Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Olahraga pagi


__ADS_3

Menjelang subuh, seorang wanita terjaga dari tidurnya. Saat dia akan beranjak dari tempat dia berbaring, kakinya tertahan dengan kaki suaminya yang menumpang di atas kakinya. Sehingga dia harus pelan-pelan menarik kakinya agar suaminya tidak ikut terjaga. Baru saja dia akan menarik kakinya, pergerakan suaminya lebih dulu mengusiknya. Sepertinya suaminya pun sudah sadar dari alam mimpinya.


"Sayang, jam berapa ini?" tanya Faisal sembari mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Baru jam tiga, Mas!" jawab Yulia singkat.


"Hmmm, kita sholat tahajud dulu, yuk!" ajak Faisal beranjak dari tempat tidurnya diikut Yulia.


Mereka melaksanakan sholat sunah dua rakaat itu secara khusyuk. Usai sholat mereka berzikir bersama, dan berdoa bersama. Faisal sangat bersyukur atas kenikmatan hidup yang ia nikmati saat ini. Istri shalihah selalu mendampinginya, dalam keadaan suka maupun duka. Anak-anak shaleh dan salehah. Rezeki yang berlimpah. Sungguh Allah memberikan kesempurnaan dalam hidup Faisal. Karena itu sesibuk apapun dia, seleksi meluangkan waktu untuk bersyukur kepada Tuhannya. Dalam bentuk beribadah dengan baik.


Usai sholat Faisal dan Yulia kembali ke ranjangnya. Sembari menunggu waktu subuh tiba, merekam berbaring di tempat tidurnya. Faisal memposisikan tangannya sebagai bantal istrinya. Diusapnya lembut rambut istrinya, sesekali dicium juga pucuk kepala istrinya.


"Sayang, kamu cantik!?" godanya tersenyum hangat pada Yulia.


"Hmmmm, mulai ini mah!" ucap Yulia memukul kecil dada suaminya.


"Aku kangen, sayang. Kita kan udah lama gak..." Faisal menjeda kalimatnya.


"Nggak apa?" pangkas Yulia mendongakkan wajahnya agar bisa melihat wajah suaminya.


"Nggak EA..EA..sayang," lanjut Faisal tergelak. Yulia reflek mencubit perut suaminya, dan Faisal pun mengerang kesakitan.


"Sayang, sakit ihhh."


"Lagian Mas tuh gak ingat umur, malu Mas sama anak-anak," ujar Yulia.


"Kenapa mesti malu, sayang. Mereka malah bangga dong, dengan kita. Tetep romantis, meskipun umur udah gak mudah lagi," elak Faisal dengan bangganya.


"Itu sih, Mas yang bilang..." Faisal kembali tergelak.

__ADS_1


Tanpa persetujuan lagi dari istrinya, Faisal membekap bibir Yulia dengan bibirnya. Sampai wanita itu tidak bisa bernafas secara normal. Faisal mulai menggerayangi tubuh indah milik istrinya dan dengan lihainya memainkan gunung kembar milik istrinya. Yulia mulai tersulut api gairah, sehingga sesekali membuat dia mendesah nikmat.


Desahan kecil dari istrinya membuat Faisal semakin bergairah untuk melakukan hal yang lebih dari itu. Puas bermain-main dengan tubuh milik istrinya, Faisal membaringkan tubuh istrinya, dan mulai menyalurkan hasratnya yang tertahan selama beberapa hari karena istrinya ada di Singapura.


(Maaf ya readers...aku gak begitu lihai bikin adegan panasnya 😜😜😜) yang penting adalah dikit-dikit.


Dikediaman Dino. Bilqis yang baru keluar dari kamarnya berjalan menuju ke meja makan. Wanita itu melihat bundanya yang sedang menyiapkan makanan untuk mereka sarapan. Dia ingin membantu bundanya tapi dilarang oleh Felisa.


"Udah sayang, kamu duduk aja ya!" cergah Felisa mengambil alih pekerjaan yang akan dilakukan putrinya itu.


"Bun, aku juga mau melakukan aktivitas seperti yang bunda lakukan," rengek Bilqis, Felisa pun menghentikan aktivitasnya.


Felisa tahu putrinya pasti bersedih karena dia membatasi aktivitas Bilqis. Tapi itu dia lakukan karena tidak ingin putrinya kecapekan dan berakibat fatal dengan kondisinya.


Tak berapa lama Dino muncul dari ruang keluarga. Melihat putrinya sedang sedih, membuat laki-laki berperawakan tinggi itu menghampiri Istri dan putrinya.


"Bunda larang Bilqis bantuin nyiapin makanan di atas meja, Yah!" adu wanita yang masih mengenakan baju tidurnya.


"Bukan begitu sayang, Bunda hanya takut..." Belum sempat Felisa selesai berbicara. Bilqis sudah lebih dulu memotongnya.


"Takut kalau Bilqis kecapekan, terus sakit lagi. Nyusahin kalian!!" potong Bilqis membuat hati Felisa sedih. Bagaimana bisa putrinya punya fikiran seperti itu. Padahal tidak ada sekalipun di hari Felisa merasa mengeluh dengan keadaan Bilqis.


"Sttt... kamu gak boleh ngomong begitu sayang. Kita sama sekali gak pernah merasa kesusahan merawat kamu. Itu bunda lakukan karena dia tidak mau melihat kamu sakit lagi, kami tidak tega kalau kamu menderita seperti itu." Dino berusaha memberi pengertian pada putrinya yang terlihat lebih sensitif.


"Kamu jangan sedih lagi, ya! Kamu anak Ayah dan Bunda yang kuat. Sekarang kita sarapan sama-sama, yuk." Bilqis pun sedikit lebih tenang


"Maafin Bilqis ya, Bun." Bilqis menghampiri bundanya dan langsung memeluknya.


"Iya sayang. Bunda ngerti, kok." Melihat anaknya sudah kembali tersenyum membuat hati Dino menjadi lega. Dia dan istri memang harus sedikit lebih bersabar lagi menghadapi kesensitifan Bilqis.

__ADS_1


Mereka akhirnya sarapan pagi bersama. Keluarga kecil itu memang sudah sedikit berbeda saat mengetahui kenyataan kalau Bilqis menderita penyakit yang berbahaya. Dulu mereka selalu ceria dan sering bercanda ria di dalam setiap momen. Tapi saat ini, yang dirasakan Felisa dan Dino hanya ketakutan. Takut jika putri satu-satunya pergi meninggalkan mereka berdua selamanya. Tapi semenjak pernyataan cinta dari Iqbal, sedikit banyak merindu Bilqis bersemangat untuk sembuh.


"Kalian nanti jadi mau cari cincin tunangannya?" tanya Dino pada putrinya.


"Jadi Yah, Iqbal nanti jemput Bilqis. Tapi katanya agak sorean gitu. Dia ada kelas nanti di kampusnya," jawab Bilqis.


"Sayang, tapi kamu jangan capek-capek, ya! Pulangnya jangan sampai magrib, ya!" pesan Felisa, Bilqis pun tersenyum.


"Iya Bunda. Iqbal gak mungkin bikin Bilqis capek," sahut Bilqis..


"Cie... anak Ayah udah mau jadi pengantin," goda Dino. Membuat semuanya tersenyum bahagia.


Sesuai apa yang direncanakan tadi. Bilqis dijemput oleh Iqbal untuk diajak ke mall. Mereka berencana akan mencari cincin tunangan. Tapi sebelumnya mereka makan dulu di sebuah kedai makan yang berada di Mall tersebut.


"Sayang aku udah kenyang. Aku gak pesan makanan, ya! Aku temenin kamu aja," tolak Bilqis saat ditawari makan oleh kekasihnya.


"Ya udah kalau gitu, mbak aku pesan spageti saus pedas dan jus alpukat nya dua ya." Iqbal menyebutkan pesanannya saat waiters sudah siap mencatatnya.


Waiters itu pun pergi dari tempat mereka. Saat sedang melihat-lihat pemandangan disekitar mall itu, mata Bilqis menangkap sosok yang familier baginya.


"Sayang, itu Kak Sisi dan Dokter Hanif. Mereka ada di sini juga," tunjuk Bilqis pada Iqbal kearah sepasang kekasih yang berjalan menuju ke tempat mereka. Iqbal langsung mengerinyitkan dahinya, saat melihat mereka.


Iqbal teringan kejadian beberapa hari yang lalu. Saat Hanif salah paham dengannya. Padahal niatnya baik untuk menolong Sisi. Tapi respon yang tidak baik dari Hanif membuat Iqbal menghindari salah satu sahabatnya itu. Dia tidak mau terjadi kesalahpahaman lagi.


"Sayang, aku panggil mereka,ya!" ucap Bilqis. Namun di tolak oleh Iqbal.


"Nggak usah, sayang. Nanti gak bisa mesra-mesraan kita, loh!" tolak Iqbal.


"Apaan sih, sayang. Kan seru kalau ada mereka!" Iqbal memang tidak cerita pada kekasihnya itu perihal kesalahpahaman nya itu dengan Hanif. Bukan tidak mau jujur. Tapi dia takut membuat Bilqis kepikiran. Dan berpengaruh buruk untuk kesehatannya.

__ADS_1


__ADS_2