
Diwaktu yang sama. Seorang gadis tampak senyam-senyum sendiri membaca chat dari handphone nya. Sisi yang mendapat chat dari Hanif, entah kenapa hatinya merasa bahagia. Dia sengaja menyimpan nomor Hanif saat pria itu meminta nomornya. Tanpa sepengetahuan Hanif dia miskol nomornya sendiri pake handphone Hanif. Karena itu dia bisa melihat kalau Hanif mengirim chat padanya.
Saat pertama kalinya Hanif mengirim chat ke nomor Sisi. Gadis itu merasa berbunga-bunga. Apalagi setelah membaca isi chat nya. Dia merasa hatinya di tumbuhi seribu tangkai bunga mawar.
Dia jadi ingat saat Hanif mau membuatkan nafas buatan untuk dirinya. Dia tersenyum geli, saat Hanif terjengkang akibat ulahnya. Sisi pun menunggu balasan chat terakhir nya dari Hanif. Karena lama tak kunjung dapat balasan akhirnya dia memutuskan untuk tidur dan tak sabar menunggu hari esok.
Keesokan harinya, Hanif bangun dari tidurnya. Tidur yang dirasanya masih sebentar. Karena dia tak ingin Heri ini datang. Karena kebodohannya semalam, yang mengirim Chat pada Sisi. Membuat dia kehilangan semangat untuk berangkat kerja hari ini.
Dengan malas dia beranjak dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi. Lama dia di kamar mandi bukan cuma untuk membersihkan diri. Tapi juga mencari cara agar Sisi tidak mengejek nya waktu mereka bertemu. Hampir tiga puluh menit dia berada di kamar mandi, tapi tak kunjung mendapatkan ide itu juga.
Bu Tari yang melihat anaknya belum keluar dari kamarnya. Berinisiatif untuk menyusulnya. Dia khawatir kaldu putranya itu sedang sakit. Bu tari berjalan menuju kamar putranya. Karena masih terkunci akhirnya beliau mengetik pintunya. "Nif, apa kamu sakit sayang? Kok belum keluar?" cecar ya merasa khawatir.
Hanif yang mendengar bundanya mengetuk pintu. Akhirnya menyudahi melamunnya dan segera membuka pintu kamarnya. "Iya Bunda, Hanif udah mau keluar kok," jawanya kemudian keluar dari kamarnya.
Melihat anaknya sedikit murung, lantas membuat Bu Tari sedikit kepo dan bertanya pada putranya. "Kamu kenapa sayang? kok murung gitu? patah hati?" Cecarnya membuat salah tingkah. "Oh itu, anu. Hanif kurang tidur Bunda." Bu tari hanya tersenyum dan menggeleng melihat tingkah anaknya itu.
Hanif memang hanya tinggal bersama bundanya. Karena ayahnya meninggal satu tahun uang yang lalu. Penyakit jantung yang di derita ayahnya Hanif membuat pria itu tidak panjang umur. Ayahnya juga seorang dokter di rumah sakit tempat Faisal dulu bekerja. Dari situlah Hanif dan Faisal saling kenal.
Setelah berpamitan pada bundanya Hanif berangkat ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit. Dia memarkirkan mobilnya. Kemudian turun dan bersiap masuk kedalam. Tapi langkahnya terhenti, saat melintasi parkiran khusus untuk motor. Diamatinya satu persatu motor yang terparkir di sana. Setelah yakin bahwa motor yang ia cari tidak ada disana, dia bisa tersenyum lega. Setelah itu dengan cepat ia melangkah kakinya menuju keruangannya.
Saat sudah ada di depan ruangan nya. Hanif membuka pintu ruangannya. Diamatinya sekeliling ruangan itu. Setelah dirasanya sudah aman dia masuk kedalam. Hanif mulai memeriksa daftar pasien yang akan periksa rutin hari ini.
Aktivitas nya terhenti saat sebuah suara mengagetkan dirinya. "Selamat pagi dokter Hanif." Seorang wanita sudah berdiri di ambang pintu ruangannya.
Hanif pun tersenyum manis untuk menghilangkan kegugupannya. "Pagi dokter Sisi." Sisi kemudian mendekat kearah Hanif. Pria yang indentik dengan kacamata nya itu seperti seorang maling yang sedang tertangkap basah. "Dokter sehat kan! Hari ini?" Pertanyaan Sisi semakin membuat dirinya malu. Sisi pun terkekeh melihat raut wajah pria dihadapannya itu. Dia merasa puas karena bisa membuat Hanif tak berkutik pagi ini.
Mereka pun memulai pekerjaannya. Hari ini ada beberapa pasien yang akan memiliki jadwal kontrol dengan Hanif. Salah satunya adalah Bilqis. Rencananya Bilqis akan di cek darahnya di laboratorium untuk mengetik secara pasti penyakit yang di deritanya.
__ADS_1
Satu persatu pasien sudah ditangani oleh Hanif dan Sisi. Tiba Giliran Bilqis sekarang. Tapi wanita berambut ikal itu belum juga muncul di sana. Hingga membuat Hanif bertanya pada Sisi. "Dokter Sisi, pasien atas nama Bilqis kok belum datang ya hari ini. Harusnya hari ini adalah jadwal pengambilan darah untuk di periksa ke lab. Tapi kenapa dia belum datang?" Pertanyaan Hanif membuat Sisi teringat pada Bilqis. Dia lupa memberitahu sahabatnya itu, kaldu hari ini ada janji dengan rekan kerjanya itu. "Iya Dok, saya lupa memberi tahu dia." Hanif pun hanya membelalakkan matanya.
Bisa-bisanya hal sepenting itu di lupakan oleh Sisi. Sisi segera menghubungi sahabatnya itu untuk datang ke rumah sakit.
Bilqis pun tiba di rumah sakit diantar oleh Iqbal. Dia langsung menuju keruangan Hanif dan Sisi. Mendapati pasien nya sudah datang Hanif pun segera mengambil simple darah milik Bilqis untuk di periksa di lab.
"Kamu yang kuat ya, Dek. Apapun hasilnya kakak akan selalu ada di sampingmu." Bilqis pun hanya.tersenyum pasrah walau sebenarnya dia sangat takut.
"Kak, Bilqis mohon jangan beri tahu bunda ayah nya Bilqis dulu ya."
"Iya, Kakak janji gak akan kasih tahu kemereka. Tapi kamu gak bisa terus-terusan menyembunyikan ini dari mereka dek, kamu harus jujur."
Bilqis pun terlihat lebih tegar karena kakaknya terus menyemangati dirinya. Mereka pun keluar dari ruangan. Disana sudah ada Iqbal yang masih setia menunggu wanita pujaannya itu. Dia pun langsung menghampiri Bilqis dan ikut menyemangati Bilqis. "Aku yakin kamu sehat kok. Jangan takut ya!"
"Ehmm-ehmmm, tuh Dek soulmate kamu. Dia setia Lo nungguin kamu. Cie... Iqbal," goda Sisi yang melihat Iqbal begitu perhatian terhadap sahabatnya itu.
"Apaan Sih Kak," sahut Bilqis dengan wajah merah merona.
"Ya udah ya Kak. Kami pamit pulang dulu. Keburu Ayah tahu kalau Bilqis ada disini."
Bilqis dan Iqbal pun langsung menarik diri untuk meninggalkan tempat itu. Sementara Sisi, dia kembali masuk keruangan nya.
Hanif yang baru saja kembali dari ruang lab, dia seperti mencari-cari sesuatu diatasi mejanya. Karena tak kunjung menemukannya, akhirnya dia bertanya pada Sisi. "Dokter Sisi, liat file kesehatan dari Bilqis tadi nggak?" Sisi pun yang mendengarnya sontak ikut mencari-cari dokumen itu di meja kerjanya.
"Ya ampun Dok, saya gak lihat lah. Kan tadi dokter yang simpen," jawabnya sambil terus mencari. Hanif pun menghembuskan nafasnya kasar.
"Iya. Tapi saya lupa meletakkannya. Ya mungkin kamu melihatnya."
__ADS_1
"Dasar ceroboh, dokumen sepenting itu bisa lupa naruknya." Hanif pun jadi geram dengan ucapan Sisi. "Kayak situ nggak ceroboh juga, apa gak ingat tadi!" Sisi pun cengar-cengir saat Hanif mengingatkan kalau dirinya lupa memberitahu Bilqis tentang jadwal periksanya.
Mereka kemudian mencari bersama berkas file riwayat kesehatan Bilqis. Mata mereka berdua pun tertuju pada amplop yang terletak di bangkar tak jauh dari meja kerjanya Hanif. Mereka bersamaan mengambil amplop itu hingga, tangan mereka saling bersentuhan. Hanif pun melihat kearah Sisi, begitupun juga dengan Sisi hingga mereka cukup lama saling berpandangan. Mereka bermain dengan pikirannya masing-masing.
Suara ketukan pintu membunyarkan semuanya. Hanif pun langsung menarik tangannya dan Sisi yang mendapat jatah mengambil dokumen itu. Kemudian diberikannya kepada Hanif. "Ini, besok-besok jangan ilang lagi," ucapnya memecah kecanggungan diantara mereka.
Sisi kemudian membukakan pintu yang sedari tadi di ketuk oleh seseorang. Mungkin mereka pasien baru, jadi sedikit sungkan kalau langsung masuk kedalam.
"Beni???" Mata Sisi terbelalak melihat seorang pria yang sedang berdiri mematung di ambang pintu.
"Ngapain kamu kesini?" tanyanya penasaran.
"Mau makan. Ya mau bertobatlah masa iya mau makan," jawabnya ketus. Pria berperawakan tinggi atletis itu langsung masuk kedalam tanpa menghiraukan Sisi.
maaf telat up ya...
ketiduran hehehehe...
maklum udah beberapa hari begadang Mulu...
kan jadi kalong...
demi siapa coba...
demi kalian lah, reader setia babang Hanif dan mimis Sisi...
karena itu jangan lupa, like, komen, dan votenya...biar nih mata bisa diajak kompromi...
__ADS_1
inshaa Allah bulan depan up nya dua kali...
kira-kira siapa ya Beni iniπππ