. Beberapa pelayat turut membantu. Ketika brankar itu di dorong menuju ke dalam, Bu Meli berteriak histeris. Bu Meli adalah ibu kandung Hanum.


Alira dengan lunglai berjalan mengikuti brankar itu, dia di papah oleh Hanif. Kerena Alira juga sempat pingsan, saat masih di dalam mobil.


"Hati-hati," ucap Hanif pada Alira.


Sementara Bu Meli sudah dulu di bawa ke ruang tengah. Jenazah Hanum, sudah di letakkan di atas meja panjang, dengan kain yang menutupi seluruh tubuhnya. Beberapa pelayat sibuk mempersiapkan untuk proses pemandian dan pengafanan jenazah. Ada juga pelayat yang sengaja ingin melihat Hanum untuk terakhir kalinya. Wajah pucat, dengan kapas di lubang hidungnya, mrnpertandakan tubuh itu sudah tak bernyawa.


"Hanum, mana anakku!!!" teriak Bu Meli yang baru saja sadar dari pingsannya. Seorang pembantu rumahtangganya memapah Bu Meli untuk melihat wajah putrinya untuk terakhir kalinya.


Air mata tak berhenti berlinang, melihat tubuh kaku Hanum. Bu Meli, tak tahan lagi. Dan memilih duduk di lantai yang sudah dialasi dengan karpet. Alira pun sama, wanita itu pun tak henti-hentinya menitikkan air matanya. Dia masih tidak menyangka, kalau adik iparnya akan pergi secepat ini.

__ADS_1


Prosesi pemandian, pengafanan pun sudah selesai. Dengan di bantu oleh beberapa pelayat yang ada di sana. Kini tinggal menguburkan jenazah nya. Saat ustadz yang bertugas mengurus jenazah Hanum ingin menguburkan Hanum, di cegah oleh Bu Meli. Dengan alasan masih ada satu anggota keluarganya yang belum melihat Hanum untuk terakhir kalinya.


"Maaf, Bu! Sampai kapan kita akan menunggu jenazah Hanum untuk di makamkan?" tanya Pak ustadz itu pada Alira dan Bu Meli. Karena sudah hampir satu jam mereka menunggu setelah mayat di mandikan.


"Tunggu sebentar lagi, Pak Ustadz. Saya mohon, tunggu sebentar lagi!" jawab Bu Meli memelas.


"Saran saya, jangan terlalu lama mayat di biarkan menunggu. Kasihan, Bu!" saran ustadz itu diikuti anggukan oleh Bu Meli.


"Ra, kamu udah hubungi suamimu?" Kemudian Bu Meli bertanya pada menantunya.


"Sudah Bu!" jawab Alira, dengan nada lemah.


Percakapan mereka tidak di dengar oleh Hanif. Karena pria itu memilih duduk di luar, setelah mengantar Alira ke dalam. Dia duduk bersama para pelayat lainnya.


Hingga sebuah mobil sedan berhenti di halaman rumah itu.


Tampak dari dalam mobil itu seorang pria yang duduk di jok belakang bersama seorang wanita. Kemudian mereka turun, dengan langkah terburu-buru, mereka masuk ke kediaman rumah pak Prayoga.


"Sudah, Mas! Sebaiknya kita cepat kuburkan jenazah Hanif," ucap wanita yang bersama pria itu. Dan pria itu pun mengangguk patuh, kemudian mereka sedikit menjauh dari jenazah Hanum.


Terlihat jelas di wajah Alira, wanita itu kembali terlihat saat melihat sepasang suami istri itu duduk di dekatnya. "Kenapa kamu gak kabari aku, saat Hanum Anfal?" tanya pria itu menatap sinis kearah Alira.


Alira hanya bisa menangis melihat pria itu menatapnya, beberapa kali dia mengusap air matanya dengan sapu tangan yang ia bawa. Seperti ada sesuatu diantara mereka.


Kini tibalah, prosesi pemakaman jenazah Hanum. Di TPU, di daerah itu jenazah Hanum dikebumikan.


Alira tak henti-hentinya melepas kepergian adik iparnya. Karena selama ini, Hanum yang memberikan dia semangat. Saat suaminya menikah lagi dengan sekertarisnya. Dan yang paling menyedihkan sudah hampir satu tahun ini, Alira tak pernah di beri nafkah batin oleh suaminya. Suaminya tidak pernah pulang ke rumah. Dan Hanumlah yang sering menghiburnya, kala harinya terpuruk oleh kelakuan suaminya.


Apalagi saat Alira mengidap penyakit kista, tak ada satupun yang tahu. Termasuk suaminya. Karena itu dia sering bolak balik ke rumah sakit Zahra Medica untuk proses penyembuhannya.

__ADS_1


"Kamu yang tenang, ya Dek! Kakak akan selalu mendoakan mu," ucapnya di atas pusaran Hanum.


Hanif yang melihat Alira begitu terluka berusaha mendekatinya. "Ra, kamu yang ikhlas ya. Inshaa Allah, surga menanti Hanum," ucapnya ikut berjongkok, mensejajarkan diri dengan Alira.


Prayoga yang melihat kedekatan istrinya dengan seorang laki-laki menatap tajam kearah mereka. Dengan wajah yang memerah, Prayoga menarik tubuh Alira hingga berdiri.


"Bagus ya, kelakuan kamu di depan aku!!!!" bentaknya dengan suara menggelegar, beruntung para petakziah sudah pergi dari tempat itu.


Hanif yang tidak rela Alira di perlakukan seperti itu, lantas menegur Prayoga. "Hey, jaga sikap kamu dengan dia!" Prayoga menatap sinis kearahnya.


Perlahan Hanif ingin memegang pundak Alira, namun dengan cepat tubuhnya di dorong oleh Prayoga. "Jangan sentuh istri saya."


Ucapan. Prayoga bak petir yang menyambar tubuh Hanif. Dia begitu terkejut mendengar itu, hatinya yang perlahan mulai mengering karena luka yang lalu. Kini harus terkoyak kembali. Lidahnya pun menjadi kelu. Tak mampu mengucapkan apapun untuk pembelaan.


"Istri?" ulangnya menatap nanar ke wajah Alira.


"Iya, dia istri saya!!!!!"


Seketika Hanif menunduk lemas, setelah Prayoga mempertegas ucapannya. Namun, tiba-tiba wajahnya menatap kearah wanita yang bersama Prayoga tadi. "Lalu siapa dia?" Kemudian dia bertanya tentang wanita yang ia tunjuk.


"Itu bukan urusan kamu!!! Dan kamu, ayo ikut aku pulang!!!!" ucap Prayoga pada Hanif, setelah itu beralih pada Alira.


Prayoga langsung menarik tangan Alira agar pergi dari tempat itu. Hanif berusaha mengejarnya, dengan wajah berlinang air mata, Alira hanya bisa pasrah mengikuti kemana suaminya mengajak dia pergi.


"Ra, tolong jelaskan padaku. Siapa wanita yang bersama suamimu? Ra?" Hanif berusaha mengejarnya, Namun Alira hanya bisa diam dengan wajah yang melihat kearahnya. "Ra....berhenti Ra!!!!" teriaknya, kemudian Hanif menghentikan langkahnya.


Sementara Alira sudah masuk kedalam mobil suaminya, mereka bertiga meninggalkan tempat pemakaman itu. Dan Hanif yang masih mematung dengan wajah sendu.


"Apa yang terjadi dengan rumah tanggamu, Ra?" Pertanyaan itu terlintas di benak Hanif. "Apa kamu tidak bahagia?"

__ADS_1


Tak lama setelah itu, Bu Meli berjalan kearahnya. Dengan mimik wajah kecewa, dia berkata. "Alira di madu oleh Prayoga, karena dia tidak bisa memberikan keturunan untuk suaminya." Seketika wajah Hanif menoleh kearah Bu Meli.


To be continued


__ADS_2