
Setelah mendapat mandat dari Ayahnya, si kembar langsung menuju ke klinik Bunda untuk mengambil hasil tes itu. Saat perjalanan menuju ke sana tidak ada kendala, mulus-mulus saja. Hingga mereka sampai di klinik tersebut. Si kembar langsung turun dari mobilnya dan berjalan menuju ruangan dokter Arumi. Ternyata dokter Arumi pun sudah menunggu mereka berdua. Saat mereka masuk kedalam ruangannya, senyum ramah dari dokter muda itu menghiasi bibirnya.
"Silahkan duduk, Mas-mas!" titahnya mempersilahkan mereka berdua duduk di hadapannya. Tanpa menunggu lama, mereka menuruti titahnya untuk duduk. Setelah mereka berdua duduk di hadapannya. Dokter muda itu mengambil amplop dari laci mejanya. Amplop berwarna putih dengan kop surat di atasnya itu di berikan pada mereka berdua. "Ini hasilnya, silahkan diterima!" tuturnya tersenyum ramah.
Fatan mengambil amplop itu dari tangan dokter Arumi, setelah itu mereka berdua pamit pada dokter cantik itu. "Terimakasih Dok, kami permisi dulu!" seru Fatan mengulurkan tangannya, langsung di sambut oleh Dokter Arumi. Dan sekarang giliran Fatan melakukan hal yang sama.
Mereka berdua langsung keluar dari ruangan dokter muda itu dan bergegas menuju ke mobilnya. Karena terburu-buru Fatan menabrak seorang wanita yang juga membawa amplop yang sama dengan yang di bawa oleh Fatan sehingga amplop itu jatuh secara bersamaan. "Maaf! saya nggak sengaja!" ucap Fatan pada wanita itu dan mengambil amplop yang salah.
"Nggak apa, Mas. Lain kali hati-hati ya!" balas wanita itu mengambil sisa amplop yang tergeletak di lantai.
Si kembar melanjutkan perjalanannya menuju ke mobilnya. Tapi disaat mereka akan masuk kedalam, Fatin melihat amplop yang di bawa oleh saudara kembarnya tulisannya berbeda dengan amplop pertama yang ia bawa.
"Kayaknya, Lo salah ambil amplopnya deh!" seru Fatin menunjukkan amplop ditangan kembarannya. "Tadi tulisannya dari dokter Arumi. La ini kok dari Dokter fajar!" Fatin membolak-balikkan amplop itu. Fatan langsung syok saat melihat amplop yang ia tertukar dengan punya wanita tadi.
"Iya, Lo bener. Waduh gimana ini?" tanyanya bingung.
"Iya kita cari orang itulah!" salak Fatin yang terlihat kesal. "Ya udah ayok!!! malah bengong!" Fatin menarik tangan kembarannya menuju kedalam klinik itu. Mereka berdua berpencar mencari wanita itu. Fatin mengikuti kearah terakhir wanita itu berjalan. Sementara Fatan, mencari kearah yang berbeda. Hingga mereka berdua di pertemukan lagi di ujung klinik itu.
"Gimana, ketemu?" tanya Fatin, Fatan menggeleng. "Lo sih, ceroboh!!" selorohnya lalu berjalan lagi kearah keluar, Fatan hanya diam tak menanggapi kekesalan kembarannya. Hingga mereka sampai di parkiran lagi. Beruntung, wanita yang mereka cari ada di sana. Wanita itu sedang akan naik kedalam mobilnya. "Mbak!!!!" teriak Fatin sedikit berlari kearah wanita itu, diikuti oleh kembarannya. Wanita itu mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam mobilnya.
__ADS_1
"Kenapa, Mas?" tanyanya sedikit bingung.
Dengan nafas ngos-ngosan, Fatin akhirnya berbicara. "Itu... amplopnya tertukar!" Wanita itu langsung mengambil amplop itu dari dalam tasnya, setelah tahu kalau amplopnya tertukar, dia langsung memberikannya pada Fatan.
"Wah iya, maaf ya Mas! Ini." Fatin mengambil amplop itu dari tangan wanita itu dan menyerahkan amplop yang ia bawa pada wanita itu.
"Maaf, ya Mbak!" seru Fatan.
"Iya, gak apa kok!"
Mereka berdua kembali kemobilnya. Tanpa menunggu lama lagi, Fatan menancap gasnya dengan cepat. Mereka hanya tinggal memiliki waktu dua jam kurang, itu artinya dia harus cepat sampai dirumahnya. Belum jauh mobil mereka berjalan. Tiba-tiba itu mobil oleh, sepertinya ban mobilnya pecah. "Apa lagi, sih ini!!!!" umpat Fatan memukul stir kemudinya.
"Kayaknya Bannya pecah, deh!!!" sahut Fatin, yang mengeluarkan kepalanya lewat jendela mobil itu dan melihat ke samping kanan dan kirinya. "Tuh kan, bener! Ban depan kempes, Kak?"
"Lo cari taksi atau apalah, biar gue yang ganti bannya!!" saran Fatin langsung disetujui oleh kembarannya.
"Bener juga, Lo!!! ya udah gue cari taksi dulu!" Fatan menepuk pundak kembarannya setelah itu bergegas meninggalkan Fatin.
Fatan berdiri di tepi jalan seraya matanya menatap keluar lalang kendaraan. Tujuannya hanya satu, mencari taksi. Sudah hampir lima belas menit dia berdiri di sana. Tapi, taksi tidak ada satupun yang melintas di daerah itu. Kini kegusarannya kembali menyerang dirinya. Sesekali dia mengumpat kesal, karena waktu yang ia miliki hanya tinggal satu jam lagi. Sementara jarak dari tempat ia berdiri sampai ke rumahnya kurang lebih memakan waktu sekitar satu jam setengah. Itu artinya dia sudah terlambat. Hingga akhirnya dia memiliki ide untuk naik ojek saja agar lebih cepat sampai.
__ADS_1
Kebetulan tak jauh dari tempatnya berdiri, ada pangkalan ojek di sana. Fatan langsung berjalan mendekat ke pangkalan itu.
Fatan langsung naik salah satu ojek yang terparkir disana dan menyebutkan alamatnya pada tukang ojek itu. Beruntungnya tukang ojek itu cukup lihai mengendarai motornya hingga mereka sampai di rumahnya Faisal dengan cepat. Fatan turun dari ojeknya dan berlari kearah pintu utama setelah membayar ongkos ojeknya.
Ternyata acara ijab kobulnya sudah di mulai. Faisal sudah mengucapkan ijab-nya dan hampir saja di jawab oleh Iqbal. Hingga suara lantang dari Fatin menghentikan aktivitas mereka.
"Tunggu!! Pernikahan ini gak boleh terjadi!!!" Dengan langkah pasti Fatan mendekat kearah penghulu. Semua mata berpusat pada pria itu. Termasuk Sisi, seulas senyum tipis terlihat dari bibirnya. Senyum penuh harapan.
"Saya sudah mendapatkan hasilnya. Silahkan anda cek hasilnya seperti apa!" Dengan penuh keyakinan Fatan memberikan amplop itu ketangan Pak RT.
Mereka yang berada di dalam ruangan itu. Berharap-harap cemas melihat isinya. Terlebih Sisi dsn Iqbal. Mereka berharap hasil dari tes itu adalah negatif. Hingga mereka bisa terbebas dari pernikahan paksaan ini. Sebelum amplop itu di buka. Faisal memberi peringatan pada mereka.
"Jika sampai putri saya tidak bersalah, tolong hapus postingan warga yang merekam kejadian penggerebekan itu. Kalau tidak, saya akan tuntut kalian!!"
"Baik Pak Faisal, kami akan menghapusnya."
Pak RT mulai membuka amplop itu dan membacanya. Setelah selesai di baca, ekspresi yang keluar dari wajah pak RT tidak bisa di tebak. Membuat mereka semakin penasaran. Pak Lurah yang sudah tidak bisa mengontrol rasa penasarannya, beliau mengambil kertas itu dan membaca isinya. Suasana tegang menyelimuti ruangan itu, saat ini.
"Gimana Pak, apa hasilnya?" tanya Faisal penasaran. Pak lurah menatap satu persatu wajah Sisi dsn Iqbal. Setelah itu seulas senyum terlontar dari bibinya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, mereka memang tidak melakukannya!!!" Ucapan dari pak RT membuat mereka menghela nafas lega. Terbukti dari hasil tes itu, Sisi memang masih perawan. Fatan langsung memeluk kakaknya, betapa tidak perjuangannya mendapatkan hasil tes itu benar-benar luar biasa. Dan sekali lagi, nasib kakaknya ada di tangan pria itu.
To be continued