Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Masih bersikap dingin


__ADS_3

Usai mandi Hanif memutuskan untuk menemui Bundanya yang berada di teras depan. Bundanya sedang berbincang dengan nek Puspita. Tapi tidak seperti biasanya, bundanya tidak terlihat ceria hari itu. Seakan ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Hanif yang sudah di belakang Bu Tari, dia menyapa bundanya. "Ada apa Bun? Sepertinya ada hal yang penting!" Hanif langsung duduk di samping Bu Tari. Wanita itu melirik sekilas nek Puspita.


"Gak ada apa, kok sayang! Oh iya, bunda lihat Sisi akhir-akhir ini kok gak kamu ajak kesini?" tanya Bu Tari penuh selidik. Wanita itu seperti sedang menutupi sesuatu.


Hanif yang mendapat pertanyaan itu, wajahnya berubah menjadi suram. Hanif bahkan sampai tak berani menatap bundanya. Pria itu bingung harus menjawab apa pertanyaan bundanya. Jika ia berkata jujur, hati bunda dan neneknya pasti akan sedih. Tapi, jika dia menutupi hubungannya dengan Sisi pada mereka berdua takut akan menambah masalah lagi.


"Nif, kamu kenapa sayang? Apa kamu bertengkar dengan Sisi?" Merasa anaknya tidak menjawab pertanyaannya, Bu Tari bertanya lagi pada Hanif.


"Nggak kok, Bun! Kita baik-baik aja," kilah Hanif menutupi masalah yang ia hadapi bersama Sisi.


"Oh gitu ya! Berarti kalian jadi kan, menikah bukan depan?" Lagi-lagi pertanyaan bundanya membuat pria itu gelagapan. Dia sendiri masih bingung dengan rencana pernikahannya dengan Sisi. Sementara masalah yang terjadi padanya dan Sisi masih belum menemui titik terang.


"Nif, kamu kenapa sayang? Apa kamu sakit?" cecar Bu Tari, pria itu hanya menyunggingkan senyumnya.


"Nggak kok Bun." Bu Tari semakin gencar menyelidiki hubungan Hanif dan tunangannya itu.


"Terus! Pertanyaan Bunda belum di jawab, loh!"


"Sepertinya Hanif akan menunda pernikahan Hanif dan Sisi, Bun." Ucapan Hanif membuat nek Puspita tersedak, saat dia sedang menyesap minumannya.


"Menunda? Kenapa Nif? Bukankah kamu yang ingin mempercepat pernikahan kamu dan Sisi. Kenapa kamu ingin menundanya?" tanya nek Puspita penuh selidik.


"Kamu ada masalah dengan Sisi?" lanjutnya.


Pria itu seperti kebingungan mencari jawaban atas pertanyaan Neneknya. Dia benar-benar pusing menghadapi masalah ini. Di mata pria itu, Sisi bukan wanita baik-baik. Sisi sudah mengkhianati cintanya.


"Nif!!"


"Nggak Nek. Hanif masih banyak pekerjaan di rumah sakit." Pria itu masih menutupi masalahnya. Bu Tari hanya menghembuskan nafasnya kasar.


"Ya udah kita kedalam, yuk. Udah mau magrib!" ajak Bu Tari pada Hanif dan Nek Puspita.


Adzan Maghrib berkumandang. Menandakan setiap muslim dan muslimah melaksanakan kewajibannya. Sebagai bentuk rasa syukur kita pada yang maha kuasa. Begitupun juga dengan keluarga Hanif. Mereka memilih untuk sholat berjamaah di mushola rumah yang terletak tak jauh dari kamar tamu. Mereka terlihat khusuk dalam melaksanakan ibadahnya. Usai sholat Hanif tak pantas beranjak dari tempat itu. Banyak doa yang ia panjatkan pada Tuhan-nya. Termasuk masalah yang sedang menimpa hubungannya dengan Sisi.


Sementara Bu Tari, beliau sibuk menata makan malam di meja makan. Nek Puspita juga ikut membantu dengan menuangkan air minum di gelas yang tersusun rapi di sana. Setelah semuanya selesai. Mereka berdua duduk di tempat mereka masing-masing untuk menunggu Hanif.


Sudah hampir satu jam mereka menunggu di meja makan. Tapi, Hanif tak kunjung datang. Hingga adzan isya sudah berkumandang. "Ri, kenapa Hanif belum nyusul ke sini juga?" tanya Nek Puspita yang sepertinya sudah sedikit lelah menunggu cucunya itu.


"Iya, Bu. Coba Tari susul dulu!" seru Bu Tari kemudian beranjak dari duduknya, dan mulai melangkahkan kakinya menuju ke mushola rumah.

__ADS_1


Sesampainya di sana, Hanif yang baru saja mengaji Alquran menatap kosong ke arah kiblat. Bu Tari hanya bisa melihat punggung pria itu, lama dia berdiri di tempat itu. Tapi Hanif tidak menyadari kehadirannya. Hingga tepukkan kecil di bahu pria itu, membuat Hanif sadar.


"Bun!!!" Hanif menoleh kearah kebelakang, namun sebelumnya dia terlebih dulu mengusap air matanya.


"Kamu ada masalah, sayang?" tanya Bu Tari basa-basi, berharap anaknya mau bercerita padanya.


Hanif hanya tersenyum simpul seraya bersuara, "Hanif gak apa Bun!" Bu Tari pun sama, membalas senyuman putranya dengan senyum yang penuh arti. Betapa tidak, wanita itu tahu apa yang saat ini mengganjal hati dan pikiran anaknya. Hanya Bu Tari memilih Hanif untuk bercerita terlebih dahulu padanya. Tapi sepertinya benar dugaan wanita itu. Hanif tidak akan bercerita padanya, karena takut akan mengganggu pikirannya dan ibunya.


"Sayang, Bunda sudah lama hidup bersama kamu. Kamu tidak akan terlihat resah seperti ini, jika tidak ada yang mengganjal hati dan pikiranmu. Tapi jika kamu tidak ingin membagi kegusaranmu pada Bunda. Bunda tidak akan memaksa!" ujar Bu Tari yang membuat putranya tertunduk lemas.


"Kita makan dulu, yuk!" lanjutnya lagi. Tapi Hanif masih terlihat diam tak bergerak dari tempat itu. Hingga Bu Tari akan beranjak dari sana, namun tangannya di tarik oleh putranya.


"Bun!!!" Hanif menangis, di dekapan bundanya. Bu Tari hanya mengelus-elus bahu putranya. "Hanif!!!" Pria itu masih tak sanggup untuk melanjutkan kata-katanya.


"Ceritakan pada Bunda, apa yang terjadi padamu." Bu Tari menarik pelan kedua bahu anaknya dari dekapannya, agar mereka bisa saling berhadapan. Setelah itu dia menatap lekat wajah putranya yang masih terlihat melow. "Sekarang ceritakan pada Bunda," lanjutnya mengangguk pelan.


"Bunda!! Sepertinya Hanif tidak bisa melanjutkan pernikahan Hanif dengan Sisi. Hanif gak bisa..." Pria itu kembali terisak.


"Apa yang menyebabkan kamu ingin membatalkan rencana pernikahan kamu dan Sisi?" tanya bu Tari masih menetap wajah putranya. Namun Hanif kembali diam, tak bersuara.


"Apa karena video itu," tebak Bu Tari membuat Hanif membelalakkan matanya. Dia tidak menyangka kalau masalahnya dengan tunangannya sudah di ketahui bundanya.


"Bunda tahu tentang itu?" tanya Hanif terkejut. Wanita dihadapannya itu hanya tersenyum simpul menanggapi pertanyaan putranya. Seakan tidak ada sesuatu yang luar biasa yang membuat wanita itu terkejut dengan berita yang beredar di video yang menjadi trending topik di medsos pekan itu.


"Tanyakan pada hati nurani kamu, sayang! Apa mungkin Sisi akan melakukan itu dengan pria itu." Hanif hanya diam tak membalas percakapan bundanya. Tapi, entah kenapa dalam hatinya yang paling dalam, pun meragukan itu. Dia juga tidak percaya kalau Sisi akan menyeleweng dengan Iqbal. Tapi sekali lagi, ucapan warga itu menjatuhkan pendapat nya.


"Sayang, Sisi adalah wanita baik-baik. Dari keluarga baik-baik. Dia juga wanita yang cerdas, mana mungkin dia akan tega menyakiti kalian. Apalagi yang Bunda dengar, pria yang dituduh itu adalah tunangan sahabatnya. Mana mungkin Sisi akan setega itu, sayang. Bunda hanya gak mau kamu salah mengambil keputusan. Pikirkan hal ini baik-baik!"


Obrolan mereka terhenti saat nek Puspita memanggil mereka berdua. "Hanif, Tari apa kalian tidak makan malam? Nenek dari tadi udah nunggu disini, tapi kalian gak datang juga!!" teriak Nek Puspita dari meja makan.


"Kita makan dulu, yuk! Kasihan nenekmu udah nunggu dari tadi!" ajak Bu Tari, menarik pelan tangan Hanif agar pria itu berdiri dan mereka bisa makan malam bersama.


Akhirnya mereka menikmati santap malamnya dengan sedikit terlambat, karena saat itu Hanif memaksa untuk sholat isya terlebih dahulu, mengingat adzan sudah sejak tadi berkumandang. Baru setelah sholat, mereka makan malam bersama. Tidak ada yang aneh dengan makan malam mereka malam itu. Sama seperti biasanya hingga nek Puspita memutuskan untuk selesai lebih dulu. Mengingat kondisinya yang sudah senja, jadi tidak bisa makan berlebihan.


"Nenek mau nonton TV dulu," ucapnya menarik tubuhnya dari kursi, dan berjalan menuju ruang tengah. Hingga menyisakan Hanif dan bu Tari yang belum selesai dengan makanannya. Hingga suara teriakan nek Puspita membuat mereka terpaksa menghentikan makannya, dan bergegas melihat apa yang terjadi.


Di ruang tengah, Nek Puspita terlihat memegangi dadanya yang sakit sambil mengerang kesakitan. Tentu membuat mereka berdua terlihat panik, dan Hanif langsung memeriksa keadaan neneknya. Ternyata wanita senja itu terkena serangan jantung hingga mengakibatkan dadanya tiba-tiba sakit yang luar biasa.


"Bun, kita harus segera bawa nenek ke rumah sakit!!" seru Hanif yang terlihat panik.

__ADS_1


"Ya udah sayang, Bunda ambil tas dulu di kamar!" ucap Bu Tari berlari menuju kamarnya untuk mengambil tasnya.


Sambil menunggu bundanya kembali dari kamarnya, Hanif mencari sebab hingga neneknya tiba-tiba terkena serangan jantung. Hingga pandangannya beralih ke televisi yang masih menyala. Di sana di beritakan tentang anak dari direktur rumah sakit sejahtera yang tertangkap basah dengan pria di rumah kosong. Setelah mengetahui sebab neneknya sakit, Hanif mengumpat kesal seraya mengacak rambutnya. Dadanya semakin bergemuruh saat melihat neneknya sakit gara-gara menonton berita itu. Rasa kesalnya semakin menjadi pada Sisi.


Tak lama setelah itu, Bu Tari datang dengan membawa tasnya. Dengan cepat Hanif menggendong neneknya menuju mobilnya dan segera membawanya ke rumah sakit.


Empat puluh lima menit kemudian, mereka sampai di rumah sakit. Hanif kembali menggendong neneknya dan membawa masuk ke dalam. Setengah berlari, pria itu berteriak meminta bantuan perawat di sana. "Suster tolong brankarnya!!" Tak lama setelah itu dia orang perawat yang sedang mendorong brankar menghampiri Hanif. Setelah di hadapannya, Hanif langsung membaringkan tubuh neneknya di sana dan dengan cepat di bawa ke IGD, diikuti oleh Bu Tari di belakangnya.


Setelah sampai di ruang IGD, mereka memisahkan diri. Dua orang perawat itu membawa masuk nek Puspita kedalam. Sementara Hanif dan Bu Tari menunggu di luar. Hanif begitu cemas melihat keadaan neneknya tadi, denyut jantungnya sudah tak beraturan. Dia takut terjadi sesuatu pada neneknya terlebih lagi penyakit darah tinggi yang di derita neneknya, akan semakin membuat keadaannya semakin memburuk. Tak kalah dengan Hanif, Bu Tari bahkan tidak bisa duduk dengan tenang menunggu ibunya selesai di periksa. Dia berjalan hilir mudik dari sisi ke sisi membuat orang yang melihatnya merasa lelah sendiri. Hingga seorang dokter dan perawat keluar dari ruangan itu. Mereka berdua langsung menghampiri dokter itu.


"Gimana Dok, keadaan nenek saya?" tanya Hanif panik pada dokter Erigo dan suster Windi.


"Nenek anda sudah melewati masa kritisnya. Tapi beliau memanggil-manggil nama seseorang," jelas Dokter Erigo membenarkan stetoskop yang mengalung di lehernya.


"Bisa kami melihatnya, Dok?" tanya Hanif lagi.


"Silahkan, Dok! Nenek anda sudah kami pindahkan di ruang melati 03," jawab dokter Erigo pada Hanif.


"Terimakasih, Dok!" seru Hanif, dokter Erigo mengangguk sebagai balasan ucapan terimakasih dari Hanif karena dia sudah keburu berjalan meninggalkan tempat itu.


Di sebuah ruangan satu kali dua meter, nek Puspita terbaring lemah tak berdaya. Terlihat ada beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya. Hanif dan Bu Tadi berjalan mendekat kearahnya. Mereka benar-benar tidak menyangka kalau nek Puspita akan terkena serangan jantung, dan berakhir terbaring di brankar rumah sakit.


Seperti yang dikatakan oleh dokter Erigo tadi. Beliau terus-menerus memanggil nama Sisi. Membuat Hanif merasa tidak nyaman. Dia benar-benar sudah terlihat marah dengan tunangannya itu. Karena berita itulah yang membuat neneknya ada disana.


"Nif, apa yang terjadi pada nenek?Kenapa dia tirus memanggil-manggil nama Sisi? Apa nenek tahu tentang berita itu?" cecar Bu Tari mengelus lembut tangan ibunya.


"Iya Bun. Hanif sempat lihat tadi. Nenek sedang menonton acara gosip yang isi beritanya tentang video itu," terang Hanif namun tidak melihat wajah bundanya.


"Astaghfirullahalladzim, terus gimana nenek Nif? Dia manggil-manggil terus nama Sisi. Apa gak sebaiknya kamu hubungi dia!" Ucapan Bu Tari membuat Hanif mengalihkan pandangannya menghadap bundanya yang terisak melihat keadaan ibunya.


"Gara-gara dia! nenek masuk ke rumah sakit, sekarang! Dan bunda suruh Hanif menghubungi dia? Nggak Bun, Hanif tidak akan pernah hubungi dia!!!" Hanif sedikit menaikan nada bicaranya. Sepertinya emosinya kembali meledak-ledak, sehingga akal sehatnya tidak bekerja dengan normal.


"Sayang, berhenti menyalahkan Sisi. Apalagi berita itu belum benar adanya," bela Bu Tari yang tidak terima jika calon menantunya disalahkan oleh anaknya.


"Bunda... Shift... terserahlah," umpat Hanif meninggal ruangan itu. Bu Tari hanya bisa mengembuskan nafasnya di udara. Dia tidak menyangka anaknya akan bersikap itu padanya, terlebih Hanif bukan tipe orang yang mudah percaya dengan orang lain. Tapi kenapa dia bersikeras menyalahkan Sisi hanya karena berita yang belum tentu kebenarannya. Bu Tari tetap mengabari Sisi melalui handphonenya. Beliau menelpon Sisi dan meminta agar Sisi ke rumah sakit sekarang. Beliau memberitahu keadaan nek Puspita yang sesungguhnya.


Dengan banyak pertimbangan, akhirnya Sisi memenuhi permintaan Bu Tari. Meskipun dia belum sanggup untuk bertemu dengan Hanif. Tapi jika mendengar dari cerita Bu Tari, Sisi tidak tega untuk tidak datang ke rumah sakit. Dengan diantar oleh supir pribadinya, Sisi sampai di rumah sakit tempat nek Puspita di rawat. Wanita itu langsung menuju ke ruang melati 03. Saat berjalan menuju kesana, dia berpapasan dengan Hanif. Pria itu menghentikan langkahnya.


"Untuk apa kamu datang kesini?" tanya nya dengan nada sinis.

__ADS_1


Awalnya Sisi akan mengabaikan Hanif yang masih bersikap dingin padanya. Tapi dia menjadi tersulut emosi saat Hanif berkata, "sudah puas buat semua keluargaku menderita!!!"


"Saya datang kesini karena memenuhi permintaan bunda. Terlepas dari masalah kita, apa kamu tidak bisa berfikir dewasa. Nenek kamu sedang sakit, dan memanggil nama saya. Tapi kamu mengabaikan itu, dengan tetap bangga dengan ego kamu!!!!" Sisi langsung pergi dari tempat itu dan melanjutkan langkahnya menuju ke ruang melati 03.


__ADS_2