
"Hati-hati, sayang!" tutur Ilham pada istrinya yang baru saja turun dari mobil. Dengan sigap, tangan Ilham menuntun istrinya sembari merengkuh pundaknya mereka berjalan ke dalam rumah.
Kebetulan saat itu, Bu Sundari baru saja pulang dari minimarket. Melihat Sisi yang di papah oleh Ilham, terbesit kekhawatiran pada dirinya. Bergegas dia menghampiri cucunya untuk memastikan apa yang terjadi pada cucunya.
"Sayang, kamu kenapa?" teriak Bu Sundari, yang berada di belakang mereka. Sontak, mereka langsung menoleh ke belakang.
"Nenek!!!!" seru Sisi tersenyum tipis, pada neneknya.
"Kamu kenapa? Apa kamu sakit? Wajah kamu pucat, loh!" cecar wanita berwajah manis itu, sambil memegangi wajah cucunya.
"Kita masuk dulu, yuk Nek!" tutur Ilham, mempersilahkan Bu Sundari untuk masuk kedalam.
Mereka bertiga akhirnya masuk kedalam, dan memilih berbincang di ruang tengah. Sebelumnya, Ilham membuatkan minuman dan mengambil beberapa cemilan di dapur untuk menemani obrolan mereka.
Sengaja dia mengambil sendiri, karena assisten rumah tangga yang bekerja di tempatnya sedang beberes di belakang rumah.
"Nek, diminum dulu tehnya!" tawar Ilham meletakkan secangkir teh hangat di atas meja. "Sayang, apa kamu juga mau aku buatkan teh hangat?" Kini beralih pada istrinya.
"Nggak usah, Kak! Sini, duduk di dekat Sisi!" tolak Sisi menepuk sofa di sampingnya agar Ilham duduk di sana.
Melihat hal itu, Bu Sundari hanya menggeleng atas sikap manjanya Sisi terhadap suaminya.
"Jadi, gimana kata dokternya?" lanjut Bu Sundari yang pertanyaannya sempat terpotong oleh kehadiran Ilham.
Sebelum menjawab pertanyaan dari neneknya, Sisi tersenyum lebar dan mengelus perutnya yang masih terlihat datar. "Ada dedek bayi nya, disini!" Sontak pandangan Bu Sundari beralih ke arah perutnya.
"Kamu, hamil?" Sisi mengangguk. "Alhamdulillah!" lanjutnya mengelus lembut cucunya. "Ham, kamu bakal jadi Ayah!" selorohnya tersenyum kearah Ilham.
"Iya, Nek! Alhamdulillah, kami sudah di beri kepercayaan oleh Allah! Hadirnya calon malaikat di dalam perut Sisi, penyempurnaan pernikahan kami!" ujar Ilham penuh haru.
__ADS_1
"Apa kamu sudah kasih kabar ke Bunda kamu, sayang?" Mendengar berita bahagia itu, Bu Sundari langsung teringat pada putrinya.
"Belum, Nek. Nanti rencananya Sisi mau telpon Bunda!" jawab Sisi jujur.
Sudah di pastikan kedua orang tua mereka akan bahagia, mendengar berita kehamilan Sisi. Terlebih, ustadz Abdullah dan Umi Qoniah. Mereka langsung mengadakan syukuran dengan para santri yang ada di pondok mereka. Dan rencananya, lusa Umi Qoniah akan bertolak ke Singapura untuk menemani Sisi di masa trisemester pertama kehamilannya.
Kini saatnya Yulia dan Faisal yang mendengar berita gembira itu. Sisi sengaja menghubungi bundanya dengan melakukan video call. Selain lebih nyaman, dia juga sangat merindukan sosok bundanya.
"Assalamualaikum Bunda!" Sisi melambaikan tangannya pada Yulia.
"Waalaikumussalam, sayang!" balas Yulia dengan wajah berbinar. "Kamu sehat, kan sayang? Kok pucat gitu?" Belum-belum Yulia sudah mencecar pertanyaan pada putrinya.
"Alhamdulillah sehat, Bunda! Ayah mana?" Segera Yulia memanggil suaminya yang sedang sibuk dengan hobi barunya, yaitu mengoleksi beberapa jenis ikan hias.
"Mas, sini! Ini Sisi nyariin!" Faisal pun menghentikan aktivitasnya, sebelum mendekati istrinya. Terlebih dulu dia mencuci tangannya.
Kini Ayah dan Bundanya sudah nampak di layar handphonenya. Faisal sangat rindu putri kecilnya, yang sekarang tinggal jauh darinya.
"Sisi hamil, Yah, Bun!" lanjut Sisi tersenyum lebar.
Kedua orangtuanya, sangat terkejut mendengar hal itu. Mereka tidak menyangka, kalau akan di beri cucu secepat ini. Setelah mendengar itu, mereka langsung mengucapkan syukur terlepas dengan keterkejutannya.
"Kamu harus jaga kesehatan sayang, jangan capek-capek. Terus makan-makanan yang bergizi!" saran Yulia begitu antusias.
"Besok Bunda kesana!" ujarnya membuat Sisi merasa senang dan bersyukur. Di kelilingi orang-orang terbaik dalam hidupnya, terlebih saat ini. Dia memang sangat membutuhkan kedua orangtuanya berada di sampingnya.
Mereka akhiri percakapan mereka dengan permintaan Sisi yang membuat ayah bundanya menggeleng. Sisi minta di buatkan makanan yang jarang di temui di tempat tinggalnya. Seperti sambal pecel, khas buatan bundanya. Tak hanya itu, dia juga mau di buatkan penyek udang kali yang renyahnya gak ada tandingannya. Dan semua itu harus terealisasikan, kalau tidak ancamannya 'nanti babyku ileran!'
Malam harinya, tepat pukul 23.00 waktu Singapura. Sisi terbangun dari tidurnya. Perutnya terasa perih, padahal waktu makan malam tadi dia makan banyak. Tapi, nafsu makannya jadi meningkat. Di bangunkannya suaminya, yang sudah terlelap.
__ADS_1
"Kak, bangun! Kak!" rengeknya sambil menepuk pelan pipi suaminya. Tapi, belum ada pergerakan dari Ilham. Sehingga membuat Sisi terisak.
Hiks...hisk.... tangisnya menggema di kamar itu. Hingga membuat Ilham terusik dari tidurnya. Perlahan dia membuka matanya, setelah terbuka sempurna. Ilham melonjak kaget, mendapati istrinya yang sudah terisak.
"Kamu kenapa, sayang?" Ilham pun mendekat, di rangkulannya pundak istrinya dan di tarik kedalam dekapannya. "Apa kamu mimpi buruk?" Tak mendapat jawaban, Ilham pun bertanya lagi.
"Sisi lapar, Kak. Kakak dari tadi di bangunin, gak mau bangun!" ucap Sisi terbata, akibat menangis.
Ilham memejamkan matanya sesaat, "kamu mau makan apa?" Kemudian bertanya lagi.
Sisi mengambil ponselnya, setelah itu mengotak-atik nya. Setelah menemukan yang ia cari, dia tunjukkan pada suaminya.
Sebuah foto, mi goreng yang terlihat enak jika di makan, malam hari.
"Sisi mau ini!" Sekilas Ilham mengerinyitkan keningnya seraya menggaruknya dengan telunjuknya.
"Ya udah, Kakak pesenin sama anak-anak dulu!" Ilham akan beranjak menuju ke cafe nya, karena dia yakin cafenya masih buka jika masih jam segitu. Sejurus kemudian, ditarik lengannya oleh Sisi.
"Nggak, Kak! Sisi maunya di buatin Kakak sendiri!" Ilham langsung melongo mendengar apa yang di ucapkan istrinya.
"Kakak!" Sisi mengangguk, seperti orang yang sedang memelas. "Kakak...apa bisa!"
Mendengar hal itu Sisi langsung merengut, dan kembali membaringkan tubuhnya lagi di kasur. Setelah itu, dia kembali menangis. Ilham langsung beristighfar, dan di bujuknya istrinya agar tidak merajuk lagi. Dengan di janjikan, ia sanggup masakan mi goreng itu untuknya.
Mereka sedang berada di dapur, saat ini. Ilham mengambil bahan-bahannya terlebih dulu di dalam kulkas. Seperti telur, sawi, dan sosis. Tak lupa daun bawang sebagai penyedap masakannya.
Sebelum mulai memasak, dia terlihat dulu sharsing di google cara dan bumbu yang di pergunakan. Dia mengikuti apa yang di perintahkan di google itu, setelah selesai semua. Kini saatnya dia merasakan hasil masakannya.
__ADS_1
Dia menyendokkan sedikit kuah dari mi itu, setelah itu dicicipinya. Namun, dia langsung menggeleng, dan raut wajahnya sulit untuk di artikan.
To be continued