
"Punya siapa Bun?" tanya Hanif penasaran. Pria itu menatap serius kearah bundanya yang masih mematung seraya menarik keningnya. "Bun!" panggil Hanif karena bundanya tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Apa mungkin punya Nenek kamu sayang, ntar deh Bunda coba cek barang-barang Nenek yang ada di kamarnya," jawab Bu Tari dan Hanif pun hanya menggeleng. "Ya sudah, kamu istirahat dulu sana!" lanjutnya memerintah putranya untuk pergi ke kamar.
Sesuai perintah bundanya Hanif memilih untuk pergi ke kamar. Mungkin dengan mengistirahatkan sejenak tubuhnya, pikirannya pun bisa berfikir dengan normal. Dan dia bisa mencari keberadaan Sisi. Dengan langkah lunglai, Hanif pun sampai di kamarnya. Pria itu berjalan kearah meja di samping ranjangnya dan meletakkan ponselnya di sana. Setelah itu dia beranjak menuju ke kamar diri. Namun sebelum masuk ke kamar mandi, Hanif mengambil handuknya terlebih dahulu. Saat sudah mendapatkan handuknya, Hanif lalu masuk ke kamar mandi. Baru saja setengah tubuhnya masuk kedalam, suara dering dari ponselnya mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam. Hanif memilih bergegas menjawab telpon masuk dari ponselnya. Dan harapannya hanya satu, nomor yang menghubunginya itu adalah dari Bilqis. Namun, harapannya segera pupus saat dia melihat dari layar ponselnya, nama Veronika di sana.
"Assalamualaikum, Ver!" jawab Hanif dengan malas.
Mereka berbincang-bincang sesaat, setelah itu dengan terpaksa Hanif menutup panggilan dari Veronika dengan alasan dia mau mandi terlebih dulu. Veronica memberi tahu Hanif, kalau besok Hanif harus mengantar dia ke butik langganannya untuk mengambil kebaya yang akan dia pake di acara akad nikah yang akan di gelar tidak lama lagi. Setelah meletakkan kembali ponselnya di atas meja, Hanif kembali pergi ke kamar mandi.
Di tempat lain.
Bu Tari masih mengamati foto almarhum ayahnya yang ditemukan oleh Hanif, tadi. Sembari menyenderkan punggungnya di headboard, Bu Tari memperhatikan foto itu. Hatinya terasa sakit jika mengingat sosok yang berada di foto itu. Sakit bukan karena dia membenci sosok itu. Tapi, dia sedih karena tidak ada di samping Ayahnya, saat Ayahnya menghembuskan nafas terakhirnya. Tanpa terasa cairan bening lolos dari pelupuk mata Bu Tari. Sesegera mungkin dia hapus air mata yang mulai membasahi wajahnya.
Penyesalan, selalu menyerang batin wanita paruh baya itu. Betapa tidak, andai waktu itu dia tidak seegois itu meninggalkan kedua orangtuanya dan memilih pindah ke Jogja, mungkin dia masih bisa mendapat maaf sebelum Ayahnya menutup mata. Dan itu yang sangat di sesali oleh Bu Tari hingga saat ini.
__ADS_1
Memandang foto itu, Bu Tari jadi ingat dengan almarhum Ibunya. Mungkin foto yang sedang dia pegang adalah foto dari almarhum Ibunya. Akhirnya, Bu Tari memilih beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar almarhum nek Puspita.
Sesampainya di sana, air matanya kembali jatuh. Saat mengenang saat-saat terakhir dirinya bersama dengan almarhumah ibunya. Dia terus berjalan hingga sampai di ranjang kamar itu. Tatapan matanya beralih ke sebuah foto yang terletak di atas meja, samping ranjang. Foto dirinya bersama dengan nek Puspita. Puas memandang foto itu, kini tatapannya beralih ke sebuah kotak berukuran sedang yang terpampang di dekat bingkai foto itu. Bu Tari mengambil kotak yang berbahan kayu itu, dan perlahan membukanya. Setelah terbuka sempurna, Bu Tari mengambil satu persatu barang-barang yang ada di dalam kotak itu. Seperti kalung berlian peninggalan Ayahnya untuk Nek Puspita. Dan beberapa lembar foto.
Bu Tari mengambil beberapa lembar foto itu, dan membukanya satu persatu. Foto-foto itu berisi tentang dirinya dan kedua orangtuanya. Hingga foto terakhir yang membuat dia membelalakkan matanya. Sedikit terkejut dengan foto itu. Bu Tari mengambil foto itu dan meletakkan kembali foto-foto lainnya kedalam kotak itu lagi. Setelah itu ditatapnya lekat-lekat foto itu, dia mulai bertanya-tanya dan menerka-nerka tentang foto itu. Ada hubungan apa Bu Sarah dengan Almarhum Ibunya. Kenapa nek Puspita menyimpan foto Bu Sarah di kotak itu. Bu Tari mencari petunjuk yang bisa menjawab pertanyaannya dari foto itu, hingga dia membalikkan foto itu dan terdapat sebuah tulisan tangan di sana.
Di baca tulisan itu oleh Bu Tari. Betapa terkejutnya dirinya saat mengetahui kebenaran itu. Bu Tari tahu kalau Bu Sarah, orang yang akan menjadi besannya adalah ibu tirinya. Istri kedua dari ayahnya. Dia tidak menyangka, takdir begitu mempermainkan kehidupan dirinya dan putranya atau memang itu sebuah pertanda, kalau Hanif berjodoh dengan Sisi.
Sesegera mungkin dia ambil foto itu, dan bergegas kembali ke kamarnya. Dadanya terasa sesak saat ini setelah mengetahui kebenaran itu. Tapi, dia masih belum percaya seratus persen dengan apa yang dia lihat. Dan besok Bu Tari akan menanyakan langsung pada Veronika dan ibunya. Apa benar Bu Sarah adalah istri kedua dari Ayahnya.
Hanif yang baru selesai mandinya, dia segera mengambil ponselnya untuk mengecek pesan dari sana. Tapi ternyata belum ada balasan dari Bilqis, membuat pria itu mengelap mukanya kasar. "Shift...kenapa belum di balas, sih!" umpatnya melempar ponselnya di ranjang. Setelah itu dia memilih untuk memakai pakaiannya.
Setelah berpakaian lengkap, Hanif bergegas turun kebawah, tak lupa dia mengambil tas kerjanya yang tergantung, di etalase khusus untuk menyimpan tasnya. Pria itu segera melangkah keluar kamarnya. Baru saja, dia keluar. Ponselnya berdering dan notifikasi pesan datang dari Bilqis. Sama dengan Faisal dan Fatan, wanita itu juga tidak memberitahu keberadaan Sisi pada Hanif. Kesal dengan Bilqis, Hanif langsung menelponnya.
"Bilqis, saya mohon beritahu saya dimana Sisi sekarang?"
__ADS_1
"Maaf dokter Hanif, saya tidak tahu dimana keberadaan Kak Sisi saat ini," kilah Bilqis dari seberang.
"Kamu jangan bohong, gak mungkin kamu gak tau dimana Sisi saat ini," ujar Hanif tidak percaya. "Ok, kalau kamu nggak mau memberitahu saya dimana Sisi, beritahu saya nomor dia!"
"Maaf, Dok. Saya tidak bisa!!!" Bilqis menutup panggilannya.
"Brengsek!!? Kenapa semuanya tidak Ndu memberitahu dimana Sisi saat ini!!!" umpatnya emosi.
Hanif melanjutkan langkahnya menuju ke ruang makan. Setibanya di sana, betapa terkejutnya Hanif saat tidak melihat bundanya ada di sana. Dan meja makan pun masih kosong, tidak ada makanan yang tersaji di sana.
"Bunda, apa Bunda sakit!" terka Hanif bergegas menuju ke kamar bundanya.
Saat sudah ada di depan kamar Bundanya, Hanif langsung mengetuk pintu kamar itu, namun tidak ada sahutan dari dalam. Hanif memilih untuk membukanya langsung, setelah pintu terbuka Hanif langsung masuk kedalam. Tapi kamar itu kosong, tak berpenghuni.
To be continued
__ADS_1