
Rio menceritakan semua tentang kematian anaknya, Weli histeris, terpukul, merasa bersalah, itu yang dirasakannya. Kalau saja dia tak nekat untuk mengendarai mobilnya sendiri, kecelakaan itu tak mungkin terjadi. Weli meminta kepada Rio untuk mempertemukan anaknya sebelum dimakamkan, namun mengingat kondisinya yang belum pulih, dokter Feri tak memberi izin. Apalagi pasca operasi besar, tentu saja dokter Feri tak mau ambil resiko. Akhirnya dia hanya bisa melihat anaknya melalu video call dengan pak Andrian. Selama proses pemakaman, mereka melakukan video call.
Terlihat jelas dari wajah mereka, kesedihan dan penyesalan dirasakan keduanya.
++++++++++++++++++
Usai berziarah ke makam anak Weli dan Rio, Faisal langsung pulang ke rumah. Hatinya masih kacau, dia terus memikirkan kondisi Weli. Karena Faisal belum tahu kalau Weli ternyata sudah sadar.
"Mas, mas sudah pulang, langsung mandi aja ya mas, setelah itu sholat ashar dulu". Ucap Yulia, Faisal hanya mengangguk, kemudian pergi ke kamar untuk mandi.
Yulia tahu mood suaminya saat ini sedang tidak baik, sahabat nya mengalami musibah. Yulia Kedapur untuk membuatkan Faisal coklat hangat, biar mood nya kembali membaik.
Usai sholat ashar Faisal tak kunjung keluar juga, Yulia yang sudah menunggu diruang keluarga akhirnya menyusul Faisal ke kamar sembari membawa coklat hangat yang dia buat.
"Mas.." Sapa Yulia yang melihat Faisal duduk merenung di ranjang.
"Eh Yul.." Faisal hanya tersenyum.
"Mas minum dulu coklat hangatnya, Yuli tahu mas pasti mood nya sedang jelek.. iya kan" Yulia menyerahkan segelas coklat hangat pada Faisal, dan langsung diminum oleh Faisal.
__ADS_1
"Aku kasihan deh mas sama mbak Weli, sekarang lagi koma, terus anaknya juga meninggal. Yuli gak bisa bayangin deh mas, kalau Yulia diposisi mbak Weli...". Yulia duduk disebelah Faisal sembari membayangkan kalau dia jadi Weli.
"Sstt.. Yul kamu gak boleh ngomong kayak gitu, ucapan adalah doa, semoga kamu dan bayi kita sehat-sehat terus ya.." Faisal menenangkan Yulia, Faisal tahu apa yang dirasakan Yulia. Faisal takut kalau Yulia menjadi trauma, karena melihat apa yang menimpa Weli.
"Mas akan slalu ada waktu buat Yulia,,," Faisal mengelus perut istrinya, Yulia sontak menyandarkan kepalanya di pundak Faisal.
Malam itu usai sholat isya Faisal dan Yulia memilih untuk tidur cepat, karena aktivitas nya seharian membuat Yulia merasa lelah. Dalam hitungan menit, Yulia sudah berada dalam alam mimpi. Sementara Faisal, jangankan untuk tidur, memejamkan matanya saja rasanya enggan. Karena setiap kali dia memejamkan matanya, Faisal selalu keingat kejadian yang menimpa Weli. Faisal hanya duduk disebelah istrinya yang sudah terlelap.
Pikirannya masih menerawang memikirkan kondisi Weli. Jika dia bisa memilih biarlah dia melihat Weli hidup bahagia bersama Rio, dibandingkan jika harus kehilangan Weli untuk selamanya.
Faisal resah, dia ingin menelpon Rio, menanyakan kondisi Weli. Tapi dia juga tak punya keberanian untuk melakukan itu, yang ada nanti akan menjadi salah paham.
Dilihatnya sudah pukul 00.00, namun matanya masih enggan terpejam. Akhirnya Faisal tak bisa mengendalikan untuk tahu kondisi Weli saat ini, Faisal berniat akan menemui Weli. Diliriknya istrinya yang masih terlelap, Faisal beranjak dari ranjangnya untuk pergi ke rumah sakit.
"Kemana Weli dipindahkan.. Ya Allah apa yang terjadi pada Weli.. ". Gumam Faisal lirih, pikiran menjadi semakin kacau, Faisal menuju ke lobi rumah sakit untuk menanyakan posisi Weli pada petugas receptionis rumah sakit'.
"Pasien atas nama Weli Admaja dirawat dimana, tolong cek .." Perintahnya pada petugas receptionis.
"Korban kecelakaan itu ya dok.." tanya petugas receptionis pada Faisal..
__ADS_1
"Iya.. cepat cek..." Jawabnya dengan nada suara mengeras.
"Dipindahkan ke ruang rawat anggrek 105 dok" jawab petugas receptionis gugup.
" keruang rawat ? apa pasien sudah sadar..." tanya Faisal dengan nada bingung..
"Sudah dok, sore tadi dipindahkan ke ruang rawat anggrek 105" dengan sabar petugas receptionis itu menjawab pertanyaan Faisal...
Ada sedikit kelegaan dalam pikiran dan hati Faisal, karena wanita yang dicintainya itu masih hidup. Namun ada keraguan untuk dia menemui Weli. Akhirnya Faisal memutuskan untuk tetap menemui Weli, jika masih ada orang yang terjaga disana, dia akan balik saja. Pikirannya Faisal.
Dengan langkah pelan dia menuju keruang rawat anggrek 105. Faisal seperti seorang maling yang mengendap-endap, berjaga-jaga agar tidak ketahuan. Faisal membuka pintu ruangan tersebut, dilihatnya Weli dari kejauhan. Mimik bahagia bercampur sedih terpancar dari wajah Faisal. Bahagia karena Weli sudah sadar, sedih karena bukan dia yang berada di samping Weli.
Disaat Faisal sedang memperhatikan Weli, ada seseorang yang menepuk punggungnya...
To be continued..
Dilanjut besok ya..
hari ini banyak kerjaan soalnya, jadi author cuma bisa up satu bab 🙏🙏🙏🙏🤭.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya,, Dukungan nya paling penting.. Terimakasih....
kalau lolos 100 like besok up tiga bab 🤭✌️✌️✌️ ayo semangat like nya🤣🤣🤣🤣🤣