Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
firasat


__ADS_3

"Kak Sisi, sini gabung Ama kita!" seru Bilqis melambaikan tangannya kearah Sisi dan Hanif.


Setelah tahu yang memanggil dirinya adalah Bilqis, Sisi menarik tangan Hanif untuk mendekat kearah Bilqis dan Iqbal. Hanif hanya menautkan kedua alisnya, dan mengikuti kemana Sisi akan mengajaknya.


Dalam pikirannya kenapa harus bertemu dengan dia lagi. Kenapa dimana-mana selalu ada dia.


"Dek, kalian disini juga?" tanya Sisi, kemudian ikut gabung bersama adik dan sahabatnya itu.


"Iya Kak. Kita mau cari cincin tunangan, kebetulan Iqbal laper, jadi kita mampir kesini, dulu! Kakak sendiri ngapain ada disini, bukannya ini masih jam kerja, ya?"


Sisi menoleh kearah Hanif yang tiba-tiba diam tak bersuara. Dia tahu apa yang sedang dipikirkan pria disampingnya itu. Pasti kesel, karena bertemu dengan Iqbal. Tapi Sisi juga gak bisa menolak ajakan adiknya untuk ikut gabung bersama mereka.


"Apa kabar, dokter Hanif?" sapa Iqbal mencairkan suasana.


"Eh, Alhamdulillah baik," balasnya singkat. Melihat keduanya Sisi hanya menggeleng. Mereka seperti dua orang yang baru saling kenal.


"Iya, Kakak juga mau cari sesuatu disini." Sisi kemudian menjawab pertanyaan Bilqis yang sempat tertunda itu.


"Oh, udah dapet yang dicari?" tanya Bilqis lagi.


"Belum, Dek!"


"Kalian berdua mau pesan apa? Biar saya panggilkan pelayan dulu!" tawar Iqbal mengarah ke Sisi dan Hanif.


"Eh tidak usah. Kita udah kenyang, kok!" tolak Hanif.


"Beneran Kak, gak mau makan sekalian. Udah lama loh kita gak saling ngobrol begini!" ucap Bilqis mencoba membujuk Sisi dan Hanif.


"Kita buru-buru, iya kan sayang!" Hanif melirik kearah Sisi, memberi isyarat pada wanita itu agar meng-iya-kan ucapannya.


"Iya dek, kita duluan ya!" sahut Sisi. Seketika wajah Bilqis menjadi kecewa. Dia berharap bisa saling ngobrol dengan kakaknya. Tapi wanita itu sepertinya menolak keinginannya.


"Kita pamit, ya Dek. Jaga kesehatan.. Bal, tolong jagain adikku yang cantik ini, ya!" Sisi kemudian merangkul pundak Bilqis. Setelah itu dia pergi bersama Hanif.

__ADS_1


Tanpa menaruh curiga Bilqis menatap punggung sepasang kekasih itu yang mulai menjauh dari tempatnya.


Sepasang kekasih itu berjalan ke sebuah butik yang menjual baju muslimah. Tujuannya ke mall itu memang mau mengantar Sisi berbelanja baju muslimah. Mereka bukannya membolos dari pekerjaannya. Tapi memang mereka pulang lebih awal, usai menghadiri kunjungan ke panti sosial, tempat nek Puspita ditampung dulu.


Beberapa gamis modern berjejer rapi di etalase butik itu. Sisi begitu terpesona melihat gamis-gamis cantik itu. Dia memilah-milah yang kiranya cocok untuknya. Dengan ditemani kekasihnya yang selalu mengikuti kemana pun Sisi pergi. Apalagi di mall itu ada pria yang meresahkan pikirannya. Dia tidak bisa membiarkan Sisi jauh darinya.


Setelah resmi menyandang tunangannya Sisi. Pria itu memang sedikit posesif. Apalagi kalau menyangkut, sahabat dekat kekasihnya itu. Dia merasa cemburu dengan kedekatan mereka berdua.


Beberapa gamis dan hijab pilihan Sisi sudah di bungkus rapi di paper bag. Mereka berdua kemudian berjalan menuju ke kasir untuk membayar barang belanjaannya. Awalnya Sisi yang akan membayarnya sendiri barang belanjaannya tapi di tolak oleh Hanif. Pria itu akhirnya membayar semua barang-barang Sisi.


"Sayang, aku kan punya uang sendiri. Kok kamu sih, yang bayarin baju-baju aku!" ucap Sisi saat mereka keluar dari mall tersebut.


"Nggak apa, sayang. Sebentar lagi aku kan, jadi suami kamu. Jadi apapun kebutuhan kamu, aku yang yang penuhi," sahut Hanif.


"Makasih ya sayang!"


Dua Minggu kemudian.


Usai memoles wajahnya, wanita itu mengenakan hijab syar'i nya. Menambah kesan anggun dari wanita itu. Dia memakai gamis berwarna peach senada dengan hijabnya. Dengan sedikit hiasan bros berbentuk channel berwarna gold mempercantik penampilannya malam ini.


Dia tersenyum simpul di depan cermin sembari memuji dirinya sendiri. Setelah itu wanita itu mengambil tas yang ada di etalase, tempat dia menaruh koleksi-koleksi tasnya. Dia mengambil sebuah tas, yang senada dengan pakaiannya. Tas tenteng kuning keemasan dengan ornamen kristal di depannya.


Wanita itu kemudian berjalan keluar dari kamarnya. Tinggal menunggu pangerannya datang menjemputnya. Ayah, bundanya sudah lebih dulu berangkat. Sementara Fatan dan Fatin, mereka memilih tidak ikut dan tinggal di rumah.


Sembari menunggu Hanif menjemputnya, wanita itu duduk di ruang tengah dengan di temani adik-adiknya yang sedang bermain PlayStation.


"Dek, gimana penampilan Kakak. Cantik, nggak?" Wanita itu menghampiri kedua adiknya dan berdiri di belakangnya.


Mereka yang sedang asyik bermain PlayStation, menghentikan sejenak permainannya dan menatap kearah Kakaknya.


"Ya ampun Kak, kayak kakak aja yang mau tunangannya. Terlalu menonjol. Hehehehe," komen Fatan nyablak.


Mendengar komentar adiknya Sisi menjadi tidak percaya diri. Dia kembali melihat dandanannya di kaca lemari tak jauh dari tempat dia berdiri. Di tolehkan kanan ke kiri wajahnya. Mencari kesalahan pada riasannya.

__ADS_1


"To much, ya Dek!" celetuknya.


"Hooh banget Kak. Ganti sana! Nanti dikiranya Kakak yang mau tunangan dengan Kak Iqbal," protes Fatan lagi.


"Ishh kamu tuh kalau ngomong gitu banget sih, dek. Ya udah kakak ganti baju dulu." Tak berapa lama mobil Hanif terdengar. Pria yang ditunggu pun sudah datang. Tidak mungkin lagi untuk Sisi berganti pakaiannya. Atau sekedar merubah riasannya. Padahal menurutnya dia tidak terlalu berlebihan menggunakan make up nya. Tapi kenapa adiknya bicara seperti itu padanya.


Sisi kemudian keluar menemui Hanif yang sudah menunggunya di halaman. Pria itu memang tidak masuk kedalam. Karena Sisi sudah memberitahu kalau dia sudah siap berangkat dan hanya menunggu dia.


Sisi berjalan kearah mobilnya Hanif. Sebelum dia masuk kedalam. Dia bertanya pada kekasihnya itu tentang penampilannya malam itu. Jujur ucapan Fatan tadi membuat kepercayaan dirinya seketika menghilang.


"Sayang, gimana penampilan ku malam ini." Hanif memperhatikan Sisi dari atas hingga ke bawah. Tidak ada yang aneh menurutnya. Cantik dan terlihat lebih anggun.


"Cantik sayang. Ya udah ayo masuk!" Ajakan Hanif tak diindahkan oleh Sisi. Dia masih tidak percaya diri dengan penampilannya.


Melihat Sisi tak bergeming membuat Hanif bersuara.


"Sayang. Ayo kita berangkat. Nanti telat, loh!"


"Iya sayang!" Sisi akhirnya masuk ke mobilnya Hanif.


Hanif memperhatikan kekasihnya. Wanita itu tidak seperti biasanya. Wajahnya yang selalu ceria tiba-tiba mendadak jadi pendiam. Hanif mempunyai anggapan buruk dengan sikap Sisi yang diam itu.


"Kamu kenapa? aku perhatikan dari tadi kamu banyak diam?" tanya Hanif menyelidik.


Bukan apa-apa wanita itu mendadak pendiam. Dia hanya merasa tidak pede dengan penampilannya yang dinilai adiknya berlebihan. Dia tidak mau menjadi pusat perhatian di acara tunangan sahabatnya.


"Nggak kok. Aku cuma gak pede aja dengan penampilan ku," jawab Sisi.


"Beneran cuma itu. Atau kamu tidak rela kalau Iqbal bertunangan dengan Bilqis?" Pertanyaan Hanif membuat wanita itu sedikit terkejut. Bisa-bisanya pria itu beranggapan seperti itu. Justru itu adalah impiannya melihat Adik dan sahabatnya itu bersatu.


"Kok kamu mikirnya begitu, sih sayang. Aku adalah orang pertama yang bahagia dengan hubungan mereka!" Hanif hanya memandang sekilas wanita disampingnya itu. Kemudian dia fokus menyetir lagi.


Entah kenapa dalam hati Hanif merasa ada sesuatu yang akan terjadi malam ini. Dan sesuatu itu berhubungan dengan Sisi dan Iqbal. Hatinya seketika di liputi kegelisahan.

__ADS_1


__ADS_2