
Setelah mengetahui berita yang menimpa ayah Angkat istrinya. Hari ini Faisal dan Yulia akan bertolak menuju ke Singapura. Tempat tinggal ayah Angkat Yulia sekarang. Dia mengambil penerbangan pertama yaitu pukul 05.00 WIB. Jadi selepas sholat subuh mereka langsung menuju ke bandara.
Disebuah kamar yang cenderung berbau Manly. Seorang pria dengan baju Koko dan sarungnya duduk di balkon kamarnya. Selepas mengaji, pria itu mencari udara segar sembari memainkan ponselnya. Rutinitas di pagi hari sebelum berangkat kerja dilakukan Hanif di balkon. Pria itu tampak menyunggingkan senyumnya kala sebuah pesan masuk dari ponselnya. sesaat kemudian, wajahnya berubah cemberut saat membaca pesan itu.
Rencananya, malam ini dia akan melamar resmi gadis pujaannya. Semalam, sehabis mengantar pulang kekasihnya. Pria itu bicara pada bundanya untuk datang ke rumah orang tua Sisi. Tapi karena Faisal pergi ke Singapura. Dokter muda itu harus mengurungkan niatnya untuk melamar Sisi.
Pria itu pun membalas pesan dari kekasihnya kalau dia akan menjemput untuk pergi ke rumah sakit bersama. Hari-harinya berubah saat pria itu mengenal gadis yang awalnya di bilang bar-bar. Pertemuannya yang tidak sengaja ternyata membawa kesan tersendiri di hati pria itu.
Matahari pun sudah mulai tambak di ufuk timur. Pria itu pun mengakhiri aktivitas nya di balkon dan segera pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukanya. Setelah itu, dia mengganti pakaiannya dengan Pakaian kerja yang sudah ia siapkan sendiri. Di tengah-tengah, dia mengganti pakaiannya. Tiba-tiba dia membayangkan wanita yang di cintainya itu mempersiapkan pakaian nya dan membantu mengenakan dasinya. Sungguh mengasyikkan baginya. Membayangkan itu membuat dia senyum-senyum sendiri dan tidak menyadari kehadiran Bundanya.
"Hemmm. Anak bunda lagi bayangin apa itu?" Hanif pun tersadar dari lamunannya dan melihat kearah bundanya.
"Eh Bunda. Nggak kok Bun, tadi nonton kartun Tom and Jerry," kilahnya sembari membetulkan kancing ditangannya.
"Oh iya Bun. Sepertinya nanti malam kita gak jadi ke rumah dokter Faisal. Soalnya beliau sedang ada di Singapura. Menengok ayahnya Tante Yulia," sambungnya kemudian beralih mengambil dasi yang masih ada di lemari.
"Oh gitu. Ya udah, kamu baik-baik ya Nak dengan Sisi. Bunda sangat menyanyangi gadis itu," pesan bundanya yang terlihat senang dengan calon menantunya. Hanif pun tersenyum mendengar bundanya menyanyangi kekasihnya.
"Kita turun Yuk, sarapan dulu. Bunda dah buatin nasi goreng seafood kesukaan kamu." Setelah siap semuanya Hanif dan bundanya pun keluar dari kamarnya untuk sarapan.
Usai sarapan dan pamit pada bundanya. Hanif menuju kerumah gadis pujaannya. Mengingat hari masih pagi, jadi belum terlalu padat jalanan pagi itu. Sehingga tidak makan waktu lama untuk pria itu sampai di rumah kekasihnya.
Ternyata wanita yang akan di jemputnya sudah menunggunya di teras depan. Saat wanita itu melihat mobil kekasihnya datang, tanpa menunggu lama. Dia pun langsung menghampirinya.
Mereka berdua langsung menuju ke rumah sakit. Lalu lalang kendaraan pun mulai padat. Mengingat jam masuk kantor telah tiba. Sehingga pria itu tidak bisa melajukan kendaraannya dengan cepat.
"Sayang, kapan Ayah kamu pulang lagi ke Indonesia?" tanya pria yang memiliki lesung Pipit itu pada wanita yang duduk disampingnya.
__ADS_1
"Belum tahu sayang. Lihat keadaan eyang disana." Hanif pung menggangguk. Selang beberapa saat. Mereka tiba di rumah sakit tempat mereka bekerja.
Hanif turun duluan, setelah itu memutari mobilnya untuk membukakan pintunya Sisi. Mereka berjalan bersamaan menuju keruangannya. Tapi saat melewati lobi rumah sakit Hanif tidak sengaja menabrak seorang wanita yang berpakaian dokter juga. Sehingga wanita berparas cantik itu terjatuh di lantai.
"Maaf-maaf. Saya tidak sengaja." Hanif mengulurkan tangannya untuk membantu wanita itu berdiri. Dengan sigap ulasan tangan Hanif disambut baik oleh wanita itu. Setelah wanita itu sudah berdiri lagi. Dia tampak membersihkan pakaian nya yang terkena debu.
"Maaf ya," ulang Hanif merasa bersalah. Wanita itu kemudian tersenyum manis dihadapan Hanif. Membuat Sisi melirik sinis kearah Hanif.
"Gak apa kok. Oh iya, kenalkan saya Dokter Veronika, saya dokter anak di rumah sakit ini." Wanita itu pun mengulurkan tangannya, minta disambut oleh Hanif.
"Oh iya saya Hanif, dan ini dokter Sisi. Kami satu team dari dokter spesialis kanker," balas Hanif mendapat tatapan kagum wanita itu.
Melihat gelagat aneh dari Veronika. Sisi segera menarik kekasihnya untuk pergi dari situ. Dia tahu betul. Wanita itu hanya mau modusin kekasihnya.
"Maaf ya dokter Veronika kami duluan." Dengan cepat mereka pergi meninggalkan wanita itu. Terlihat jelas ketidaksukaannya melihat mereka berdua terlihat mesra.
"Kamu kenapa sayang?" Sisi masih melengos. Dia benar-benar kesal hingga tidak ada niat mau menjawab pertanyaan Hanif.
"Ayo dong jangan ngambek gini. Ilang cantiknya Lo, ih. Tuh bibir dan maju tiga puluh sentimeter aja." Sisi pun mendelik dan langsung mencubit lengan Hanif.
"Kamu kenapa sih! Nanggepin tuh dokter ganjen itu. Kamu suka dengan dia?" Pertanyaan Sisi membuat bulu kuduk Hanif berdiri.
"Astaghfirullahalladzim sayang. Kok ngomongnya gitu sih. Aku kan cuma nolongin dia. Dia juga jatuh gara-gara aku. Gimana sih!"
"Dia itu mau modusin kamu. Karena gsk ngerti aja sih! Trik murahan itu," ucapnya sambil terus menerocos.
"Kamu cemburu?" Sisi diam tak mau memandang kekasihnya.
__ADS_1
"Gak ada satupun wanita yang bisa merebut hatiku dari kamu sayang. Kamu satu-satunya wanita yang ada disini." Hanif memegang tangan Sisi kemudian meletakkannya di dadanya. Seketika amarah Sisi pun melebur.
”Nah gitu dong, senyum. Karena senyummu prioritas hidupku, sayang." Sisi tersipu malu mendengar gombalan tunangannya itu.
Mereka akhirnya akur lagi. Hanif bisa bekerja dengan tenang. Karena kekasih hatinya sudah tidak marah lagi padanya.
Aktivitas pagi itu. Sama dengan pagi-pagi lainnya. Mereka disibukkan dengan urusannya masing-masing. Hanif yang berkeliling mengecek pasien-pasiennya. Sementara Sisi menghandle pasien yang sekedar konsultasi saja.
Hingga jam makan siang pun tiba. Hanif kembali lagi ke ruangannya untuk menjemput Sisi untuk sholat Dzuhur dan makan siang bersama. Tapi di tengah perjalanannya. Veronica memanggilnya.
"Dokter Hanif!" Teriaknya langsung mendekat.
"Eh Dokter Veronika. Ada yang bisa saya bantu?" balas Hanif mengerinyitkan keningnya. Dia tahu ini akan menjadi masalah lagi baginya. Kalau kekasihnya melihat dia sedang bersama wanita yang di benci kekasihnya itu.
"Dokter Hanif mau nggak nganterin saya ke cafe rumah sakit ini. Soalnya saya belum tahu di mana letaknya," kilah Veronika mencoba mencari perhatian Hanif. Tak lama setelah itu, Sisi muncul dari belakang Veronika.
"Mari dengan saya saja. Kebetulan saya mau ke cafe," sambung Sisi membuat keduanya terkejut. Sisi langsung membulatkan matanya kearah Hanif.
"Oh.. boleh. Kalau gitu mari!" ajak Veronika sedikit kesal karena rencananya gagal.
"Dokter Hanif tidak ikut sekalian," sambungnya merasa belum puas.
"Dokter Hanif sedang ada pasien mendadak. Iya kan dok?" Sisi langsung memberi kode pada Hanif dengan mengedipkan matanya.
"Oh iya...maaf ya Dokter Veronika."
To be continued
__ADS_1