Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Harusnya aku, bukan dia


__ADS_3

Mentari pagi mengusik kulit melalui celah-celah jendela kamar Hanif. Pria itu sedang menyenderkan kepalanya di headboard, tempat tidurnya. Tak ada niatan beranjak dari sana.


Sejak semalam, dia mengurung diri di kamarnya. Beberapa kali, bundanya mengetuk pintu kamarnya untuk memanggilnya sarapan bersama. Namun, Hanif menolaknya.


Hatinya bak di tusuk sembilu mendengar pernyataan dari Sisi. Mengingat hal itu, membuat pria berkacamata itu tak bersemangat melakukan aktivitasnya. Bahkan sudah dua hari ini, dia bolos dari kerjanya.


Entah sudah berapa kali, Bu Tari memanggil Hanif dari balik pintu kamarnya, "Nif, buka pintunya sayang. Sampai kapan kamu akan seperti ini?" Wanita itu ikut terluka melihat putranya yang hancur.


"Tinggalkan Hanif, Bun. Hanif tidak ingin bertemu dengan siapapun!" tegasnya dengan suara bergetar menahan tangisnya.


"Sayang, jangan seperti ini." Bu Tari masih berusaha membujuk Hanif untuk keluar. Namun, percuma saja baginya. Hanif bahkan tidak lagi menjawab ucapan bundanya.


Bayang-bayang kesalahan di masa lalunya menghantui pikiran pria berlesung pipi itu. "Kenapa harus dia," gumamnya mengeratkan rahangnya. "Dia lagi, dan lagi!" lanjutnya mengepalkan tangannya.


Hanif teringat kisahnya dulu, sebelum dia menyandarkan gelar dokter saat ini. Hanif sempat mencintai seorang gadis, satu kampus dengannya. Saat mereka masih kuliah dulu. Kedekatannya dengan Alira disalahartikan oleh Hanif. Ternyata gadis itu hanya menganggapnya sebagai sahabat.


Pernah suatu ketika, dia mengutarakan perasaannya pada Alira. Namun, dengan tegas Alira menolaknya, alih-alih gadis itu naksir dengan seseorang. Dan orang itu adalah Ilham, kakak kelasnya dulu saat masih SMA sekaligus seniornya di kampus itu. Dan mulai saat itulah hubungan Hanif dan Ilham merenggang, yang awalnya mereka bersahabat karena Alira, Hanif sangat membenci Ilham.


"Ya Tuhan, kenapa hari ini begitu sakit mendengar kenyataan ini!" keluhnya seraya mengelap wajahnya kasar. "Kenapa disaat aku sadar, kalau Sisi adalah cinta sejatiku, tapi Engkau tidak menyatukannya, kenapa!" racaunya lagi.


Hampir seharian Hanif berada di kamarnya dan melewatkan sarapan dan makan siangnya. Pria itu tetap tak bergeming dari ranjangnya. Rasa cintanya yang teramat dalam, hingga dia terluka pun sangat dalam.


Hatinya masih bingung, antara marah benci, dan rindu pada sosok wanita yang selalu menari-nari di pelupuk matanya. Hingga adzan ashar pun berkumandang. Pria itu lekas bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah itu melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.

__ADS_1


Selepas itu, Hanif tampak duduk di balkon kamarnya. Pandangannya tertuju pada jalanan rumahnya, lalu lalang kendaraan sore itu membuat hatinya semakin teriris. Kala dia mengingat saat berduaan di dalam mobil bersama Sisi.


Ada yang menurutnya sangat aneh sore itu, hatinya terasa sesak. Bergemuruh ingin meluap bersarang di sana. Perasaannya tidak menentu, seolah akan terjadi sesuatu padanya. Hingga sorot matanya menangkap bayangan Sisi yang sedang tersenyum manis padanya.


"Ada apa ini!" lirihnya.


Tanpa sadar, dia menarik diri dari tempat duduknya. Di raihnya jaket yang tergantung di dinding setelah itu mengambil kunci mobilnya di meja. Langkah demi langkah, Hanif keluar dari kamarnya, dan sekarang dia mulai menapaki ruang tengah. Dimana Bu Tari yang sedang nonton TV menyadari kehadirannya.


"Sayang, Alhamdulillah kamu keluar juga!" ucapnya mendekat kearah Hanif. Pria itu menghentikan langkahnya, dan memandang bundanya.


"Kamu makan dulu, ya? Bunda udah siapin semuanya di meja makan," lanjutnya namun mendapat penolakan dari Hanif.


"Maaf Bun, Hanif gak laper. Hanif pamit keluar dulu, ya!" Di raihnya punggung tangan bundanya, lalu dikecupnya setelah itu Hanif melanjutkan kembali langkah kakinya.


"Hanif mau pergi sebentar, Bun!" jawabnya tanpa menoleh kebelakang.


Bu Tari berjalan mendekat sambil menatap punggung putranya, Setelah sampai di hadapan Hanif. Bu Tari menatap nanar wajah putranya yang terlihat sembab.


"Mau menemui Sisi lagi?" Hanif hanya terdiam. "Mau sampai kapan sayang, kamu seperti ini! Ikhlaskan dia sayang, biarkan Sisi bahagia dengan pilihannya!" Hanif memalingkan wajahnya dari bundanya, dia tidak sanggup jika Bu Tari menitikkan air matanya.


"Kamu masih muda, kamu juga pria baik, dan karir mu pun bagus. Bunda yakin, suatu saat nanti akan ada wanita baik yang mau menerima mu apa adanya," lanjut Bu Tari yang mulai terisak.


"Bun, Bunda jangan nangis. Hanif....cuma ingin tunjukkan ke Sisi, kalau Hanif masih mencintainya. Dan Hanif yakin, Sisi pun sama." Bu Tari sudah tidak bisa bicara lagi, dia memilih untuk membiarkan apa yang di lakukan oleh putranya. Mencegah pun percuma, Hanif tidak bisa.

__ADS_1


Hanif kembali melangkahkan kakinya, tujuannya hanya satu, ke rumah Faisal. Dia tidak akan berhenti sampai di situ, dia juga sudah menyiapkan cara agar Sisi membukakan pintu hatinya lagi untuk dia.


Mobil Avanza milik nya melaju membelah keramaian kota Jogja sore itu. Beberapa kali mobilnya harus berjalan merambat karena terjadi kemacetan. Sesekali Hanif mengumpat kesal. Perasaannya semakin lama semakin tak menentu. Sekarang, perasaan takut menyerang dirinya. Hingga Hanif bisa kembali melajukan mobilnya dengan lancar. Tak membutuhkan waktu yang lama, mobilnya sampai di depan pintu gerbang rumah Faisal.


Ada yang membuatnya heran, saat dia turun dari mobilnya. Netra matanya tertuju pada mobil Alphard dan sedan yang terparkir di halaman rumah Faisal. Dengan cepat Hanif berjalan menuju ke pintu utama.


Terdengar sayup-sayup dari teras rumah itu, seseorang yang sedang mengucapkan ikrar pernikahan. Hanif begitu terkesima saat melihat Ilham dengan lantangnya mengucapkan ijab qobul nya. Untuk sesaat langkahnya terhenti di ambang pintu. Bahkan kehadirannya pun tidak diketahui oleh semua orang yang berada di dalam ruangan itu.


Tubuhnya seketika melemas, karena kesempatannya kian sirna. Wanita yang di cintainya sudah menjadi milik orang lain. Tanpa terasa air matanya jatuh menitik kepipinnya. "Aku terlambat," lirihnya, seraya mengusap sisa air matanya.


Gemuruh di dadanya kembali meluap, saat melihat Sisi yang di bawa bundanya menuju keruangan itu. Dengan anggunnya Sisi berjalan mendekat kearah Ilham. Ingin sekali dia berteriak, dan menarik Sisi kedalam pelukannya. Namun, niatnya terhenti saat melihat ranum kebahagiaan dari dalam wajah Sisi.


Dia hanya bisa menatap samar Sisi yang sedang bermesraan dengan Ilham. "Harusnya aku yang berada di tempat itu!"


Hanif sudah tidak sanggup menyaksikan kejadian itu. Dan memilih pergi dari tempatnya berdiri. Naas, kakinya menyenggol pot bunga yang berada di dekatnya, hingga pot itu jatuh dan pecah. Sontak kehadirannya di ketahui oleh semua orang, dan sorot mata orang-orang itu menatap kearahnya, kearah Hanif yang sedang rapuh. Dan disitulah manik mata Hanif bertemu dengan manik milik Sisi. Tatapan mereka terkunci dalam diam dan kebingungan.


Ilham yang menyadari itu hanya bisa tertunduk lemah. Sakit, namun tak seberapa di banding rasa sakit yang di alami oleh Hanif. Hingga sebuah tepukan mengalihkan pandangan Sisi kearah lain.


"Sayang!" seru Yulia memperingatkan Sisi untuk menjaga sikap di depan keluarga Ilham.


Sementara Hanif, dia langsung pergi dari sana.


To be continued

__ADS_1


Kira-kira apa yang terjadi selanjutnya ya😁😁😁


__ADS_2