Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Penyelidikan


__ADS_3

Di kediaman Faisal, duduk seorang pria di ruang kerjanya. Pikirannya menelisik menerawang entah kemana. Kejadian demi kejadian terlintas semua di kepalanya. Membuat pria itu sesekali menghembuskan nafasnya panjang. Bukan karena dia tidak menerima takdir dari yang maha kuasa. Tapi, dia justru berfikir semua kejadian yang ia alami adalah buah karma dari perbuatannya yang dulu. Meski demikian, bukan lagi penyesalan yang harus ia lakukan saat ini. Dia lebih, menyakinkan dirinya bahwa kehidupannya akan indah pada waktunya.


Diambilnya ponsel yang terletak di meja, setelah itu jari-jarinya mulai memainkan ponsel tersebut. Lama jari-jarinya mengotak-atik handphonenya, setelah itu dia bersuara.


"Besok saya tunggu di rumah sakit," ucapnya pada seseorang di seberang sana.


Entah siapa yang sedang ia hubungi. Setelah itu, dia kenali ke kamarnya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu dan memutar tubuhnya untuk kembali ke ruang kerjanya. Di raihnya beberapa dokumen yang tersusun di sebuah rak besar yang ada di ruangan itu. Folder itu bertuliskan, 'file pegawai'. Setelah menemukan benda yang ia cari. Faisal membuka satu persatu file yang ada di dalam folder tersebut. Setelah ketemu nama yang ia cari, dipisahkan file itu dari yang lainnya. Setelah itu folder berisi file pegawainya itu di letakkan kembali di rak buku.


Setelah itu dia mempelajari isi dari file yang ia ambil. Nama pegawai yang tertulis di dalam file itu adalah Veronika. Dia mencari tahu siapa sebenarnya wanita itu. Kenapa dia begitu ingin mencelakai putrinya. 'Veronika Sora Sanjaya'. Nama itu kemudian di ketiknya di akun Instagram milik Faisal untuk mengetahui profil wanita itu. Setelah menemukannya, betapa terkejutnya dia. Ternyata Veronika adalah mantan pegawai yang pernah bekerja di rumah sakit 'Zahra Medica'. Rumah sakit milik pak Darul, orang tua dari Kirana.


Merasa sudah mendapatkan informasi yang ia inginkan, Faisal bergegas menuju kamarnya. Hari semakin larut, diistirahatkan sejenak tubuhnya. Aktivitasnya hari ini begitu menguras tenaga dan pikirannya.


*******************************


Pagi-pagi buta Faisal menemui seseorang yang semalam dia hubungi. Mereka janjian di taman dekat, rumahnya. Seorang pria bertubuh tinggi, besar sudah menunggunya di sebuah bangku di taman itu. Melihat orang yang sedang ditunggu datang, pria itu memanggilnya.


"Dok, saya disini!" serunya pada Faisal. Bergegas Faisal menghampirinya. Setelah itu ikut duduk di samping pria itu.


"Saya ada tugas untuk kamu. Tolong selidiki wanita ini!" perintahnya pada pria itu dengan nada dingin.


"Baik, Dok. Yang penting bayarannya cocok." Faisal lalu mengambil sebuah amplop berwarna coklat dan diberikan pada pria itu.


Setelah menerima amplop itu dari Faisal, pria itu langsung pergi dari tempat itu. Faisal sengaja ingin menyelidiki secara diam-diam tentang Veronika. Apa benar dia ada hubungannya dengan kasus yang ia hadapi saat ini. Lawannya bukan orang yang sembarangan, jadi dua harus bermain cantik agar tidak ketahuan pelakunya.

__ADS_1


Setelah bertemu dengan orang itu, Faisal langsung menuju ke rumah sakit. Dia sengaja berangkat lebih pagi, agar terhindar dari awak media yang jelas sudah menunggunya di lobi rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, dia di kejutkan oleh kerumunan orang-orang yang berdiri di halaman rumah sakit. Mereka unjuk rasa agar rumah sakit Sejahtera itu ditutup. Entah masa darimana itu. Faisal pun tidak tahu, yang jelas itu adalah salah satu rencana dari pelaku. Faisal tidak menghiraukan masa itu dan memilih untuk pergi ke belakang gedung rumah sakit itu. Untuk masuk ke dalam. Selama petugas keamanan yang berjaga disana masih bisa menghandle semuanya. Dia tidak perlu melayani hal-hal seperti itu.


Hari ini adalah awal pekan, jadi semua pegawai maupun dokter akan masuk ke rumah sakit. Faisal sengaja menunggu kedatangan Veronika. Karena selama dia bekerja di situ. Faisal belum pernah bertemu langsung dengan wanita itu.


Sesuai dugaannya. Veronika datang pada hari itu. Salah satu pegawai Faisal diperintahkan olehnya untuk memberi tahu pada Veronika, kalau dia sedang di tunggu diruangan direktur utama. Setelah mendapat informasi itu, wanita itu langsung menuju ketempat tersebut. Tak ada raut wajah ketakutan dari dirinya. Sepertinya wanita itu sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi itu semua.


Veronica terlebih dulu mengeruk pintu ruangan Faisal, setelah mendapat instruksi dari dalam. Wanita itu kemudian masuk, dan mendekat kearah laki-laki yang sedang duduk di kursi kebesarannya.


"Duduk! Dokter Veronika," titahnya sembari menunjuk ke kursi di seberangnya. Tak menunggu lama, wanita itu kemudian duduk di kursi yang ditunjuk Faisal.


"Maaf, Dok. Ada apa anda memanggil saya kemari?" tanyanya basa-basi. Faisal tersenyum remeh menghadapi wanita itu. Ternyata benar dugaannya, wanita itu pura-pura tidak tahu apa tujuannya memanggil dia kesitu.


"Benar Dok. Tapi itu saya lakukan karena saya tidak tahu, kalau dokter Sisi adalah putri anda," jawabnya santai.


"Apa kalau anda tahu dia putri saya, anda tidak akan melakukannya. Kenapa?" satu pertanyaan lagi ditujukan oleh Faisal.


"Tentu saja, tidak akan saya lakukan. Karena saya tidak mau anda memecat saya," lagi-lagi pertanyaan Faisal dijawab langsung oleh Veronika.


"Apa anda pikir, saya tidak akan memecat anda. Jika itu anda lakukan dengan orang lain. Saya bisa saja memecat anda?" Kali ini wanita itu menunduk. Namun bukan karena dia takut atau menyesal dengan perbuatannya. Tapi dia mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan pria di depannya.


"Setidaknya anda masih bisa memaafkan saya."

__ADS_1


"Heh! Saya tidak akan membeda-bedakan pegawai saya. Kalau salah, ya harus menerima konsekuensinya. Meskipun itu putri saya sendiri. Dan anda tahu, konsekuensi perbuatan anda?" Wanita itu menghela nafas panjang. Bahkan tak berani menatap wajah pria didepannya.


"Saya bisa saja memecat anda dari sini. Tapi, saya tidak akan lakukan itu. Saya tidak akan memecat anda, tapi jika anda masih berbuat hal yang merugikan orang lain lagi. Maka jangan harap, anda bisa kerja lagi di rumah sakit ini. Bahkan saya bisa memastikan Anda tidak akan bisa di terima di rumah sakit manapun." Ucapan Faisal sedikit membuat wanita itu lega.


Faisal memang tidak memecat wanita itu. Karena dengan dia bekerja disitu. Setidaknya dia masih bisa mengawasi wanita itu. Apalagi, dia belum punya bukti untuk menjebloskan Veronika ke penjara terkait dengan kasus itu.


"Terimakasih Dok, saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang dokter Faisal berikan pada saya," ucapnya tersenyum bahagia.


"Ada satu hal lagi yang ingin saya tanyakan pada anda?" Faisal menatap tajam kearah wanita itu.


"Apa, Dok?" jawabannya sedikit gugup.


"Apa tujuan anda bekerja disini?" Veronica bingung dengan pertanyaan yang diajukan Faisal padanya. Kenapa pria itu bertanya hal sepele itu.


"Ya, karena saya butuh pekerjaan ini," jawabnya lagi.


"Anda yakin, hanya itu!"


"Iya." Faisal tersenyum licik kearah wanita itu. Dia memutar-mutarkan kursinya kekiri dan kekanan, sembari merapatkan kedua tangannya di atas pahanya.


"Bukan karena ada yang menyuruh Anda untuk bekerja di sini!" Jleb pertanyaan itu seperti senjata yang mematikan untuk wanita itu. Seketika wajahnya menjadi pucat pasi.


"*kamu licik, saya lebih licik lagi."

__ADS_1


To be continued*


__ADS_2