Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Aku sudah tidak mencintai mu


__ADS_3

Sisi mengurungkan niatnya untuk menuju ke depan. Dia memilih menunggu di sana, sampai Hanif benar-benar pergi dari tempat itu.


Sudah hampir setengah jam dia berdiri mematung di tempat itu, menunggu Hanif pergi. Tapi, pria itu tak kunjung melajukan mobilnya. "Ihhh, kenapa gak pergi juga sih!" keluhnya sembari mengerutkan keningnya.


Dering ponsel Sisi pun berbunyi, terlihat dari layar ponselnya Dino yang menelponnya. "Assalamualaikum, Om!" seru Sisi menjawab telpon dari Dino.


Tujuan Dino menelpon ialah mencari tahu keberadaannya saat ini. Karena supir yang sudah menunggunya di depan menghubungi Dino, kalau dia belum juga muncul di depan. "Maaf, ya Om!" seru Sisi menutup panggilannya.


Dia terpaksa meminta bantuan Dino untuk mengusir Hanif pergi dari tempat itu. Jika tidak, Hanif akan terus menunggunya di sana.


"Sayang, aku kedepan dulu ya!" pinta Dino pada istrinya, saat mereka sudah ada di kamar. Felisa mengernyitkan keningnya, dia tidak menyangka Hanif akan senekat itu, menunggu Sisi.


"Ya sudah, kamu hati-hati Mas!" Dino tersenyum tipis pada Istrinya, setelah itu dia beranjak dari kamar menuju ke halaman depan.


Udara dingin malam itu mulai mengusik tubuh Dino. Sembari memasukan kedua tangannya di saku, Dino berjalan menuju kearah mobil Hanif, setelah sampai, dia langsung mengetuk kaca pintu mobil pria itu.


Sesaat kemudian, Hanif membuka kaca mobilnya. Dengan wajah datar, Hanif menyapa Dino. "Dokter Dino!"


"Maaf, Dok. Apa Dokter sedang menunggu seseorang?" tanya Dino seolah tak tahu.


"I-ya, Dok! Sa-ya menunggu Sisi," jawab Hanif terbata-bata. Dino mengangguk-angguk sembari memegangi dagunya.


"Tapi, sepertinya Sisi tidak pulang, Dok. Dia menginap di sini," kilah Dino menyakinkan.


"Oh, gitu ya Dok! Maaf saya sudah mengganggu," ucap Hanif menanggapi informasi dari Dino.


"Iya Dok, nggak apa Kok! Lebih baik dokter pulang saja, dulu. Sudah larut malam," usir Dino dengan nada sopan. Pria berkacamata itu tersenyum getir kearah Dino. Seolah menaruh curiga pada Dino yang gelagatnya terlihat aneh.


"Ya sudah. Saya permisi dulu! Assalamualaikum!"


"Waalaikumussalam!"

__ADS_1


Hanif melajukan mobilnya dari halaman rumah Dino ke jalan raya. Sesekali dia mengumpat dalam hati. Lalu lalang kendaraan makam itu sudah sedikit sepi. Sehingga dengan bebas mobil Hanif meluncur menuju ke rumahnya. Namun di tengah jalan firasatnya merasa tidak enak. Pikirannya di liputi dengan bayang-bayang Sisi. Akhirnya dia memutar balik kendaraannya menuju ke rumah Dino lagi. Beruntung mobilnya belum jauh meninggalkan rumah Dino.


Mobil yang di kendarai Hanif sampai juga di depan pintu gerbang rumah Dino, Hanif menghentikan mobilnya di sana. Tak berapa lama sebuah mobil Alphard berwarna putih keluar dari rumah Dino. Hanif yang menyakini mobil itu membawa Sisi, langsung membuntuti. Dia sangat yakin, jika di dalam mobil itu ada wanita yang dia cintai. Sengaja Dino membohonginya, atas permintaan Sisi.


"Aku harus bisa menghentikan mobil itu," ujar Hanif mempercepat kecepatan mobilnya.


Beruntung jalanan sudah sedikit senggang, sehingga dengan mudah dia menyalip mobil yang di tumpangi Sisi. Tak lama setelah itu Hanif menghentikan mobilnya secara mendadak, sontak supir Dino menginjak pedal rem mobilnya, dan nyaris saja menabrak mobil Hanif.


"Astaghfirullah, ada apa Pak?" tanya Sisi yang merasa terkejut.


"Itu Mbak! Ada mobil yang tiba-tiba berhenti mendadak di depan," jawab supir itu dengan nada kesal. Setelah itu sang sopir turun dari kemudinya, bersamaan dengan Hanif. "Eh Mas, bisa nyetir nggak? Bahaya tau!!!!" umpatnya pada Hanif. Sementara Hanif tak menanggapi kekesalan supir itu dan memilih mendekati Sisi yang masih duduk di dalam mobil.


Dari balik kaca mobil, Sisi bisa melihat kalau Hanif sedang menghampirinya. Setelah sampai, Hanif menggedor-gedor kaca pintu mobil yang di tumpangi Sisi. "Buka pintunya, Si!!!" serunya dengan menundukkan kepalanya, agar bisa terlihat oleh Sisi.


"Ya ampun Hanif, kenapa kamu senekat ini, sih!" Sisi mengumpat kesal karena Hanif terus saja mengusiknya, namun dalam hati kecilnya dia merasa kasihan dengan Hanif yang begitu berusaha agar dia mau bicara dengannya.


"Si, kalau kami tetap nggak mau keluar. Aku nggak akan pergi dari Sini!" ancam Hanif membuat Sisi bergidik kesal. Akhirnya, Sisi turun dari dalam. Mungkin dia memang harus bicara dengan pria itu. Agar, Hanif tak lagi mengganggunya.


Sisi keluar, segera Hanif menarik tangan Sisi untuk mencari tempat yang nyaman untuk mereka ngobrol. Sontak membuat Sisi menghempaskan tangan Hanif. "Jangan sentuh saya! Kita bukan muhrim!!" Peringatan dari Sisi, perlahan membuat Hanif melepaskan genggamannya dari lengan Sisi.


"Sekarang, katakan!!! Apa yang akan kamu katakan pada saya!!!" ujar Sisi dengan nada keras, saat mereka sudah menjauh dari mobil mereka.


"Si, maafkan aku! Aku salah, aku nggak mau mendengarkan penjelasan kamu, waktu itu! Aku mohon maafkan aku," ucap Hanif dengan wajah memelas. Sisi bisa melihat dengan jelas wajah Hanif saat itu, karena mereka berdiri di dekat tiang lampu yang cukup terang.


Sisi menarik nafasnya, setelah itu menghembuskannya perlahan. "Aku sudah maafin kamu, Nif. Tapi..."


Belum sempat Sisi melanjutkan kalimatnya, Hanif terlebih dulu memangkasnya. "Itu artinya, kamu mau kembali dengan aku!"


Sisi sedikit terkejut dengan pernyataan Hanif yang memintanya kembali. "Maaf, Nif. Aku nggak bisa!!" jawab Sisi dengan tegas.


"Kenapa? Apa kamu sudah tidak mencintai ku?" Pertanyaan itu membuat Sisi mati kutu. Dia sendiri pun masih ragu untuk mengetahui perasaannya saat ini.

__ADS_1


Hanif menatap lekat wajah Sisi. Begitupun dengan Sisi. Ada yang aneh dalam diri Sisi, saat berhadapan dengan Hanif saat ini. Perasaan yang dulu begitu kuat, saat berhadapan dengan pria itu. Kini berubah, Sisi tak lagi merasakan debaran cinta di dalam hatinya. Dia merasa biasa saja di depan Hanif, sama halnya saat bersama dengan Iqbal.


"Katakan padaku, Si! Apa kamu sudah tidak mencintaiku?" ulang Hanif sontak membuat Sisi sadar dari pikirannya yang berkelana. "Kamu tidak bisa menjawabnya, bukan? Kamu masih mencintai ku, Si. Masih!" Hingga Hanif berasumsi seperti itu karena Sisi tak kunjung menjawab pertanyaannya


"Aku akan buktikan ke kamu kalau kamu masih mencintaiku!" Hanif mendekatkan wajahnya ke wajah Sisi, tangannya akan menyentuh tengkuk wanita itu. Sejurus kemudian di tepis oleh Sisi.


"Apa-apaan kamu!!!"


"Kenapa? Dengan cara itu kamu bisa tahu, kamu masih mencintaiku atau tidak!!!"


"Cukup Hanif!! Kamu tidak perlu melakukan itu, karena aku sudah punya jawabannya." Jantung Hanif berdebar-debar mendengar apa yang akan di sampaikan oleh Sisi.


"Katakan jawabannya!"


"Aku...aku sudah tidak mencintaimu lagi!!!" ucap Sisi dengan tegas. Kemudian Sisi pergi meninggalkan Hanif yang masih syok mendengar pengakuannya tadi.


"Si!!!" Sisi menghentikan langkahnya. "Apa benar yang kamu katakan tadi!!!" ucap Hanif dengan nada lemah, namun masih bisa di dengar oleh Sisi. "Katakan sekali lagi!!!"


"Aku sudah tidak mencintai mu Muhamad Hanif!!!" Sisi mengulang kalimatnya dengan suara parau. Hatinya bagasi di hantam gelombang yang mengharuskan dia mengatakan hal itu pada mantan tunangannya itu.


Dua insan itu masih mematung di tempat itu. Mereka sedang menata diri setelah apa yang baru saja terjadi. Beberapa pengendara memperhatikan mereka berdua di balik kendaraannya. Mereka menjadi pusat perhatian oleh pengendara lainnya. Hingga Hanif berniat menabrakkan diri ke salah satu mobil yang melintas di sana!!


Bughh...terdengar suara orang jatuh, setelah itu diikuti suara teriakan. "Kamu jahat Sisi!!?" Sisi membalikkan badannya, dia melihat Hanya sudah tersungkur di aspal, tubuh Sisi langsung melemah. Dia berlari mendekati Hanif. Pun dengan pengendara lainnya.


"Nif, kamu nggak apa-apa kan!" Sisi menepuk-nepuk pipi Hanif. Hanif sudah memejamkan matanya, namun tidak ada bekas darah di sekitar tubuhnya. "Nif!!! Bangun Nif!!!!"


"Hanif!!!!!!!"


To be continued


Nanti malam akan ada yang mengejutkan saat acara lamarannya Sisi dan Ilham. Apa ya kira-kira!!!

__ADS_1


__ADS_2