
Setelah sampai di rumah Hanif membantu neneknya untuk turun dari mobil. Setelah itu membawa masuk neneknya. Tapi saat pria itu akan membawanya masuk ke kamar, Nek Puspita menolaknya. Dan memilih menunggu di ruang tamu. Akhirnya, pria itu menuruti kemauan neneknya.
Hanif pergi ke kamar bundanya sendirian. Kebetulan bundanya baru selesai sholat ashar. Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Hanif masuk kedalam.
"Udah pulang, sayang?" Wanita yang masih memakai mukena itu, melepaskan mukena lalu menggantungnya di lemari pakaian yang terbuka. Selesai itu, Hanif langsung memeluk Bundanya.
"Ada apa ini. Tumben peluk-peluk begini. Pasti ada maunya?" kita bundanya mengusap-usap punggung Hanif.
"Bun, Hanif punya kejutan untuk Bunda!" seru Hanif tersenyum bahagia.
"Apa, itu sayang. Kamu udah ketemu Dokter Faisal dan sudah direstui. Begitu!" terka bundanya Hanif melepaskan pelukannya dan menggeleng. Wanita yang sudah berumur itu, tapi masih terlihat lebih cantik tampak sedang berfikir. Setelah itu dia menggeleng. Tanda tidak bisa menebak apa yang disampaikan putranya.
"Bun! kalau Bunda bertemu dengan Nenek, apa yang akan Bunda lakukan?" Keceriaan yang terpancar dari wanita itu serikat berubah menjadi tatapan sendu, kala anaknya menyebut sosok yang ia rindukan.
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Kamu tahu kan, sayang. Nenek mu tidak pernah mau bertemu dengan Bunda. Jadi untuk apa kamu bertanya seperti itu," ucap Bu Tari dengan suara berat menahan tangisnya.
"Bun, bukankah Bunda selalu berkata pada Hanif. Bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, jika Allah sudah berkehendak. Tapi kenapa Bunda bicara seperti itu. Berarti Bunda meragukan kemampuan Allah." Ucapan Hanif seketika membuat wanita itu mengeluarkan air mata yang sedari tadi ia tahan. Dia tidak bisa membayangkan betapa bahagianya jika keinginannya bisa terkabul.
"Bun, kita umatnya hanya bisa berusaha dan berdoa. Dan bunda tahu kan, Allah tidak akan menyia-nyiakan umatnya yang giat berusaha dan berdoa. Bunda selama ini belum pernah mencoba untuk menemui orang tua Bunda. Darimana Bunda tahu, kalau mereka masih membenci Bunda.
Semua orang bisa berubah, Bun. Termasuk Nenek dan Kakek. Jangan biarkan ketakutan dari dalam hati bunda akan menjadi penyesalan nantinya." Hanif memegang pundak bundanya.
__ADS_1
"Bun, Nenek Hanif namanya Nek Puspita, kan?" Bu Tari langsung menengok wajah anaknya kala Hanif menyebutkan nama neneknya.
"Darimana kamu tahu?" Hanif tersenyum melihat reaksi Bundanya.
"Karena Hanif sudah bertemu dengan beliau. Dan sekarang beliau ada di depan." Bu Tari melongo, mendengar apa yang dikatakan putranya. Kemudian menatap wajah putranya dengan tatapan tidak percaya. Kemudian Hanif menuntun bundanya menuju ke ruang tamu.
Sesampainya di ruang tamu. Bu tari terperangah melihat sosok yang sedang duduk di sofa sembari sesekali memainkan kedua telunjuknya di atas paha. Cukup lama dia memandang sosok itu. Sosok yang sangat ia rindukan. Sosok yang selama tiga puluh tahun ini terpisah darinya. Perlahan dia mendekat kearah wanita itu. Kemudian dia mulai membuka suara.
"Ibu!" Nek Puspita mencari sumber suara itu. Setelah ketemu. Bibirnya seakan bergetar ingin mengucapkan sesuatu tapi tertahan oleh kerinduan yang mendalam pada putrinya. Bu Tari langsung merengkuh tubuh ibunya. Ibu yang selama ini di rindukan.
"Bu, maafkan Tari. Tari tidak pernah menengok ibu." Kedua wanita itu menangis haru. Seolah tak percaya takdir mempertemukan mereka lagi. Hanif yang melihat pertemuan ibu dan anak itu ikut menangis haru.
Betapa leganya mereka berdua. Setelah menahan rindu yang membuncah. Menahan ego masing-masing. Kini Tuhan mempertemukan mereka dari orang yang dekat dengan mereka. Sungguh Allah mengatur pertemuan itu dengan indah.
Jujur aku sampai nangis nulis di bagian part ini. Aku tahu betul perasaan yang dialami oleh Bu Tari. Karena aku merasakan apa yang dirasakan beliau. Selama hampir dua puluh tahun, aku terpisah dari ibu kandungku. Tahu kabarnya ada di Batam. Tapi, apakah daya keadaan kami yang tidak memungkinkan untuk mencarinya disana. Terhalang oleh biaya. Minta doanya ya buat para reader disini. Semoga author bisa di pertemukan lagi dengan ibu author. Terimakasih. Maaf aku curhat disini. 🙏🙏🙏🙏
Lanjut ya...
Sisi yang mendengar kabar itu langsung menuju ke rumah sakit. Tak lupa dia menghubungi kekasihnya untuk ikut membantu masalah ini. Saat dia sudah sampai di rumah sakit. Banyak awak media yang berdiri di lobi rumah sakit. Sisi jadi takut untuk masuk kedalam. Akhirnya dia menunggu Hanif, agar bisa masuk bersama kekasihnya itu.
Tiga puluh menit kemudian, mobil Hanif sampai di parkiran rumah sakit. Hanif langsung turun, dan menemui kekasihnya yang masih ada di mobil. Setelah menemukan mobil Sisi. Pria itu mengetuk kaca jendela mobil itu. Sesaat kemudian, wanita yang berada di dalam turun dari mobilnya.
__ADS_1
Mereka berdua mencoba menerobos rombongan awak media yang meminta klarifikasi masalah yang terjadi di rumah sakit ini. Namun kedatangan mereka di sadari oleh para wartawan itu. Mereka langsung menyodorkan kameranya kearah sepasang kekasih itu.
"Bisa dijelaskan seperti apa kronologi nya?"
"Apa tanggapan anda mengenai kasus ini?"
Beberapa pertanyaan dari wartawan itu dilempar pada mereka berdua. Sisi yang sedikit panik dan takut. Mencoba meminta bantuan kekasihnya.
"Nanti akan kami jawab semua melalui konferensi pers. Jadi hargai privasi kami. Selamat sore!" Mereka berdua meninggal para wartawan itu. Dan langsung menuju keruangan Dino. Setelah sampai di ruangan itu, mereka langsung masuk kedalam. Beberapa orang sudah menunggu kedatangan mereka berdua.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Dok?" tanya Hanif pada pria yang duduk di sebelahnya.
Dino kemudian menceritakan kejadian itu secara detail pada Hanif. Di tambah lagi cerita dari dokter Monica. Semua yang berada di ruangan itu mencoba mencari jalan keluar masalahnya. Beberapa argumen pun di lontarkan oleh mereka yang ada disana. Akhirnya kesepakatan menemui titik terang. Mereka akan mencari bukti keganjalan kasus ini. Sembari menunggu kepulangan Faisal dari Singapura.
Satu persatu peserta rapat membubarkan diri. Disitu hanya tinggal Dino, Sisi, Hanif dan dokter Monica. Yang menjadi pokok disini adalah dokter kandungan itu. Jadi, Hanif sengaja menahan dokter itu untuk meninggalkan tempat itu. Dia masih ingin mengorek informasi berkaitan kasus itu.
"Kantong darah yang kami pasangkan ke jarum infus wanita itu jelas-jelas AB+. Karena saya juga memeriksanya lagi. Tapi kenapa, tubuh wanita itu tidak bisa menerimanya." Hanif menjadi teringat kejadian penyekapan Sisi.
"Saya menaruh curiga dengan seseorang, Dok. Tapi saya tidak akan memberi tahu dulu orangnya. Sebelum kasus ini diselidiki. Dan saya sendiri yang akan menyelidiki kasus ini," ucap Hanif di sela-sela obrolan mereka berempat.
"Kamu sudah kabarkan ini pada Ayahmu, Sayang? tanya Dino pada Sisi.
__ADS_1
"Sudah, Om. Ayah akan pulang malam ini."