
Sisi terharu mendengar Hanif melamarnya. Apalagi caranya melamar sangat romantis. Dia tidak menyangka, kaldu Hanif akan melamarnya secepat ini. Pria yang bergelar dokter itu tak pernah sekalipun menyatakan perasaannya pada Sisi. Ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Fellysia Basri, apakah kamu mau menikah dengan ku? Menjadi ibu dari anak-anakku?" Hanif pun mengulang menyatakan niatnya melamar gadis yang sekarang ada di depannya. Namun Sisi masih diam tercengang. Pandangannya masih berpusat cincin yang ditangan Hanif.
"Si, jawab dong permintaan ku. Kok jadi bengong gini sih!" Tak kunjung mendapat jawaban dari Sisi, Hanif melambaikan tangannya di depan mata Sisi. Sisi pun tersadar dari lamunannya.
"Gimana, diterima gak ini lamaranku?" Sisi pun tersipu malu.
"Aku... Aku bersedia." Jawaban Sisi membuat pria berkacamata itu tersenyum bahagia.
"Yees akhirnya aku gak jomblo lagi," ucapnya seraya menggenggam tangan Sisi.
"Aku janji setelah ini, aku akan mendatangi kedua orangtuamu. Untuk meminta langsung kami dari mereka." Hanif langsung menyematkan cincin permata itu di jari manis Sisi, setelah itu dikecupnya tangan Sisi. Membuat hati wanita dihadapannya itu berbunga-bunga hatinya.
"Makasih ya, kamu udah mau menerima lamaran ku." Sisi pun mengangguk pelan.
Acara lamaran dadakan itu berjalan dengan lancar. Sesuai harapan Hanif, dia begitu bahagia. Karena berhasil membuat kejutan indah untuk gadis yang ia cinta.
Setelah makan malam, Hanif mengantar Sisi pulang. Tapi Sisi menolak nya. Dia ingin pergi ke pasar malam yang digelar ditanam yang tak jemu dari mereka makan. Hanif pun menyetujui permintaan Sisi. Hitung-hitung melepas penatnya setelah seharian berkutik dengan jarum suntik.
Mereka menikmati suasana pasar malam itu. Arena permainan pun mereka mainkan. Seperti pancing boneka, yang saat ini sedang mereka mainkan.
"Yakin bisa?" Tanya Sisi meremehkan Hanif.
"Apa sih yang gak bisa, dari Hanif. Mendapatkan hatimu aja aku bisa. Apalagi cuma yang beginian, kecil!" Hanif mengarahkan pancing nya ke beberapa boneka, setelah tepat. Ia letakkan kailnya ke arah boneka itu, kemudian dia mengangkatnya. Tapi karena terlalu bersemangat, bonekanya jatuh kembali ketempatnya.
"Arggg, sial.. kenapa lepas sih!" Umpatnya meletakkan pancingnya ke meja. Sisi pun tergelak, melihat Hanif yang sedang kesal.
"Katanya bisa, kok gak berhasil." Sisi semakin menggoda Hanif, membuat pria itu semakin kesal.
"Kita main yang lainnya aja ya." Merasa gagal di permainan itu. Hanif mencoba membujuk Sisi untuk bermain arena permainan lainnya. Tapi Sisi tidak mau. Dia ingin menguji pria yang bersamanya ini. Sampai mana usahanya mendapatkan boneka itu.
"Aku gak mau. Aku maunya boneka itu. Kamu harus bisa mendapatkannya. Kaldu nggak, aku bakalan ngambek, dan gak mau ngomong lagi sama kamu." Hanif yang mendengar kekasihnya itu merajuk. Langsung mengambil lagi kail pancing, yang ia letakkan di meja tadi.
__ADS_1
"Ya iya, akan aku coba lagi. Dasar cewek, keras kepala banget sih." Sisi yang mendengar Hanif mengatainya, langsung melototi Hanif.
"Iya sayang jangan sangat gitu deh. Ilang Lo cantiknya." Hanif pun langsung mencobanya lagi. Meletakkan kailnya ke boneka yang diinginkan Sisi. Setelah itu perlahan ia angkat..dan berhasil. Meskipun, awalnya Hanif sangat kesulitan mengambil boneka itu.
Boneka beruang yang membawa gambar hati itu kemudian diberikannya kepada Sisi. Sisi pun senang akhirnya Hanif berhasil mendapatkan boneka itu.
Puas bermain boneka. Mereka pun pergi ke wahana roller coaster. Hanif lebih suka wahana itu, karena menurutnya lebih menantang. Tapi Sisi, tiba-tiba wajahnya menjadi pucat.
"Kamu kenapa sayang, kok wajah kamu jadi pucat begini." Keringatnya Susi pun langsung bermunculan. Membuat Hanif menjadi panik.
"Sayang, kamu gak apa kan?" Sisi langsung menunduk, sembari memegangi perutnya.
"Aku gak bisa liat yang beginian." Hanif langsung mendekati Sisi dan memapahnya untuk menjauh dari area itu.
Mereka berdua langsung pulang. Karena melihat keadaan Sisi. Hanif menjadi tidak tega. Wajahnya masih terlihat pucat, meskipun sudah lebih berkurang. Tidak sampai setengah jam mereka sampai di rumah Sisi. Hanif mau mengantarnya sampai kedalam, tapi ditolak dengan kekasihnya itu. Karena hari sudah makin larut.
"Makasih ya, untuk malam ini." Hanif tersenyum dan mengangguk.
"Salam untuk Ayah dan Bunda ya, inshaa Allah dalam waktu dekat ini aku bawa bunda kesini."
Faisal dan Yulia sudah menunggu putrinya di ruang tamu. Terlihat raut wajah kecewa dari keduanya. Sisi tidak memberitahu, kalau dia pergi bersama Hanif. Sudah beberapa kali, ayahnya menelpon Sisi. Tapi handphone nya tidak aktif.
"Darimana kamu Nak, kok baru pulang jam segini?" Belum juga mengucapkan salam, Bundanya sudah lebih dulu mengintrogasi putrinya.
"Assalamualaikum Bunda." Tidak ingin membuat suasana menegang, Sisi pun mengucap salam terlebih dahulu pada ayah bundanya.
"Waalaikumussalam," jawab mereka kompak. Sisi langsung menghampiri mereka berdua dan memeluknya.
"Hmmm, gak usah coba-coba menyuap kami. Dengan peluk-peluk begini. Ayo katakan, darimana saja kamu!" Bundanya semakin geram melihat tingkah anaknya itu. Bukannya cepat menjawab pertanyaan, malah meluk-meluk seakan tanpa dosa.
"Bunda, coba lihat ini." Sisi menunjukan cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Hmmm, sayang kamu dilamar. Siapa yang melamar anak gadis Bunda ini"? Faisal dan Yulia tidak jadi memarahi Sisi, setelah melihat cincin yang melingkar di jari manis anaknya.
__ADS_1
"Hanif, yang melamar Sisi Bun." Faisal tercengang mendengar perkataan putrinya.
"Dokter Hanif, senior kamu?" ulang Faisal tak percaya.
"Iya yah, dalam waktu dekat ini. Dia akan kesini bersama Bundanya untuk melamar Sisi secara resmi," jawab Sisi dengan antusias.
"Selamat ya sayang. Akhirnya anak gadis Bunda ada yang mau juga." Sisi langsung mendelik mendengar ucapan Bundanya.
"Gurau sayang, gitu aja marah."
Fatan yang mendengar berita gembira itu, ikut gabung bersama orangtua dan kakaknya.
"Ciee, yang udah dilamar. Kayaknya tuh cowok ada kesalahan dari penglihatannya deh. Kok mau sih sama Kakak," goda Fatan mendapat serangan dari Sisi.
"Adek!!??!"
Ditempat lain, Bilqis yang terbaring lemah di bangkar rumah sakit, sedang mengamati bunga pemberian Hanif pagi tadi. Sesekali dia tersenyum membayangkan pria yang menjadi dokternya. Dino yang menyadari anaknya sedang senyam-senyum, akhirnya menghampiri.
"Sepertinya ada yang sedang jatuh cinta nih!" Dino menggoda anak gadisnya, Bilqis pun tersipu malu.
"Dokter Hanif itu, ganteng ya Yah." Bilqis memuji Hanif didepan Ayahnya.
"Hmmm bunga itu dari Hanif?" Tanya Dino, mendapat anggukan dari Bilqis.
"Apa kamu suka dengan Dokter Hanif, Sayang?" Lanjut Dino ingin tahu perasaan anaknya pada Hanif.
"Siapa sih Yah, yang gak suka dengan Dokter Hanif," jawab Sisi.
"Termasuk kamu, sayang?" Bilqis pun mengangguk serta tersipu malu. Dino pun senang mendengarnya. Kalau putrinya sedang jatuh cinta. Dia berharap, Hanif pun memiliki perasaan yang sama dengan putrinya.
To be continued...
Konflik akan segera dimulai...
__ADS_1
Siapkan hati ya...