
Hanif memutuskan untuk turun dari panggung. Setelah itu dia mencari tempat duduk yang tepat agar dia bisa memperhatikan Sisi dari bawah. Sebuah kursi yang terletak di dekat saund sistem menjadi pilihannya. Baginya, asal dia bisa mengamati Sisi dengan jelas, dimana pun tempatnya dia tidak keberatan. Termasuk di sana, suara menggelegar dari benda itu tak sedikitpun mengusik dirinya.
Setelah dia duduk disana, seorang pihak wanita yang memakai pakaian serangan WO datang menghampirinya untuk menawarkan beberapa makanan dan minuman. Hanif memilih mengambil segelas cairan berwarna merah pekat, untuk menemani dirinya menunggu Sisi turun dari panggung.
Iris Hanif tak lepas menatap tajam kearah panggung. Satu persatu tamu undangan sudah mulai meninggalkan tempat itu. Pertanda hari sudah semakin larut. Tinggal beberapa kerabat dekat dari Dino yang masih berada di sana.
Sementara Sisi, wanita itu sangat tidak nyaman dengan keberadaan Hanif. Ditambah pria itu selalu menatap kearahnya, tanpa sedikitpun menoleh dan meninggalkan tempat itu. Sehingga sedikit mengusik Sisi yang saat itu ingin mengambil makanan. Sisi melewatkan makan siangnya. Di tambah sekarang waktu makan malam pun sudah hampir terlambat. Wajar, jika wanita itu merasa lapar. Sampai-sampai wajahnya terlihat pucat.
"Kak, Kakak kenapa? Wajah Kakak, pucat Lo!" Bilqis meraih tangan Sisi, dan wanita itu hanya bisa mendengus kasar.
"Kakak laper, Dek! Dari siang tadi, Kakak belum makan!" keluh Sisi, Bilqis tergeletak.
"Ya udah, makan dulu sana!" seru Bilqis, tapi Sisi justru terlihat tidak semangat. "Kenapa Kak? Katanya lapar, kok lemes gitu. Makan gih!"
Sisi melirik kearah tempat duduknya Hanif. Sontak membuat Bilqis, mendelik sebal. "Kok, masih disini ya? Dokter Hanif?"
"Ntahlah, Dek! Kakak sudah gak mau lagi bicara dengan dia. Toh, emang sudah gak ada yang perlu dibicarakan lagi, kan. Antara Kakak dan dia, sudah tidak ada hubungan apa-apa." Bilqis bisa merasakan apa yang di rasakan Sisi. "Tapi kenapa dia masih ngeyel sih, Dek!" lanjut Sisi terlihat murung.
"Kak, Kakak harus tegas dengan dokter Hanif. Kalau memang Kakak sudah tidak mencintainya, Kakak harus katakan yang sejujurnya pada dia. Biar Dokter Hanif tidak ngejar-ngejar Kakak lagi," saran Bilqis, Sisi semakin bingung. "Emangnya, Kakak udah nggak cinta ya sama dokter Hanif?" Kemudian bertanya pada Sisi.
Seketika Sisi terdiam, menelaah kata-kata dari Bilqis. Tapi, Sisi sendiri masih bingung dengan perasaannya sendiri. Masih cinta atau sudah tidak. Yang jelas, dia sekarang sudah nyaman dengan keadaannya saat ini.
"Kak,kok diem!" Sisi pun terkejut, dan sadar dari lamunannya.
"Kakak juga bingung, Dek! Kakak gak bisa menyimpulkan ini!" Bilqis tersenyum tipis menanggapi ucapan Sisi. "Tanyakan pada hati nurani Kakak"
"Ehemmm, kalian ngomongin apa sih?" seloroh Iqbal, sontak mendapat tatapan dari keduanya.
"Kepo!" Mereka bertiga tergelak. Tingkah mereka tak luput dari pengawas Hanif.
__ADS_1
Faisal dan Yulia memilih pulang lebih dulu. Karena Yulia mendadak mriang, malam itu. Sementara Dino dan Felisa, mereka berdua sedang menjamu tamu-tamu dari pihak keluarga Iqbal. Tinggal mereka bertiga yang berada di atas panggung. Semua tamu undangan sudah pulang kerumahnya masing-masing. Tinggal pihak keluarga Iqbal dan Hanif yang masih duduk di sana.
Bilqis dan Iqbal memutuskan untuk turun dari panggung. Sementara Sisi, wanita itu masih dilema saat ini. Jika dia turun, jelas Hanif akan langsung menghampirinya. Tapi jika dia tidak turun, mau sampai kapan dia berada di tempat itu. Akhirnya, Sisi memutuskan untuk ikut bersama Iqbal dan Bilqis turun dari panggung.
Dengan ragu-ragu Sisi melangkahkan kakinya dan menapaki anak tangga yang terbuat dari besi itu. Setelah sampai di bawah, dia mempercepat langkah kakinya menuju meja prasmanan. Dan benar saja, Hanif dengan langkah tergesa-gesa berjalan mendekati Sisi.
"Sisi, tolong dengarkan aku!!!" ucapnya dengan nada sedikit keras. Namun wanita itu tidak menghentikan langkahnya, hingga sampai di meja prasmanan. "Sisi!"
"Saya lapar, tolong jangan ganggu saya," ucap Sisi ketus, seraya mengambil piring yang di berikan oleh panitia padanya. Setelah itu, dia mengambil beberapa makanan yang masih tertata di meja. Hanif hanya mengekorinya di belakang.
Usai mengambil makanan, Sisi memilih mencari tempat yang nyaman untuk makan. Dia memilih duduk, di dekat meja orangtua Felisa dan Iqbal. Agar Hanif merasa sungkan untuk duduk bersama dia. Namun, dugaannya salah. Hanif justru lebih dulu duduk di tempat itu. Hingga akhirnya Sisi memilih yang pergi dari tempat itu.
"Mau sampai kapan kamu menghindari saya, Si?" tanya Hanif menarik dirinya dan kembali mengikuti Sisi.
"Dan mau sampai kapan kamu ngikutin aku kayak gitu?"
"Sampai kamu mau mendengarkan aku, dan sampai kamu memaafkan aku!!"
"Nggak, Si. Kita perlu bicara?"
"Maaf, saya tidak punya waktu!" Sisi meletakkan piring yang ia pegang dan bergegas menuju kedalam rumah Dino. Dan itu berhasil membuat Hanif tidak mengikutinya lagi.
"Hufftt, sial!!! Kenapa sih, kamu nggak mau dengerin aku dulu!!" umpat Hanif lalu pergi dari tempat itu.
Hanif memilih untuk meninggalkan tempat itu, bukan karena dia sudah menyerah. Tapi, dia lebih memilih menunggu Sisi di dalam mobilnya. Dia belum menyerah, sampai Sisi memaafkannya dan mau kembali lagi dengannya.
Sementara Sisi. Wanita itu hanya hilir mudik berjalan di ruang tengah rumah Dino. Sesekali dia mengintip ke arah halaman, tempat pesta itu. Saat Hanif tidak lagi ada di sana, Sisi memutuskan untuk keluar dan mengambil piring berisi makanan yang sempat dia tinggalkan di salah satu meja di sana.
"Syukurlah dia sudah pergi!!!" lirih Sisi kemudian duduk di tempat itu. Sisi menikmati makanannya yang sempat tertunda itu. Selang beberapa saat, Felisa menghampirinya.
__ADS_1
"Sayang, kamu nginep aja di sini, ya!" usul Felisa pada Sisi yang masih mengunyah makanannya.
"Nggak, Tan! Sisi harus pulang, Sisi udah kangen sama Ayah dan Bunda. Rasanya udah lama sekali nggak ngobrol bareng mereka!" Sisi menolak usul Felisa. Apalagi besok dia akan melakukan ta'aruf dengan pria pilihan kakeknya itu. Dia ingin bertanya-tanya tentang calon suaminya.
"Ya udah, kalau gitu. Nanti biar dianter Ama supir Om kamu!" Sisi mengangguk.
Selesai dengan makanannya, Sisi terlebih dulu ke toilet untuk merapikan jilbabnya. Setelah rapi, dia kembali ke halaman, tempat pesta. Dan disana sudah tidak ada orang lagi, tinggal Dino yang baru saja mengambil barangnya yang tertinggal.
"Sayang, mau pulang sekarang?" tanya Dino menghampiri Sisi.
"Iya, Om!"
"Kenapa nggak nginep aja, sih!"
"Nggak, Om. Sisi kangen Bunda!" tolak Sisi meringis.
"Ya udah, Om panggilkan supir Om dulu!"
Dino menelpon supirnya untuk menyiapkan mobil dan mengantar Sisi pulang. Setelah itu dia memberitahu Sisi, kalau mobil dan supirnya sudah siap. Dan menunggunya di halaman.
"Om, Sisi pamit dulu ya! Assalamualaikum!"
"Waalaikumussalam!"
Sisi bergegas menuju halaman depan rumah Dino. Namun dari kejauhan dia melihat mobil Hanif masih terparkir di sana, Sisi mengurungkan niatnya untuk keluar.
"Astaghfirullah, kenapa masih di situ, sih!" Sisi memegangi pelipisnya. "Dasar keras kepala, bikin kesel aja nih orang!"
Assalamualaikum reader suamiku tak pernah mencintaiku..
__ADS_1
Berhubung besok sudah memasuki bulan Ramadhan. Author mohon maaf lahir dan batin ya. Semoga kita bisa tingkatkan amal ibadah kita di bulan Ramadhan ini....