Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Sepenuhnya milikmu


__ADS_3

Tak lama setelah itu seorang wanita muda bergamis abu-abu dengan hijab senada di bawa oleh Bi Imah ke meja makan. Manik mereka tertuju pada wanita itu.


"Kak Ilham, Kak Sisi jahat...ihhhhhhhh!"


Ilham dan Sisi saling pandang, setelah itu tersenyum simpul melihat Asyifa datang dari Singapura.


"Syifa, kamu nyusul kami?" tanya Umi Qoniah pada putri bungsunya.


Syifa berjalan mendekat ke meja makan, terlebih dulu dia mengalami Abi dan Uminya. Baru setelah itu menyalami satu persatu orang yang ada di tempat itu. Bu Imah dengan cekatan mengambilkan kursi di dapur, untuk tempat duduk Syifa.


"Silahkan, Non!" ujarnya mengelap kursi itu.


"Makasih, Bu!" balas Syifa tersenyum ramah pada Bi Imah. Kemudian dia mendarat tubuhnya di kursi itu. "Iya Umi, habisnya Kak Ilham gak kasih tahu ke Syifa kalau mau langsung nikah dengan Kak Sisi," lanjutnya beralih menatap bundanya.


"Maaf sebelumnya, ini putri saya. Adik dari Ilham, Syifa namanya!" Kyai Abdullah memperkenalkan putrinya pada keluarga Faisal, tentu di sambut baik oleh mereka.


Kemudian Yulia memperkenalkan satu persatu anggota keluarganya pada adik menantunya itu, setelahnya dia mempersilahkan untuk Syifa ikut makan malam bersama mereka.


Suasana hangat terjadi di meja makan, malam itu. Banyak keceriaan yang menghiasinya, terutama sepasang pengantin itu. Mereka terlihat serasi dan romantis. Membuat iri siapapun yang melihatnya, termasuk pasangan Iqbal dan Bilqis. Ilham sangat bisa memperlakukan istrinya dengan manis.


Usai makan malam keluarga itu, mereka masih sempat ngobrol-ngobrol di ruang keluarga. Dua keluarga itu semakin akrab. Banyak hal diceritakan di sana, tentang pengalaman hidup. Terlebih dari Abi Abdullah dan Umi Qoniah. Mereka melewati kehidupannya penuh dengan lika-liku. Dan hampir saja, ada wanita ketiga dalam rumah tangga mereka. Mereka cukup lama di karuniai anak oleh Allah, dan itu yang membuat umi Qoniah mengizinkan suaminya untuk menikah lagi. Namun, berkat ikhtiar dan doa yang tak pernah putus, mereka di karuniai anak juga. Walau usia pernikahan mereka sudah hampir sepuluh tahun.


Malam semakin larut, keluarga Ilham pun menarik diri untuk pamit. Pun dengan keluarga Dino, pak Sukamto dan istri. Mereka pulang, di rumah mereka masing-masing. Asyifa, tak mau ketinggalan. Gadis itu ikut pulang bersama orangtuanya. Walau sempat di tahan oleh Sisi untuk menginap disana. Tapi, di tolaknya oleh Syifa dengan alasan tak ingin mengganggu mereka berdua.

__ADS_1


Rumah Faisal sudah sedikit senggang. Si kembar juga sudah masuk ke kamarnya. Faisal masih setia menunggu istrinya di ruang tengah. Yulia dan Bi Imah sedang beberes di dapur. Sementara pengantin baru, mereka terlebih dulu masuk ke kamar.


Di dalam kamarnya, Sisi terlihat gugup. Malam ini adalah malam pertamanya dengan Ilham. Wanita itu terdiam di sisi ranjang. Ilham yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung mendekati istrinya. "Kita sholat dulu, yuk?"


Sisi tercengang dengan ajakan suaminya, bagaimana tidak mereka sudah melaksanakan sholat isya berjamaah di bawah bersama keluarganya tadi. Kenapa Ilham mengajaknya untuk sholat lagi. "Sholat?" Ilham mengangguk. "Sholat apa?" Ilham kemudian mendaratkan bokongnya di samping istrinya. Dia tersenyum simpul kearah Sisi seraya berkata.


"Sholat untuk pengantin baru," jawabnya dan Sisi pun semakin bingung. "Tujuannya agar pernikahan kita di Berkahi oleh Allah, dan kita dijauhkan dari syetan yang mengganggu." Sisi pun mengerti.


Usai melaksanakan sholat dua rakaat sebelum melakukan malam pertamanya. Wajah Sisi semakin terlihat pucat, bayangan-bayangan rasa sakit yang membuatnya merasa takut. "Kamu kenapa, sayang?" tanya Ilham.


"Hah! Nggak kok, Kak. Kita tidur yuk!" kilah Sisi mengajak Ilham untuk tidur, Ilham pun tersenyum seraya mengangguk.


Di bereskannya terlebih dulu, sajadah dan mukena di tepatnya. Barulah mereka berjalan menuju ranjang. Tapi, Sisi tak lantas berbaring, dia memilih duduk di sisi ranjang itu seraya menautkan kedua telapak tangannya untuk menghilangkan kegugupannya.


"Tidur?"


"Iya sayang, kita tidur!"


"Tapi, kan..."


"Tapi apa? Atau kamu ingin sekarang," goda Ilham, wajah Sisi berubah memerah. "Kalau kamu belum siap malam ini, aku nggak akan memaksanya. Kita akan lakukan itu kalau kamu sudah siap!" lanjutnya memegangi dagu Sisi.


"Aku....aku masih takut," ucap Sisi gugup.

__ADS_1


"Apa kamu tahu Sayang! Seorang istri yang mencium punggung tangan suaminya itu mendapat pahala 1000 kali lipat, apalagi jika seorang istri melayani suaminya dengan iklhas lahir dan batin, Allah akan melipatgandakan pahala yang kamu miliki saat ini. Apa yang Sisi takutkan?" Sisi terdiam dalam pikirannya.


"Begitupun seorang suami, suami juga harus melakukan kewajibannya terlebih dulu baru meminta haknya." Sisi masih dua dia masih mencerna makanan yang terucap dari bibir suaminya. "Kita tidur ya sekarang!" Ilham mengecup pucuk kepala istrinya, lama dia menikmati kecupan itu, Sisi pun memejamkan matanya mencoba menikmati sentuhan kecil dari suaminya.


Ilham mulai melepaskan ciuman itu, sejurus kemudian dia melihat Sisi masih memejamkan matanya, Ilham mencoba mendekat ke wajah Sisi. Di sentuhnya dagu Sisi dengan lembut, setelah itu Ilham mulai menempelkan bibirnya di bibir Sisi. Tak ada penolakan dari istrinya, Sisi justru membuka bibinya meminta lebih pada suaminya. Kecupan berubah menjadi *******, puas bermain dengan bibir istrinya. Ilham membuka perlahan jilbab yang di kenakan oleh Sisi.


Rambut panjangnya terurai di sana, jenjang leher Sisi yang putih bersih, membuat darah Ilham mendesir dengan hebat. Di tatapnya lekat wajah istrinya, entah siapa yang memulai terlebih dulu, bibir mereka sudah saling beradu. Lengguhan demi lengguhan terdengar di kamar itu.


Puas bermain-main dengan tubuh dan wajah Sisi, Ilham meminta persetujuan dari istrinya untuk melakukannya. Dan Sisi pun mengangguk. Sisi ingin, malam ini menjadi istri yang sempurna untuk suaminya.


Satu persatu kain yang melekat ditubuh mereka sudah tertanggal. Sisi sudah terbaring di ranjangnya, sebelum melakukan itu. Ilham terlebih dulu membaca doanya.


بِسْمِ اللهِ اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا


Tulisan latin: "Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa".


Artinya: Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami.


Setelah membaca doa tersebut, lengguhan dan rintihan yang terdengar di kamar itu, pertanda pemiliknya sedang berada di surga dunia, sedang menikmati anugrah Allah dalam ibadah.


Kini sudah tidak ada lagi penghalang di hubungan mereka. Sisi sudah sepenuhnya menjadi milik Ilham. Masalalunya bersama Hanif tak akan pernah menjadi benalu dalam rumah tangga mereka, karena hati Sisi kini sepenuhnya milik Ilham, suaminya.


Ilham akan menjadi imam yang baik untuk dirinya, membimbingnya menjadi muslimah yang lebih baik lagi. Itu yang menjadi harapan Sisi, kedepannya.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2