
Sisi berjalan dengan anggun ke arah, Faisal, Hanif, Bu Tari, dan Nek Puspita. Mereka sungguh tertegun melihat perubahan penampilan wanita berhijab abu-abu itu. Apalagi pria yang memakai kacamatanya itu, dia sangat terpesona melihat kecantikan wanita itu. Tak kalah terpesonanya, ayahnya yang selama ini membesarkannya. Dia sangat terharu melihat penampilan dia yang sekarang. Dia lebih cantik dengan hijabnya. Faisal pun berharap, Sisi bisa Istiqomah dengan keputusannya.
Sisi kemudian menyapa satu persatu orang yang berada di ruang tamu itu. Dia mendaratkan tubuhnya di sofa, samping Nek Puspita.
"Mashaa Allah sayang, kamu cantik banget malam ini," puji nek Puspita, diikuti anggukan oleh Bu Tari yang masih terperangah melihat calon menantunya itu.
"Terimakasih, Nek!" balas Sisi tersenyum manis di depan, nenek dan calon ibu mertuanya itu.
"Terimakasih ya, sayang. Kamu mau mendengarkan permintaan Ayah," sambung Faisal. Sisi yang melihat ayahnya sangat bahagia, dia menjadi terharu. Kenapa dia baru hari ini terbuka pintu hatinya, untuk menutup auratnya. Padahal, kedua orangtuanya sudah sering mengingatkan dia.
"Sisi, yang harusnya berterimakasih pada Ayah. Maaf ya, Yah! Sisi baru sekarang mendengarkan kata-kata Ayah," balas Sisi.
"Iya, sayang. Semua itu memang harus melewati proses. Dan Ayah harap, kamu Istiqomah dengan keputusanmu."
Mereka semua meng-aamiin-kan doa Faisal. Puas memandang wajah calon istrinya, Hanif beralih memandang kearah Faisal. Pria itu sepertinya sudah tak sabar ingin mengutarakan niatnya yang datang ke rumah itu. Dengan sedikit gugup, pria itu mulai membuka suara.
"Maaf sebelumnya, Dok. Maksud dan tujuan saya datang kemari memang ada yang ingin saya bicarakan dengan anda." Hanif menjeda kalimatnya, mencari kata-kata yang tepat untuk meminta wanita pujaannya dari ayahnya.
"Saya ingin meminang putri Dokter Faisal, Sisi. Saya ingin mengukuhkan kedekatan kami, menjadi ikatan suci pernikahan. Saya sangat mencintai putri dokter. Karena itu, saya berharap dokter Faisal, menerima lamaran saya." Seperti itulah kira-kira kata yang sudah di rancang Hanif selama ini untuk melamar wanita pujaannya itu.
Mendengar semua kalimat yang terucap dari bibir pria itu, membuat Faisal membalas ucapan calon menantunya.
"Saya selaku orang tua Sisi menerima niat baik kamu yang ingin mengikrarkan hubungan kamu dengan anak saya. Tapi maaf sebelumnya.." Faisal memotong kalimatnya dan melihat kearah putrinya. Hanif yang mendengarnya pun ikut gusar, dia takut kalau Faisal akan menolak lamarannya.
"Saya tidak bisa memberi keputusan di terima atau tidaknya lamaran kamu. Karena sepenuhnya keputusan itu saya serahkan pada putri saya, Sisi." Dan semua mata memandang kearah gadis anggun yang sedang duduk itu. Dia sembunyikan wajahnya, tak berani menatap siapapun yang ada di sana. Karena dia sedang menyembunyikan kegugupannya.
"Sisi, apakah kamu mau menerima lamaran Hanif?" Pertanyaan Faisal membuat wanita itu sekilas memandang wajah ayahnya. Faisal yang menyadari itu, hanya mengangguk pelan, pertanda Faisal menyerahkan semua keputusannya ditangan putrinya.
__ADS_1
Kini tatapan Sisi beralih kearah pria yang memakai baju batik, di seberang dia duduk sekarang. Dia melihat kesungguhan pria itu yang menarik dirinya untuk berucap.
"Bismillahirrahmanirrahim, Sisi terima lamaran Hanif."
"Alhamdulillah," sahut semua orang yang mendengar kata-kata Sisi.
Hanif membuka kotak cincin yang ada di tangannya. Tidak menunggu di perintah Sisi pun mendekat kearah Hanif sehingga mereka saling berhadapan. Cincin yang sengaja di lepas oleh Sisi, dan di berikannya lagi pada Hanif. Kini mulai disematkan lagi, di jari manis wanita itu. Dengan disaksikan oleh Faisal, sebagai ayah Sisi. Nek Puspita dan Bu Tadi sebagai orang tua Hanif. Kini mereka resmi menjadi calon suami istri.
Setelah terpasang lagi cincin itu di jari manisnya. Sisi kembali ketempat duduknya. Kini mereka bisa tersenyum lega karena acaranya berjalan dengan lancar. Dan sekarang waktunya mereka, menikmati suguhan yang di sediakan di atas meja.
Sembari berbincang. Masih ada yang mengganjal pikiran pria bertubuh atletis itu. Masih ada yang ingin dia sampaikan pada Faisal. Dengan memupuk keberaniannya, akhirnya dia berbicara.
"Maaf, Dok. Saya ingin pernikahan saya dan Sisi di percepat. Karena saya tidak ingin, menunda-nundanya lagi. Kira-kira kapan waktu yang tepatnya, menurut dokter Faisal?" Faisal bisa mengerti kegusaran hati pria itu. Dia justru merasa senang. Menurutnya, lebih cepat akan lebih baik.
"Kalau soal itu, nanti akan saya rembukan lagi dengan keluarga besar saya. Sisi kan masih memiliki kakek dan nenek lengkap. Tapi saya janji, nggak akan lama kok. Inshaa Allah gak nyampai bulan depan." Jawaban Faisal membuat hati sedikit lega. Itu artinya tidak ada satu bulan lagi, Sisi akan menjadi istrinya.
Semua berjalan dengan lancar. Sekarang waktunya Hanif sekeluarga pamit. Dengan diantar oleh Faisal dan Sisi mereka berjalan keluar. Faisal berhenti di depan pintu, tidak ikut mengantar sampai ke mobil. Bu tari dan nek Puspita, masuk duluan kemobil, saat mereka sudah sampai di halaman rumah. Tinggallah mereka berdua, Hanif dan Sisi.
Sebelum masuk ke mobilnya, Hanif menghentikan langkahnya, diikuti oleh Sisi. Sekali lagi, Hanif benar-benar di kejutkan dengan penampilan wanita itu. Dia di buat terperangah dengan tampilan Sisi, malam ini.
"Kamu cantik, malam ini!" Satu kalimat memuji wanita pujaannya keluar dari bibir Hanif. Membuat yang di puji, tersipu malu dengan itu.
"Aku pulang dulu, ya! Sampai ketemu di alam mimpi," cetuk Hanif, membuat wanita itu tergelak.
"Hati-hati,ya!" Hanya itu yang mampu keluar dari bibir milik Sisi. Membuat pria itu melayang bahagia seperti orang yang sedang kasmaran.
Setelah kepergian Hanif, Sisi masuk kedalam dan langsung menuju ke kamarnya. Sungguh dia tidak menyangka, kalau di lamar orang yang dicintainya akan membuat jantungnya berdegup kencang. Rasa bahagia, haru bercampur aduk menjadi satu di dalam hatinya.
__ADS_1
Sebuah lamaran sederhana yang hanya dilakukan dengan pertemuan kedua orangtua dari kedua belah pihak. Tak mengurangi moment bahagia itu.
Sisi mengganti pakaiannya dengan baju tidur lengan panjang dan hijab instannya. Di raihnya ponsel yang sedari tadi tidak ia sentuh selama acara lamaran itu berlangsung. Bahkan dia tidak mengabadikan momen tukar cincin tadi. Beruntung Bu Tari mengabadikan momen indah itu. Terbukti dari, sebuah pesan di ponsel Sisi dari Bu Tari yang berisi foto itu.
Dengan cepat Sisi mengunggahnya di status WhatsApp nya dengan coption
'Bismillahirrahmannurrahim, semoga engkau menjadi imam yang terbaik untukku'.
Setelah mengunggah foto itu, dia membaringkan tubuhnya di ranjang. Tak lama setelah itu beberapa pesan masuk dari ponselnya. Isi pesan itu dari teman-temannya yang mengomentari postingan yang baru saja ia unggah.
Ada yang mengucapkan selamat dan mendoakan kelancarannya sampai hari akad. Ada juga yang kesel karena tidak di undang dia cara pertunangannya. Satu pesan yang menarik perhatiannya yaitu dari Iqbal. Dengan cepat dia membukanya.
'cie...yang udah dilamar..' isi pesan Iqbal.
Sisi pun membalasnya. 'iya dong.. emang kamu yang nggak gercep. Kapan kamu mau nyusul kami'
Tak berapa lama di balas lagi oleh Iqbal.
'secepatnya, doakan saja ya!'
'pasti, dong!'
Usai membalas chatan Iqbal. Sisi meletakkan kembali ponselnya di nakas, belum beralih tangan Sisi dari sana. Ponsel itu kembali berdering. Sisi mengambil lagi, ponsel itu dan melihat siapa yang menelponnya. Setelah tahu, yang menelpon Hanif. Sisi langsung menggeser tanda telpon berwarna hijau dari ponselnya.
"Iya sayang!"
"Kamu lagi ngapain?"
__ADS_1
"Chattingan dengan Iqbal.." tak berapa lama Hanif menutup telponnya lagi.