
Sudah satu Minggu Sisi tinggal di rumah Neneknya. Dan dia juga sudah mulai melakukan aktivitas nya sebagai seorang mahasiswa S3 di salah satu universitas di Singapura. Dalam satu Minggu, dia hanya perlu masuk empat hari. Senin sampai Kamis saja, selebihnya dia libur.
Sebelum dia datang ke Singapura, dia sudah lebih dulu mengirim lamaran kerja di rumah sakit tempat Bilqis di rawat. Tapi sampai sekarang belum ada panggilan dari pihak rumah sakit. Dia sempat berputus asa. Mungkin lamarannya akan di tolak.
Pagi itu, dia hanya duduk di teras depan. Karena dia tidak masuk kuliah hari ini. Sebenarnya, dia bosan jika tidak melakukan apapun. Rencananya, kalau pihak rumah sakit menolak lamarannya. Dia akan mencari pekerjaan untuk mengisi waktu luangnya. Agar dia tidak jenuh dan betah tinggal di sana.
Sebenarnya, Sisi ingin menjenguk Bilqis. Tapi dia masih takut bertemu dengan Tantenya. Takut, jika nanti dia di maki-maki lagi oleh Felisa. Apalagi sekarang Bilqis sudah sadar dari koma-nya. Dia ingin sekali bertemu dengan sahabatnya itu. Dia sudah rindu, dengan sosok yang ceria seperti Bilqis. Tapi apalah daya, dia masih takut dengan Felisa. Hingga sebuah notifikasi pesan masuk dari handphonenya. Dia meraih handphonenya yang ia letakkan di meja, di baca pesan itu. Ternyata dari nomor Bilqis.
'Kakak jahat, ada di Singapura gak mau nengok-i Bilqis'
Ada rasa bersalah dalam diri Sisi, tapi semua itu terhapus saat dia ingat betapa Felisa memperlakukan buruk padanya. Hingga tidak mau mendengar penjelasan dari dia. Tapi setelah membaca pesan dari Bilqis, rasa takutnya perlahan sirna. Apalagi, saat dia mendapat nontifikasi pesan lagi dari sahabatnya itu.
'Apa karena Bunda, Kakak gak mau nengok-i Bilqis. Bilqis rindu, Kak. Maafin Bunda Bilqis, ya'
Tekadnya sudah bulat, ingin menemui Bilqis. Apapun, akan dia hadapi agar bisa bertemu sahabat sekaligus adik baginya. Kemarahan Felisa, tak sedikitpun menyurutkan niatnya saat ini. Sisi beranjak dari tempat duduknya, dan berjalan ke dalam rumah. Dia akan pamit dulu dengan Kakek dan Neneknya. Kalau dia akan ke rumah sakit.
"Nek, kakek mana?" tanya wanita cantik yang memakai gamis berwana pink.
"Ada di belakang, biasalah kakek mu. Paling juga sedang bermain-main dengan tanamannya," jelas Bu Sundari yang sedang merangkai bunga di dalam pot. "Emangnya kenapa, sayang. Kok cari Kakek?" tanyanya berhenti melakukan aktivitasnya.
"Sisi mau pamit ke rumah sakit, Nek. Mau jenguk Bilqis, Nek," jawab wanita itu.
__ADS_1
Setelah meletakkan pot bunga yang baru saja ia rangkai, Bu Sundari mencuci tangannya terlebih dulu. Setelah itu dia mendekat kearah Sisi yang sedang duduk di meja makan. "Pergilah, sayang. Biar diantar sama supir. Ehmmm.. emangnya kamu udah siap bertemu dengan bundanya Bilqis?" Pertanyaan Neneknya membuat wanita itu terlihat sedih. "Nenek takut, nanti kamu disakiti lagi dengan dia!" lanjutnya memegangi pundak cucunya.
Sisi berfikir sejenak. Benar apa yang dikatakan oleh Neneknya. Apakah Felisa masih mau menerima kehadirannya lagi? Apa dia tidak marah lagi padanya? Pertanyaan itu mengiang-ngiang di kepalanya. Tapi segera ia tepis dengan berfikir. Mungkin Felisa sudah bisa menerima kehadirannya, karena dia terbukti tidak bersalah. Harusnya sudah tidak ada lagi masalah antara dia dan Felisa.
Karena Sisi hanya diam, Bu Sundari tersenyum padanya. "Tapi, apa salahnya di coba sayang? Siapa tahu bundanya Bilqis sudah mau menerima kamu lagi. Lagian, tidak baik membiarkan masalah berlarut-larut. Kamu juga harus jelaskan sama dia."
Dukungan dari Bu Sundari membawa Sisi ke rumah sakit, dimana sahabatnya itu di rawat. Dengan diantar oleh supir pribadi pak Erlangga, wanita itu sampai di rumah sakit itu. Dengan langkah pasti, dia menyusuri ruangan demi ruangan untuk bertemu dengan Bilqis. Di sebuah ruangan VIP khusus penderita penyakit kanker langkahnya terhenti. Wanita itu sedikit ragu untuk masuk kedalam. Dengan membuang nafasnya kasar, dia menarik handle pintu ruangan itu. Setelah terbuka. Beberapa sorot mata memandang kearahnya. Salah satunya Felisa. Felisa begitu tertegun melihat kehadiran Sisi di sana.
Dengan langkah ragu, Sisi masuk keruangan itu. Disapanya satu persatu orang yang berada di sana. "Assalamualaikum Om, Tante, Iqbal, Bilqis!" Dino melempar senyuman padanya. Begitupun juga dengan Bilqis dan Iqbal. Tapi tidak dengan Felisa. Wanita itu justru menunduk, menyembunyikan wajahnya dari Sisi.
"Waalaikumussalam, Si! Sendirian, kami?" balas Dino kembali bertanya pada keponakannya itu.
"Iya, Om!" jawab Sisi gugup.
Dengan memupuk keberaniannya Felisa beranjak dari tempat duduknya. Perlahan dia mendekat kearah Sisi. Sementara Sisi, dia sedikit gugup berhadapan dengan Felisa. Bukan cuma gugup, tapi juga takut. Takut kejadian itu terulang kembali. Saat sudah berada dihadapan Sisi, Felisa langsung merengkuh tubuh Sisi kedalam pelukannya. Sembari terisak, dia berkata. "Sayang, maafin Tante!!!!"
Sungguh Sisi tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut Felisa. Kata maaf dari Felisa membuat hatinya menghangat. Setelah kejadian itu, hubungannya dengan bunda sahabatnya itu semakin memburuk. Mereka juga belum pernah bertemu lagi semenjak kejadian itu terjadi. Jadi, diantara mereka belum saling meluruskan dan meminta maaf.
"Maafkan Tante!!!" Kalimat itu kembali ia dengar dari bibir Felisa. Mereka tidak bisa membendung lagi perasaan haru dari keduanya. Air mata dari keduanya pun tumpah ruah. Kesalahpahaman itu akhirnya sudah berakhir. Dsn hubungan mereka kembali membaik.
"Iya, Tante. Sisi udah maafkan Tante, dari sejak itu!!??"
__ADS_1
Mereka saling melepaskan pelukan mereka. Felisa senang, karena semua kesalahannya dengan mudah di maafkan oleh Sisi.
Setelah acara maaf dan memaafkan itu, Sisi berjalan mendekat kearah Bilqis, dengan di temani oleh Felisa. Begitu juga dengan Bilqis. Mereka juga saling meminta maaf. Hingga suasana haru sangat terasa dalam ruangan itu. Dino senang, akhirnya masalah diantara mereka benar-benar sudah selesai. Apalagi, tanda-tanda kesembuhan putrinya juga sudah mulai terlihat. Menurut dokter yang menangis Bilqis, sel kankernya menurun 25%. Jadi kemungkinan Bilqis bisa pulang, sangatlah besar. Hanya dengan ditambah ikhtiar dan doa, itu bisa terjadi.
"Hmmm.. jadi, kapan ini kalian mau menikah. Gak usah lama-lama, nanti keburu luntur cintanya," goda Sisi pada pasangan paling di sweet itu.
"Hmmm, enak aja luntur. Gak bakalan, dong! Bilqis adalah satu-satunya wanita yang bersemayam di hati aku," timpal Iqbal semua orang tergelak mendengar gombal-annya.
"Hmmm, iya-iya percaya," sahut Sisi manyun.
"Oh iya, Kak. Gimana hubungan Kakak dengan dokter Hanif?" tanya Bilqis di sela-sela obrolan mereka.
Pertanyaan dari Bilqis seketika membuat tahun wajah Sisi berubah. Wanita itu terlihat murung dan lesu. Rasanya malas mendengar nama pria itu di sebut. Tapi, dia juga gak mungkin menutupi hubungannya dengan Hanif pada mereka.
"Kak!" seru Bilqis, karena Sisi tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Kakak dan Hanif, sudah memutuskan hubungan kami."
Semua orang terkejut mendengar berita yang disampaikan oleh Sisi. Terlebih Iqbal, pria itu seakan tak percaya dengan apa yang di sampaikan oleh Sisi. "Serius?" timpal Iqbal.
"Iya, Hanif yang memutuskan pertunangan itu. Dia tidak mau mendengar penjelasan aku. Ya sudahlah, mungkin ini sudah menjadi jalan hidup aku. Dan dia bukan jodoh yang di berikan Allah untuk ku."
__ADS_1
To be continued